It's Me!

click to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own text

BERJUANG TANPA DUKUNGAN


Malam tak berbintang, tak ada satupun fanorama yang menentramkan jiwa. Aku adalah seorang putri dari empat bersaudara. Putri satu-satunya dari sebuah keluarga sederhana. Meski begitu, aku adalah putri satu-satunya yang berani bermimpi tinggi. Aku tinggal disebuah rumah yang lumayan sederhana. Bapakku seorang tukang bangunan, kalau ada orang yang menyuruhnya untuk dibuatkan rumah barulah ia bekerja, tapi kalau tidak ya apa boleh buat, tidak ada seperak uangpun di rumah kami. Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga, sebelum ibu punya bayi lagi, ibu selalu membantu bapak di sawah . Ia adalah seorang wanita yang super hebat. Tahu apa yang harus dilakukannya ketika kami dalam kesusahan. Ibu selalu mengatur semuanya dengan baik. Dari mulai mengatur keuangan hingga membagikan makanan.
Kakakku seorang tukang ojek yang tidak mementingkan sekolah. Kakakku adalah orang yang sangat baik, namun ia tidak pernah memperlihatkan rasa sayang di depan adik-adiknya. Ia selalu mendidik kami dengan keras. Kemudian dua adik laki-lakiku masih kecil, yang satu baru naik kelas 6 SD dan yang satunya lagi baru berumur satu bulan.
Aku termasuk anak yang sangat bandel. Maksudnya, aku selalu meminta untuk sekolah secara paksa kepada bapakku. Saat lulus SMP, aku memaksa kepada bapakku untuk menyekolahkanku. Aku tahu orang tuaku tidak punya uang. Namun aku tetap yakin bahwa aku pasti bisa sekolah. Karena Alloh pasti memberikan yang terbaik bagi hambaNya. Keinginanku ini adalah untuk mencari ilmu, pasti Alloh akan memberikan jalan padaku,pikirku. Kesungguhan berbuah hasil, akupun diterima di sekolah dengan beasiswa setahun. Yakin berhasil,maka kita akan berhasil.
Berawal dari sebuah pesantren. Syifaush-shudur? Ya syifaush-shudur adalah tempatku menuntut ilmu serta memulai sebuah harapan dengan merancang sebuah mimpi. Semua orang mungkin hanya bisa tersenyum dan berkata “amiin, semoga terkabul”. Meski mungkin dalam hati mereka terdapat sebuah kata tidak mungkin. Tapi, ya inilah aku. Seseorang yang selalu nekad untuk berbuat sesuatu.
Hari ini adalah hari terakhirku untuk mengumpulkan berkas persyaratan masuk Perguruan Tinggi. Namun tidak ada yang ingin membantuku. Keluargaku malah menyuruh aku untuk mencari uang. Hampir semuanya menyuruhku untuk bekerja. Apalagi kakakku, ia adalah salah satu orang yang menentangku untuk melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi. Ia selalu mengacuhkanku ketika aku berbicara tentang kuliah. Bahkan saat aku mencoba meminta bantuannya untuk membuatkanku Surat Keteranga Tidak Mampu (SKTM), ia malah bilang “alaaah... tong sok ngomong-ngomong kuliah! Na, ari maneh teu mikirkeun kaayaan kolot ayeuna kumaha?” .
Air mata sempat terlintas ketika ia berbicara seperti itu. Tapi kupikir aku harus mengubah keadaan keluargaku! Aku tidak akan bisa mengubahnya jika aku hanya tinggal diam. Aku pun punya sebuah cita-cita yang aku inginkan. Jika aku tidak kuliah, apa yang akan kulakukan? Bekerja, aku tak bisa. Karena aku masih haus akan ilmu. Aku tidak ingin terjerat dalam lingkaran setan ini! Akhirnya, meski malam telah menjemput sang dewa siang aku mencoba memberanikan diri untuk pergi ke kampung sebelah. Di kampungku, belum ada orang yang mempunyai komputer. Meski ada, itupun cuma satu orang dan ia tidak mempunyai printerannya.
Selesai shalat magrib, aku pergi bersama tetanggaku. Ia mngantarku ke tempat seseorang yang ditunjukkan bapakku. Meskipun bapak kurang mendukung, namun rasanya ia sangat peduli terhadap usaha yang dilakukan putrinya itu.
Malam yang dingin menambah semarak sengitnya perjuanganku untuk melanjutkan sekolah. Ditambah rintik hujan yang sedari tadi tak kunjung selesai. Aku mencari-cari sebuah rumah di sepanjang jalan dekat gardu atas nama Pak Suntana. Tangisan langit malam ini membuat tak banyak orang yang hadir menikmati indahnya pemandangan malam hari, sehingga aku bingung harus bertanya kepada siapa. Aku turun dari motor, lalu aku mencoba mencari orang yang mungkin mengenal Pak Suntana. Setelah beberapa menit, akhirnya aku menemukan seseorang yang berambut pendek, tinggi dan memakai sarung. Sepertinya ia baru saja pulang dari mesjid. Demi impianku, aku memberanikan diri untuk bertanya kepadanya. Namun sayang, ternyata tidak ada orang yang bernama Pak Suntana di kampung ini. tapi aku tetap ngotot kepada lelaki itu. aku yakin bahwa bapakku tidak mungkin salah memberikan alamatnya.
Lalu aku bertanya “Pak Suntana yang punya komputer sama alat print-nya a ?” kataku menegaska.
Wajah laki-laki itu kembali mengerut “yang punya alat print?” gerutunya.
“Oooohh, Pak Santana kali neng ” ia menebak.
“Ya, mungkin. Pokoknya kata bapak saya Pak Suntana yang punya print-an”
“Ia neng, itu namanya Pak Santana. Disini tidak ada yang namanya Pak Suntana, ada juga Pak Santana. Pak Santana memang mempunyai komputer sama alat print-nya neng” tegasnya.
“oh, iya kali ya. Bisa antarkan saya ke rumahnya a?” pintaku. Ia mengangguk dan langsung mengantarkanku ke rumah Pak Santana.
Saat berada di depan rumahnya, aku mengucapkan terima kasih kepada laki-laki yang mengantarkanku tadi. Kemudian aku masuk ke rumah Pak Santana dan aku jelaskan maksud serta tujuanku. Pak Santana orang yang ramah. Bapakku juga dibantu olehnya ketika aku akan masuk SMA.
Pak Santana mengizinkan untuk mengetik sendiri dan mencetaknya sendiri. Ia kaget saat kuceritakan aku akan masuk kuliah.
“Perasaan baru kemarin kamu mau masuk SMA, masa sekarang sudah mau kuliah?” tanyanya.
“Ia pak, sekarang aku mau daftar kuliah ke UNPAD dengan beasiswa” jawabku tenang sambil melanjutkan ketikan. Pak Santana hanya tersenyum melihatku.
Setelah selesai, aku pamit kepada Pak Santana. Dan beribu-ribu ucapan terima kasih aku sampaikan kepadanya.
Malam semakin larut. Tanpa basa-basi, aku langsung meminta tetanggaku yang mengantarkan tadi untuk mengantarku ke rumah Pak Lurah sebelum aku pulang. Ia pun menurut. Mesin motor langsung ia nyalakan. Aku melindungi kertas SKTM yang tadi aku print di rumah Pak santana. Aku rela tubuhku diguyur hujan, tapi aku tak rela kalau hujan membasahi kertas itu. seakan-akan kertas SKTM itu adalah harta bagiku. Karena itulah yang akan menentukan jalanku untuk menembus ke perguruan tinggi.
Tak sampai sepuluh menit, aku sampai di rumah pak lurah. Untunglah ia ada di rumah. Aku langsung meminta tanda tangan serta cap dari desanya. Setelah itu aku pun pulang ke rumah dan beristirahat.
Esoknya, pagi-pagi sekali aku pergi ke rumah RT serta RW di kampungku. Aku meminta cap dan tanda tangan dari mereka. kemudian aku pergi ke tempat foto copy-an untuk memoto copy semua sertifikatku. Finally, aku bisa mngumpulkann semua persyaratan tepat pada waktunya. Hatiku lega sekali, meskipun tidak ada orang yang mendukungku untuk melanjutkan sekolahku ke perguruan tinggi tapi aku bangga dengan diriku sendiri. Aku mampu bertahan meskipun mereka selalu menentang. Aku mampu berdiri kokoh dalam menggapai impianku menjadi seorang Duta Besar Indonesia untuk Jepang. Aku yakin, sakit yang kurasakan hari ini akan berujung sebuah ketenangan serta kebahagiaan yang mendalam. Dan akupun yakin bahwa Alloh akan memberikan jalan kepada semua orang yang bersungguh-sungguh. Tak lupa, akupun selalu meminta do’a kepada semua guruku semoga aku masuk ke universitas yang aku inginkan.
Beberapa hari menjelang pengumuman, aku selalu bercerita serta bermuhasabah pada Tuhan. Aku mohon diberikan yang terbaik olehNya. Apapun keputusanNya, aku pasti akan menerimanya dengan lapang dada. Tapi aku sangat berharap Tuhan menempatkanku dijurusan Sastra Jepang. Karena aku sangat menyukai bahasa serta budaya Jepang. Aku mulai mengenal bahasa jepang pada saat aku masuk SMA. Ade sensei selalu bercerita tentang pengalamannya di Jepang. Dari sana, aku sangat tertarik dengan jepang. Aku fokus hanya di bahasa jepang. Meski semua orang selalu menyarankanku untuk mempelajari bahasa inggris lebih lanjut,namun aku aku hiraukan mereka. Aku adalah orang yang suka fokus dalam satu bidang.
Seharusnya pengumuman dilihat besok pagi, namun ternyata pengumuman itu sudah bisa dibuka setelah magrib. Aku kaget ketika membaca sms dari teman-teman sekelasku. Mereka bilang “Alhamdulillah diterima di sastra jepang UNPAD”. Dua kali berturut-turut aku menerima sms yang seperti itu, aku kira aku yang masuk kesana, tapi ternyata dugaanku salah. Dua orang teman sekelasku diterima di Sastra Jepang UNPAD. Malam itu aku sangat bingung sekali. Di daerah tempat tinggalku tidak ada warnet. Kucoba meminta bapak untuk mengantarkanku ke warnet, namun sayang tidak ada kendaraan waktu itu. Bapak menyarankanku agar menyuruh temanku yang membuka hasil milikku. Akhirnya aku turuti saja perkataan bapak. Aku sms Rifky untuk membuka hasil SNMPTN Undangan milikku. Beberapa sms sudah aku kirimkan, namun tidak ada satupun yang terkirim. Kemudian aku sms Mulyana. Namun tak ada balasan juga darinya. Selanjutnya aku sms juga temanku yang di AMSC , ternyata tidak ada balasan juga darinya. Beberapa orang sudah berkirim kabar cerianya padaku. Namun aku masih dirundung kesedihan. Aku benar-benar merasa bingung, resah dan gelisah. Tak ada cara lain kecuali menunggu seseorang yang memberikan kabar gembiranya buatku. Saat kutersandung dalam sebuah lamunan, Hp-ku berdering mengagetkan. Aku baca perlahan, “Nay, maaf kamu tidak lulus. Sabar ya Nay...” nafasku sesak, air mata tak bisa kubendung lagi. Aku menangis terisak-isak. Enggan tuk memberitahukan orang tua. Aku bingung apa yang harus kulakukan jika memang benar aku tidak lulus. Kalau aku ikut SNMPTN Tulis, itu berarti aku harus kembali belajar dan harus membayar biaya SNMPTN tulis itu. aku tidak punya uang, dan orang tuaku pasti tidak akan memberikanku uang untuk SNMPTN itu. Sungguh kebingungan yang amat memenuhi pikiranku. Tapi anehnya, hatiku berontak. Rasanya aku yakin bahwa aku lulus. Tapi kenapa si Mul bilang aku gak lulus. Aku yakin pasti ada yang salah. Tanpa basa-basi kutekan reply untuk membalas sebuah pesan singkat dari Mulyana.
“Wah??? Asli Mul? Aku ga lulus? Gk bhong kan Mul?” kataku.
Kutekan send untuk mengirim pesan singkat ini. Tak lama, HP-ku kembali berbicara.
“Heheh, lulus ketang nay . Nyantai atuh . Selamat ya.. Maaf sudah mengagetkan” Sontak, seketika wajahku berubah cerah. Rasanya seperti ada sebuah kilatan cahaya yang merasuk kedalam raga ini. Aku lulus.. Aku lulus.... Dimana aku lulus... Sastra jepang atau sastra arab?Pikirku. Dengan penasaran, aku tanya lagi kepada mulyana.
“Lulus dimana Mul? Jurusan apa?”
“Hubungan Internasional, Unpad. Nay”
Mataku kembali di kagetkan oleh kabar itu. Semalaman aku tidak bisa tidur karenanya. Aku yang dulu menyepelekan bahasa inggris, ternyata sekarang aku harus bisa bahasa inggris karena aku diterima di Hubungan Internasional. Air mata sedih dan bahagiapun kembali mengalir diwajahku. Semua keluarga ikut bergembira, karena aku diterima disana tanpa harus mengeluarkan biaya.
Tuhan memang selalu memberikan yang terbaik bagi hambaNya. Aku ingin menjadi seorang duta besar atau diplomat dan Ia menempatkanku ditempat yang sempurna. Thanks god, sekarang aku yakin bahwa jika kita sungguh-sungguh dalam sesuatu maka Engkau akan memberikan yang terbaik bagi kami.
“Man jadda wa Jadda-barang siapa yang bersunggguh-sungguh, maka ia akan berhasil”
Setelah aku masuk di UNPAD ternyata sebuah perjuangan harus kembali kuukir. Aku berangkat untuk daftar ulang serta mengurus semua persyaratanku sendiri. Meski aku tidak tahu daerah Bandung, tapi aku nekad pergi sendiri demi kesuksesanku. Hatiku sangat berontak ketika melihat teman-teman mahasiswa baru yang diantarkan oleh orang tua mereka. Tapi inilah aku, aku harus sukses meski tak diantar oleh orang tuaku. Aku harus mandiri. Aku yakin mereka pasti selalu memberikan do’anya meski aku berada jauh dari mereka.Dan aku YAKIN aku PASTI SUKSES!!!!

0 komentar:

Poskan Komentar