RSS

youtube: Naiko Chanel

click to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own text

The Super Programs!

Hmm... Ye ye ye... Nyampe juga di Garut!
Ahh betapa capenya hari ini. Cape hati dan cape fisik. Cape hati, ya karena lagi-lagi aku bertemu dengan polisi yang berbicaranya kurang mengenakan. Seakan tidak belajar sopan santun aja. Kan harusnya ia mengayomi masyarakat. Tapi kalo kayak gitu mah malah bikin masyarakatnya benci.
Hahhh syudahlah, tak ada gunanya juga aku menulis disini. 

Lebih baik aku bernyanyi saja... 
"Jalalilalila, jalalilalilaaaaaaa..... Anata no tame ni, mamori toshita" Ups, tiba-tiba aku ingat kegiatan kemarin. heuheuuuu... Sumpah nyesel banget deh nggak datang di hari pertama. :(

Jaadi gini ceritanya, kemarin itu ada acara Pelatihan Perencanaan Keuangan Masyarakat atau PPKM yang diselenggarakan oleh Asosiasi Alumni HICD-Prestasi Amerika-Indonesia [ALPHA-I]. Dengan penuh semangat, aku pergi pagi sekali dari Garut. Becouse kuliah kan udah libur. hihihihi...
Tapi tetep aja telat, gara-gara nggak ada orang yang nganter aku dari rumah ke jalan rayanya. heuheuheu Sampai disana itu sekitar jam 09.00 A.M., telat sekitar satu jam dari jadwal registrasi. And then, di tempat registrasi pulpen yang aku pake itu copot, coba? ahahaha... Aku nggak tahu kenapa bisa copot tuh pulpen. Hadah, udah kaya di acaranya si komeng dulu dah itu mah. Dan sumpah deh, malu banget. Akhirnya untuk menutupi maluku, aku bilang aja "Terlalu semangat,Pak". Mereka yang disanapun tersenyum.

Kemudian, setelah registrasi kami pun dipersilahkan masuk. Kemudian duduk di barisan kedua sebelah kiri sambil menggigil karena kedinginan. Aku lupa tidak membuka jaketku yang basah karena keujanan. hihihihi... Dasar si Nay...
Dengan duduk manis, aku memperhatikan para presenter yang sedang bercuap-cuap membuka acara itu. "Hmm syukurlah, baru dibuka oleh MC ternyata. Belum dibuka resmi" Pikirku. So, its mean belum terlalu terlamabaaaaattttt...... yeeeee (Sorak dalam hati). 
Detik demi detik aku pergunakan dengan baik. Tak pernah aku berpaling pikir ke yang lain. Aku tetap fokus pada materi, ups! Dibilang materi, nggak terlalu ke materi-materi banget sih. Tapi disertai dengan simulasinya juga. So, apa ya? Hadahhh penulis mendadak blank ternyata teman-teman. ahahaha.... Ya sudahlah ya? Aku panggil aja, materi super menyenangkan deh. hihihi
Disana kami dikelompokkan menjadi enam kelompok. Dan ternyata, aku bertemu dengan orang-orang konyol yang paling hebat seantero,,,,,,,,,,,,,,,,,, ruangan itu. hihihihi (Just kidding teman-teman). Hmm... Ya ya apalagi akang siapa ya (Oh Tuhan, lupa aku). Pokoknya anak Agribisnis. Dia kocaknya minta ampun. Ditambah dengan Indri Handayani (Punten kalo salah nulis), yang tahu dengan semua jenis iklan. Sampai iklan kozui pun dia tahu. Apalagi iklan pure it, sampai kata-katanya juga dia peragakan. ahahahaha... Sumpah kocak deh. Temen-temen yang dari SMA pun, yang awalnya hanya diaaaammm saja. Dengan terpaksa (mungkin), akhirnya mereka juga membuka mulutnya. Ups sorry ya? kidding, kidding. hihihihi....
Sumpahlah, nyesel banget nggak datang dari awal. Eh, maksudnya nggak datang di haru sabtu. Kan kalo datang di hari sabtu, aku bisa bercacap-cuap di depan semuanya. Ahahahah... Maklum hobi ngomong juga (presenting). hihihihi... Dan akhirnya, aku luapkan dengan lebih aktif di acara itu. Hingga ketika si MC bilang, siapa yang punya uang paling sedikit dikantongnya. Aku berani mengacungkan tangan. ahahaha Karena uangku tinggal Rp 200,- lagi. huhuhu... Pasti nggak percaya ya? Tapi benar! Lihat aja sini!
Hal itu dikarenakan aku jarang menyimpan uang banyak di dompet. Paling untuk seperlunya aja. hihihi... Dan dengan demikian, akupun diperkenankan untuk berbagi pengalamanku tentang pengelolaan uang. Yang meski terkadang kekurangan. hihihi... 
Suasana kelompok semakin cair dengan permainan di setiap sesi yang menyuruh kami untuk berdiskusi. Dan di sesi tebak iklanlah, kozui pun keluar. ahahaha Ya kan Indri???
Heuheu... 
Pokoknya keren bangetlah ni acara!
Terima kasih ya Pak Safik, teh Resya, kang Teddy, kang Yudi, mbak Endah, dan semuanya. ....
Semoga kedepannya saya yang menggantikan bapak dan ibu sekalian!!! Amiiinnn....

Aitakatta "....."

Selamat malam teman-teman...
Hari ini aku ingin menulis banyak. Tapi entah apa yang mau kutuliskan. Aku hanya menuruti keinginan jemariku yang terus bergoyang diatas keyboard netbook kesayanganku ini. 
Tahun ini, aku tidak mengikuti kegiatan di paguyuban karena ada beberapa hal. Akhirnya, aku hanya duduk di rumah menatap monitor dengan degup jantung yang kencang menanti nilai yang keluar. Tahun lalu, aku bisa menghapus kegugupanku melalui interaksi bersama teman-teman di SMA dan sekedar berbagi cerita. Ya, cerita mereka beragam. Ada yang bingung mau kuliah dimana, bingung untuk kerja dimana, acuh tak acuh dengan omongan kami. Akhirnya, akulah yang menjadi model percontohan humor didepan kelas. Ya, dari pada mereka bingung menatap kami yang sibuk dengan obrolannya. Kupikir lebih baik berhumor sejenak. hiihihihihi

Aaaahh, bingung! Apalagi ya, yang harus kutuliskan?

Zzzz... Ya sudah, mending kita bernyanyi.... Tapi, nyanyi apa ya? hmm... zzzzz... 
Aha! *tunjuk tangan dipinggir telinga*
Berhubung lagi bingung mau nyanyi apa, mending nyanyi "temo demo no namida"-AKB48....

  furi hajimeta hosoi ame ga
    giniro no donchou wo
    orosu you ni
    maku wo tojita
    sore ga watashi no hatsukoi

    machibuse shita
    futatsu me no roji
    koe mo kakerarenai mama
    shita wo muitara
    ajisai mo naiteita

    konna ni aitaku temo
    konna ni suki demo
    me no mae wo toori sugiteku
    soredemo koushite
    anata wo miteiru
    kono basho kara
    konna ni aitaku temo
    konna ni suki demo
    furimuite sae mo kurenai
    kasa sashiteru no ni
    hoo ga nureru no wa
    dou ni mo dekinai
    temodemo no namida

    hitori kiri de aruki dashita
    setsunasa ga nokoru michi
    kokoro no naka
    mayoi konda
    dare mo shiranai itoshisa

    ame ga suki na
    kono ajisai wa
    hareta hi ni wa me wo tojite
    tooi amagumo
    omotteru no deshou ka?

    donna ni kanashiku temo
    donna ni dame demo
    onnanoko no mama isasete
    anata to deaeta
    kioku no ashiato
    wasurenai wa
    donna ni kanashiku temo
    donna ni dame demo
    itsu no hi ka omoidasu deshou
    watashi no negai ga
    kanawanaku tatte
    kagayaki tsutzukeru
    temodemo no koi yo

    konna ni aitaku temo
    konna ni suki demo
    me no mae wo toori sugiteku
    soredemo koushite
    anata wo miteiru
    kono basho kara
    konna ni aitaku temo
    konna ni suki demo
    furimuite sae mo kurenai
    kasa sashiteru no ni
    hoo ga nureru no wa
    dou ni mo dekinai
    temodemo no namida


yeeeee.... *tepukTangan
Hmm... watashi wa totemo suki desu. ay! suka bangetlah ama nih lirik, selaras sama nasibnya (ups) hihihi....
Jadi kangen.... and aitakatta! heu -,-
keunlah sama2 berjuang... 

How about Chibi Mruko Chan

Masih ingat dengan lagu chibi maruko chan nggak?
hihihihi
Kita nyanyi bareng yuk sembari nostalgilaaaaa....

one, two, one, two, three....
Hal yang menyenangkan hati banyak sekali
bahkan kalau kita bermimpi
sekarang ganti baju
agar menarik hati, ayo kita mencari teman!

Jalan panjang menuju langit biru,
tiba-tiba kulihat seorang anak
yang menemukan harta karun didalam sana
alangkah senang dan hati gembira

wangi angin, padang rumput disore hari
sampaikan salam gembira

hal yang menyenangkan hati banyak sekali
bahkan kalau kita bermimpi
sekarang ganti baju
agar menarik hati ayo kita mencari teman!

yeeee..... Gimana? Cukup senang nggak? Hmm... Dengan menyanyikan lagu ini, aku jadi senang sekaligus sedih. Becouse, zaman sekarang tuh kagak ada yang beginian lagi. Biasanya, waktu kecil aku itu selalu menunggu hari minggu. Karena setelah selesai belajar di sekolah, aku juga tentunya ingin liburan dong. Ya, liburannya dengan menonton film kartun. hehehe
Film yang paling aku tunggu itu adalah film doraemon, chibi maruko chan, sama apa ya? lupa judul..hihihi
Sayang, sekarang sudah jarang. Tidak semua stasion tv menayangkan film kartun untuk anak-anak. Alhasil, anak-anak yang sekarangpun seperti itu. Kalau ditanya lagu "bintang kecil" mereka nggak bakalan tahu. Tapi kalo ditanya lagu cherribele atau koboy junior, udah ahli deh mereka. 
heuheuheu
Miris banget deh.
Well, mungkin bagi sebagian orang tidak terlalu masalah. Tapi apa yang akan terjadi, jika mereka menonton tayangan-tayangan TV yang bukan untuknya. Bagaimana nanti karakter mereka? 

Pandangan Pertama

"Batik, batik, membatik
aku suka membatik
batik ini, batik itu
banyak sekali" 
*sambil nyanyi ala theme song doraemon*
Ya, bicara tentang batik. Aku jadi inget masa-masa SMA dulu (wow, berarti sekarang sudah tua, ya? ahahhhaha). Eits, nggak dong!
Aku hanya ingin bercerita tentang awal hidupku mencintai batik. 
Well, dengerin ya? Eh, salah. Baca baik-baik ya? hehe

Ceritanya (still SMA.ahaha), guru aku yang paling ceke (eh salah ngetik), kece maksudnya. hehe Sory sory, matanya lagi agak gangguan. ~back to the laptop~ Dia ternyata jago sekali membatik. Ya, masa nggak ya? orang dia guru seni budaya aku. hihihi... Aku emang paling interest banget kalo sudah dia gurunya. Pasalnya dia guru yang (sumpah deh) kreatifnya minta ampun. Hmm... Her name is Euis Komala Sari (Maaf ya bu, kalo salah nulisnya. haduhhh rada lupa-lupa ingat ini teh. hehe). Waktu kelas satu, aku belajar buat klay sama apa ya namanya itu, lupa[dot]com. Pokoknya nempel-nempel gitu da namanya tuh. (aduuhhhh, ibu maafkan aku. rupanya aku bukan pengingat yang baik :( ).

Well, no problem. 
Nah, dari sanalah aku suka dia. And then, kelas dua kami bertemu lagi. Karena aku masuk di jurusan bahasa, dan kebetulan dia juga ngajar seni sejarah. (yeeee *sambil tepuk tangan), huuuh betapa senangnya aku. Dan pas masuk pertama, dia memperkenalkan berbagai macam kesenian. Minggu depannya kamipun mulai praktek. And the last is praktek membatiiiiiikkkk (tepuk tangan lagi). 
But, sebelum kami go to praktek membatiknya, kami disuruh membuat desain batiknya terlebih dahulu. Waktu itu aku tidak kepikiran mau membuat batik apa? Tapi setelah beliau memberikan contoh-contoh batik, akhirnya akupun mulai menjalankan tangan ini sesuai dengan inspirasi yang ada dalam pikiranku. And then, jadilah si bebek yang sedang duduk disinggasananya. hihihihi.... Ya, kalo dipikir-pikir "perasaan dulu aku tidak terinspirasi membuat bebek. But, hasilnya like a donal bebek. hihihi". Dengan hasil karyaku yang super aneh itu, beliaupun memilihnya sebagai salah satu desain batik terbaik (yeeee... lagi-lagi tepuk tangan *bangga[dot]com). Desain batik yang terpilih itu tiga. Desain punyaku, Risa Araswati sama Mulyana. yuyuyuyuyu.... Kami memang selalu bersaing dalam seni. hihiihi (naon cenah?). Dan inilah aksi kami... hihihi... Pola bebek itu, aku batik dengan menggunakan malam dingin. sedangkan untuk malam panas, aku menggunakan pola yang lebih bagus. Pola batik ini aku gabungnya dengan teknik celup ikat. hihihi 

Well, pada bagian membatik dengan menggunakan malam panas,kami dikelompokan menjadi 3 kelompok lagi , seperti biasanya. Dan before we start, guruku mengenalkan alat-alat yang akan kami gunakan (terlebih dahulu) di ruangan khusus membatik kelas kami.
Pertama, canting. "Nah, anak-anak ini namanya canting. Kalian sudah tahu kan apa gunanya canting?" tanya Bu Euis pada kami yang sedang sibuk memilih canting yang paling enak untuk dipakai. "Iya bu" jawab kami serempak. 
Kedua, malam. "Nah malam inilah yang digunakan untuk membuat pola. Nanti, malamnya kalian panaskan diatas kompor kecil itu ya? Terus kalian mulai membatik sesuai dengan pola yang sudah kalian pegang masing-masing" Kata ibunya (Wuw, aku inget banget ya dengan perkataan ibunya?hehe).
Berbagai macam peralatan lainnya juga beliau perkenalkan pada kami.
(Ilustrated picture from : Berita Handy)

Hari berganti hari, dan minggupun berlalu. Dua minggu sudah kita melewati hari, dan akhirnya pola pertamapun selesai (karena dikerjakan oleh banyak orang. hihihi). And, waktunya pencelupan warna pertama. 
Pada pencelupan kali ini, aku membiarkan Imas Yani dan Tissa Azhar (teman segeng, wkwkwkwk...) untuk mencelup tugas kami. Yahhh! Warna kuning, teman-teman... Latarnya emang warna kuning. setelah itu, kami kembali membatik tahap kedua (yaitu memberikan malam dibagian yang ingin warnanya tetap kuning). kemudian mencelupnya ke warna yang lain. Membatik-mencelup, batik-mencelup. The last, kita masuk ke tahap pencelupan yang bertujuan untuk melunturkan semua malamnya, dan melihat hasil akhirnya. 
And jengjrenggggg ini dia hasilnya ??? hehehe (mana???).....
Ups.. ketinggalan di sekolah. heh

Yeah, setelah praktek itu.... Aku jadi suka batik...
And do you know? Kalo aku jadi bangga berbatik!.

Sampai akhirnya ketemu dengan sebuah link belanja online  yang lumayan banyak modelnya, dan ternyata indah and bagus-bagus design bajunya teman! And bukan hanya baju aja... and the all things about batik is more beautifull too...
so, check it out! www.berbatik.com: batik;malam;canting;berbatik;belanja;online
Dan yang paling penting aku juga jadi suka semua batik, termasuk batik garutan. Karena batik garutan itu merupakan batik dari daerahku sendiri. Yaitu Garut. Wow, selain desainnya yang very very wonderfull. Aku juga suka ciri khasnya. hehehe. bangga!
Sampai hari ini, ketika aku jalan-jalan dan melihat ada butik batik ataupun toko batik. Aku jadi seneng lihatnya. Becouse today I'm falling in love with batik! 

Hoahhh... sudah ah... So, pesanku... Cintai produk Indonesia! Jangan sampai ketika mau di klaim, baru deh kalian tergerak untuk mencintainya!
Oke, semangat batik!
Wear Batik! If you loving that!

*Argh! Jadi kangen SMA... 
"Buuuu, aku pengen membatik lagi!!!" Sambil kucek-kucek mata (gatal). hihihi
"Buuu... pengen batik ibunya aja deh!" (Plak! apa-apan kamu? Mau? beli aja! hihihhi)
"Buuu.... Kangen..." (Kangen ibu apa kangen batiknya?"
Ahahahah... Udah ah, GJ banget sih kamu Nay!
Yoooo.... diawali dengan nyanyi, diakhiri juga dengan nyanyi:


This is the way you wear  Batik, 
waer batik,
wear batik,
this is the way you wear batik,
you wear it in the morning!

(yeee... keprok sambil jugkit-jungkit. Satu lagi ah, nyanyinya...)

lalala aku cinta sekali
pakai batik 
(lagu doraemon)




2013

Yey,,, Tahun 2013.
Hah, tak terasa. Ternyata waktu berjalan begitu cepat. Dan umur kitapun bertambah sekaligus berkurang. And so, apa yang telah kita capai ditahun 2012 kemarin???
zzz.. Well, saatnya menata hidup baru. Lupakan semua yang telah terjadi dan mulai kembali menatap masa depan!

AAAAAAAAArrrrghhhh

Jalalilalila, jalalilalilala....
Ahahaha...
Stres dan stresss... Masa coba, dari tiga UAS bersama bapak kesayanganku yang lulus cuma satu! ahahaha...
Padahal pertanyaan yang ini aku juga bisa jawab. Tapi dasar si dasaaaarrr... Lidah inimalah bilang civil padahal human. Apa hubungannya coba civil dengan human? Jauhhh!!! uheuheuheuheuh (nangis). Gila dasar! Nervouse itu membuat semuanya  lenyap. Tapi baiklah, mungkin ini adalah rangkaian cerita hidupku selama kuliah di HI. Dan sungguh, ini adalah yang paling memalukan bagiku. Masa iya sih nay nggak bisa jawab. Cuma bilang United Nations of Human Right and Environment apa susahnya coba??? Nay, nay,,,, Ada-ada aja ulahmu itu. 

Well, hapus semuanya. Jadikan semua itu hiasan hidup saja. Kan kalo nggak gitu, nggak seru. Nggak ada yang bisa diceritain buat nanti. Sekarang waktunya menentukan kembali target-target baru untuk semester 4. Hmm... Tak terasa memang, sudah mau semester 4 lagi. haduuuhhh makin tua deh rasanya. ahahaha

Pesona Bintang di Langit Suram


Sepotong rencana mulia mahasiswa Padjadjaran

Sungguh riang pagi ini. Matahari menyapa dengan penuh semangat. Hamparan sawah yang tersusun rapi dan hijau memberikan kesejukan yang nyata. Gunung kebiruan yang tertutup kabut cinta, bergandeng mesra satu sama lain. Serta nyanyian burung, menambah semaraknya pagi ini.
Kali ini, aku duduk terdiam sendiri di balkon kamar menatap semuanya. Saat kubukakan pintu itu, semuanya memang terasa sejuk. Campuran patamorgana begitu menentramkan hati. Namun sayang, entah kenapa hati ini tak seriang mereka dan tak setentram mereka.
Hati ini begitu panas. Seakan bara api terus menyala didalam. Meski sejenak kupandang semua santapan pagi itu, tapi kesejukannya tak membuat hatiku menyejuk. Hatiku malah berkecamuk. Bercampur antara sedih, gembira, kesal, semangat dan lainnya. Padahal, baru tadi malam aku berbagi cerita tentang mimpi. Tapi sekarang aku malah ingin berteriak sekencang mungkin untuk melepas semua penatku ini.
“Aaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrggggggggggggggggggggggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh” aku tersungkur ke sudut balkon. Tak lama kemudiaan, ada aliran yang begitu hangat membelai wajahku. Kupukuli tembok dengan tanganku yang penuh emosi.
Hhhhhhaaaaaaa,,,,, hks...hks...hks.... Kenapa kamu seperti ini? Bodoh sekali kamu Ray! Kamu harusnya bangkit! Jangan hiraukan perkataan orang! Dia orangnya memang keras, Ray. Sudah, biarkanlah. Toh dia juga tidak berpengaruh buat kamu. Dengan keegoan dia, kamu masih tetap hidup kok, Ray! Emangnya, siapa dia? Hingga berani berbicara seperti itu. Sudah!!!! Jangan jadi anak yang bodoh, kamu! Masa karena hal seperti ini kamu nangis, kamu stres, kamu bingung. Ingat hidup itu nggak bakal rame kalau tidak ada tantangan dan rintangan. Sudah! Cengeng, kamu!
“Tapi, aku nggak terima dengan perkataannya. Aku bukan tipe orang yang ia katakan. Aku RAYZEELA! Aku orang yang selalu kuat dalam menghadapi apapun. Tak pernah aku dipermalukan seperti ini. Apalagi dia cowo. Terus, katanya dia pinter. Tapi kenapa harus selalu bersikap seperti itu ke aku? Sedang ke orang lain tidak? Apa maunya? Hah.. hks...hks...hks...
Dialog batin itu terus beradu. Tak tahan mendengarnya, aku langsung berdiri tegak menantang matahari. Lenganku terkepal penuh benci. Bibirku gemetar, seraya berucap “Ingat Ri, Gue bakal buktiin ke elo kalo gue itu nggak lemah! Gue bukan tipe cewe yang seperti lo bilang. Persetan lo mau lihat gue kaya gimana. Yang jelas gue janji Ri, gue bakalan lebih sukses dari pada lo! Camkan itu!!!!”
Setelah itu, aku masuk dan berbaring di tempat tidur sembari memajamkan mata. Tiba-tiba aku teringat mereka yang pasti sedang sibuk mencari nafkah buat anak-anaknya. Ya, aku tahu. Mungkin aku adalah anak pertamanya yang membuat mereka paling repot dibandingkan dengan kakak dan adikku. Mimpiku yang begitu besar membuat mereka lebih giat untuk bekerja.
Di rumah, aku selalu melihat wajah mereka yang begitu lembut. Keringat yang bercucuran tak pernah menghalanginya sebagai penyejuk hati. Setiap hari, bapak pergi bekerja sekitar jam 06.00 pagi, kemudian pulang jam 12.00 malam. Awalnya aku tak percaya bahwa dia sering pulang tengah malam. Namun, ternyata semua itu benar. Semua itu nyata. Aku menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri.
Esoknya, aku bertanya pada mama. “Ma, naha si bapa uih teh meni wengi-wengi teuing?[1]
“Eta teh melaan anak, Ni. Matak sakola teh sing bener, sing kapetik hasilna![2]
Deg, tiba-tiba perkataan itu menyambar hatiku. Mataku kembali terbuka. Ada rasa sedih yang bergejolak. Sesak di dada. Aku terperanjat dari tempat tidur mungilku.
***
Hmm... Akhirnya, aku bisa menghirup udara segar di kampung halamanku lagi. Aku kembali menatap senyum mereka dengan penuh kebahagiaan. Sesekali, kupandang wajah mereka satu persatu. Dan dialogpun dimulai.
Ray, kamu tidak boleh mengecewakan mereka. Mereka menaruh harapan yang besar padamu.
“Iya” aku tersenyum.
Kemudian, aku mengambil buku kecil yang penuh dengan catatan silamku. Setelah kemarin aku terpuruk di kampus, aku menuliskan plan baru untuk masa depan serta desaku. Dan hari ini adalah hari yang tepat untuk merealisasikannya.
Aku membuka helaian kertas demi kertas dengan penuh semangat dan harapan. Meski aku hanya sendiri, tapi aku yakin “Aku pasti bisa”.
Oke, target pertama adalah remaja. Sebelum kampungku berubah kembali menjadi kampung yang sangar, lebih baik aku turun ke remaja untuk memberikan pencerahan pada mereka. Karena kampungku termasuk kampung yang masih gelap. Target kedua, aku harus turun ke ibu-ibunya. Aku harus menyadarkan mereka akan istimewanya pendidikan. Dan aku juga harus memberikan kesadaran pada mereka bahwa sesungguhnya sekolah itu penting. Sip, itu aja dulu. Pikirku.
Dipagi yang ceria itu, aku mulai mempersiapkan energi bumi untuk menjalani semuanya. Mengumpulkan kekuatan langit dan lembutnya angin untuk menemani. Aku keluar dengan secarik kertas dan satu pulpen mungil. Aku berjalan menyusuri jalan yang ada. Sesekali kuhirup udara segar untuk merefleks-kan tubuhku.
Disepanjang jalan, aku melihat orang-orang yang sibuk dihalaman rumahnya masing-masing. Mereka tersenyum manis melihatku. “Neng, nuju dibumi? Iraha kadieu?[3]” tanya bu Nida, ketua RT disana.
Aku tersenyum padanya, “Ehm, kamari Bu[4]”.
“Nuju libur?[5]
“Muhun, Bu. Kaleresan nuju libur, janteun liburan di bumi[6]
Kami berbincang lumayan lama. Setelah itu, aku kembali meneruskan perjalanan. Baru lima menit aku berjalan, aku menemukan orang yang berjalan sengkoyongan. Matanya merah, tubuhnya lemah tak berdaya, orang-orang disekitar enggan membantunya. Sekalipun sekedar berdiri saja. Mereka takut. Dan teman-temannya hanya menertawakan dia dari kejauhan.
Aku bingung, kenapa dia seperti itu. Kemudian aku tanya pada anak lelaki yang tepat berada di depanku. “Hey, kunaon eta si Amud?[7]
“Dia mabuk teh”
Astagfirulloh, hatiku semakin berkecamuk. Aku semakin ngeri melihat pemuda-pemuda yang ada di desaku. Rasanya ingin kupukul diriku sendiri. Namun aku tak berdaya. Aku hanya berdiri seperti patung, meratapi kekesalanku. Kenapa aku tidak bergerak dari dulu? Kenapa aku tidak menuruti apa yang keluargaku inginkan? Kenapa aku bodoh?!!!
Hatiku menjerit, merintih sakit. Benar-benar sakit.
Ya Alloh, aku tidak bisa membiarkan desaku ini menjadi desa yang bejat. Aku tidak mau pemuda generasi bangsaku bermoral bejat. Ya Alloh, bantulah hambaMu ini.
Tak kuat kumelihatnya, akupun langsung pulang. Dari sana saja, aku bisa menyimpulkan bahwa moral pemuda di kampung ini  mulai digerogoti belatung hitam. Maka dari itu, aku harus bergerak cepat. Ya, cepat sekali.
Keesokan harinya, tepat di depan rumahku ada yang sedang mengadakan pesta pernikahan. Seperti biasa, hiburannya dangdut. Semua masyarakat disana ikut menikmati pesta itu. Semuanya berjalan dengan lancar. Namun, tiba waktu malam. Ibuku datang dengan nafas seperti telah dikejar-kejar sesuatu. Badannya gemetar, bibirnya juga gemetar, ia berbicara dengan nada penuh ketakutan.
“Ni, sms si aa. Suruh dia jangan pulang.  Itu, heuh anak-anak diluar pada bawa samurai panjang-panjang, kayanya bakal ada perang” katanya sambil ngos-ngosan dengan logatnya yang khas.
“Hadahh, apa ma? Masa iya sih?” Aku tersentak mendengar semua itu. Jantungku berdetak semakin kencang, tubuh menjadi panas, ada rasa tegang dan takut dalam dada.
Ya Alloh, masa iya sih aku harus menyaksikan konflik di daerahku sendiri? Aku tidak mau terlibat dalam isu perang nantinya.
Aku memutar pikiran dengan sekeras-kerasnya. Aku semakin tertekan. Aku semakin ditodong tanggung jawab.
Diluar, suasana masih tegang. Tak ada orang yang hilir mudik disana. Semuanya sepi. Yang ada hanyalah segerombolan orang yang membawa samurainya masing-masing. Gelap dan sunyi. Sedang aku hanya menonton semuanya lewat imajinasiku.
Astagfirulloh, kenapa hatiku semakin panas? Aku kesal. Kenapa tak ada orang yang bergerak dibidang kepemudaan? Kenapa tak ada orang yang membimbing? Eits,,,, ingat Ray! Ini semua kesalahanmu juga. Kenapa kamu tidak ikut terjun langsung mendekati mereka. Kamu kan mahasiswa. Kamu seharusnya bisa membimbing kampung kamu sendiri.
Aku terdiam, bingung. Seluruh jiwaku hampa berkabut kesal, marah, dan sebagainya. “Ya, aku sadar. Mungkin ini adalah kesalahanku. Aku sebagai mahasiswa satu-satunya disana tidak membimbing mereka kearah yang benar” pikirku.
Di ruang tamu, orang tuaku masih sibuk dengan pembicaraannya. Nampaknya mereka khawatir dengan kakakku. Biasanya kakakku selalu diajak-ajak dalam hal seperti ini. Tak jarang ia menolak. Ia selalu ikut andil untuk membela kampungnya. Tapi untunglah dia tidak ada, setidaknya kekhawatiran orang tuaku sedikit berkurang.
Beberapa jam kemudian, hari semakin sepi. Tak ada lagi suara yang menghiasi hari. Akupun tertidur mesra bersama bintang.
Esoknya, semua baik-baik saja. Ternyata itu hanyalah isu. Isu yang berasal dari kampung sebelah yang membuat panik semua warga dan pemudanya. Sehingga mereka turun untuk menjaga kampung ini. Dan semua wargapun kembali beraktivitas.
Aku ikut bergabung dengan mereka, mendekati para remajanya, melihat aktivitas mereka dan lain sebagainya. Mereka juga menyambutku dengan ramah, sehingga tak ada lagi rasa canggung yang kurasa. Dan akupun berhasil mendekati mereka. Ya Alloh inilah aksiku untuk negara. Kataku penuh optimis dalam hati.
Sebulan sekali, aku mengadakan kumpulan silaturahmi antar semua warga sekampungku di madrasah[8]. Aku bermaksud untuk mengakrabkan mereka. Karena akhir-akhir ini sering terjadi slek antar mereka.
Untuk pembelajaran khusus ibu-ibunya dilakukan dua minggu sekali pada saat pengajian. Belajar memahami anak, memahami suami, memahami pendidikan, menjadi ibu yang kreatif,cerdas dan inovatif. Itulah yang kami lakukan. Tak jarang aku mendatangkan sosok ibu yang baik untuk memotivasi mereka.
Kemudian untuk remajanya, kumpul tiap hari minggu. Disana kami belajar tentang bagaimana caranya berwirausaha, berfikir kreatif dan lainnya. Ya, meski aku bukan seorang wirausahawan, setidaknya aku bisa terus memotivasi mereka dengan apa yang kupunya. Belajar membuat kerajinan dari klay (terigu campur lem kayu), figura berbahan dus bekas, hiasan dinding dan pemanfaatan barang bekas lainnya.
Setelah berjalan sekitar dua bulan, rasanya ada sedikit perubahan dari mereka. Para ibu selalu memperhatikan pertumbuhan anaknya.Mereka juga sekarang lebih tercerahkan dengan pendidikan, hingga mereka tak pernah lagi melarang anak-anaknya untuk bersekolah. Pemudanya sedikit membaik dari pada sebelumnya. Aku jadi jarang melihat mereka bergulat dengan minuman keras itu. Kemudian pemudinya, semakin rajin untuk berinovasi. Mereka selalu memunculkan ide untuk dikembangkan di wilayahnya. Mereka juga semakin rajin untuk belajar.
Melihat semua itu, senyum optimisku semakin bertambah. “Aku semakin yakin bahwa aku bakal bisa membuat mereka untuk lebih berkembang. Aku yakin, kampungku kelak akan menjadi kampung yang paling sejahtera.” Pikirku.
Setelah semua program yang aku buat itu berjalan dengan lancar. Sekarang aku akan menjadikan kampungku menjadi kampung  bahasa. Meski bahasa yang aku bisa hanya Indonesia, Sunda, Jepang dan Inggris saja. Tapi tidak apalah, bahasa lainnya menyusul.
Setiap hari, kami belajar 5 kosa kata bahasa Inggris dan Jepang. Mereka menyetorkan hafalannya pada saat berkumpul untuk membuat kerajinan. Sembari bercanda tawa, mereka menyetorkannya satu persatu.
Tapi hari begitu cepat berlari. Akupun harus kembali merantau untuk menggapai mimpi. Ya, waktu liburku sudah habis. Tiga bulan sudah aku membangun desaku dari keterpurukan. Susah senang selalu kurasa sendiri. Tapi beruntunglah, ibuku selalu mendukung semua kegiatanku. Meski terkadang kakakku selalu menyepelekannya. Ia selalu menganggap bahwa aku akan menjadi orang yang sombong dan melupakan keluarganya. Padahal tidak. Sampai kapanpun aku tidak akan melupakan keluargaku. Aku berani menentang pemikiran orang tuaku, karena aku ingin mengangkat harkat dan derajat mereka. Aku sayang pada mereka. Aku ingin membuat kalian bahagia. Pikirku.
Tet...te...teeetttt.... Suara laptop-ku bernyanyi riang. Ternyata ada e-mail yang masuk.
Keren Ray, hebat and salut dengan karyanya.hehe Semakin mengikis kekhawatiran, ternyata Indonesia masih dipenuhi anak muda multitalenta. Lanjutkan!!!!

Aku tersentak membaca e-mail tersebut. Ternyata itu e-mail dari temanku yang sedang mencari ilmu di negeri sang Cleopatra. Namun, aku juga heran.Kenapa dia bilang seperti itu?

Wah? Wah? Apa nih maksudnya?hehe.. Bangga kenapa? ^_^” Jawabku.

“kemarin aku baca semua tulisanmu di blog. Hebat! Sungguh, aku salut padamu! jujur, disini aku berjuang menantang teriknya matahari, menahan rasa takut ditengah revolusi, ditambah dengan melihat keadaan negara yang seperti itu. Aku takut, benar-benar takut. Aku takut negaraku menjadi negara boneka yang nyata. Tapi aksimu, karyamu serta pemikiran cerdasmu itu membuat kekhawatiranku sedikit berkurang. Terima kasih. J
aku tersenyum dengan semua perkataannya.
J Itu hanya sebagian cintaku pada negara. aku tidak ingin masyarakat Indonesia itu membenci negaranya sendiri dengan setumpuk informasi yang belum tentu buktinya. Maka dari itu, aku ingin mencerdaskan bangsa secara menyeluruh mulai dari kampungku.
Hmm... Tapi sayang, besok aku harus kembali pergi merantau untuk meraih mimpiku. Masa liburku telah habis. Tapi tidak apalah, aku akan berusaha pulang maksimal sebulan sekali untuk terus mengontrol kampungku. J
Lalu, bagaimana dengan kamu? Apa aksi nyatamu buat negara?”
Send. Hmm... aku jadi lebih bersemangat untuk membangun negeriku. Pikirku.
Tet,,tet... Laptopku kembali berbunyi. Dan klik :
“oalaaahhh... tenanglah! Kamu masih bisa bolak-balik, Ray! Lah, aku?? Aku harus punya uang 20juta untuk pulang-pergi.hehe... Jadi menetaplah disini.hihihi...
Rencana?? Apa ya?hehe
Aku disini belajar dengan sungguh-sungguh,Ray! Sekaligus mempromosikan negaraku sendiri. Akupun tergabung kedalam grup nasyid[9], dan baru kemarin aku show di Jerman. Dan, ya.. Sebenarnya masih banyak sih. Nantilah aku ceritakan kalau aku sudah pulang ke Indonesia”
Aku tersenyum. Sebenarnya aku juga tahu kegiatan sehari-harinya. Karena aku selalu membaca tulisan-tulisannya di blog. Namun aku diam. Tak ingin kembali memunculkan harapan sepi. Ya, harapan yang tak berbalas.
Hmm... Hari semakin malam, sedang aku masih asyik bertukar pikiran dengan sahabatku tersebut. Mimpi dan cita-cita kami yang hampir sama menjadikan kami lebih akrab. Awalnya, kami selalu ribut. Namun seiring berjalannya waktu, kedewasaanpun membawa kami untuk sama-sama berpikir cerdas.
Dan haripun cepat berganti. Aku harus pamit pada semua orang. Semua orang melepas kepergianku dengan do’a dan harapan yang mereka perlihatkan melalui sorot matanya. Aku begitu terharu melihat semuanya. Belum pernah sebelumnya aku diantar  semua orang.
Oh, Tuhann... Betapa bahagianya hari ini. Dulu, aku pergi hanya diantar mama saja. sekarang orang-orang di sekitar rumahkupun ikut mengantarku sampai mobil.
“Hmm... Jaga diri baik-baik ya Ray! Jaga kesehatanmu juga!” Kata Bu Nida.
“Iya bu. Kalem, saya punya jadwal sendiri. Jadi semuanya sudah terjadwal. Hehe.. Oh ya bu, paling saya pulang bulan depan. Tolong koordinir semuanya, ya Bu? Saya percaya pada Ibu. Semua perkembangan update ke blog. Nanti biar saya memonitor dari blog.”
“Sip, Neng!” Kata Bu Nida.
Setelah lama berbincang, akupun pamit pada semuanya. Termasuk pada orang tuaku yang selalu mendukung semua kegiatanku. Dan, mobil yang kutumpangipun mulai berjalan. Kini, aku kembali ke kehidupan yang mengguncang.
***
“Arrrrggghhh! Tugasku kembali menumpuk. Oh Tuhaaaannnn.... Tapi tak apalah, karena mimpiku tinggi jadi rintangannya pun tinggi. Ahahahah ” Aku mencoba memaksakan diri untuk tetap tertawa. Kesibukanku setiap hari makin menumpuk. Ditambah harus bulak-balik ke kampung demi mengontrol perkembangan mereka. Namun, semua itu kulalui dengan penuh semangat. Hidup ini adalah perjuangan. Sekuat apapun badainya, tetaplah bersemangat!hihihi...



[1] Ma, kenapa bapak pulangnya malam banget? (Bahasa Sunda).
[2] Semua itu karena anak, Ni. Makanya kamu sekolah harus benar, sampai tercapai hasilnya!
[3] Neng (sebutan untuk gadis desa), lagi di rumah? Kapan kesini?
[4] Kemarin, bu.
[5] Lagi libur?
[6] Iya, bu. Kebetulan lagi libur, jadi liburan di rumah.
[7] Hey, kenapa si Amud?
[8] Sekolah.
[9] Musik islami.