RSS

youtube: Naiko Chanel

click to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own text

Garut 2 Abad : Pameran

Sabtu-Minggu ceria. hahaha :D Kaya apa aja ya? bahasanya pake ceria, ceria segala :)

Well, tak apalah. Karena aku yang merasakan keceriaannya pada waktu itu. Becouse, Sabtu kemarin aku berhasil menumpahkan seluruh rinduku pada mereka. Padahal baru sebulan kami tak berjumpa, tapi rasanya sudah berapa tahun. hihi..
Jum'at kemarin, aku pulang ke rumah. Dan dihari Sabtunya aku pergi menemui mereka. -siapa?- Teman-temanku atuhhhh... Teman pesantrenku. Pagi itu aku berangkat dari rumah menuju ke Panti Asuhan dan Pesantren Anak Ulinnuha. Panti itu merupakan tempat istirahat keduaku setelah Pesantren -selain rumah, maksudnya-. 
Karena bosen juga hanya ngobrol di Panti. akhirnya aku mengajak mereka untuk pergi ke Alun-alun Garut. Ya, sembari menghirup udara segar di wilayah Garut. Kan jarang-jarang juga main disana. Karena aku sekarang sudah tidak tinggal disana. Aku masih harus menyelesaikan studi ku di bumi Padjadjaran. 

Wow, tahu nggak? Dari kejauhan, rupanya wilayah tersebut sudah ramai. Aku melihat banyak sekali warga yang berbondong-bondong masuk ke area Alun-alun tersebut. Semakin menambah ketidak sabaranku untuk melihat tempat itu. hadaaaahhh... 
"Ayo teh, kita masuk kesana" Kataku dengan penuh semangat. 
"Boleh. Ramai sekali ya!" Jawab Sri. 
"Yuyuy. ah, tapi sayang. Seandainya aku punya kamera, kan bisa ku pajang di blog. Ya, setidaknya untuk membantu mengharumkan nama Garut kembali" 
"Beli aja atuh" Kata Sayidah. 
"Wow, ahahaha... Ntar aja deh, kalo udah punya uang" 
Mereka tersenyum mendengar jawabanku. 

Jya, jya, jya, di dalam, rupanya sudah banyak sekali pengunjung yang datang disana. Seperti biasa, Garut selalu mengadakan lomba fashion show khusus buat domba. ihihihi.. Lucu kan? Kan Garut punya domba yang bagus-bagus. Dan tahu nggakkkkk??? Ternyata diajang catwalk ini, domba-dombanya ada yang di hias pake bondu, dan manik-manik lainnya. Pokoknya lucu banget dehhhh... Tapi sayang, karena kapasitas ketinggianku yang kurang, aku tidak bisa melihat semua domba-domba yang lucu itu. Ikh, sempet kesel juga sih sebenarnya. Tapi menambah rasa cintaku pada kota kelahiranku ini. 

Dan rupanya yang menderita seperti aku, bukan hanya aku saja. ahahaha... Kedua temanku juga merasakan hal yang sama. Mereka tidak bisa melihat catwalk itu dengan baik, karena sudah banyak penonton yang lebih dulu datang kesana dengan tinggi badan yang lumayan jauh dari kami. heuheuheu..  Ya sudahlah yaaaa... yang penting kita sekarang seolah menjadi orang Garut seutuhnya. 

Nah, nah, disamping catwalk domba-domba yang lucu ini. Ada juga pameran kuliner -berbagai makanan sunda ada disana. Eh, ketang Ramen juga ada lhoooo-,  pernak-pernik khas Garut -hiasan dari akar wangi, pernak-pernik domba, tempat wisata, dsb. Pokoknya khas Garut dah- , Batik Garutan, Tempat wisata di Garut, pameran pemerintah Garut -mulai dinas pariwisata, pertanian, ketahanan pangan, perhubungan, dll-, dan Pokoknya banyak lagi deh. Sampai se-area Alun-alun itu penuh semuanya, nggak ada tempat yang kosong. Kecuali untuk jalan kita yaaaa... ahahaha.. Sampai ke depat pendopo pun penuh uy.

Haduuuuhhh... Pokoknya, pokoknya, pokonya... Rame bangettttt.......
Masih ada beberapa rangkaian acara untuk perayaan Garut 2 Abad ini. 


 
 

 

Pencapaian Indah!

Wuhuhuhu... Pendekatan kedua-ku berbuah hasil pemirsaaaa... hehe
Diminggu pertama, anak-anak yang datang berjumlah 6 orang saja. Dan dipertemuan ke dua, alhamdulillah bertambah menjadi 21 orang. :)
Betapa bahagianya aku melihat mereka. 
Dengan modal pengalamanku bergelut dengan dunia anak selama SMP sampai SMA, alhamdulillah dalam hitungan jam kami sudah bisa dekat. Bahkan dipertemuan kedua ini, aku berhasil membuat mereka tertarik untuk belajar. Ya, belajar berbagai hal.Bahkan ada beberapa diantara mereka yang nawar ingin diajarkan Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Jepang. Padahal aku belum membicarakan apa saja yang aku ajarkan pada mereka. Tapi, dengan begitu semangatnya mereka meminta padaku. 
Ya Tuhaaan, betapa senangnya aku melihat mereka begitu semangat dengan kegiatan ini. 
Dengan demikian, berarti minggu depan aku sudah berhasil naik satu tangga ke "saung bahasa". Meski harus ada beberapa kegiatan yang aku skip, aku begitu semangat untuk menjalankan proyek "Kampung Kreatif"ku ini. Karena dengan demikian, setidaknya aku sudah membantu pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. 

Hoaaaaaaaaaaaammmmm....... 
Bismillah, bismillah ya Alloh. Semoga apa yang aku lakukan ini selalu ada dalam ridho-Mu. :)

Ingin Didengar Tapi Tak Mendengar?

Suatu hari, aku bertemu dengan teman baru di lingkungan baru. Dia orangnya lumayan ramah, baik, murah senyum. Akan tetapi, dia orangnya selalu menunjukkan muka masamnya ketika ia merasa tidak senang dengan sesuatu, atau BT terhadap sesuatu.
Hari itu adalah hari pertama kami masuk kampus. Sungguh, perbedaan yang kudapati antar SMA dan kuliah itu ternyata beda sekali. Entah mungkin karena aku yang masih kurang kenal dengan lingkungan itu atau entah karena aku yang memang terbiasa dengan dunia bersama. Teman baruku itu kerjaannya tertawa sendiri sambil memegang hp. Tak tahu apa yang sedang ia baca. Yang jelas ia hanya asik dengan dunianya sendiri. tertawa sendiri, merenung sendiri, sedih sendiri dan lain sebagainya.
Awalnya aku tertanggu dengan hal itu, tapi tak mungkin aku katakan padanya. Karena ia adalah teman baruku. Kalau misalnya aku ceritakan padanya, mungkin ia takkan mau lagi bermain denganku. Pikirku waktu itu.
Hari demi hari berlalu dengan cepatnya. Sikap teman baruku itu masih sama dengan sebelumnya. Ia masih asyik sendiri dengan bacaannya sampai dipanggil beberapa kalipun ia takkan nyaut. Akhirnya kekesalanku semakin memuncak. Akupun memilih untuk diam saja.
Melihat sikapku yang agak aneh, dia bertanya “kenapa diam terus?”.
“Percuma ngomong pun, tak ada yang mendengar” jawabku.
“Emang kamu ngobrol bareng siapa? Kenapa nggak di dengar?” tanyanya penasaran.
“Dia asyik dengan kerjaannya sendiri”
Mendengar kalimat itu, dia terdiam sejenak. Merenung. Dahinya mengerut seakan mencari makna dibalik kalimat yang tadi ia dengar.
“Maksud kamu siapa? Aku?”
“Iyaaaaa... Masa aku panggil beberapa kali kamu nggak nyaut-nyaut. Malah asyik sendiri dengan bacaannya. Emang kamu baca apa sih? Sampe segitunya.”
“Aduuh maaf, emang aku kayak gitu ya?” dia malah balik nanya.
Sedang aku sudah bosan mendengarnya. “ga tahu atuh. Coba aja pikirin”
Sebelumnya aku tak pernah berbuat sadis pada orang lain. Tapi kali ini orang tersebut sudah keterlaluan. Untung saja kejadian itu menimpaku, kalo misalnya kena ke orang lain mungkin orang lain itu sudah membencinya dan enggan untuk berbicara lagi dengannya.
Beberapa hari setelah kejadian itu, ia mencoba untuk mengurangi sifat jeleknya tersebut. Namun, ketika ia berbicara dengan orang lain matanya berkeliaran kemana-mana, seolah tak memperhatikan omongan temannya itu. Begitu pula ketika ia ngobrol denganku. Hatiku semakin kesal tak karuan. Namun aku tahan rasa kesal itu. Karena kupikir dia emang sedang tidak ingin berbicara denganku. Atau itu adalah pelampiasannya karena ia tidak mengerti dengan apa yang kubicarakan.
Okelah, satu dua kali aku masih mentolelirnya. Tapi kali ini ia masih juga bersikap seperti itu. Hingga akhirnya aku tak mau mendengarkan omongannya karena iapun tak pernah mendengarkan omonganku. Jahat sih sebenarnya, tapi aku ingin memberikan pelajaran padanya.
Ia langsung diam ketika melihat bahwa aku tidak memperhatikan apa yang ia omongkan. Wajahnya langsung berubah. Seolah baru disambar petir. Ia tak lagi menampakkan senyumnya. Aku tersenyum dalam hati. Semoga engkau mengerti dengan apa yang kulakukan ini, pikirku.
Suatu pagi, aku duduk di meja batu belakang gedung A. Aku duduk sembari menyantap makananku. Huh, aku memang belum makan. Jadi makanan seperti inipun terasa nikmat. Pikirku sambil menatap gorengan itu. Saat itu, aku tidak duduk sendirian. Karena teman baruku itu juga ikut bersamaku. Di tengah kesepian hari, ia mengawali pembicaraan dengan wajah tidak seperti biasanya.
“kenapa?” tanyaku padanya.
“Aku kesel, Hal”
“kesel kenapa?”
“masa coba, kemarin aku ngomong nggak ada yang mendengarkan sama sekali. Padahal aku lagi butuh masukan mereka. tapi mereka malah asyik dengan yang mereka kerjakan”
Mendengar perkataan itu, aku tersenyum. Sedang ia masih meneruskan omongannya tanpa henti. Setelah selesai, baru aku jawab.
“Sya, kalau kamu ingin didengar orang, maka kamu harus menjadi pendengar juga. Karena orang lain nggak mau menghargai kamu kalau kamunya juga nggak menghargai orang lain”
“Emang aku kenapa?” tanyanya.
“Maaf ya.. kalu menurut aku. Kamu itu bukan pendengar yang baik, karena setiap kali aku bercerita ke kamu. Sorotan mata kamu malah berjalan-jalan ke arah lain"
"So, kalau mau didengar orang lain, jadilah pendengar yang baik bagi orang lain"

Selamat Jalan Ustadz

"In Memoriam Uje??" Apa maksudnya? Pikirku waktu itu. 
Dengan wajah penasaran, aku langsung mendekat ke layar TV dan kembali membaca headline berita tersebut. 
Pikirku melayang, memutar ke seluruh arah, mencari jawaban dari pertanyaanku itu. Ada apa emang? Kenapa dengan Uje? Kenapa? Kenapa in Memoriam? Kayak yang lagi apa aja. Pikirku terus melayang. Hingga akhirnya, tayangan TV pun berubah menjadi kerumunan orang yang memakai baju hitam bermuka merah, dan ada linangan air mata di wajahnya. 
Kenapa? Ada apa? 
Aku terus mencari jawaban, sembari memelototi layar tersebut tanpa mengedipkan mata sekalipun.Bahkan aku sampai lupa kalau aku sedang memasak air.
Innalillahi, sungguh betapa bergetarnya seluruh badan ini ketika mendengar bahwa ia telah pulang ke rahmatulloh. Serasa baru kemarin ia memenuhi telingaku dengan lantunan ayat-ayat suciNya. Serasa baru kemarin ia menggetarkan jiwaku dengan shalawatnya. Serasa baru kemarin ia menggetarkan jiwaku dengan kata-kata indahnya. Meski tak pernah kami bertemu, tapi betapa sedihnya hati ini. 
Antara percaya dan tidak. 

Allohummagfirlahu, warhamhu, wa'afihi wa'fu'anhu... -_-
Ya, Alloh.. Ampunilah segalah dosanya......
Selamat jalan ustadz, terima kasih telah mengingatkanku selalu padaNya. Semoga engkau tenang bersamaNya. 

Hingga kali ini, aku menuliskan ini, aku seakan masih bermimpi dengan semua takdirNya. Ternyata, maut itu begitu dekat dengan kita. 
YA Alloh... -_-

Bismillah

Inilah sedikit langkahku bagi bangsa yang telah berbaik hati untuk membiayai seluruh pendidikan S1-ku.
Aaaaaahhh... cukup sudah aku berbuat bodoh. Sekarang waktunya aku membalas budiku pada negara yang telah membiayai sekolahku sampai selesai. Ya, meski sekarang aku baru semester 4. Tapi tak apalah, aku menabung sedikit demi sedikit sebagai bekalku kelak. Dan ini semua akan kupersembahkan untuk negaraku tercinta.
Sebelum membahas apa yang sedang kulakukan hari ini, aku ingin sedikit bercerita tentang negaraku hari ini.
Ya, semakin hari rasanya negaraku menjadi momok yang paling menyeramkan. Pasalnya, korupsi dimana-mana, bahkan jika kita lihat data korupsi di dunia mungkin negara ini sudah menjadi negara teratas. (meski sebenarnya masih ada yang lebih buruk).. Tapi ingat teman, janganlah kalian takut dengan negara kalian sendiri. karena dengan rasa takut itu, kalian tidak akan mampu untuk mengubah keadaan ini. Ingat! Satu-satunya harapan negara ini hanya kita! Kita! Anak muda! Generasi penerus bangsa!
Sungguh bergetarnya jiwa ini tatkala mendengar seorang anak muda yang ingin pindah kewarganeraannya. Ia pikir, negara kita tidak menghargai kepintaran warga negaranya, justru mereka malah percaya pada negara lain. Ia juga lebih memilih barang ekspor dari pada impor. But, hey guys! Apa dengan engkau pindah ke negara lain, negara ini akan menjadi lebih baik? Apa engkau akan membiarkan negara kelahiran kita ini menjadi negara sampah? Apa engkau akan menjadikan negara ibu kita ini menjadi negara yang paling buruk? NO!!! Berpikir panjanglah!
Kalau bukan kita, siapa lagi? Siapa lagi yang akan menjadikan bangsa ini menjadi lebih baik?
Well, aku akui negara ini memang buruk. Tapi bukan berarti kita harus meninggalkan negara ini untuk kepentingan kita sendiri. ah, betapa egoisnya kau. Kalau kau pergi hanya untuk kepentingan diri sendiri.
Ayolah, mari kita satukan tekad untuk memperbaiki dunia kita ini. mulai dari ubah tata cara pikir kita!
Ubah pola tingkah laku kita!
Ubah semuanya mulai dari diri kita sendiri!
Dengan demikian, sedikit demi sedikit kita akan menjadi apa yang kita inginkan.
Well, mungkin ini adalah satu langkahku untuk mengubah bangsa sedikit demi sedikit. Aku juga awalnya pesimis kok terhadap diriku sendiri. tapi kepesimisan itu tidak akan berarti jika kita hanya duduk diam dan meratapi kepesimisan itu. Ahahaha... yaiyalah, orang pesimis mah tetep we pesimis. Tapi ubahlah, ingat tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Walt Disney aja bilang kayak gini “If you can dream it, you can do it!” ya kan? Ya emang bener. Ayolah, jangan generasi pesimis.

Nah, ini dia kegiatanku untuk kampungku=>  komunitas ‘kampung kreatif”.......
Ya, untuk merujuk ke lingkungan yang lebih besar, kita mulai dari yang terdekat sajalah. Yaitu kampung kelahiran kita. Komunitas  ‘kampung kreatif’ ini lahir dari pengalamanku di luar, ketika orang tahu bahwa aku kelahiran kampung Gadog. Mereka langsung mengerutkan kepala dan memancarkan satu ekspresi yang kaget dan penuh kebahagiaan. Aku tidak tahu sebenarnya apa yang mereka pikirkan. Namun, satu ucapan yang selalu aku ingat, “Semoga engkau bisa mengangkat kampung itu ya”.
Dek, jantungku berdetak kencang. Beribu-ribu pertanyaanpun muncul dalam benak. Apa yang sebenarnya terjadi emang? Ada apa dengan kampungku itu? Sedari SMP, aku memang tinggal di kampung orang, sehingga aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di kampung itu. Waktu itu orang tuaku mengirimkanku ke pesantren. Dan hidup disana sampai aku lulus SMA. Kemudian aku melanjutkan kuliah di UNPAD. Hingga akupun tidak tahu apa yang terjadi disana.
Baru kemarin, aku mengetahui kalau sebenarnya kampungku itu sering disebut “kampung beling” maksudnya, banyak orang garang yang ditakuti disana. –bukan berarti aku mau menebar aib, tapi aku ingin mengubahnya-. Dengan demikian, aku berpikir dan terus berpikir. Tidak mungkin aku membangun negara lain sedang negaraku sendiri tidak. Kupikir, aku harus berbuat sesuatu. Hingga akhirnya, muncullah pemikiran ini. aku ingin membuat satu komunitas yang sedikit demi sedikit mengubah kebiasaan dari kampungku itu.
Ya, target utama dari komunitas ini adalah anak-anak. Aku berusaha mendekati anak-anak karena anak dewasa disana tidak akan mendengarkan omonganku. Ya, karena aku tidak dekat dengan mereka. dan kupikir agak sulit untuk mendekatinya, karena mereka sudah berperilaku tidak seperti biasanya. Ya, maaf. Tidak bisa kukatakan disini.
Kemudian aku juga mencoba mendekati masyarakatnya. Hmm... semoga sukses semuanya ya Alloh. Dan semoga novelku bisa terbit, sehingga semua keperluan komunitas ini bisa aku penuhi sendiri tanpa meminta pada mereka (targetku).
Beberapa program dalam kampung kreatif ini:
1.    Kampung bahasa : belajar berbagai bahasa.  Inggris, Sunda, Jepang, Indonesia, Arab. (insya Alloh bahasa lainnya nyusul. Hehe.. coz aku hanya bisa bahasa itu  )
2.    Kampung kreatif : disana belajar menyulam, membuat kerajinan dari bahan bekas, dan minat bakat juga ada disini.
3.    Kampung mimpi : aku ingin menjadikan generasi ini adalah generasi optimis, sehingga nanti akan ada pembekalan dan bimbingan untuk mencapai mimpinya. Intinya aku membangun mimpi anak-anak disini
4.    Kampung mengaji : pengajian, belajar semua tentang Islam
5.    Kampung baca : membudayakan kebiasaan membaca
6.    Kampung menulis : membangun kebiasaan menulis
7.    Kampung bisnis : berusaha untuk membangun bisnis kecil-kecilan
8.    Kampung politik : ya, karena aku berada di fakultas ilmu sosial dan ilmu politik, ya setidaknya aku ingin memberikan pengertian pada mereka tentang politik.
Ya, baru segitu dulu... hehe
Karena akupun hanya sendiri dan masih kuliah. Jadi aku membagi waktu untuk pembangunan kampungku ini.
Bismillaaaaaahhhhh..... Insya Alloh setelah aku pulang dari Pare. Aku akan mengadakan launching untuk kampung kreatif ini 

Antara Karir dan Kurir

Jyaaahhh... Aktifitas semester ini tuh asa terlalu banyak waktu senggangnya euy..
Pasalnya, aku nggak ngambil keatas gara-gara mata kuliah atas yang aku ambil bentrok dengan mata kuliah pilihan yang dosennya emang udah kenal banget (Keamanan Global vs Bahasa Jepang).. Ya, jujur sih. Kalo disuruh milih pasti aku milihnya Keamanan Global. Tapiiii aku nggak mau bikin gara-gara deh sama dosen Jepang. Soalnya waktu bilang bentrok, nada bicara dosen tersebut langsung agak tinggi, dan sikapnya pun berubah. oalahhh... cukuplah aku berurusan dengan guru waktu SMP dan SMA, sampai mempengaruhi nilaiku coba.
akhirnya aku nggak jadi ngambil matkul itu, pasrah deh. Mana udah nggak bisa PKRS.  Makin nggak jelas aja hidup teh. hihihi
So, gara-gara aku cuma ngambil 21 sks akhirnya kegiatanku bolong-bolong alias nggak terlalu sibuk. Ada baiknya juga sih sebenarnya, tapi ini tuh malah bikin aku pengen pulang tiap minggu. Alhasil, rumah pun aku kunjungi tiap minggu. :D

BT, Bosan, Borring, Kesel, apa lagi ya? Itulah yang kurasa dari hari ke hari. Hadahhh makin nggak jelas, makin nggak betah

Hari berganti hari, dan bulan pun berganti bulan... Tak terasa, hari ini sudah pertengahan semester. Tinggal beberapa bulan lagi aku menyelesaikan kuliah semester IV. woooo... Asa makin tua euy. hahaha... Tapi tak apalah.. Pokoknya harus selesai kuliah, 4 tahun maksimal. 

Hmm... Serasa baru kemarin aku curhat ke beberapa dosen tentang ketidak betahanku belajar disana. Tapi mereka selalu bilang "Jalani sajalah". Kemudian diperkuat oleh ungkapan papap kemarin (ketika aku menjadi moderator acara yang diisi oleh beliau, "Sekarang mah jalani aja, karena kuliah itu nantinya akan menentukan kamu di dunia pekerjaan, karena nanti kamu akan butuh hidup kan? Sedangkan passion yang akan menjadi karir" katanya.
ahahah.. iya juga sih.

Eh, ternyata benar emang... Jalani saja semua hal yang sekarang telah diberikan Alloh pada kita. Toh, dibalik itu passti ada tujuannya kan. Kenapa Alloh memberikan itu semua pada kita? Hah, life must go on... Tinggal pintar-pintarnya kita mengemas semua itu.

Inikah Wajah Pemuda Sekarang, Seolah tak acuh dengan sekitar?

My journey--Jatinangor-Garut-- 21 April 2013

"Jyaaaa... pengen teriak sekencengnya da, pas kaluar ti beus teh" hadaaah -_-'
Tadi pagi, aku berangkat dari kosan itu sekitar jam setengah tujuh.. But, karena nunggu dulu temen-nebeng internet- jadi agak molor, asalnya target pulang itu jam tujuh pagi, biar sampai rumah tuh tidak terlalu siang.  Eh gara-gara nungguin temen dulu, akhirnya aku pulang sekitar jam setengah delapan. 
Daaaan tahu nggak? Ternyata jalanan macet bangeeeeeeeettt..... Sudah hampir 3 jam aku berdiri, bus itu belum juga sampai ke tujuan. Karena memang jalannya itu "ngerayap" banget. Haduuuh, udah kipas-kipas, mencoba bikin oksigen baru, dan minum sebanyak mungkin, tapi tetap tidak berpengaruh. rasanya badanku sudah mulai lemas. Tak tahan lagi rasanya kaki ini menjadi tumpuanku. Tapi apa daya, semua tempat duduk penuh. 
heuh, kalo nggak karena terlalu butuh, aku tidak ingin pulang seperti ini. pikirku. Tapi karena memang sedang terdesak, maka akupun terpaksa pulang. 
tiga jam setengah berlalu, aku masih berdiri disana. Tidak ada satu orangpun yang menawarkan duduk untukku. Apalagi laki-laki yang masih muda. Aku heran, mereka masih egois dengan dirinya masing-masing. Sedang aku disini berdiri setengah lemas, menahan getar yang mulai merayapi tubuh. Baru setelah aku menghela nafas panjang sembari mengipas-ngipasi wajahku yang terlumuri keringat sedari tadi, tiba-tiba ada satu orang laku-laki paruh baya menawarkan tempat duduknya. Tapi, melihatnya aku tidak tega. Hingga akupun menolak. Aku pikir bahwa aku masih kuat untuk berdiri, sedang bapak mungkin berdiri sebentar, badannya akan sakit. Bapak itupun tidak terlalu memaksa. 
Setelah keluar dari jalur ular yang merayap mesra mengitari panjangnya jalan itu, bus yang aku tumpangi tidak bergerak terlalu cepat. Mungkin sopirnya kelelahan. Aku masih berdiri menguatkan diri. Ya Alloh kuatkan aku. pikirku.
Sedikit demi sedikit berjalan, akhirnya bus itupun sampai ke nagrek, sebelumnya ada bapak yang turun. Kemudian ia mempersilahkan aku duduk. hah, lega rasanya. Semua badanku yang tadinya terasa berat, kini berubah menjadi ringan. Baru beberapa detik aku duduk, tiba-tiba ada tiga orang ibu-ibu yang naik ke bus yang aku tumpangi ini. Dan salah satu diantaranya membawa anak yang masih kecil. Mungkin umurnya sekitar setahunan. Melihatnya berdiri, aku tak tega. Aku dapat merasakan bagaimana berdiri di bus itu, apalagi dia bawa anak. Tak terbayang susahnya ia berupaya untuk tetap tegak berdiri. Meski badanku masih terasa pegal, tubuhku refleks berdiri dan mencolek tangan ibu yang berpakaian merah, berambut pendek serta menggendong anak itu. 
"bu, duduk disini. Mangga" aku tersenyum kepadanya. Sayang, tak sempat ia membalas senyumku. Ia mungkin terlalu fokus pada pondasi kekuatannya, hingga ia melupakan aku yang berusaha untuk berbaik hati padanya. Ia berjalan kearahku, kemudian aku pun mundur beberapa langkah hingga ia bisa duduk. 
hah, kembali berdiri. pikirku. Padahal betapa lemasnya badan ini. Rasa gemetar kembali menjalar ditubuhku. Lemah, kantuk, pusing, gerah, semuanya terasa campur aduk. hingga aku beberapa kali menguap. Kemudian, tiba-tiba ada rasa tangan yang menyentuh tanganku. Aku membalikkan wajah ke belakang. Lagi-lagi, bapak yang tadi menawari aku duduk sejak awal itu kembali tersenyum dan memberikan tempat duduknya padaku. Aku kembali menolak, karena aku tidak tega padanya. Namun, ibu disampingnya mencoba untuk meyakinkan maksud baik dari bapak itu. 
"Neng dari tadi kan berdiri, sok tukeran aja dulu sama bapak" Ia tersenyum, akupun tersenyum dan menerima tawarannya. Bapak itupun tersenyum melihat aku duduk. Sedangkan yang lainnya, para lelaki yang kuanggap masih kuat untuk berdiri seolah acuh tak acuh dengan keadaanku dan mereka para wanita lainnya yang senasib denganku. 
ah, jaman ini memang edan. Pikirku, 
Beberapa menit kemudian, mataku tertutup begitu mesra. Tanpa menanyakannya dulu padaku. Tanpa sadar, telingaku mendengar obrolan ibu tadi pada bapaknya yang sedang berdiri. 
"Hmm.. Cape meureun, langsung tidur dia" 
Antara ingat dan tidak. Tapi mataku tetap terpejam, karena tak kuat menahan lelah. Hingga akupun tak sadar kalau perjalanan sudah berakhir. Melihat kesamping dan kebelakang, pasangan itu tidak ada.
hmm.. Sudah pulang mungkin.
Akupun melangkahkan kaki, dan ternyata mendapati mereka kembali duduk dengan nyaman. Sebelum keluar, aku menyapa mereka "Pak, Bu. Duluan ya? Terima kasih" kataku. Mereka tersenyum. Melihat mereka seperti itu, hatiku pun lega. kemudian aku keluar, dan menghirup udara segar lagi setelah tadi merasakan open yang begitu alamiah. tanpa ada listrik dan api.