It's Me!

click to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own text

Celoteh di Pagi Hari


Seharusnya pagi ini merampungkan tugasku terlebih dahulu. Tapi entah kenapa jemari ini terlalu gatal untuk menuliskan sesuatu. Padahal aku belum tahu apa yang harus aku tuliskan.
Sekedar menyapa pagi mungkin dan mencari cerita burung.


Biasanya setiap pagi aku selalu duduk di depan jendela. Menerawang indahnya pagi yang disambut cerah mentari. Tak jarang aku mendengar celotehan beberapa siswa SMP yang sering bergerombol disekitar tempat tinggalku. Terkadang mereka bercerita riang gembira, namun kali ini ceritanya sedih (baginya). 
Seseorang diballik jendela itu sepertinya sangat murung. Ia bercerita kepada teman-temannya bahwa baru saja 3 celengannya lenyap diambil sang maling yang tak punya malu itu. Saat itu si anak kecil ini, katakanlah Arif. Ia sedang pergi berbelanja dengan sang ibu tercinta ke Jatos alias Jatinangor Town Square. Mereka asik berbelanja disana. Sedang rumahnya sedang diburu oleh sang maling.

Saat berbelanja, tiba-tiba si Arif merasakan sesuatu yang aneh. Rasanya ia mencium ada yang tidak beres di rumahnya. Akhirnya ia meminta untuk pulang kepada orang tuanya. Tapi si ibu tidak mendengarkannya. Ia terus asyik berbelanja. 
"Bu, bu. Ayo pulang! Hati Arif nggak enak, rasanya seperti ada yang tidak beres di rumah" Katanya sambil menarik-narik ibunya untuk pulang.
Si ibu masih tetap tidak menghiraukannya. Akhirnya Arif agak memaksa.
Luluhlah hati si ibu. Mereka mengakhiri belanjanya. Dan kembali pulang ke rumah tercinta. 

Saat tiba di rumah, ternyata dugaan Arif benar. Ia langsung pergi kekamar dan mendapati ketiga celengan tercitanya sudah raib. 
Seketika dia langsung berubah lemas.
"Haaaaaaaaaaahhhh.... Tuh kan bener mah. Celengan Arif semuanya hilang!" Teriaknya.
Si ibu masih tidak menyadari bahwa rumahnya telah dimasuki maling.
"Cari yang bener, kamu lupa nyimpennya kali" Kata ibunya tenang-tenang saja.
Arif berusaha untuk meyakinkan sang ibu tercinta. 
Saat ibunya mencari perhiasannya, ternyata benar. Tak ada satupun perhiasan serta uang yang ia simpen di dalam peti lemarinya.
"Astagfirullohal'adhim, Masya Alloh, Innalillahi......" Ibu Arif berteriak dari kamar.
Segera Arif berlari ke kamar sang ibu. 
"Tuh kan apa kata Arif juga, mamah sih tidak percaya!" 

Setelah memastikan apakah masih ada yang tersisa atau tidak, mereka duduk lesu di ruang tamu. Baru saja mereka menyadari bahwa sesungguhnya maling telah merebut semua harta yang mereka miliki.
Arif menangis, karena 3 celengan itu sudah ia jaga baik-baik dan tidak ia buka-buka untuk lebaran nanti.
Dan kakeknya lah yang menenangkan mereka.
"Sudahlah, jika miliknya. Nanti juga akan balik lagi" Kata sang kakek. Tapi Arif tetap menyesali semuanya.

Mendengar celotehan mereka, aku jadi teringat akan peristiwa penjambretan teman kelasku. 
Hmmm Dunia ini memang kejam.... 
Kali ini aku merindui celoteh-celoteh pagi mereka. 
Sayang, sekarang aku sudah libur. Jadi kuputuskan untuk tinggal di rumah saja.
"Huaaaaa Kangen. Kangen celoteh kalian, kangen canda kalian, kangen ribut kalian juga"
:)

0 komentar:

Poskan Komentar