It's Me!

click to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own text

Pelipur Lara : "Ngoceh Alone"

Brrrr.... Dingin sekali malam ini, tidak seperti biasanya. 
Hmm, tak ada teman sapa. Disini hanya ada aku dan dia. Dialah yang selalu menemani kala ku suka dan duka. Ya, tiada lain dan tiada bukan. Hanya "dia" seorang. 
Dia selalu menentramkan jiwa. Tapi aku tak sadar bahwa sebenarnya aku sedang membohongi diriku sendiri. Tapi yang lebih parah, aku juga sedang membohongi orang lain. Bahkan aku membohongi dunia ini. 
Jyyyyaaaaaaaaaaaahhhhhhhh...
Apa yang kuperbuat ini?
Tapi seandainya lara tak menyergap, mungkin jemariku enggan tuk berceloteh dengan keyboard2 ini. 
Setiap asa, kulepas dengan ketukan-ketukan nada keyboard yang kubuat. 
Aku memang egois, aku tak peduli dengan anggapan dunia tentang diriku. Aku sudah terlalu pusing dibuatnya. 
Tapi, pusing itu merupakan pusing rindu.
Setiap ku helakan nafas ini, rasanya nada yang keluar adalah nadanya. 

Bolehlah, jika orang-orang yang disekitarku menganggap aku sudah gila. Menganggapku sebagai seseorang yang lemah. Tapi asal kalian tahu, aku memang lemah karenanya namun aku tak lemah dengan citaku. 

Kyakkk,,, 
Aku bingung apa yang sebenarnya harus kutuliskan lagi. Tapi ini mungkin sekedar pelipur lara. Lara yang terbendung sejak beberapa tahun lalu. Dan kini ingin rasanya kuledakkan dalam untaian-untaian kata yang indah. Hingga orang tak lagi menganggapku gila, berhenti memahariku karenanya. 

Ya, seharusnya aku sadar. Seharusnya aku tegar. Tapi aku tak bisa tegar dibuatnya. 
Setiap kali kubuka dunia ini, selalu saja jemariku ingin menegurnya. Selalu saja jemari ini tergoda untuk membuka albumnya. Sekedar menyapa wajahnya, ya? hanya itu saja, tak lebih.
Ingin kupaksa Tuhan tuk hapus memori ini, tapi semakin aku mencoba meminta kepada Tuhan untuk menghapuskannya semakin aku terjerumus kedalam namanya. 

Sebenarnya aku bingung dengan diriku sendiri. Aku juga bingung dengan apa yang kutuliskan ini. ahahaha
Pasti pada serius bacanya ya?
haha
Sedikit menghibur hati setelah stres dengan buku-buku.



Kusambut Kau dengan Rangkaian Kata

Aku tak begitu paham denganmu, bahkan aku sangat tak paham denganmu. Terkadang engkau mampu meyakinkan semua pransangka baikku padamu, namun terkadang engkau juga mampu menggoyahkan prasangka itu.
Setiap hari, aku hanya meminta agar Tuhan menghapuskan memoriku tentangmu. Karena aku sudah tak ingin berprasangka lagi padamu. Aku hanya ingin sekedar meyakinkan hidupku.
Hidup nyaman, tentulah kuinginkan. Oleh karena itu, menjauhlah kau dariku. Menjauhlah, menjauhlah sayang........
Sekian lama aku menaruh sebutir rindu padamu, namun tak pernah kuungkap pada siapapun. 
Aku hanya menyimpan senyum lamamu. Senyum kecil yang ku tak tahu, kau tujukan untuk siapa. 
Jika kau pulang nanti, kan kusuguhkan kau dengan balutan kata yang telah kurangkai sekian lama. 
Tak perlu kau hafal, cukup maknai saja!
Maknai dengan sepenuh hati, tentu kau kan mengerti.

Salam rindu dari bayangmu
:)

Celoteh di Pagi Hari


Seharusnya pagi ini merampungkan tugasku terlebih dahulu. Tapi entah kenapa jemari ini terlalu gatal untuk menuliskan sesuatu. Padahal aku belum tahu apa yang harus aku tuliskan.
Sekedar menyapa pagi mungkin dan mencari cerita burung.


Biasanya setiap pagi aku selalu duduk di depan jendela. Menerawang indahnya pagi yang disambut cerah mentari. Tak jarang aku mendengar celotehan beberapa siswa SMP yang sering bergerombol disekitar tempat tinggalku. Terkadang mereka bercerita riang gembira, namun kali ini ceritanya sedih (baginya). 
Seseorang diballik jendela itu sepertinya sangat murung. Ia bercerita kepada teman-temannya bahwa baru saja 3 celengannya lenyap diambil sang maling yang tak punya malu itu. Saat itu si anak kecil ini, katakanlah Arif. Ia sedang pergi berbelanja dengan sang ibu tercinta ke Jatos alias Jatinangor Town Square. Mereka asik berbelanja disana. Sedang rumahnya sedang diburu oleh sang maling.

Saat berbelanja, tiba-tiba si Arif merasakan sesuatu yang aneh. Rasanya ia mencium ada yang tidak beres di rumahnya. Akhirnya ia meminta untuk pulang kepada orang tuanya. Tapi si ibu tidak mendengarkannya. Ia terus asyik berbelanja. 
"Bu, bu. Ayo pulang! Hati Arif nggak enak, rasanya seperti ada yang tidak beres di rumah" Katanya sambil menarik-narik ibunya untuk pulang.
Si ibu masih tetap tidak menghiraukannya. Akhirnya Arif agak memaksa.
Luluhlah hati si ibu. Mereka mengakhiri belanjanya. Dan kembali pulang ke rumah tercinta. 

Saat tiba di rumah, ternyata dugaan Arif benar. Ia langsung pergi kekamar dan mendapati ketiga celengan tercitanya sudah raib. 
Seketika dia langsung berubah lemas.
"Haaaaaaaaaaahhhh.... Tuh kan bener mah. Celengan Arif semuanya hilang!" Teriaknya.
Si ibu masih tidak menyadari bahwa rumahnya telah dimasuki maling.
"Cari yang bener, kamu lupa nyimpennya kali" Kata ibunya tenang-tenang saja.
Arif berusaha untuk meyakinkan sang ibu tercinta. 
Saat ibunya mencari perhiasannya, ternyata benar. Tak ada satupun perhiasan serta uang yang ia simpen di dalam peti lemarinya.
"Astagfirullohal'adhim, Masya Alloh, Innalillahi......" Ibu Arif berteriak dari kamar.
Segera Arif berlari ke kamar sang ibu. 
"Tuh kan apa kata Arif juga, mamah sih tidak percaya!" 

Setelah memastikan apakah masih ada yang tersisa atau tidak, mereka duduk lesu di ruang tamu. Baru saja mereka menyadari bahwa sesungguhnya maling telah merebut semua harta yang mereka miliki.
Arif menangis, karena 3 celengan itu sudah ia jaga baik-baik dan tidak ia buka-buka untuk lebaran nanti.
Dan kakeknya lah yang menenangkan mereka.
"Sudahlah, jika miliknya. Nanti juga akan balik lagi" Kata sang kakek. Tapi Arif tetap menyesali semuanya.

Mendengar celotehan mereka, aku jadi teringat akan peristiwa penjambretan teman kelasku. 
Hmmm Dunia ini memang kejam.... 
Kali ini aku merindui celoteh-celoteh pagi mereka. 
Sayang, sekarang aku sudah libur. Jadi kuputuskan untuk tinggal di rumah saja.
"Huaaaaa Kangen. Kangen celoteh kalian, kangen canda kalian, kangen ribut kalian juga"
:)

Usaha Tuk Jemput Si Bintang

Kali ini, aku sedikit melangkah untuk menggapai citaku sebagai novelis internasional. Berawal dari hal yang paling kecil. Ya, hal yang paling kecil sebelum menuju ke hal yang paling besar. 
Sejak SMP aku sudah diajarkan untuk menuliskan semua cita-cita hidup yang ingin aku raih. Cita-cita untuk menjadi penulis merupakan cita-cita kedua setelah  Duta Besar. 
Hari ini, aku berusaha mewujudkannya dari hal terkecil.
Aku bergabung dengan komunitas-komunitas menulis dan terjun untuk menjadi seorang reporter lepasan. Namun sayang, dengan segala keterbatasan dan tempat tinggalku. Aku kurang berkontribusi dalam pekerjaan ini. Paling kalau misalnya aku pulang ke rumah, baru aku berjalan sambil mencari sebuah berita untuk dimuatkan disana. Kadang aku hanya mampu menulis satu teks berita dalam 2 minggu. Atau bahkan tidak sama sekali. Karena berita yang harus aku tulis itu merupakan berita tentang Garut. 

Hmm... Nah, sekarang komunitas? Komunitas yang aku ikuti sekarang itu adalah KIMM (Komunitas Ilmiah Mahasiswa Muslim) FISIP UNPAD dan Forum Lingkar Pena. 

Menulis dan menulis.......

Kekuatanku untuk menjadi penulislah yang mungkin mengantarkanku pada semua kegiatanku ini. Tak jarang, kalaulah masalah edit-mengedit tugas pun terkadang dilemparkan ke aku. Hihihi Serem juga sih jadi bahan sasaran lempar tugas, tapi karena itu merupakan salah satu passion ku, ya sudah jalani saja. 

The first short story
Nah, nah... Ini dia. Ironi Strip Dua merupakan buku antologi cerpen yang memuat salah satu cerpenku.
Awalnya aku mau mundur dari proyek ini, karena temanya tentang pernikahan. Sedangkan aku masih singgle dong.. belum pernah nikah. hihihihi
Tapi untunglah aku punya teman-teman penulis di Forum Lingkar Pena, mereka memberikan dorongan untuk tetap maju. 
"Nikmati dan hayati saja nay" kata salah satu temanku itu. 
"Kamu tak perlu menikah dulu untuk bisa menulis tentang pernikahan, cukup nikmati dan hayati. Bayangkan, bahwa kamu sekarang sedang dalam ikatan pernikahan" Sambungnya. 
Hehe, aku tetap bingung awalnya. Bahkan aku tak menemukan inspirasi cerita, padahal waktu sudah H-2 dari deadline. 
Untuk mencari inspirasi, aku terus berjalan menyusuri sepanjang kenangan. Saat kurenungi semuanya, tiba-tiba aku teringat pada sebuah kejadian. Kejadian yang mungkin indah jika kubayang bertolak dengan aslinya. heheh
Yups, H-1 akhirnya aku sudah menemukan jalur cerita yang akan kuceritakan dalam cerpen pertamaku ini. Na-na-na, aku ketik semuanya. Setelah sejam, akhirnya ceritaku berhasil aku rampungkan dengan happy ending. Aku baca lagi, kemudian aku edit. Dan ya! Siap dikirim. hehehe
Judul murni dariku adalah MELEPAS CITA DEMI CINTA ; "Kan kupatuhi semua perintahmu, suamiku"
Tapi mungkin karena kepanjangan akhirnya di ganti sama editornya. hikhikhik 
jadi "Tak Ingin Melepasnya" (yeeee.... heheheh)
Inti ceritanya sih tentang sebuah cita-cita yang dilepaskan demi suami tercintanya. Hmm... Begitulah.. Pokoknya aku menulis dengan  penuh cinta. Bahkan ada salah seorang temanku yang bilang "Ih, nay tulisan kamu kok geli banget" Katanya sambil nyegir-nyengir. 
Kemudian aku tanya "Geli kenapa?"  aku kan heran dengernya, kok bisa gitu tulisan aku dibilang geli. Emangnya ada ulatnya apa?heheh
Eits ternyata jawabannya "Ini tuh so romantis banget. Kaya yang emang bener-bener nikah. Terus kamu kan belum nikah nay, begitupun dengan aku. Jadi aku geli sendiri" Sambil cengengesan. 
Huaaaaaaaa....... Gubrak!!??? Tapi terlanjur diterbitkan, ya sudahlah. Nanti aku akan meminta pendapat teman-temanku dulu sebelum tulisanku diterbitkan. :)

Hah, itu ceritaku yang pertama ya?
Sekarang, ini yang kedua ........
Jengjreng....
Sang Juara? Hehe
Ya, cerpen keduaku terbit di antologi yang berjudul "Sang Juara".
Nah, ini baru tulisan asli. Maksudnya, tulisan seusiaku.hehehe Gak juga sih ya, tapi kan tak perlu membayangkan hal-hal yang duluar kita. Hmm... buku ini tentang motivasi, cerita-cerita seru yang bakal menginspirasi kamu.
Kalau menulis motivasi, itu memang kesukaanku. Jadi tak perlulah aku berjalan-jalan terlebih dahulu untuk mencari inspirasi dulu. heheh
Salah satu tulisanku yang masuk kesini berjudul "Buruh Tergantung Karipuh". Maksudnya, hasil yang akan kita dapat itu tergantung dari kerja keras kita. Kalaulah kita berleha-leha ya, mungkin hasilnya pun cukup kecil. Beda dengan hasil yang kita dapatkan ketika kita berusaha dengan keras.

Nah, itulah salah satu langkahku dalam menjemput cita-citaku ini. 
Hah, sudah dulu ah .....Syosyo....

Jika kalian ingin tahu lebih lanjut cerpenku dalam kedua buku ini, pesen langsung aja ya??heheh

Dan tunggu tulisan-tulisanku selanjutnya!

Saman Vs Sepeda

Oalaaaahhhh,,,,, Saking tak ada inspirasi untuk menulis. Akhirnya aku menuliskan apa yang aku rasakan hari ini. 
Sebenarnya, tak ada rasa yang kurasakan hari ini sih. 
Hari ini berjalan lurus-lurus saja. Tak ada yang spesial. Yang ada malah yumpukan penat tugas yang datang secara tiba-tiba. Ups, sebenarnya sih bukan tiba-tiba. Tapi mungkin karena dosennya lupa (meureun), jadi aja baru dikasih hari kemarin. Tapi tak usah diambil pusinglah ya???? Toh, ini kan sudah menjadi tugas kita. wkwkwkwk

Jya, kegiatan baru. 
Kemarin sebelum UAS, ada salah satu teman yang juga sebagai kakak kelasku ngajak main. hihih 
Tapi main yang tak biasanya. Biasanya kami hanya mojok di kamar kos, kemudian berceloteh kemana-mana, yang akhirnya malah tertiidur. heheh
Tapi kali ini, ia mengajakku untuk bersepeda disekitar kampus. Ya, tapi aku lupa membawa fotonya. heuheuheu
Hmm... Dari pada di kosan sibuk memikirkan UAS kan mending kita refreshing dikit (meski hati selalu bergetar dibuatnya).

Pagi itu, memang pagi yang sangat cerah, wuih mendukunglah untuk berkelana dengan sepeda. Aku bersama teman-teman pergi keliling kampus. Awalnya kami memang sangat menikmatinya, tapi alaaaahhhh jalannya semakin meninggi alias nanjak. Keempat temanku mulai mengeluh, mungkin karena mereka tidak terbiasa bersepeda. Padahal, aku juga baru kali ini lagi menyentuh sepeda. Terakhir aku bersepeda itu pada saat aku masih duduk di SMA kelas 2. Setelah itu, aku tidak pernah menyentuh sepeda lagi (Ups... kecuali sepeda motor. heheh)
Hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan, setidaknya dengan ini pikiranku ter-refresh. Dan siap untuk melahap semua materi UAS. (Tingtong)

Esoknya, ternyata UAS mulai memberikan sedikit resah dipikiran. Aku begitu takut dengan ujian kali ini. Jelaslah, nilaiku kemarin tak begitu bagus. Meski terkadang aku tak memikirkan masalah nilai, karena kupikir yang paling penting itu adalah soft skill. Tapi tetap saja, kalaulah nilaiku jelek mungkin aku tak bisa kuliah. (Idiiiiihhhh na'udzubillah deh). Sekarang harapku cuma satu, setelah berbagai usaha kulakukan tinggal pasrah alias tawakal. heuheuheu
(Semoga nilaiku baik-baik saja... -_- Amiiiinnnn)....

Hah, kok jadi serius ngomongin ujian ya? hahaha
Ok, lanjut ke sepeda deh. Jya, setelah ujian berakhir kembali ku goweskan gowesannya... (Apa ya? hehe)...
Ya, aku kembali bermain sepeda. Namun berbeda waktu. Kalau kemarin pagi-pagi, kali ini sore hari cuy.. Panas sih, tapi ya sudahlah. Mencoba untuk sehat. hehehe
Seperti biasa, aku bersepeda keliling kampus (abis tak ada tempat indah lain, kecuali kampus.. wkwkwkwk lebay!)

Nah, nah, nah...
Selain bersepeda, aku juga mempunyai kegiatan lainnya....
Karena dulu aku tidak diperbolehkan untuk ikut belajar tari sunda, akhirnya aku berlari ke tarian aceh. heheh
Tak apa ya?
Awalnya, aku susah untuk menghafal semua gerakan-gerakannya. Tapi setelah beberapa kali latihan, ternyata tarinya cukup mudah juga.
Saman HI UNPAD 2011
Wihihihi... Ini dia, Team saman HI 2011. Kami tampil untuk menyambut kakak kelas alias kakak tingkat di HI pada acara Makrab (Malam Keakraban) 2011. Kami latihan hanya beberapa minggu saja. heheh 
Awalnya sih aku  juga tidak mau, tapi tertarik juga sih. Jadi ya dicoba dulu deh. Eh, ternyata malah kecanduan. 

Hmm.... Sekarang kami sedang mempersiapkan diri untuk event pertama kami (yeeeee). Yaitu dalam acara penyambutan mahasiswa Student Excange dari Ajou University, Korea. Sebenarnya hari ini sudah libur sih, tapi kami menyisihkan waktu liburan kami untuk penyambutan tersebut.
Hai, Gambattene!!!





うち (Home)

Hallo teman-teman, lama tak jumpa.
Kali ini marik kita belajar  tentang rumah.
:)
Kosa kata :

  1. へや = Kamar
  2. だいどころ = Dapur
  3. おふろ = Bak mandi
  4. しょくどう = Ruang makan
  5. げんかん = Teras
  6. いま = Ruang keluarga
  7. そうこ = Gudang
  8. れいぞうこ = Kulkas
  9. エアコン = AC
  10. ガレージ = Garasi
  11. とだな = Lemari
  12. たてまし = papilyun
  13. おうせつま = Ruang tamu
  14. テレビ = TV
  15. ソファ = Sofa
  16. しょうくたか = Meja makan
  17. ベッド = Tempat tidur
  18. ほんだな = Lemari buku
Jya, oboette kudasaine!!!

Kemungkinan yang Tak Mungkin

Malam yang dingin, ,
aku tertatih menghujam makna dalam yang kau ungkap.
Namun, tiada arti kudapat. 
Beberapa hari ku coba tuk genggam asa, genggam cita, genggam nestapa namun tak dapat dirasa. 

Hari ini, malam ini, detik ini juga aku dikunjungi kembali sang dewa malam. Sang dewa impian yang selalu melekat di hati. Sang dewa impian yang selalu kutemui dalam setiap malamku. Dan kini ia datang. Ya, pasti datang. Karena aku melihatnya dari kejauhan. Aku melihat senyumnya menyambut cita dan cinta. Aku menyambut derita senjanya yang ceria. 

Sedikit demi sedikit, wajahnya mulai terlihat jelas. Tapi aneh, rasanya ia bukan dewa yang biasanya mendatangiku. Kali ini siapa yang datang? Aku tak mengetahuinya, wajahnya masih terlihat samar dimata. Namun, beberapa detik kemudian ia tersenyum padaku. 
Hey, siapa orang ini? Rasanya aku mengenalnya, tapi siapa? Tanya hatiku. 
Aku ragu tuk membalas senyum darinya. Aku takut, kalo itu merupakan senyum palsu yang ia tawarkan padaku. 

Dengan begitu lembut, ia menyapaku dan berusaha tuk mendekatiku. 
Aduhai, siapa orang ini? Hatiku terus bertanya dan enggan tuk bertanya padanya. Aku semakin takut dengannya. Takut ini, bukan takut yang biasa. Takut ini adalah sebuah jawaban mesra dari pertanyaannya. 

Saat kuteliti parasnya, tiba-tiba aku mulai mengetahuinya. Tiba-tiba aku mulai mengenalnya. Dan rasanya kali ini aku semakin dekat dengannya. Ya, aku kenal dia! Hatiku bersorak. 
Dia adalah seseorang yang selalu menjadi pujaan yang lain. Ia selalu menghiasi langit. Bahkan setiap malam ia selalu mengisi kehampaan sang dewa milikku. 
Ya, aku tahu dia. 
Dia adalah seorang bintang. Bintang lamunan, yang kini hadir menjadi impian. 
Lamunan? Impian? 

Gila!!! 
Tak pernah aku berpikir kalau ia kan datang menyapa. Tak pernah kupikir, kalau ia kan ciptakan senyum mesra. Dan tak pernah kupikir pula, bahwa ia sesungguhnya permata cita dunia.

Sayang, dunia hanyalah dunia. Tak bisa diubah kecuali dengan tanganNya. 
Lamunan senja melambai mesra. Aku hanya duduk diam tak pernah bisa menggapai tamuku itu. 
Begitupun dengannya, ia hanya mampu tuk sekedar menebar senyum dalam bayangnya. Menyapa mesra dalam sapa. 
Indah, namun tak indah kurasa. 

Bintang, memang tak akan pernah ku gapai. Kecuali jika ia berubah seperti diriku. Ya, kecuali ia berubah menjadi manusia normal.

Maaf, aku tak bisa menjawab sapa mu. Maaf, aku tak bisa membalas senyummu. Maaf, aku tak bisa menyambutmu sebagai tamuku. Maaf, aku tak bisa semuanya. 

Tanpa sadar, aku terjerumus dalam mimpinya. Ia membawaku pergi kedalam cahaya. Namun entah cahaya mana yang ia bawa. Tapi lagi-lagi aku kembali digetarkan dengan hal serupa. Cahaya ini tidak asing lagi bagiku. Cahaya ini cahaya rindu. Cahaya ini adalah cahaya yang setiap hari ku lantunkan. Ya, aku tahu itu.
Tapi mungkinkah Ia telah memberinya cahaya yang sama sepertiku?
Huh, tiba-tiba aku tersadar oleh cahaya itu. 
Saat ku buka kembali mataku, ia telah menghilang. Entah kemana??? Kupikir, mungkin ia telah kembali ke langit. 

Sesaat, kupandangi langit bersih itu.
Diantara bintang-bintang itu, ada satu bintang yang bersinar. Namun, tak tersenyum padaku....
Hmm.......



*Stress_3th Editions*
?dua dunia berbeda mungkin tuk menyatu tak ya?

Sepenggal Episode Hidup



Sabtu, 6 Jumadil Akhir 1433 H.  Berbekal  semangat, harapan serta do’a yang kuat, kulangkahkan kaki ini menuju kampus tercinta. Senang, namun beberapa potret kehidupan nyata nampak menyayat sang semangat pagi itu. Sungguh menyakitkan, betapa tidak? Seorang gadis mungil yang seharusnya belajar di sekolah, kini hanya tinggal di pinggir jalan mencari belas kasihan. 
Dengan pakaian lusuh penuh goresan debu, serta wajah tak bersenyum, ia angkatkan tangannya demi kepingan uang receh yang mungkin akan jatuh ditangannya. Tak hanya itu, mataku pun menemukan seorang kakek tua bertopi kumel, memakai batik hijau serta beralaskan sandal jepit, berdiri di depan gerbang kampus dengan tali sepatu dan lipatan beberapa koran di tangannya.
Hati ini geram, tatkala mendapatinya sedang menawar-nawarkan koran dan tali sepatu, namun tak mendapat respon dari mahasiswa yang lewat di hadapannya. Saat itu juga, hatiku dipenuhi ribuan tanya. “Kenapa kakek itu memilih berjualan tali sepatu? Padahal masih banyak pekerjaan lain yang mungkin cocok dan hasilnya lebih besar daripada menjual tali sepatu”. Ternyata sebuah jawaban bijak muncul dari mulutnya  “Saya hanya ingin berbagi rizki dengan mahasiswa” ungkap kakek itu sambil membereskan dagangannya.
Berbagi rizki dengan mahasiswa? Mulianya engkau kek. Pikirku. Namun, hatiku menjerit ketika mendengar cerita keluarganya di desa Cinta Manik-Garut. Keluarga yang sangat sederhana, hidup bergerombol dalam atap yang sudah ia gadaikan untuk makan sehari-hari. Tak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu sang ayah pulang dari teriknya siang. Jika sang ayah pulang dengan beras dan uang yang cukup lumayan, barulah mereka bisa makan dengan enak. Sedangkan jika sang ayah pulang dengan tangan hampa, mereka hanya makan makanan yang ada di kebun saja[1].
Tapi inilah pahlawan hidup mereka. Sang ayah, penjual tali sepatu dan koran ini rela berpuasa demi keluarganya tercinta. Bahkan kalaulah penghasilannya belum cukup untuk membeli beras, ia akan berpuasa dan berbuka dengan beberapa tetes air putih saja. Setiap hari, Pak Toha[2] berangkat pagi-pagi sekali. Ia pergi ke tempat pengambilan koran dan tali sepatu. Kemudian ia antarkan satu persatu koran itu ke semua fakultas yang ada di Universitas Padjadjaran. Sambil berjalan, terkadang iapun menawar-nawarkan beberapa koran dengan harga Rp 3000,- saja.
Suatu hari, pernah kulihat sosok wajahnya yang penuh beban itu terduduk lesu di depan gerbang kampus. Tanpa banyak pikir, kuhampiri langsung bapak tua itu. Wajahnya tak seperti wajah-wajah yang sebelumnya aku lihat. Kini wajahnya nampak begitu kusut. Akhirnya kuberanikan diri ini untuk menyapanya. “Sedang apa pak? Wah, dagangannya masih banyak ya pak? Semangat ya!” senyumku mengantarkan sapaan itu.  Namun, tak ada balasan senyum darinya. Yang ada hanyalah setetes air mata yang sedikit demi sedikit kian membanjiri wajahnya.
Aku terheran, tak biasanya bapak ini menunjukkan kesedihannya padaku. Ingin kutenangkan ia. Tapi aku juga bingung apa yang semestinya aku ucapkan padanya. Beberapa menit berjalan, tak satupun dari kami yang mengeluarkan suara saat itu. Untungnya hanya sedikit orang yang berjalan disekitar kami, karena memang sang surya hendak kembali ke peradabannya. Akhirnya kucoba bertanya padanya, “Pak, apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku pelan sambil mengusap-ngusap pundaknya. Tak banyak cerita yang mengalir dari senyumnya. “Kemarin anak bapak meninggal karena tifus, neng” jawabnya sambil menghapus air matanya.
Mendengarnya, hati ini bergetar. Bergetar menjalar ke seluruh tubuh dan lemaskan jiwa. Aku tertunduk dalam lamunan senja. Tak ada kata yang mampu kuucap selain hati yang bergerutu mendo’akan putri beliau. Tak habis cerita, beliau juga baru saja ditolak untuk bekerja di beberapa instansi karena faktor usia. Sungguh, ingin sekali kubunuh mereka yang menolak ketulusan Pak Toha untuk bekerja ini.  Rasa sedih ini sontak berubah menjadi rasa kesal yang begitu mendalam.
Aku tak habis pikir, kenapa mereka malah menolak beliau. Padahal beliau bekerja keras demi keluarganya. Masih untung sosok seorang Pak Toha ini berkeinginan untuk bekerja dibanding dengan mereka yang hanya duduk diam menanti sebuah belas kasihan. Dimana sebenarnya pemerintah? Yang menjunjung tinggi demokrasinya. Mereka bilang “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat”. Tapi mana buktinya? Adakah keinginan pemerintah untuk mengubah kehidupan mereka? Gertakku dalam hati.
Karenanya, Pak Toha tidak makan demi sang keluarga tercinta. Coba bayangkan, jika ada pemerintah atau intansi manapun yang memberikan pekerjaan yang layak bagi mereka khususnya orang seperti pak Toha ini, mungkin tak akan ada lagi yang namanya kemiskinan. Sungguh kejam dunia ini. Benar-benar tak habis pikir aku dengan ulah mereka yang menolak Pak Toha. Padahal negara tetangga juga ada yang memperkerjakan orang tua. Dimana hati mereka?
Sejenak kuterdiam, tiba-tiba ku ingat wajah ayah di rumah, apakah ia juga berjuang keras demi anak-anaknya? Terbayang pula wajah ibu yang menatapku dengan kosong, seakan penuh beban di pundaknya. Setitik air hangat lembut menyapa pipiku. Sungguh, takkan pernah kubuat kalian kecewa dengan ulahku. Takkan pernah kubuat kalian menderita karenaku. Hati ini menjerit kencang dan semakin berontak tatkala barisan pengemis mengisi ruang kosong, jalan menuju kampusku.
Melihat lukisan hidup seperti ini, berbagai rasa mulai teraduk. Teraduk serempak hingga akhirnya muncul sebuah pergolakan asa antara masa depan dan masa kini, antara kakek tua itu dan keluargaku,  antara mimpi dan perjuanganku. Berat memang, hidup ini. Namun, tak perlulah ku dibuat bingung dengan hal seperti ini. Yang jelas sekarang aku harus mulai mempersiapkan diriku di masa depan untuk mengubah kehidupan dunia, mengubah mereka dan lain sebagainya.
Rasanya ingin kurangkul mereka dengan  sekolah, taman baca, taman kreatif jalanan serta berbagai pekerjaan yang layak lainnya. Selain itu wajah merekapun membuatku tak sabar untuk menyelesaikan pendidikan dan langsung terjun merangkul mereka. Kupikir, Tuhan tidak akan merubah suatu kaum-Nya jika ia tidak merubahnya sendiri. Maka kalaulah bukan aku yang mengubah kehidupan mereka, siapa lagi? Adakah pemerintah terjun langsung merangkulnya?
Terlalu pedih hati ini menyaksikan perjuangan hidup kakek penjual tali sepatu itu, mungkin sebuah perubahan tidaklah harus menunggu lulus kuliah. Sekarangpun pasti bisa. Tapi, aku tak punya kemampuan lain selain meluapkan bendungan hati ini dalam sebuah tulisan yang mungkin tak begitu indah namun penuh makna. Ya? Dengan tulisan. Karena ulama dulu pun menuliskan semua pikirannya dalam sebuah kitab yang sekarang masih dibaca oleh orang lain.
Tulisan, tulisan dan tindakan. Itulah yang sekarang aku lakukan. Mulai dari diri sendiri, aku berusaha belajar sekeras mungkin tentang arti kehidupan yang sesungguhnya. Belajar untuk merangkul semua, belajar untuk bersabar, bersyukur dan menggapai cita. Kupikir Tuhan selalu memberikan jalan pada setiap hamba-Nya. Dimana ada kemauan pasti ada jalan. Sekarang, kan kuubah dunia ini mulai dari tulisan.




[1] Singkong, ubi, daun singkong, dll.
[2] Nama kakek itu. 

Perlu 1 Tahun untuk Beradaptasi

Kali ini aku bingung harus bercerita tentang apa? Hmm... Yang pasti hati ini aku ingin pulang ke rumah. Namun, karena beberapa kesibukanku. Aku tidak bisa pulang ke rumah sampai ujian beres. -_-

Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu. Sudah hampir satu tahun aku tinggal di tempat orang. Kali ini bukan sebuah pesantren yang aku tinggali. Melainkan sebuah kos-kosan kecil yang hanya cukup untuk tidur kami berdua saja (Aku dan temanku). 
Suasana baru memang aku dapati disini. Namun, terkadang rasa takut selalu menghantuiku karena ketidak biasaanku hidup di rumah kos seperti ini. 

Dulu, saat aku di pesantren. Aku tak pernah memikirkan "hari ini mau makan apa?" karena selalu ada ibu  tercinta kami yang selalu masak (ibu tukang masaknya. hee). Paling kalau misalnya ia tidak bisa datang karena sakit, baru kami gantikan dia untuk memasak di dapur. 
Namun, semenjak aku hidup di kosan yang jauh dari orang tua, setiap pagi aku selalu berfikir bahwa "Mau makan apa aku hari ini?"Belum masak, nyuci piring, nyuci baju, eh... belum belajar juga.
Setiap pagi, kamar pasti selalu berantakan. Kadang, kalau misalnya sedang dibanjiri oleh tugas. Pasti kamarnya dipenuhi dengan buku atau kertas-kertas yang berserakan dimana saja. 
Disini, tak ada yang membangunkan. Seandainya bangun kesiangan karena bergadang mengerjakan tugas, aku lupa untuk membereskan kamar dan lupa sarapan pagi. 

Kalau kesiangan, aku harus berlari ke kampus. Tak ada angkot yang melewati jalur kampusku (Ya, jelaslah. orang aku tinggal di depan kampus. hehe).. Beruntunglah, fakultasku merupakan fakultas paling dekat jika dibandingkan dengan fakultas lain. Cuma yang jadi kendalanya adalah, jalannya terlalu nanjak. hihihi
Ditambah, kelasku dilantai paling atas. So, aku harus berlari ekstra jika aku terlambat. Dan setibanya di kelas, dijamin deh nafas pasti ngos-ngosan kayak yang dikejar-kejar singa. wkwkwkwk

Hmm... Lucu memang. Tapi ya, inilah hidup. 

Dari dulu, aku memang termasuk orang yang susah untuk menyesuaikan diri dengan yang namanya sekolah. Waktu SMA saja, aku membutuhkan waktu selama satu tahun untuk mampu bercerita di depan kelas. Mungkin itu dikarenakan aku tidak ingin masuk kesana (Padahal, hebring deh setelah masuk SMA sana. hihihi). Percaya nggak, teman? Dulu waktu kelas satu SMA, aku keluar kelas hanya untuk ke kantin saja. Tidak pernah ke tempat lainnya. Tapi begitu aku naik ke kelas 2, aku mulai berani untuk beradu argumen. Bahkan akupun dicalonkan untuk menjadi ketua OSIS di sana. (hihihi lucu bangetlah kalau misalnya inget jaman dulu).
Hmm.... Begitupun dengan sekarang, aku perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan baruku. Aku selalu memilih diam karena takut salah. Kecuali jika mereka sedang membicarakan tentang kepenulisan, berulah aku angkat bicara (wew, hihi). Hampir sama seperti SMA, ternyata aku baru berani masuk ke organisasi itu pada semester 2. Namun, aku masih belum berani ngomong di kelas. Ntah itu karena aku belum mengenal jauh keadaan di sekitarku atau karena aku masih belum terbiasa dengan mata kuliahnya?
Entahlah.... Tapi yang pasti aku pasti akan berubah di semester 3 nanti. Karena aku sudah mulai mengenal lingkungan dan kehidupanku yang sekarang.

Meski harus setahun dulu aku beradaptasi dengan lingkungan, yang penting aku masih bisa hidup di dunia ini. (hehehe maksudnya di lingkungan ini).

Terusan よふく

Minnasan, Ohayou gozaimasu...
Jya, langsung aja ya... hee 
Kemarin kita kan udah belajar tentang yofuku alias pakaian and accesories nya (meski dikit. huhuh), sekarang mari kita lanjut ke pola kalimatnya. 
Nah, kalo pola kalimat untuk bagian ini beda-beda, minna. Masing-masing punya pola kalimatnya tersendiri. Misalnya untuk atasan apa? untuk bawahan, untuk kepala, asesoris dan lain sebagainya. 


  1. Pola kalimat untuk atasan;
    。。。 を きます/きっています。
    Minna, tahu kan apa aja yang termasuk atasan. heheh
    Baju, jas, jaket dan lain sebagainya. Nah, titik-titik diatas itu diisikan dengan kata benda buat atasan. Example : シャツ を きます。ジャケット を かっています。 
  2. Pola kalimat untuk bawahan。。。を はきます/はいています。Ini juga sama, namun pola ini digunakan khusus untuk bawahan saja. Seperti celana, rok dan lain sebagainya. Example : ズボン を はいてます。Artinya sedang memakai celana.
  3. Sip, sekarang kita lanjut ke pola kalimat yang lainnya. Kita masuk ke pola kalimat yang digunakan khusus untuk kacamata saja. Jadi ketika kita menggunakan kacamata, maka kita harus menggunakan pola kalimat yang satu ini. yaitu, 。。。を かけます/かけています。So, kalimatnya menjadi seperti ini ; めがね を かけています。
  4. Pola kalimat yang digunakan khusus untuk kepala. Maksudnya khusus untuk benda yang digunakan di kepala, seperti topi.
    。。。を かぶります/かぶっています。contohnya:ぼうし を かぶっています
  5. Yang terakhir ini adalah pola kalimat yang digunakan untuk asesoris.
    。。。を します/しています。
    Contohnya ; ふでどけい を しています。
*** teimasu, itu digunakan untuk kalimat yang "sedang" digunakan

よふく (Pakaian)

Konbanwa,,,
minnasan...
Let's learn about yofuku alias pakaian. he
Namun, sebelumnya kita belajar kosa katanya aja dulu yuk???
ok, lets' begin!

チーシャツ = T-shirt (kaos)
シャツ = Kemeja
スカート = Rok
ズボン = Celana panjang
サンダル = Sandal
ネクタイ = Dasi
ネックレス = Kalung
ジャケット = Jaket
ベルト = Sabuk
ゆびわ = Cincin
ふでどけい = Jam tangan
くつ = Sepatu
めがね = Kaca mata
きもの = Kimono (baju jepang)
うわぎ = Jas
ずきん = Kerudung
ピアス = Gelang

Ok, segitu dulu ya???
Mata ashita :)

Uta o utaimashou


おはよう。。
みんなさん おげんき ですか。
Tingtong,,,,
minna, kemarin kita kan belajar dan belajar. Sekarang mending kita nyanyi-nyanyi dulu yu???
hehehe
Tahu gak?
Ini adalah lagu yang pertama kali aku kenal ketika aku belajar bahasa jepang di kelas bahasaku tercinta.
satu-satunya kelas bahasa di SMAN 6 Garut.hihihi
Nostalgila ah...




Judul : こころ の とも

あなた から くるしみ を うばえた その とき
わたしみ を いきてゆく ゆうきん が わいてくる
あなた と であう まで は
こどく な さすらい びと
その ての ぬくもり を かんじ させて

あい は いつも ららばい
たびに つかれた とき
ただ こころ の とも と
わたし を よんで

しんじあう こころ さい
どこか に わすれて
ひと は なぜ すんぎた ひ の
しあわせ もいかける

しずかに まぶたて じて
こころ の どあお ひらき
わたし を つかんだら
なみだ ふいて

あい は いつも ららばい
あなた が よわいとき
ただ こころ の とも と
わたし を よんで


Ups, tak hanya itu...
lagu yang paling aku suka adalah "Mirai e" lagunya kiroro. Bagiku, lagu itu adalah lagu yang memotivasi diriku, kala aku sedang down dan tak mau belajar. Lagu ini sangat, sangat, sangat menyentuh hatiku.  Lagu ini membuat hatiku kembali bersemangat untuk menggapai cita. heuheuheu

Gambatte

Jelajah Pedang Diri

"Menulis itu bisa menjadi obat"

Itulah yang dulu kurasakan. 
Dulu, aku memang tidak terobsesi dengan yang namanya menulis. Bagiku, menulis untuk diri sendiri kurasa cukup. Tak perlu publikasi. Yang penting aku menuliskan semua yang ada dipikiranku. 

Aku mulai menulis sejak aku berada di bangku SD. Saat itu, aku mempunyai sebuah buku biru  mungil yang selalu siap menemani hari-hariku. Setiap hari kutuliskan setiap kejadian yang aku alami pada waktu itu. Tak ada satu waktupun yang terlewatkan. 

Hari demi hari kulalui dengan sebuah lembaran baru. Hingga tiba pada lembar yang terakhir.

Suatu hari, tiba saatnya aku  masuk ke Sekolah Menengah Pertama. Seragam Merah Putihku pun mulai kuganti dengan Putih Biru. Di sekolah aku aktif di berbagai kegiatan, hingga akhirnya kumulai melupakan apa yang dulu menjadi sebuah hobiku. Setiap hari aku hanya bermain dengan buku, karena waktu itu aku ingin menjadi bintang kelas. Namun, akhirnya akupun menemukan titik kejenuhan. Aku bosan bergelut setiap hari dengan buku. Kupikir ada sesuatu yang kurang dalam hidupku. Beban seolah menumpuk dalam benakku. Tapi aku bingung, "Apa yang sebenarnya menjadi beban dalam hidupku?". Kupikir, aku hidup biasa-biasa. Hanya saja, aku sekarang hidup bukan dengan keluargaku lagi. 

Sejak awal masuk sekolah yang baru, aku dimasukkan ke sebuah pesantren di daerah tempat tinggalku. Memang tidak terlalu jauh, namun bagiku itu jauh. Tahu nggak? Buku yang selama ini aku geluti, itu bukan buku-buku biasa saja. Tetapi kitab-kitab pun selalu ku geluti dengan seksama waktu itu. Hingga akhirnya aku merasa jenuh dan merasa seperti ada beban dalam hidupku. 

Setiap aku pulang ke rumah, orang tua serta adik dan kakakku selalu tidak ada di rumah. Aku merasa sepi, kupikir tidak ada lagi orang yang menyayangiku. Sifatku yang dulu mulai berubah. Aku mulai menjadi sesosok putri pendiam yang hidup disebuah keluarga yang lumayan hangat. Meski hangat, tapi terkadang aku merasa kurang kasih sayang dari mereka. Mereka hanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Dan hirau dengan keadaanku yang sekarang. 
Hari demi hari kulalui dengan penuh kehampaan. Aku serasa hidup sendiri tanpa keluarga. Namun, untunglah aku juga hidup dilingkungan orang-orang yang sangat luar biasa.
Ibu pesantren selalu saja membuatku termotivasi untuk melakukan hal yang lebih baik dari sebelumnya. Beliau juga berhasil membuatku percaya akan adanya mimpi. Mimpi yang tinggi bagi jiwa yang tinggi. 

Tak terasa, Ujian Nasional tingkat SMP semakin dekat. Belum banyak hal yang kupersiapkan untuk menghadapi ujian tersebut. Sungguh aneh, setiap menghadapi ujian aku selalu mengalami kesetresan yang luar biasa. Aku takut tidak lulus, aku takut nilaiku jelek, aku takut tidak masuk SMA yang aku inginkan. hmm... stres benar-benar stres lah. 

Aku stres mulai dari persiapan menghadapi UN sampai dengan kelulusan. Aku memang lulus, tapi yang jadi anehnya. Aku tidak lulus masuk ke sekolah yang aku inginkan, tapi orang-orang yang berada dibawahku lulus masuk kesana. Wah, benar-benar stres lagi. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan waktu itu. Aku benar-benar lupa dengan "menulis". Padahal dari dulu aku selalu merasa nyaman ketika aku beres menuliskan semua kejadian dalam bukuku. 

Sungguh benar-benar terpuruk hari ini, aku masuk ke sekolah yang mungkin tidak aku inginkan. Tapi aku berusaha untuk bersahabat dengan dunia baruku sekarang. Selama setahun aku sekolah disana, aku hanya mengenal teman-temanku yang dikelas saja, tidak dengan kelas lain. Karena, selama setahun itu, aku hanya diam di kelas dan sesekali pergi keluar untuk ke kantin saja. 

Namun, perubahan yang besar aku rasakan ketika ada seorang teman yang mencalonkan aku menjadi ketua OSIS sebagai perwakilan dari Ikatan Pelajar Masjid Nur At-ta'lim. Aku dipaksa oleh temanku, entah apa yang menjadikannya alasan untuk menjadikanku sebagai kandidat ketua OSIS. Hmm... Tapi rasanya keberanianku mulai tumbuh, akhirnya akupun menyetujuinya. Jengjreng,... Alhamdulillah, ternyata berkat aku masuk OSIS, sifatku berubah sedikit demi sedikit. Aku berani mengemukakan pendapat dikelas dan juga di organisasi. Aku aktif mengikuti kegiatan di sekolah dan di luar sekolah, sampai-sampai aku merasa puas karena aku sekarang sudah mempunyai banyak teman. Baik di dalam sekolah maupun di luar. Dan yang paling mengasikkan, aku juga punya banyak link di luar, guru-guru mulai mengenalku dan bahkan mereka menjadi akrab denganku.

Bahagia sekali aku. Namun, hidup memang tidak selamanya diatas. Karena kehidupan ini bak roda yang berputar, terkadang kita diatas dan terkadang kita juga dibawah. 
Dan mungkin sekaranglah saatnya aku harus berada di bawah. Tepat setelah pembagian rapor, aku tak henti-hentinya menangis. Nilaiku tak seperti biasanya. Peringkatku juga mungkin sangat mengejutkan. Aku turun drastis. Semua ini karena aku tenggelam dalam buaian virus yang sangat keji.  Virus kecil itu cukup membuat sekujur tubuhku melemah. Hingga akhirnya aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya bisa menerima nasib. 

Saat itu, aku merenung sendiri di kelas. Kebetulan tidak ada seorang pun yang sudah datang pada waktu itu. Aku berfikir sendiri. Aku tidak boleh menyerah hanya gara-gara virus yang menyebalkan ini. Aku memang tidak boleh membencinya, tapi ia cukup mengganggu kehidupanku waktu itu. Padahal waktu itu, adalah waktu yang paling menyenangkan bagiku. Namun ia berusaha menggerogoti tubuhku, hingga aku melemah tak berdaya.
Kulihat jendela yang berhiaskan lukisan hasil karyaku yang berhasil menarik hati guruku. Kupandangi ia begitu lekat. Tiba-tiba aku teringat akan masa kecilku. Aku teringat dengan buku biru yang dulu menemaniku setiap hari. 
"Astaga, serasa ada yang menyentuhku hari itu. Tapi apa ya?" Setiap hari aku merasa bahagia meski dalam keadaan duka, tapi apa yang membuatku terus bahagia. 

Aku bingung, akhirnya kuputuskan untuk pulang saja. Aku pergi ke bagian fiket, dan meminta izin untuk pulang dengan alasan sakit (karena memang kepalaku begitu berat waktu itu). Aku pulang ke rumah dan mencari buku itu. Aku bongkar semua yang ada di kamarku, namun sayang. Aku tak berhasil menemukannya di kamar. Saking penasaran, aku ubek-ubek semua isi rumah. Dan ternyata aku menemukannya diatas lemari dekat tumpukan kitab-kitab kesayanganku. 

Hatiku lega, seakan tak ada lagi beban yang menimpaku. Tak ada lagi rasa virus yang selalu menggerogoti tubuhku setiap hari. Tanpa basa-basi, kubuka halaman demi halaman dari buku mungil itu. Terkadang aku tersenyum sendiri membacanya, aku malu dengan diriku waktu itu. 
Ada bagian yang sangat memalukan pada tulisan itu. Tapi meski memalukan, aku dibuat ngakak sendirian dengan tulisan itu. Untung saja tidak ada keluargaku. Kalaulah ada, mungkin aku sudah dibilang gila oleh mereka. 

Selesai membaca, aku terbaring di tempat tidurku. Tiba-tiba tubuhku kembali merasa lemah, mungkin virus itu kembali menyerangku. Sempat aku menyerah pada Tuhan, namun tiba-tiba kepalaku serasa ditusuk oleh benda yang tajam. Sakit tiada terkira. Aku merintih kesakitan sendiri di rumah, tak ada orang yang mendengarkanku waktu itu. Tiba-tiba, dunia serasa gelap. Tubuhku melemah tak berdaya. Namun, sesosok perempuan berambut panjang tiba-tiba datang menghampiriku. Wajahnya tertutup oleh rambut panjangnya. Begitu ia sampai di depan mata, ia langsung menjatuhkan tangannya dengan kuat tepat dipipiku. Ia menangis merintih padaku, namun ia tak bicara satu katapun. Saat ku angkat wajahnya, sontak aku sangat kaget.
Wajah itu, wajah itu????
Wajah itu adalah wajahku?
Hah, tak mungkin aku melihat sosok diriku sendiri menamparku dengan begitu keras. Aku bingung, amat teramat bingung.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Apakah sebenarnya hati kecilku marah karena aku terlalu banyak mengeluh pada Tuhan?

Jret, serasa ada listrik yang menyetrumku. Aku terbangun dengan wajah ketakutan. 
Aku duduk sejenak dan mulai berfikir. Aku berfikir mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku. 

Keesokan harinya, aku kembali ke pesantren. Melakukan hal-hal yang biasanya aku lakukan. 
Sejak tamparan diriku, aku tak pernah lagi menyerah dan mengeluh pada Tuhan. Dan sejak aku menemukan beberapa coretan tulisanku pada masa lalu. Akhinya aku kembali menulis untuk sekedar menghilangkan rasa stresku. Setiap hari aku menulis cerita kehidupanku, cerita fiksi atau bahkan curahan hatikupun aku tuliskan dalam buku kecilku.
Aku merasa lega setelah aku menceritakan semuanya pada buku kecil, teman sehari-hariku. Ternyata memang benar, menulis itu merupakan obat bagi diriku. 

Hari demi hari aku lalui dengan begitu cepat, tak terasa sekarang aku sudah berada di Perguruan Tinggi Negeri yang sedari dulu aku inginkan. Sekarang aku tidak hanya bergelut di dunia kemahasiswaan, akan tetapi aku bergelut di organisasi, jurnalis dan lainnya. Kemarin, baru saja tulisan pertamaku terbit di bukukan. Dan insya alloh bulan ini tulisan ku yang ke dua terbit lagi. 
Selain itu, ada juga tulisan-tulisanku yang terbit di berita-media online.
Target selanjutnya, novel di tahun 2013. Tralalalala... So, menulislah. Karena dengan menulis, semua masalah akan hilang!!! :)


Senyum Terakhirku

Pupus sudah harapanku
Kini takkan ada lagi lembar cerita tentangnya
Takkan ada senyum lembut yang menemaninya
Takkan ada jemari asa yang mengadu tentangnya

Hidup memanglah pilihan
Tapi aku tak bisa memilih
Aku hanyalah dipilih
Bukan memilih!

Hati yang bergetar mulai redupkan sinarnya
Kembara cita mulai ledakkan dentumnya
Bersama asa, 
ia kepakkan sayap layunya

Sayang,
Kupandang bumi dari atas sini
Sedetik, aku terbang dengan begitu sempurna
Namun

Sayapku melemah ketika ku tahu senyummu untuknya
Hingga kujatuhkan diriku
Dengan balutan air senja dimata
Aku rapuh

Daku tak berdaya dengan sayap-sayapku ini
Daku hanyalah sehelai kain yang jatuh melayang dari langit
Senyumku ini
Mungkin senyum yang terakhir

Takkan ku berikan senyum ini pada siapapun
Takkan ku berikan senyum ini pada siapapun
Takkan ku berikan senyum ini pada siapapun
Senyum ini, hanya untukmu yang memilih



Kata Sifat

Hallo teman-teman...
Hmm, bingung nih mau nulis apa. Gimana? bisa nggak bikin kalimat yang kemarin? Tapi yakinlah, gampang kan?hee
Kalo ada yang masih tidak mengerti monggo ditanyakan saja.... :)

Ok, mending lansung aja ya... Kita lanjut ke materi yang selanjutnya yaitu tentang kata sifat.

Sekarang kita akan belajar kosa katanya terlebih dahulu ok?


おぼえって ください!


  1. きれい = Cantik
  2. ハンサム = Tampan
  3. せがたかい = Tinggi
  4. せがひくい = Pendek
  5. ふとっています = Gemuk
  6. やせっています = Kurus
  7. わるい = Jelek
  8. かみがながい = Rambut panjang
  9. かみがみじかい = Rambut Pendek
  10. めがおおき = Mata blotot (belo)
  11. めがほそい = Sipit
  12. へんな = Aneh
  13. きびしい = Galak
  14. やさしい  Baik
  15. しんせつ(な)= Ramah
  16. かわい = Lucu
  17. まじめ(な)= Serius
  18. おもしろい = Menarik
  19. つまらない = Membosankan
  20. じょずな = Kuat
  21. ばか(な) = Bodoh
  22. しょじき(な)= Jujur
  23. あたまがいい = Pintar

Nah, coba segini dulu.
Sekarang ayo kita masukan ke dalam pola kalimat. Ini beberapa contoh kalimatnya ya, nanti silahkan teman-teman bikin contoh kalimat sendiri.
  1. あに は ふとっています
  2. わたし は せがたかい です。
  3. おとうさん は あたまがいい です。
  4. はは は おもしろい です。
  5. ちち は じょずな です。