RSS

youtube: Naiko Chanel

click to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own text

Saman Vs Sepeda

Oalaaaahhhh,,,,, Saking tak ada inspirasi untuk menulis. Akhirnya aku menuliskan apa yang aku rasakan hari ini. 
Sebenarnya, tak ada rasa yang kurasakan hari ini sih. 
Hari ini berjalan lurus-lurus saja. Tak ada yang spesial. Yang ada malah yumpukan penat tugas yang datang secara tiba-tiba. Ups, sebenarnya sih bukan tiba-tiba. Tapi mungkin karena dosennya lupa (meureun), jadi aja baru dikasih hari kemarin. Tapi tak usah diambil pusinglah ya???? Toh, ini kan sudah menjadi tugas kita. wkwkwkwk

Jya, kegiatan baru. 
Kemarin sebelum UAS, ada salah satu teman yang juga sebagai kakak kelasku ngajak main. hihih 
Tapi main yang tak biasanya. Biasanya kami hanya mojok di kamar kos, kemudian berceloteh kemana-mana, yang akhirnya malah tertiidur. heheh
Tapi kali ini, ia mengajakku untuk bersepeda disekitar kampus. Ya, tapi aku lupa membawa fotonya. heuheuheu
Hmm... Dari pada di kosan sibuk memikirkan UAS kan mending kita refreshing dikit (meski hati selalu bergetar dibuatnya).

Pagi itu, memang pagi yang sangat cerah, wuih mendukunglah untuk berkelana dengan sepeda. Aku bersama teman-teman pergi keliling kampus. Awalnya kami memang sangat menikmatinya, tapi alaaaahhhh jalannya semakin meninggi alias nanjak. Keempat temanku mulai mengeluh, mungkin karena mereka tidak terbiasa bersepeda. Padahal, aku juga baru kali ini lagi menyentuh sepeda. Terakhir aku bersepeda itu pada saat aku masih duduk di SMA kelas 2. Setelah itu, aku tidak pernah menyentuh sepeda lagi (Ups... kecuali sepeda motor. heheh)
Hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan, setidaknya dengan ini pikiranku ter-refresh. Dan siap untuk melahap semua materi UAS. (Tingtong)

Esoknya, ternyata UAS mulai memberikan sedikit resah dipikiran. Aku begitu takut dengan ujian kali ini. Jelaslah, nilaiku kemarin tak begitu bagus. Meski terkadang aku tak memikirkan masalah nilai, karena kupikir yang paling penting itu adalah soft skill. Tapi tetap saja, kalaulah nilaiku jelek mungkin aku tak bisa kuliah. (Idiiiiihhhh na'udzubillah deh). Sekarang harapku cuma satu, setelah berbagai usaha kulakukan tinggal pasrah alias tawakal. heuheuheu
(Semoga nilaiku baik-baik saja... -_- Amiiiinnnn)....

Hah, kok jadi serius ngomongin ujian ya? hahaha
Ok, lanjut ke sepeda deh. Jya, setelah ujian berakhir kembali ku goweskan gowesannya... (Apa ya? hehe)...
Ya, aku kembali bermain sepeda. Namun berbeda waktu. Kalau kemarin pagi-pagi, kali ini sore hari cuy.. Panas sih, tapi ya sudahlah. Mencoba untuk sehat. hehehe
Seperti biasa, aku bersepeda keliling kampus (abis tak ada tempat indah lain, kecuali kampus.. wkwkwkwk lebay!)

Nah, nah, nah...
Selain bersepeda, aku juga mempunyai kegiatan lainnya....
Karena dulu aku tidak diperbolehkan untuk ikut belajar tari sunda, akhirnya aku berlari ke tarian aceh. heheh
Tak apa ya?
Awalnya, aku susah untuk menghafal semua gerakan-gerakannya. Tapi setelah beberapa kali latihan, ternyata tarinya cukup mudah juga.
Saman HI UNPAD 2011
Wihihihi... Ini dia, Team saman HI 2011. Kami tampil untuk menyambut kakak kelas alias kakak tingkat di HI pada acara Makrab (Malam Keakraban) 2011. Kami latihan hanya beberapa minggu saja. heheh 
Awalnya sih aku  juga tidak mau, tapi tertarik juga sih. Jadi ya dicoba dulu deh. Eh, ternyata malah kecanduan. 

Hmm.... Sekarang kami sedang mempersiapkan diri untuk event pertama kami (yeeeee). Yaitu dalam acara penyambutan mahasiswa Student Excange dari Ajou University, Korea. Sebenarnya hari ini sudah libur sih, tapi kami menyisihkan waktu liburan kami untuk penyambutan tersebut.
Hai, Gambattene!!!





うち (Home)

Hallo teman-teman, lama tak jumpa.
Kali ini marik kita belajar  tentang rumah.
:)
Kosa kata :

  1. へや = Kamar
  2. だいどころ = Dapur
  3. おふろ = Bak mandi
  4. しょくどう = Ruang makan
  5. げんかん = Teras
  6. いま = Ruang keluarga
  7. そうこ = Gudang
  8. れいぞうこ = Kulkas
  9. エアコン = AC
  10. ガレージ = Garasi
  11. とだな = Lemari
  12. たてまし = papilyun
  13. おうせつま = Ruang tamu
  14. テレビ = TV
  15. ソファ = Sofa
  16. しょうくたか = Meja makan
  17. ベッド = Tempat tidur
  18. ほんだな = Lemari buku
Jya, oboette kudasaine!!!

Kemungkinan yang Tak Mungkin

Malam yang dingin, ,
aku tertatih menghujam makna dalam yang kau ungkap.
Namun, tiada arti kudapat. 
Beberapa hari ku coba tuk genggam asa, genggam cita, genggam nestapa namun tak dapat dirasa. 

Hari ini, malam ini, detik ini juga aku dikunjungi kembali sang dewa malam. Sang dewa impian yang selalu melekat di hati. Sang dewa impian yang selalu kutemui dalam setiap malamku. Dan kini ia datang. Ya, pasti datang. Karena aku melihatnya dari kejauhan. Aku melihat senyumnya menyambut cita dan cinta. Aku menyambut derita senjanya yang ceria. 

Sedikit demi sedikit, wajahnya mulai terlihat jelas. Tapi aneh, rasanya ia bukan dewa yang biasanya mendatangiku. Kali ini siapa yang datang? Aku tak mengetahuinya, wajahnya masih terlihat samar dimata. Namun, beberapa detik kemudian ia tersenyum padaku. 
Hey, siapa orang ini? Rasanya aku mengenalnya, tapi siapa? Tanya hatiku. 
Aku ragu tuk membalas senyum darinya. Aku takut, kalo itu merupakan senyum palsu yang ia tawarkan padaku. 

Dengan begitu lembut, ia menyapaku dan berusaha tuk mendekatiku. 
Aduhai, siapa orang ini? Hatiku terus bertanya dan enggan tuk bertanya padanya. Aku semakin takut dengannya. Takut ini, bukan takut yang biasa. Takut ini adalah sebuah jawaban mesra dari pertanyaannya. 

Saat kuteliti parasnya, tiba-tiba aku mulai mengetahuinya. Tiba-tiba aku mulai mengenalnya. Dan rasanya kali ini aku semakin dekat dengannya. Ya, aku kenal dia! Hatiku bersorak. 
Dia adalah seseorang yang selalu menjadi pujaan yang lain. Ia selalu menghiasi langit. Bahkan setiap malam ia selalu mengisi kehampaan sang dewa milikku. 
Ya, aku tahu dia. 
Dia adalah seorang bintang. Bintang lamunan, yang kini hadir menjadi impian. 
Lamunan? Impian? 

Gila!!! 
Tak pernah aku berpikir kalau ia kan datang menyapa. Tak pernah kupikir, kalau ia kan ciptakan senyum mesra. Dan tak pernah kupikir pula, bahwa ia sesungguhnya permata cita dunia.

Sayang, dunia hanyalah dunia. Tak bisa diubah kecuali dengan tanganNya. 
Lamunan senja melambai mesra. Aku hanya duduk diam tak pernah bisa menggapai tamuku itu. 
Begitupun dengannya, ia hanya mampu tuk sekedar menebar senyum dalam bayangnya. Menyapa mesra dalam sapa. 
Indah, namun tak indah kurasa. 

Bintang, memang tak akan pernah ku gapai. Kecuali jika ia berubah seperti diriku. Ya, kecuali ia berubah menjadi manusia normal.

Maaf, aku tak bisa menjawab sapa mu. Maaf, aku tak bisa membalas senyummu. Maaf, aku tak bisa menyambutmu sebagai tamuku. Maaf, aku tak bisa semuanya. 

Tanpa sadar, aku terjerumus dalam mimpinya. Ia membawaku pergi kedalam cahaya. Namun entah cahaya mana yang ia bawa. Tapi lagi-lagi aku kembali digetarkan dengan hal serupa. Cahaya ini tidak asing lagi bagiku. Cahaya ini cahaya rindu. Cahaya ini adalah cahaya yang setiap hari ku lantunkan. Ya, aku tahu itu.
Tapi mungkinkah Ia telah memberinya cahaya yang sama sepertiku?
Huh, tiba-tiba aku tersadar oleh cahaya itu. 
Saat ku buka kembali mataku, ia telah menghilang. Entah kemana??? Kupikir, mungkin ia telah kembali ke langit. 

Sesaat, kupandangi langit bersih itu.
Diantara bintang-bintang itu, ada satu bintang yang bersinar. Namun, tak tersenyum padaku....
Hmm.......



*Stress_3th Editions*
?dua dunia berbeda mungkin tuk menyatu tak ya?

Sepenggal Episode Hidup



Sabtu, 6 Jumadil Akhir 1433 H.  Berbekal  semangat, harapan serta do’a yang kuat, kulangkahkan kaki ini menuju kampus tercinta. Senang, namun beberapa potret kehidupan nyata nampak menyayat sang semangat pagi itu. Sungguh menyakitkan, betapa tidak? Seorang gadis mungil yang seharusnya belajar di sekolah, kini hanya tinggal di pinggir jalan mencari belas kasihan. 
Dengan pakaian lusuh penuh goresan debu, serta wajah tak bersenyum, ia angkatkan tangannya demi kepingan uang receh yang mungkin akan jatuh ditangannya. Tak hanya itu, mataku pun menemukan seorang kakek tua bertopi kumel, memakai batik hijau serta beralaskan sandal jepit, berdiri di depan gerbang kampus dengan tali sepatu dan lipatan beberapa koran di tangannya.
Hati ini geram, tatkala mendapatinya sedang menawar-nawarkan koran dan tali sepatu, namun tak mendapat respon dari mahasiswa yang lewat di hadapannya. Saat itu juga, hatiku dipenuhi ribuan tanya. “Kenapa kakek itu memilih berjualan tali sepatu? Padahal masih banyak pekerjaan lain yang mungkin cocok dan hasilnya lebih besar daripada menjual tali sepatu”. Ternyata sebuah jawaban bijak muncul dari mulutnya  “Saya hanya ingin berbagi rizki dengan mahasiswa” ungkap kakek itu sambil membereskan dagangannya.
Berbagi rizki dengan mahasiswa? Mulianya engkau kek. Pikirku. Namun, hatiku menjerit ketika mendengar cerita keluarganya di desa Cinta Manik-Garut. Keluarga yang sangat sederhana, hidup bergerombol dalam atap yang sudah ia gadaikan untuk makan sehari-hari. Tak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu sang ayah pulang dari teriknya siang. Jika sang ayah pulang dengan beras dan uang yang cukup lumayan, barulah mereka bisa makan dengan enak. Sedangkan jika sang ayah pulang dengan tangan hampa, mereka hanya makan makanan yang ada di kebun saja[1].
Tapi inilah pahlawan hidup mereka. Sang ayah, penjual tali sepatu dan koran ini rela berpuasa demi keluarganya tercinta. Bahkan kalaulah penghasilannya belum cukup untuk membeli beras, ia akan berpuasa dan berbuka dengan beberapa tetes air putih saja. Setiap hari, Pak Toha[2] berangkat pagi-pagi sekali. Ia pergi ke tempat pengambilan koran dan tali sepatu. Kemudian ia antarkan satu persatu koran itu ke semua fakultas yang ada di Universitas Padjadjaran. Sambil berjalan, terkadang iapun menawar-nawarkan beberapa koran dengan harga Rp 3000,- saja.
Suatu hari, pernah kulihat sosok wajahnya yang penuh beban itu terduduk lesu di depan gerbang kampus. Tanpa banyak pikir, kuhampiri langsung bapak tua itu. Wajahnya tak seperti wajah-wajah yang sebelumnya aku lihat. Kini wajahnya nampak begitu kusut. Akhirnya kuberanikan diri ini untuk menyapanya. “Sedang apa pak? Wah, dagangannya masih banyak ya pak? Semangat ya!” senyumku mengantarkan sapaan itu.  Namun, tak ada balasan senyum darinya. Yang ada hanyalah setetes air mata yang sedikit demi sedikit kian membanjiri wajahnya.
Aku terheran, tak biasanya bapak ini menunjukkan kesedihannya padaku. Ingin kutenangkan ia. Tapi aku juga bingung apa yang semestinya aku ucapkan padanya. Beberapa menit berjalan, tak satupun dari kami yang mengeluarkan suara saat itu. Untungnya hanya sedikit orang yang berjalan disekitar kami, karena memang sang surya hendak kembali ke peradabannya. Akhirnya kucoba bertanya padanya, “Pak, apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku pelan sambil mengusap-ngusap pundaknya. Tak banyak cerita yang mengalir dari senyumnya. “Kemarin anak bapak meninggal karena tifus, neng” jawabnya sambil menghapus air matanya.
Mendengarnya, hati ini bergetar. Bergetar menjalar ke seluruh tubuh dan lemaskan jiwa. Aku tertunduk dalam lamunan senja. Tak ada kata yang mampu kuucap selain hati yang bergerutu mendo’akan putri beliau. Tak habis cerita, beliau juga baru saja ditolak untuk bekerja di beberapa instansi karena faktor usia. Sungguh, ingin sekali kubunuh mereka yang menolak ketulusan Pak Toha untuk bekerja ini.  Rasa sedih ini sontak berubah menjadi rasa kesal yang begitu mendalam.
Aku tak habis pikir, kenapa mereka malah menolak beliau. Padahal beliau bekerja keras demi keluarganya. Masih untung sosok seorang Pak Toha ini berkeinginan untuk bekerja dibanding dengan mereka yang hanya duduk diam menanti sebuah belas kasihan. Dimana sebenarnya pemerintah? Yang menjunjung tinggi demokrasinya. Mereka bilang “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat”. Tapi mana buktinya? Adakah keinginan pemerintah untuk mengubah kehidupan mereka? Gertakku dalam hati.
Karenanya, Pak Toha tidak makan demi sang keluarga tercinta. Coba bayangkan, jika ada pemerintah atau intansi manapun yang memberikan pekerjaan yang layak bagi mereka khususnya orang seperti pak Toha ini, mungkin tak akan ada lagi yang namanya kemiskinan. Sungguh kejam dunia ini. Benar-benar tak habis pikir aku dengan ulah mereka yang menolak Pak Toha. Padahal negara tetangga juga ada yang memperkerjakan orang tua. Dimana hati mereka?
Sejenak kuterdiam, tiba-tiba ku ingat wajah ayah di rumah, apakah ia juga berjuang keras demi anak-anaknya? Terbayang pula wajah ibu yang menatapku dengan kosong, seakan penuh beban di pundaknya. Setitik air hangat lembut menyapa pipiku. Sungguh, takkan pernah kubuat kalian kecewa dengan ulahku. Takkan pernah kubuat kalian menderita karenaku. Hati ini menjerit kencang dan semakin berontak tatkala barisan pengemis mengisi ruang kosong, jalan menuju kampusku.
Melihat lukisan hidup seperti ini, berbagai rasa mulai teraduk. Teraduk serempak hingga akhirnya muncul sebuah pergolakan asa antara masa depan dan masa kini, antara kakek tua itu dan keluargaku,  antara mimpi dan perjuanganku. Berat memang, hidup ini. Namun, tak perlulah ku dibuat bingung dengan hal seperti ini. Yang jelas sekarang aku harus mulai mempersiapkan diriku di masa depan untuk mengubah kehidupan dunia, mengubah mereka dan lain sebagainya.
Rasanya ingin kurangkul mereka dengan  sekolah, taman baca, taman kreatif jalanan serta berbagai pekerjaan yang layak lainnya. Selain itu wajah merekapun membuatku tak sabar untuk menyelesaikan pendidikan dan langsung terjun merangkul mereka. Kupikir, Tuhan tidak akan merubah suatu kaum-Nya jika ia tidak merubahnya sendiri. Maka kalaulah bukan aku yang mengubah kehidupan mereka, siapa lagi? Adakah pemerintah terjun langsung merangkulnya?
Terlalu pedih hati ini menyaksikan perjuangan hidup kakek penjual tali sepatu itu, mungkin sebuah perubahan tidaklah harus menunggu lulus kuliah. Sekarangpun pasti bisa. Tapi, aku tak punya kemampuan lain selain meluapkan bendungan hati ini dalam sebuah tulisan yang mungkin tak begitu indah namun penuh makna. Ya? Dengan tulisan. Karena ulama dulu pun menuliskan semua pikirannya dalam sebuah kitab yang sekarang masih dibaca oleh orang lain.
Tulisan, tulisan dan tindakan. Itulah yang sekarang aku lakukan. Mulai dari diri sendiri, aku berusaha belajar sekeras mungkin tentang arti kehidupan yang sesungguhnya. Belajar untuk merangkul semua, belajar untuk bersabar, bersyukur dan menggapai cita. Kupikir Tuhan selalu memberikan jalan pada setiap hamba-Nya. Dimana ada kemauan pasti ada jalan. Sekarang, kan kuubah dunia ini mulai dari tulisan.




[1] Singkong, ubi, daun singkong, dll.
[2] Nama kakek itu. 

Perlu 1 Tahun untuk Beradaptasi

Kali ini aku bingung harus bercerita tentang apa? Hmm... Yang pasti hati ini aku ingin pulang ke rumah. Namun, karena beberapa kesibukanku. Aku tidak bisa pulang ke rumah sampai ujian beres. -_-

Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu. Sudah hampir satu tahun aku tinggal di tempat orang. Kali ini bukan sebuah pesantren yang aku tinggali. Melainkan sebuah kos-kosan kecil yang hanya cukup untuk tidur kami berdua saja (Aku dan temanku). 
Suasana baru memang aku dapati disini. Namun, terkadang rasa takut selalu menghantuiku karena ketidak biasaanku hidup di rumah kos seperti ini. 

Dulu, saat aku di pesantren. Aku tak pernah memikirkan "hari ini mau makan apa?" karena selalu ada ibu  tercinta kami yang selalu masak (ibu tukang masaknya. hee). Paling kalau misalnya ia tidak bisa datang karena sakit, baru kami gantikan dia untuk memasak di dapur. 
Namun, semenjak aku hidup di kosan yang jauh dari orang tua, setiap pagi aku selalu berfikir bahwa "Mau makan apa aku hari ini?"Belum masak, nyuci piring, nyuci baju, eh... belum belajar juga.
Setiap pagi, kamar pasti selalu berantakan. Kadang, kalau misalnya sedang dibanjiri oleh tugas. Pasti kamarnya dipenuhi dengan buku atau kertas-kertas yang berserakan dimana saja. 
Disini, tak ada yang membangunkan. Seandainya bangun kesiangan karena bergadang mengerjakan tugas, aku lupa untuk membereskan kamar dan lupa sarapan pagi. 

Kalau kesiangan, aku harus berlari ke kampus. Tak ada angkot yang melewati jalur kampusku (Ya, jelaslah. orang aku tinggal di depan kampus. hehe).. Beruntunglah, fakultasku merupakan fakultas paling dekat jika dibandingkan dengan fakultas lain. Cuma yang jadi kendalanya adalah, jalannya terlalu nanjak. hihihi
Ditambah, kelasku dilantai paling atas. So, aku harus berlari ekstra jika aku terlambat. Dan setibanya di kelas, dijamin deh nafas pasti ngos-ngosan kayak yang dikejar-kejar singa. wkwkwkwk

Hmm... Lucu memang. Tapi ya, inilah hidup. 

Dari dulu, aku memang termasuk orang yang susah untuk menyesuaikan diri dengan yang namanya sekolah. Waktu SMA saja, aku membutuhkan waktu selama satu tahun untuk mampu bercerita di depan kelas. Mungkin itu dikarenakan aku tidak ingin masuk kesana (Padahal, hebring deh setelah masuk SMA sana. hihihi). Percaya nggak, teman? Dulu waktu kelas satu SMA, aku keluar kelas hanya untuk ke kantin saja. Tidak pernah ke tempat lainnya. Tapi begitu aku naik ke kelas 2, aku mulai berani untuk beradu argumen. Bahkan akupun dicalonkan untuk menjadi ketua OSIS di sana. (hihihi lucu bangetlah kalau misalnya inget jaman dulu).
Hmm.... Begitupun dengan sekarang, aku perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan baruku. Aku selalu memilih diam karena takut salah. Kecuali jika mereka sedang membicarakan tentang kepenulisan, berulah aku angkat bicara (wew, hihi). Hampir sama seperti SMA, ternyata aku baru berani masuk ke organisasi itu pada semester 2. Namun, aku masih belum berani ngomong di kelas. Ntah itu karena aku belum mengenal jauh keadaan di sekitarku atau karena aku masih belum terbiasa dengan mata kuliahnya?
Entahlah.... Tapi yang pasti aku pasti akan berubah di semester 3 nanti. Karena aku sudah mulai mengenal lingkungan dan kehidupanku yang sekarang.

Meski harus setahun dulu aku beradaptasi dengan lingkungan, yang penting aku masih bisa hidup di dunia ini. (hehehe maksudnya di lingkungan ini).

Terusan よふく

Minnasan, Ohayou gozaimasu...
Jya, langsung aja ya... hee 
Kemarin kita kan udah belajar tentang yofuku alias pakaian and accesories nya (meski dikit. huhuh), sekarang mari kita lanjut ke pola kalimatnya. 
Nah, kalo pola kalimat untuk bagian ini beda-beda, minna. Masing-masing punya pola kalimatnya tersendiri. Misalnya untuk atasan apa? untuk bawahan, untuk kepala, asesoris dan lain sebagainya. 


  1. Pola kalimat untuk atasan;
    。。。 を きます/きっています。
    Minna, tahu kan apa aja yang termasuk atasan. heheh
    Baju, jas, jaket dan lain sebagainya. Nah, titik-titik diatas itu diisikan dengan kata benda buat atasan. Example : シャツ を きます。ジャケット を かっています。 
  2. Pola kalimat untuk bawahan。。。を はきます/はいています。Ini juga sama, namun pola ini digunakan khusus untuk bawahan saja. Seperti celana, rok dan lain sebagainya. Example : ズボン を はいてます。Artinya sedang memakai celana.
  3. Sip, sekarang kita lanjut ke pola kalimat yang lainnya. Kita masuk ke pola kalimat yang digunakan khusus untuk kacamata saja. Jadi ketika kita menggunakan kacamata, maka kita harus menggunakan pola kalimat yang satu ini. yaitu, 。。。を かけます/かけています。So, kalimatnya menjadi seperti ini ; めがね を かけています。
  4. Pola kalimat yang digunakan khusus untuk kepala. Maksudnya khusus untuk benda yang digunakan di kepala, seperti topi.
    。。。を かぶります/かぶっています。contohnya:ぼうし を かぶっています
  5. Yang terakhir ini adalah pola kalimat yang digunakan untuk asesoris.
    。。。を します/しています。
    Contohnya ; ふでどけい を しています。
*** teimasu, itu digunakan untuk kalimat yang "sedang" digunakan

よふく (Pakaian)

Konbanwa,,,
minnasan...
Let's learn about yofuku alias pakaian. he
Namun, sebelumnya kita belajar kosa katanya aja dulu yuk???
ok, lets' begin!

チーシャツ = T-shirt (kaos)
シャツ = Kemeja
スカート = Rok
ズボン = Celana panjang
サンダル = Sandal
ネクタイ = Dasi
ネックレス = Kalung
ジャケット = Jaket
ベルト = Sabuk
ゆびわ = Cincin
ふでどけい = Jam tangan
くつ = Sepatu
めがね = Kaca mata
きもの = Kimono (baju jepang)
うわぎ = Jas
ずきん = Kerudung
ピアス = Gelang

Ok, segitu dulu ya???
Mata ashita :)