RSS

youtube: Naiko Chanel

click to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own text

MENULIS DAN MENJADI SEORANG PENULIS



Menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Menulis biasa dilakukan pada kertas dengan menggunakan alat-alat seperti pena atau pensil. Pada awal sejarahnya, menulis dilakukan dengan menggunakan gambar, contohnya tulisan hieroglif (hieroglyph) pada zaman Mesir Kuno. Tulisan dengan aksara muncul sekitar 5000 tahun lalu. Orang-orang Sumeria (Irak saat ini) menciptakan tanda-tanda pada tanah liat. Tanda-tanda tersebut mewakili bunyi, berbeda dengan huruf-huruf hieroglif yang mewakili kata-kata atau benda. Kegiatan menulis berkembang pesat sejak diciptakannya teknik percetakan, yang menyebabkan orang makin giat menulis karena karya mereka mudah diterbitkan.
Seiring berkembangnya zaman, sekarang menulis tidak hanya menggunakan pena atau pensil saja tetapi menulis bisa juga dilakukan dengan menggunakan mesin tik atau menggunakan komputer. Dengan menulis seseorang dapat melakukan refleksi, akan tetapi menulisnya bukan menuliskan berbagai hal yang negatif. Menulis yang dapat menjadi alternatif refleksi adalah menulis hal-hal yang sifatnya positif. Seseorang yang sedang mengalami stres bisa berubah menjadi fresh setelah ia menulis. pernah suatu ketika, ada seorang wanita yang sangat kaya. Ia adalah wanita karir. Dalam kehidupan sehari-harinya, ia belum pernah mengerjakan semua hal yang berhubungan dengan rumah tangga. Namun suatu ketika ia harus meninggalkan karirnya dan pergi bersama suaminya ke luar negeri. Disana ia tidak mempunyai kegiatan yang seperti biasannya ia lakukan di negara asalnya. Yang ia lakukan hanyalah duduk di rumah dan mengerjakan semua hal yang berhubungan dengan rumah tangga.
Awalnya, ia benar-benar merasakan stres yang sangat dalam. Karena kegiatan yang selama ini ia kerjakan merupakan kegiatan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Akhirnya semua itu ia adukan kepada suaminya, dan ternyata suaminya malah menyarankan wanita itu untuk menuliskan semua keluh kesahnya dalam sebuah blog.
Wanita itu mencoba menuliskan semuanya dalam blog. Ia menulis secara rutin. Ternyata benar, hal yang disarankan oleh suaminya itu ternyata manjur. Sekarang ia tidak lagi stres. Ia malah menyukai kegiatan barunya itu. Sekarang blognya dikunjungi oleh banyak orang. Bahkan tak jarang ada orang yang berkonsultasi tentang masalah rumah tangga mereka. Selain itu, wanita itu juga ditawari untuk menerbitkan sebuah buku.
Kejadian diatas cukup memotivasi saya untuk tetap menulis. karena sayapun sudah merasakan semua itu sebelum saya tahu bahwa menulis itu bisa menjadikan refleksi juga bagi kita. selain itu, kisah-kisah orang sukses  serta buku-buku karya Habiburrahman pun cukup memotivasi hobi saya ini. Dengan menulis, pikiran yang sedang kabut bisa berubah menjadi fresh. Maka menulis dan terus menulis itulah salah satu misi hidup saya untuk mengubah dunia.
Tak hanya menulis, saya pun ingin menjadi seorang penulis. Orang yang akan dikenang namanya adalah orang yang mempunyai hasil karya yang bermanfaat bagi orang lain. Meskipun kita sudah mati, namun karya kita tetap ada. Dan nama kita selalu dikenanng oleh orang lain. Itupun menjadi alasan mengapa saya ingin menjadi seorang penulis. “khairunnas ‘anfauhum linnaas”.
Sebuah tulisan yang bermanfaat, sebuah tulisan yang selalu dicari oleh orang, sebuah tulisan yang tak pernah bosan orang membacanya merupakan tulisan yang menjadi target saya. Sebuah tulisan yang mampu menggetarkan dunia. Gemakan muslim dengan tulisan. Jadikan tulisan kita sebagai motivasi bagi orang lain.
Jadi, selain menulis merupakan hobi, menulis juga menjadi obat penenang tatkala pikiran sedang mengalami stres. Kemudian menjadi seorang penulis karena ingin memberikan manfaat bagi orang lain dan ingin menggoncangkan serta menggetarkan hati masyarakat  dunia dengan tulisan yang sederhana namun selalu dikenang sepanjang masa. 

SAMISHIKATTANE MOM



“Oh my god?!! I’m forget!!” Teriak sizuka saat ia mendengar ayam yang sedari tadi membangunkannya. Sizuka tidak ingat bahwa hari ini merupakan UAS pertamanya di perguruan tinggi. Tanpa basa-basi Sizuka langsung pergi ke kamar mandi dan mengambil wudlu. ia selalu menggunakan jurus ampuhnya ketika ia mau ujian.
Dinginnya air yang menusuk hingga ke jantung,lembutnya sapaan angin serta mesranya lambaian bantal guling biru kesayangannya tak membuat Sizuka terlena akan rayuan mereka.
Dengan muka yang segar, Sizuka kembali ke kamar dan mulai bersiap untuk berdialog  dengan tuhan. Ia mulai memakai seragam khas yang selalu ia pakai untuk berdialog dengan tuhan. Setelah semua ia persiapkan, akhirnya ia mulai menyapa tuhan dengan sujud-sujudnnya.
Lantunan ayat suci menambah semarak khusuknya. Meski beberapa setan sedang bergelantungan di sudut-sudut bulu matanya, ia tetap berusaha untuk tetap menyegarkan pikirannya dengan ayat-ayat cintaa itu. Namun, tanpa disengaja ia tertidur  pulas di atas sajadah cintanya.
Tiba-tiba ia merasakan sebuah kesejukan yang teramat mendalam. Ia berjalan mengarungi samudera yang lepas. Disudut pantai, ia melihat bayangan seorang anak kecil yang sedang duduk termenung menikmati pemandangan yang begitu indah itu. Ia penasaran dengan gadis kecil itu. Perlahan, iapun menghampirinya.
“dek, sedang apa disini?” tanya Sizuka penasaran.
“aku sedang menunggu pahlawan sejatiku” jawabnya dengan suara yang begitu lembut. “pahlawan yang selalu menemaniku setiap saat.” Sambungnya.
Tanpa dia suruh, anak kecil itu terus menceritakan semua kisahnya bersama dengan sang pahlawan supernya.
“siapa dia?”  Sizuka semakin penasaran dengan semua yang dikatakan oleh anak kecil itu.
“tak usahlah kau tahu, siapa sebenarnya pahlawanku ini. karena sebenarnya kaupun memilikinya sama sepertiku”
Sizuka terlihat seperti keheranan. Ia benar-benar tidak mengerti dengan semua yang dikatakan oleh gadis kecil itu. Gadis kecil itu terlihat begitu lugu namun sangat menarik. Dari cerita yang ia sampaikan, sizuka menganggap bahwa anak itu merupakan sosok seorang gadis kecil yang berjuang dengan sangat gigih untuk tetap hidup tanpa bantuan siapapun. Namun, anehnya gadia kecil itu selalu membicarakan tentang pahlawan supernya itu. Katanya ia idak pernah bertemu dengan pahlawannya itu, namun ia selalu datang dalam mimpinya.
“Mungkin anak ini sedang berimajinasi tentang sailormoon yang sangat ia dambakan” pikir Sizuka.
すみません。[1]Tebakan kakak salah.” Jawabnya.
“oh tuhaan... kamu tahu apa yang aku katakan?”
“janganlah kau bersedih padaku nanti, jika suatu hari nanti pahlawanmu akan meninggalkanmu sendirian” jawabnya.
Sizuka semakin tidak mengerti, “apa yang sebearnya akan terjadi padaku ini?”  katanya.
Sesaat, Sizuka menerawang birunya langit sambil mengartikan semua hal yang dibilang oleh anak tersebut. Ia berharap ada sebuah jawaban dari langit yang selalu tersenyum padanya. Namun harapannya beku, tak ada satu tandapun  bahwa langit menjawab semua yang dipertanyakan oleh Sizuka.
“tha’s a hero?? Who is he? Can i look him?” pikirnya lagi. Saat ia sudah merasa tidak bisa menjawab semua itu sendirian. Ia menengok ke arah gadis kecil itu. Namun, apa yang terjadi? Gadis itu menghilang tanpa meninggalkan jejak diatas putihnya pasir ini.
Sizuka begitu terkejut dengan kejadian itu. Tiba-tiba langit kota tokyou yang indah itu berubah menjadi gelap. Seakakn-akan ada sesuatu yang menghalanginya. “nandeyo?[2]” pikir Sizuka.
Kegelapan itupun membuat hilangnya keindahan bunga sakura. Sizuka melihat keseluruh sudut pantai timur jepang itu, namun rasanya seperti tak ada lagi kehidupan. Yang ada hanyalah Sizuka bersama raganya sendiri. Sizuka mulai gemetar, ia tidak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi. Ia hanya melihat-lihat sekelilingnya serta merenungkan apa yang sebenarnya terjadi.
Tiba-tiba ada seberkas cahaya yang begitu menyilaukannya. Ia mencoba untuk meraihnya, namun hal itu selalu gagal ia lakukan. Dari tengah cahaya itu, tiba-tiba muncul sebuah gelombang angin yang begitu besar. Sizuka berusaha untuk menghindarinya, namun tak bisa. Rasanya angin itu membawa Sizuka ke sebuah tempat yang tak begitu jauh. Ternyata, ia dibawa ke sebuah ruangan tempat ibunya melahirkan dahulu. Ia melihat ibunya merintih kesakitan saat melahirkannya. Keringat yang mengalir dikeningnya begitu membuktikan bahwa ia sedang merasakan sakit yang amat dalam. Sizuka menangis begitu melihat ibunya sedang  melahirkannya.
Sesaat sesudah melihat proses lahiran ibunya. Tiba-tiba angin itu membawa Sizuka ke tempat yang lain. Tak sempat ia mempertahankan dirinya. Angin itu begitu kuat mendorong badan Sizuka.
Setelah berapa lama, akhirnya Sizuka tiba ditempat yang sangat ia kenali. “eeto... koko wa watashi no uchi desu ne?”[3] Meskipun begitu, Sizuka masih merasa kebingungan. Ia masih belum mengerti tentang semua hal yang terjadi kepadanya.
“ima, watasi wa totemo bozen to shimasu ne!!”[4] . Sizuka melihat-lihat ruangan yang serinng ia gunakan untuk tempat bermainnya. Namun tiba-tiba ada sekelebat anak kecil yang berlari-lari kemudian ia di kejar oleh orang tuanya. “rasanya aku kenal? Dare desu ka?[5]” sizuka terlihat memperhatikan wajah-wajah yang saling berkejaran itu. Setelah beberapa saat melihatnya, akhirnya ia mengenali waja-wajah itu. Ternyata itu adalah Sizuka kecil dan ibunya. Sizuka dulu memang selalu tidak mau makan. Air matanya kembali mengalir tatkala ia melihat keringat ibunya mengalir diwajah yang begitu halus. Dahulu ia tak pernah memikirkan betapa capenya ibu yang selama ini ia dambakan.
Setelah besar, ia berpisah dengan orang tuanya karena sebuah cita-cita yang ia bangun semenjak ia di SMA. Ia pergi ke negeri sakura atas perjuangan yang ia lakukan selama ini. Sizuka, begitulah orang-orang jepang memanggilnya. Tapi nama aslinya adalah Naya. Naya kecil memang terlihat sudah lincah sekali di sekolahnya. Bahkan tak jarang guru-guru disekolahnya kenal sekali dengan yang namanya Naya.
Angin ajaib itu kembali membawa lamunan Sizuka alias Naya ke tempat yang berbeda lagi. Ditempat yang lain, ia melihat ibunya terbujur kaku ditutupi sebuah kain yang begitu halus serta putih. Melihatnya, sontak naya langsung memeluk ibunya. Namun hal itu tak bisa ia lakukan. Entah kenapa angin yang begitu besar itu kembali menyeret Naya yang sedang berusaha meraih tangan ibunya serta berusaha memeluk raga ibunya yang terbujur kaku itu. Naya berteriak sekencang-kencangnya. Namun tak ada seorangpun yang mendengar jeritan Naya itu.
Ditengah jalan, Naya terus meneteskan air matanya. Badannya sangat bergetar. Ketakutan yang sangat dalam sekarang sedang menyelimuti raga serta pikirannya. Tiba-tiba terdengar suara adzan dari kejauhan. Naya membukakan matanya perlahan. Ternyata semua itu hanyalah mimpi. Naya beristighfar beberapa kali. Mungkin karena ia sangat merindukan orang tua serta keluarganya yang berada di Indonesia, jadi hal itu membuatnya bermimpi seperti itu. Diatas sajadah perjuangannya, Naya merenungi kata-kata seorang gadis kecil yang menceritakan tentang pahlawan sejatinya. Ia baru mengerti bahwa sebenarnya ia juga mempunnyai seorang pahlawan. Yaitu ibu. Ibu yang mengandung serta melahirkannya. Ibu yang mengurusnya dari kecil hingga dewasa tanpa kena lelah. Ibu yang selalu bersabar menghadapi anaknya yang begitu manja serta nakal.
“Haha, anata wa watashi no yushi ne!”[6] Air mata Sizuka kembali menghiasi wajah mungilnya. Sejenak Sizuka berfikir tentang semua jasa yang telah orang tuanya berikan. Sambil berfikir, ia mencoba meraih HP-nya. Kemudian ia menekan tombol otomatis untuk nomor orang tuanya di indonesia. Namun, tiba-tiba Sizuka berdiri, ia lupa bahwa ia belum shalat subuh. Untunglah kamarnya dekat dengan sebuah masjid yang merupakan masjid pusat di Tokyo. Sizuka langsung pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudlu kemudian shalat subuh.
Ia kembali berdialog dengan Tuhan. Ia mengadukan semua rasa rindu yang begitu berat kepada kedua orang tua serta keluarganya. Sizuka berharap semoga tuhan menyampaikan rasa rindunya kepada semua keluargannya.
Setelah shalat, Sizuka kembali meraih HP-nya kemudian ia menekan tombol otomatis yang langsung menghubungkannya dengan sang mama.
“Assalamu’alaikum sayang” suara halus mama masih terdengar seperti dulu.
“Wa’alaikumsalam ma” jawab sizuka.
“tumben sayang, ada apa? Bukannya kamu harus ujian hari ini?” tanya ibunya.
“iya ma. Tapi aku kangen sama mama, papa, ade serta kakakku ma” suara manja Sizuka alias Naya terdengar merdu ditelepon.
“Mmm... anata wa benkyou sina kereba narimasen ne!! Chotto... gambatte ne![7]kami disini baik-baik saja kok. Kami selalu mendo’akan kamu disana. Semoga tuhan selalu memberikan kemudahan bagi kamu sayang”
Naya terdengar menangis ditelepon.
“Naya sayang.... kamu adalah keluarga yang sangat kami banggakan. Jadi jangan kecewakan kami ya?! Anak mama tak boleh menangis! Anak mama biasanya selalu ceria dan selalu bersemangat dalam hal apapun. Oke???” mama Naya selalu memberikan semangat kepada Naya tatkala ia sedang sedih ataupun sedang merasakan homesick.
“Ma, Naya sayang mama. Naya sayang papa. Naya juga sayang semuanya. Do’akan Naya selalu ya ma? Assalamu’alaikum” naya menutup teleponnya, karena ia tak mau kerinduannya menjadi semakin dalam.
Naya kembali ke meja belajarnya, kemudian ia belajar lagi karena siang ini ia harus ujian.


[1] Sumimasen “maaf”
[2] Apa ini?
[3] Hmm... ini kan rumah saya?
[4] Sekarang aku begitu bingung.
[5] Siapa ya?
[6] Ibu, ternyata engkaulah pahlawanku.
[7] Kamu harus belajar ya, ayo... semangat.

Lelaki Terhebat


by: Swittri Dewi Tambun
Ayah… begitulah kupanggil lelaki terhebat dalam hidupku. Tak habis kisahku tentang laki-laki ini. Lelaki dengan guratan takdir sempurna, dengan seribu damai dan tentram yang tertera di kerutan keningnya. Hari-harinya begitu keras. Hari-hari betapa seorang Ayah mempertaruhkan segalanya demi anak-anaknya. Ia seorang yang tangguh, dentuman ombak yang begitu keras dan riuhnya badai tidak mengalahkan keberaniannya. Ya, dia adalah seorang pelaut. Entah di negeri mana ayah sekarang berada, tetapi yang kutahu dia selalu ada di hatiku.
Sewaktu aku masih kecil, ayah mengajariku untuk mencintai malam, malam yang menjadi ketakukan bagi anak-anak lain. Ketika malam mulai merapat ayah sering memainkan gitar tuanya dan mengajak ibu untuk bernyanyi, aku hanya bisa tertawa memandangi tingkah lucu mereka dan menyadari bahwa betapa beruntungnya aku dilahirkan dalam harmoni keluarga ini. Ketika ayah pergi ke negeri orang untuk melaut, aku dan ibu masih melakukan hal yang sama. Kami akan pergi ke halaman rumah, sambil memandangi bintang dan bulan yang begitu memberikan kedamaian, disaat itu aku berharap ayah juga akan melihat hal yang sama sehingga rasa rindunya terhadap kami akan terobati.
Kumulai memainkan jemariku pada gitar tua yang ayah tinggalkan, “ Ayahku tak pernah ada di rumah…… setiap hari katanya mencari uang….. Aku rindu belaian kasihnya…. Aku perlu bimbingan darinya….”, dengan suaraku yang merdu aku menyayikan lirik ini. Lalu ibu akan membalasnya, “ Anakku .. jangan kau mengeluh saja, ayahmu kini bertugas diluar kota… Ibu juga rindu pada ayah.. Tanpa ayah hidup ini hampa …”  Ibu yang mengajariku lagu ini. Lalu kami berdua akan bernyanyi di bagian reff “ Ayah… dengarlah jeritan kami ini, berilah sedikit waktu untuk anakmu. Oh ayah.. yang tercinta..”. Entah darimana ibu mengetahuinya, tapi yang kutahu lagu tua ini akan menjadi ramuan yang pas untuk mengobati rinduku pada ayah, karena pada saat menyayikan lagu ini hati kecilku berharap agar ayah mendengar jeritan lagu yang kami nyanyikan untuk ayah, agar ayah yang tercinta memberikan waktu untuk bertemu dengan kami keluarganya.
Aku sangat tahu betapa besar kerinduan ibu kepada ayah, hal itu tersirat jelas dalam matanya yang berkaca-kaca ketika menyayikan lagu tersebut. Aku sering memergoki ibu menangis ketika ia sudah merasa tidak sanggup menghadapi rintangan keluarga kami, ketika ibu sudah lelah menjadi ayah sekaligus ibu rumah tangga di rumah kami.
 Aku juga sangat tahu kerinduan adikku kepada ayah. Ketika ibu memukulnya ia hanya berteriak memanggil “ayah…ayah”, bahkan ketika adik tisur ia masih sering berteriak memanggil yah dan meminta untuk dibelikanmainan oleh ayah. Sementara aku, aku hanya bisa menangis dalam hati melihatnya sambil mengusap kening adikku.
Setelah lulus SMA, ayah sedikit memaksaku untuk menjadi seorang dokter. Aku tahu bahwa seluruh paksaan yang dilakukan ayah semata – mata hanya karena memikirkan masa depanku nanti. Tetapi tetap saja ayah tetap tersenyum dan mendukungku saat pilihanku tidak sesuai dengan keinginan ayah. Setelah aku menjadi gadis dewasa, aku harus pergi kuliah dikota lain. Dengan sejuta kesenangan ayahku mendapatkan kesempatan untuk mengantarkanku. Aku mendengar jelas suara hati ayah yang berkata “Segenap jiwa dan ragaku siap mengantarkanmu Nak menjemput impian terindahmu.”

Ayah harus melepas kepergian putri kecilnya di bandara. Aku mengerti mengapa badan ayah terasa kaku untuk memelukku, yang ayah lakukan hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhku untuk berhati-hati. Padahal tersirat jerat di raut wajahnya bahwa ia ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukku erat-erat. Tetapi yang ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakku. Aku tahu ayah lakukan itu agar aku kuat, kuat untuk pergi dan menjadi dewasa di negari antah-berantah untuk menimba ilmu.

Ketika aku tanpa sengaja melihat ayahku sedang mengusap  wajahnya yang mulai berkerut, dengan badannya yang mulai membungkuk, dan suara batuknya yang khas itu. Aku mengerti kenapa ayah tak mudah menangis bukan karena ayah tak punya airmata, tapi karena sebelum keluar dari mata Ayah, air mata ayah sudah berubah menjadi keringat dan peluh, yang  ayah pertaruhkan setiap hari agar keringat itu bisa berubah menjadi uang, yang bisa kau gunakan untuk memenuhi semua kebutuhanku.
Pernah sesekali aku bertanya kepada ibu, “Ibu kenapa ayah jarang meneleponku ? Kenapa ayah tidak memanjakanku seperti teman-temanku yang dimanjakan oleh ayahnya ? ” Ibu menjawabku dengan penuh kehangatan , “Nak, ayah jarang meneloponmu bukan karena tidak ada rasa rindunya kepadamu. Tahukah kau bahwa ayahlah yang mengingatkan ibu untuk meneloponmu. Ayah harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. Ketika kau marah pada ayah dan masuk ke kamar sambil membanting pintu. Ayah yang menyuruh ibu untuk datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah. Tahukah kau anakku, bahwa saat itu bahwa saat itu  memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi ayah harus menjagamu. Ayah ingin putri kecilnya menjadi anak yang manja dan pemarah. Anakku ketika teman lelaki mu datang kerumah, ayah memasang wajah yang paling mengerikan. Itu semua ayah lakukan agar putrinya yang cantik tidak salah memilih orang. Ayah takut lelaki itu tidak dapat menggantikan posisinya ketika rambutnya semakin memutih, dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya. Karena bagi ayah, putrid kecilnya adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga.”
Aku tak dapat membendung air mataku mendengar jawaban itu, maafkan aku ayah. Maafkan aku jikalau aku membuat ayah sedih. Maafkan aku kalau suatu hari nanti aku tidak melihat senyuman terindah itu tidak menghiasi wajah damaimu. aku tahu ayah masih akan tetap menjadi sosok yang harus selalu terlihat kuat. Kini aku sudah menjadi gadis dewasa ayah, tetapi aku masih ingin menjadi putri kecil ayah yang lucu. Aku masih ingin berada dalam pangkuanmu. Aku masih ingin dimarahi oleh ayah ketika aku berbuat nakal.
Aku ingin menunjukkan kepadamu ayah bahwa aku bisa sekuat ayah. Ketika aku diwisuda sebagai seorang sarjana. Aku yakin ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat  “Putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”. Hanya ini yang bisa aku persembahkan untuk ayah, nilai terbaik dan gelar sarjana untuk mencari pekerjaan yang layak. Aku selalu bertekat dalam hatiku ketika kelak aku bekerja, aku akan menyuruh ayah untuk tidak bekerja lagi di kapal. Tidak pergi ke negeri orang menghadapi buasnya lautan untuk menghidupi keluarganya. Supaya ibu tak lagi berkaca-kaca matanya dan adik tidak lagi berteriak “ayah” saat dia kesakitan dipukul ibu, karena ayah sudah akan ada di rumah kecil kami ketika aku sudah dapat pekerjaan. Ayah.. Aku ingin berkorban seperti ayah berkorban untukku. Tetapi apa yang bisa aku lakukan ayah ?  aku hanya bisa berdoa, berdoa dan berdoa  agar engkau selamat, agar engkau beroleh hikmat. Di depan tumpukan buku-buku ini aku berjanji untuk berhasil dalam studiku. Aku akan bersaing dengan orang-orang hebat yang aku temui saat ini di bangku kuliah.
 Ayah… kau tahu betapa aku mencintaimu. aku selalu membutuhkanmu sekalipun aku sudah bertumbuh dewasa, aku ingin selalu bersamamu. Aku tidak takut apapun ketika kau ada didekatku, karena kau akan menuntunku di tempat yang paling gelap sekalipun. Kau tahu ayah, kau ada dan akan selalu ada dalam mimpiku. Aku mencintaimu ayah, kaulah idolaku. Aku ingin selalu mempersembahkan yang terbaik untuk ayah. Ayah orang yang paling memahamiku. Sewaktu kecil, ayah memainkan semua permainan yang aku sukai. Ayah mengajariku berdoa. Aku selalu mendengar ketika ayah bertelut meminta kepada Tuhan, ada namaku ayah sebut. Aku akan sangat bangga menceritakan tentang ayah kepada teman-temanku. Ayah yang paling tangguh dan sabar. Aku akan menjadi putri terbaikmu ayah karena Ayah telah menjadi ayah terbaikku.  Ayah terbaik sepanjang abad. Bagaimana dengan ayahmu ?


Tambah Kosa Kata

Ayooo kita tambah kosa katanya... :)


  1. ねます (Tidur)
  2. おきます(Bangun)
  3. かお を あらいます (Mencuci muka)
  4. は を みがきます (menyikat gigi)
  5. シャワー  を あびます (Mandi)
  6. おいのり を します (shalat)
  7. ひるね を します (Tidur siang)
  8. しゅくだい を します(Mengerjakan PR)
  9. あさ (Pagi)
  10. ひる (Siang)
  11. よる (Malam)
  12. ききます (Mendengarkan)
  13. ラジオー (Radio)
  14. テープ (Tape)
  15. よみます (Membaca)
  16. ざっし (Majalah)
  17. しんぶん (Koran)
  18. まんが (Komik)
  19. しょうせつ (Novel)
  20. かきます (Menulis)
  21. てがみ (Surat)
  22. さくぶん (Karangan)
  23. にっき (Diary)
  24. いきます (Pergi)
  25. がっこう (Sekolah)
  26. えいがかん (Bioskop)
  27. かえります (Pulang)
  28. うち (Rumah)
  29. たべます (Makan)
  30. たまご (telur)
  31. ぱん (Roti)
  32. にく (Daging)
  33. さかな (Ikan)
  34. ごはん (Nasi)
  35. やさい (Sayuran)
  36. くだもの (buah-buahan)
  37. のみます (Minum)
  38. こちゃ (Teh)
  39. みず (Air Putih)
  40. ぎゅうにゅう (Susu)

Kata Kerja Golongan Ke 2 dan 3

おはよう ございます。おひさしぶり ですね。
いま、わたしたち は 日本語 を べんきょうします。

Haduh, sudah lama tidak berjumpa.
Sekarang mari kita lanjutkan kembali pembelajaran kita mengenai kata kerja.
Kemarin, kita sudah sampai pada kata kerja golongan pertama  ya? Sekarang mari kita lanjutkan ke kata kerja golongan ke dua dan tiga.

Kata kerja golongan ke dua adalah kata kerja yang diakhiri oleh ~iru dan ~eru. Sedangkan kata kerja golongan ke tiga adalah kata kerja yang berakhiran ~uru. Contoh:
~iru (いる)     : みる (melihat)
~える    : たべる (makan)
~uru (うる) :する (melakukan)
Perubahan bentuk menjadi bentuk masu:
1. Miru : ru disana dibuang kemudian diganti dengan masu. Jadi Mimasu, artinya melihat.
2. taberu : sama juga, ru diganti menjadi masu. jadi tabemasu, artinya makan.
3. suru : nah, untuk kata kerja golongan ke tiga uru dibuang/diganti dengan imasu. Jadi, shimasu.

Bagaimana mengerti tidak?
hhhuuuhhh
Setelah beberapa minggu terjerat dengan sibuknya aktifitas, akhirnya sekarang bisa menghela nafas di kosan. Meski kepala pusing dan hidung mampet, tapi tak apalah. Yang penting bisa merebahkan badan sejenak. 
zzzzz.... Benar-benar nyut-nyutan deh ini kepala. Rasanya kalo sudah begini pengen pulang ke rumah saja. Tak ada teman yang bisa memperhatikan, semuanya sibuk dengan urusannya masing-masing. Tapi ya, buat apa juga kali memperhatikanku?ahahaha Dasaaarr!

Sebenarnya, aku disini hanya ingin menyapa saja. Dulu yang biasanya aku bisa menulis setiap saat, tapi kali ini tidak. Kesibukan semakin melanda. Bahkan kemarin-kemarin aku sering pulang malam untuk menguruskan hal tersebut. 
hmm...
Tapi dengan kesibukanku, ternyata semua penat yang menghantui jiwa sedikit demi sedikit terlupakan. Tak pernah lagi terbayang...

Kini aku merasa seperti terbang diangkasa. Tak peduli dengan kata orang yang selalu menganggapku sebagai seorang yang idealis dan tidak realis. Bahkan ia bilang "Pantesan tingkat 2! Masih idealis"
Hadaaahhhh, dibilang seperti itu? jleb bangetlah. 
Okelah, sepintas mungkin mereka melihatku sebagai orang yang seperti itu. Namun, perbuatan yang akan menjadikan keidealisanku itu berubah menjadi hal yang realis. Tapi tekadku yang terlihat idealis itu membuat aku terus belajar. 
"Untuk apa sekolah? kan ada buku. Dari buku kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan." katanya. 
Kemudian "Untuk apa sekolah? Untuk apa memikirkan negara? Emang kita nggak bisa hidup tanpa negara? Saya aja, 8 tahun masih menganggur."
zzzzz.... semua pertanyaan itu membuatku geram. Setelah aku jawab, ia masih saja terus bertanya dan seolah meyakinkan bahwa sebenarnya aku itu masih terlalu idealis dan harus berubah menjadi seorang yang realis. Tapi aku tidak bisa dengan mudahnya berubah menjadi orang yang seperti itu. Dari dulu, karakterku memang sudah seperti ini, semuanya harus tersusun dengan rapi. Dan mengerjakannya satu persatu dengan terstruktur. kemudian  mencatat semua yang sudah aku kerjakan dan belum aku kerjakan.
Dengan begitu, aku bisa mengetahui mana saja hal yang belum aku kerjakan dan mana saja yang sudah aku kerjakan. Supaya memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. 
gggggggrrrrrrr...... Tapi ya sudahlah, kepalaku malah makin pusing kalo mengingatnya
heuheuheu

Tapi lumayan keren juga sih dengan pemikiran akang itu. ahahaha

Kali ini aku terdiam, 
terdiam yang bukan sekedar terdiam. 

Diam dalam sepi yang mempesona.
Kali  ini aku terhanyut dalam lamumanku. Lamunan yang jika semua orang tahu, mereka pasti akan menertawakannya. Pernah suatu hari ku ceritakan lamunan senjaku itu. Namun, entah mungkin karena pikirannya sudah terkonstruksi seperti itu atau apa. Yang jelas, mereka selalu tersenyum sinis ketika mereka tahu kalo lamunanku seperti itu.

Tak pantang menyerah,
Justru senyum sinis serta perkataan mereka justru kembali membangkitkan semangatku. Aku duduk terpaku dengan semua ini. Memikirkan semua strategi yang belum aku gunakan dengan baik. 

Sepi, sungguh sepinya hidup ini tanpa kehadiran mereka. 
Tapi satu hal yang selalu memberikan energi padaku. Tatkala aku kalah dalam sesuatu, ya .. Tatkala orang lain bersedih dengan kekalahannya, aku malah tersenyum. Mereka menangis, aku tertawa. Mereka bingung, aku sibuk mengotak-atik netbook. Mereka galau, aku masih tersenyum.