It's Me!

click to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own text

Dalih Kehabisan Uang

Modus! ibu-ibu bawa bayi, ibu-ibu atau bapak-bapak setengah baya memapang wajah memelasnya  karena kehabisan uang! :/

Hmm... Bukan nggak percaya atau gimana ya, tapi aneh aja. Sudah hampir dua tahun setengah kuliah, ada banyak sekali orang-orang yang seperti itu. Pertama, kejadiaannya di UIN. Waktu itu aku sedang ada rapat FLPJ di masjid UIN Bandung. Masih ingat, sehabis shalat Ashar, kami duduk di depan masjid. Tiba-tiba ada bapak yang belum terlalu tua -Kalau aku tebak, mungkin ia berumur 40an-, menghampiri kami. Dengan wajah memelasnya ia memulai cerita "Punteun neng, a. Saya dari Tasik, habis nyari kerja di Bandung. Nih surat lamarannya", sambil mengeluarkan kertas dan menunjukkannya pada kami. 
"Saya udah dua hari disini, tapi belum dapet kerjaan juga. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang deh. Tapi, uangnya ternyata kurang. Hmm.. Bisa bantu nggak neng, a" Katanya sambil merengek. 
"Berapapun deh. Yang penting saya bisa pulang" 
Jleb, dari awal, aku emang udah curiga dengan gerak-geriknya. 
Aku dan temanku saling pandang, beberapa detik berlalu. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Akhirnya akupun memberanikan diri. 
"Punteun pak, nggak bawa uang lebih" Kataku sembari tersenyum.
Ya, disamping emang nggak bawa uang lebih, aku emang kurang percaya juga sama bapak tersebut. Pasalnya, dihari-hari sebelum masuk kuliah temanku juga pernah seperti itu. Jyaaaaaaa... Okelah. 

Kedua, kejadiaannya semester 3. Aku sedang berjalan dari kos menuju kampus. Biasanya, aku langsung menyebrang dari depan gang kosan. Tapi, waktu itu aku sengaja jalan dulu menuju depan kecamatan, barulah menyebrang. Demou, karena padetnya kendaraan, aku berdiri lama di pinggir jalan. Menunggu waktu yang tepat untuk menyebrang. Tiba-tiba, dari pinggir ada seorang ibu yang menyapaku. Akupun menjawabnya dengan begitu ramah. Ibu itu membawa anaknya dengan pakaian yang lusuh. Ia meminta bantuanku. Katanya ia kehabisan ongkos. Ia berasal dari Sumedang. 
Oalaaaaahhh... Kenapa lagi ini? Tapi, kalau dilihat, kasian juga. Dia bawa-bawa anak segala. Tapi, kalau dipikir, bener apa nggak nih orang. Pikirku. 
Ia terus bicara dengan berbagai argumen (eh salah), dengan berbagai cerita yang meyakinkan bahwa dia kehabisan buat ongkos. Yang membuat aku agak bimbang, antara percaya dan tidak, adalah dia pergi kesini untuk mencari anaknya yang hilang. 
Hadududuh, galau uy. 
Tapi kebetulan, waktu itu aku nggak pegang uang. Dompet aku ketinggalan di kosan.
hmmmm................

Ketiga, sehabis pulang dari kampus -semester 4-, ada dua orang ibu-ibu yang juga minta bantuan dengan alasan kehabisan ongkos. 

keempat, kejadian ini baru aja kemarin. Habis pulang kuliah, aku nyimpang dulu ke tempat jus. Eh eh eh, datanglah ibu-ibu, -kocaknya- dia bilang dia dari (aduh lupa namanya), pokoknya salah satu daerah yang deketlah dari sana. Terus dia bilang "Mau jalan, tapi cape". 
Ya Alloh, sekali lagi, bukannya aku nggak percaya atau gimana ya... Tapi atuh da deket itu teh. 

AAaaaaarrrrrghhhh!!
Akhirnya aku malah jadi kesel ke diri sendiri. Kenapa banyak orang yang seperti itu? Apakah tidak ada kerjaan yang lebih bermanfaat dibandingkan hal tersebut? Apakah tidak ada kerjaan yang lebih mulia dari hal tersebut? Ataukah mereka tidak ingin pusing dan tidak ingin cape untuk mencari uang?
Hmm... 
Beberapa pertanyaan ini selalu terngiang sejak menyaksikan semakin banyaknya pengemis yang beroperasi dijalanan. Seakan hal tersebut sudah menjadi satu mata pencahariannya. 

Tatatatataaaaaaaaaaraaaaaaa,,,, 
Mungkin hal inilah yang menjadikanku lebih berpikir gimana caranya untuk membangun masyarakat yang bermental kuat dan selalu optimis menghadapi masa depan dengan caranya sendiri, dan tentunya cara itu merupakan cara yang baik dimata Alloh juga dimata masyarakat itu sendiri. Bukan dengan cara minta-minta, tapi dengan kerja keras. 
Ah, kenapa lah ini? 
Rasanya semakin bertambah usia, semakin hidupku penuh rasa sakit melihat fenomena yang terjadi hari ini. 

tatatatataaaaa
Oke, just thinking about it. And make it change!

Sukses itu Ditanganmu, Bukan Ditangan Orang Lain

Jyah, lagi-lagi galau tingkat dewa... hahaha
Setelah kemarin hampir putus asa saat mengerjakan PKM bidang masyarakat, barusan aku dipusingkan lagi dengan pemaksaan pikiran yang mengharuskan kita berpikir kesana. #apaCenah?
Haha..

Ya, beberapa menit sebelum perkuliahan ditutup, tiba-tiba teman yang duduk disampingku bercerita tentang keluh kesahnya selama kuliah. Ia bilang, mau segimanapun ia tetap tidak bisa terfokus pada satu tujuan. Akan tetapi, fokus pada banyak hal pun ia tidak bisa. Ia berkata, "ya aku sadar, aku orangnya pemalas, tapi aku tidak ingin terus menerus seperti ini. Aku selalu dibanding-bandingkan oleh keluargaku dengan orang lain. Katanya, tuh si A mah udah jadi PNSlah atau apalah. Yang jelas, aku juga dipaksa oleh kakakku untuk langsung mendapatkan pekerjaan yang nyata setelah aku lulus nanti. Lantas, harus bagaimana aku?"

Hmm... Kalau menurut prinsip pribadi, aku sih orangnya EGP. Mungkin itu juga karena aku kuliah disini, dan secara tidak langsung belajar untuk EGP dengan pandangan orang. Ya, sudahlah. Biarkan saja. Sebenarnya, prinsipku sekolah bukanlah untuk cari kerja. Aku hanya ingin belajar gimana caranya supaya aku bisa mengembangkan kehidupan masyarakat banyak dengan menerapkan ilmu yang kudapat dari sekolah. Nggak peduli, orang mau bicara apa tentangku. Yang penting, aku melakukan hal ini karena aku tahu apa yang kulakukan dimasa depan.

Pada dasarnya, pemikiran orang Indonesia (sebagian besar) sekolah untuk mendapatkan pekerjaan. Ya, hal itu memang kuakui. Karena memang pada dasarnya manusia butuh uang. Tidak ada orang yang mampu hidup di dunia sekaran ini, jika tanpa uang. Akan tetapi, uang itu tidak hanya bisa didapatkan dari cara kita bekerja di perusahaan orang lain, tapi dengan kita berwirausahapun kita dapat menghasilkan uang. Malah dengan berwirausaha, uang yang kita dapat juga akan lebih banyak. Disamping itu, kita juga secara tidak langsung telah menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain. "Tapi kan sulit untuk menciptakan lapangan pekerjaan dengan tanpa modal? Justru aku itu kerja untuk mendapatkan modal". Ya, setiap bisnis memang memerlukan modal. Hanya saja, aku selalu berfikir mudah. Apa gunanya kita kuliah kalau kita tidak bisa menjual diri. Maksudnya, menjual diri bukan dalam artian negatif, akan tetapi menjual diri guna untuk menjalin relasi yang baik dengan orang lain, membuat orang lain percaya dengan kita. Hingga akhirnya nanti kita bisa menjalin hubungan kerja sama dengan orang tersebut, atau mungkin kita bisa mengajaknya untuk menjadi investor di perusahaan yang akan kita bangun.

"Tapi susah! Terus tetep aja orang lain bakal nganggap kita pengangguran"
Hmm.. Dalam hati aku tertawa. Menurutku, dengan menciptakan lapangan pekerjaan justru orang malah menjadi bangga pada kita. Menciptakan lapangan pekerjaan bukan berarti kita nganggur kan?
"Tapi tetep aja, orang bakal nganggap kita rendah.. Bahkan mungkin ia akan bilang, percuma kita kuliah di HI kalau kita nggak dapet pekerjaan?"
Zzzz... Haduuuuh, helllooooo... #Gereget.
Biarlah orang mau berbicara apapun tentang kita, yang pasti kita melakukan sesuatu untuk mereka. Apalagi, -aku mikirnya- aku itu kuliah dibayarin oleh negara. Masalahnya, masa kita tidak berbuat sesuatu untuk negara. Kita kuliah dari uang rakyat, masa kita nggak berbuat sesuatu untuk rakyat. Hmm... Cukuplah pemerintah yang telah membuat masyarakatnya apatis terhadap mereka. Tapi kita harus tetap berjalan. Kita tidak boleh membiarkan kehidupan dunia ini berjalan apa adanya. Tapi kita harus berbuat sesuatu yang lebih dahsyat. Sesuatu yang -kalau bisa- mencengangkan dunia.

Jujur, berpikir dengan pengejaran dunia, aku sangat pusing sekali. Malahan pernah aku berpikir, bahwa aku akan terus apatis terhadap dunia. But, setelah dipikir lebih mendalam, masa iya sih kita terus berjalan di sebuah jalan yang rusak terus menerus. Kapan perbaikannya? Kapan kemajuannya? Kapan kebahagiannya menyentuh kita? Hmm.. Namun, kembali lagi pada diri sendiri sih sebenarnya. Aku bicara seperti ini bukan berarti aku ingin menjadikan kamu sepemahaman juga sama aku. Tapi aku hanya ingin mengatakan apa yang sebenarnya ingin kukatakan saja. Tak lebih.

"Baiklah, oke. Jadi, hal pertama yang ingin kamu lakukan setelah kamu lulus apa?"
Apa ya? Pertama, aku ingin menyukseskan pembangunan di daerahku terlebih dahulu. Pembangunan menuju moral, pengetahuan dan ekonomi yang lebih baik sekarang sedang aku jalankan. Mulai dari pendekatan pada masyarakat dan pemudanya. Kegiatan tersebut sudah berjalan hampir setengah tahun. Jadi, aku ingin menjadikan daerahku menjadi daerah percontohan di bidang kesejahteraan sosial. Nyambung sama HI? Nggak sih. Tapi aku mencoba menerapkan salah satu ilmu yang kudapat dari mata kuliah Pembangunan Internasional. #caileeee... hahaha
Oke, kedua, aku ingin melanjutkan kuliahku di bidang design.
"Lah? kok nggak nyambung? Kamu kan suka nulis dan kamu dari jurusan HI, masa tiba-tiba ke jurusan design?"
Hahahaha...
Dibilang nyambung? memang nggak sih ya. Tapi, kembali pada pemikiranku sebelumnya, aku kuliah bukan untuk mencari pekerjaan, tapi untuk mencari ilmu yang bisa diterapkan di masyarakat.
Menulis itu memang passion-ku, tapi design juga adalah hobiku.
Kelak aku ingin membuka butik  dengan memaksimalkan potensi daerah dan Sumber Daya Manusia disana juga.
Satu hal yang kusyukuri disini adalah akhirnya aku sadar kenapa Tuhan menjerumuskanku untuk masuk ke jurusan HI sekarang ini. Banyak sekali pemahaman tentang dunia global yang kudapat. Dan aku berpikir bahwa aku tidak harus menjadi diplomat, hanya gara-gara aku kuliah di HI. Tapi aku lebih berpikir gimana caranya supaya negeri kita mampu bersaing dengan dunia global. Dan hal itu akan kupraktekan mulai dari wilayahku sendiri.
Ketiga, apa yaaaaa? Nikah! hahaha
Jadi, selai mengabdi pada orang tua, mengabdi pada negara dan masyarakatnya, juga mengabdi pada suami -yang paling utama-. hehe

Mendengar semua celotehku yang -mungkin kurang bermanfaat-, ia pun tersenyum. Kemudian ia berkata "Ya, sebenarnya masalah yang paling dasar adalah aku belum tahu apa yang akan kulakukan kelak ditengah tekanan dari berbagai pihak"
Haaaa... Ya sudah, perjalanan masih panjang. Masih ada waktu 3 semester lagi untuk berpikir. Tapi kalau bisa dipercepat sih, biar kita tahu apa yang harus kita lakukan untuk mencapai tujuan kita tersebut.

-SELESAI-
Jatinangor, 24 Oktober 2013

Semester 5 : Masih Mau Kerja Di Menlu?

Waktu terus berganti, tak terasa kini kakiku sedang berjalan di angka 5. Itu berarti bahwa pijakanku tinggal seperempatnya lagi untuk menggolkan bola kesuksesanku!
Namun, awal masuk semester tersebut, aku ditanya oleh salah satu teman dekatku "Masih mau kerja di menlu?" 
"Hah??? Apa?" Aku sampai harus mendengar ulang kalimat tanya tersebut. Kemudian, dengan wajah polosnya ia menjawab "Masih mau kerja di menlu?". Keningku mengerut mendengar perkataan tersebut. Dalam hati aku bergumam, kenapa harus bertanya seperti itu? Emang ada apa dengan Menlu sampai segitunya?. Matanya menatap tajam padaku. Seraya menunggu jawaban yang pasti. 
"Hmm.. Ya. Kenapa?" Jawabku. 
Wajahnya semakin tak karuan. 
"Bagian apa?" Tanyanya kemudian. 
Dengan PD aku jawab, "Bagian Komunikasi dan Informasi, paling. Sekaligus berkarir menjadi seorang penulis. haha" 
"Hmm.. Kalo aku sih mikirnya agak rumit. Terkadang aku pengen sekali kerja disana. Tapi kupikir, aku tidak akan mampu kalo untuk jadi menteri luar negerinya. Jadi kupikir, aku masuk di konsulatnya aja deh. Tapi, disisi lain, aku juga pengen punya rumah disuatu tempat yang indah, hijau, sejuk, kemudian mendirikan peternakan sapi. Hmm... Rasanya nyaman bisa tinggal disana"
Mendengar jawaban tersebut, aku tertawa. Bukan dalam arti aku tertawa dengan apa yang dicita-citakannya. Tapi aku tertawa karena wajahnya yang terlalu eksotis ketika ia membayangkan semua itu. 
"Lantas, yang menjadi prioritas kamu itu sebenarnya yang mana?" Kataku. 
Ia menjawab, "Ya, di menlu lah. Percuma aku kuliah di HI tapi nggak kerja disana" 

Tadaaaaammmmm.... Dari percakapan tersebut, sebenarnya aku agak bingung dengan perkataan temanku itu. Disatu sisi, memang sih ya, terkadang ada pandangan yang berpikir seperti ini "Kalau gue kuliah di HI, otomatis gue harus kerja di Kemenlu!" Hmm.. Tapi nggak gitu juga kali ya.. Pekerjaan itu masih banyak. Prospek HI bukan hanya untuk menjadi menteri luar negeri saja. Banyak sekali para penstudi HI di Indonesia yang juga ingin berkecimpung di dunia kerja yang sesuai dengan jurusannya semasa kuliah.
But, nggak gitu juga. Prospek HI tuh banyak. Nggak hanya menlu. Ntar kalo kita terfokus pada satu tujuan, lantas kita belum diberi kesempatan untuk terjun disana, maka kita down?
Hellooo... 
Dunia ini luas, kita harusnya memiliki banyak tallent.
Malah, aku berpikir bahwa aku kuliah di HI memang karena tercemplung. Tapi setelah dikaji lagi, ternyata Tuhan tak salah memasukanku ke HI karena cita-citaku dulu sampai sekarang adalah menjadi novelis internasional. Setidaknya, dengan masuk HI, aku tahu dunia luar secara umum. Dan aku tahu bagaimana cara berhubungan dengan dunia luar. Kemudian, setidaknya kemampuan bahasa inggriskupun menjadi bertambah sedikit demi sedikit. Haha... 
Ah, banyak deh ternyata manfaatnya. 
Tapi tetap, passion-ku menulis. Jadi aku hanya ingin menjadi penulis internasional, membuka lapangan usaha, menjadi motivator dan inspirator bagi orang-orang yang ada disekitarku, serta menjadi istri dan ibu yang baik :) Yang selalu menjadi motivator dan inspirator bagi suami dan anak-anak.
hihi..Bagiku, segitu cukuplah ya... Kalopun bisa masuk Menlu, yaaa aku hanya tertarik di bidang komunikasi dan informasinya. :)

Aku begini, karena aku ingin mencari sesuatu dan menlenyapkan sesuatu.
Bolehlah kau membenciku, tapi kau tak boleh membenci pemikiranku. 

Inilah Jalanku!


Oktober Cerita... 
Kalau yang lain biasanya majang nama bulang dengan pasangan ceria kalau aku maunya cerita. Karena pasti di bulan Oktober ini penuh dengan cerita. :)
Ya, sejak bulan Agustus lalu. Hidupku menjadi penuh warna. (Lebay).. Haha.. Sebenarnya dari dulu juga penuh warna sih. Hanya saja, aku baru warna ini adalah warna yang paling spesial sepanjang perjalanan hidupku. 

Kenapa spesial? Karena warna inilah yang membuatku merasa diujung jalan yang penuh dengan cabang. Entah harus memilih yang mana. Awalnya, bingung sih ya. Tapi seiring berjalannya waktu, aku berusaha untuk memantapkan hati pada satu jalan. Entah itu jalannya akan lurus ataukah berkelok, aku tak tahu. Karena aku baru saja memutuskannya kemarin. 
Namun, meski demikian. Rasanya jalan yang tak pernah kutempuh itu kembali menggoyahkan hati. Berusaha meruntuhkan semua yang telah menjadi pilihan hidupku. Kemarin saja, jalan tersebut kembali membayangi mimpiku. Ia tersenyum tulus. Selaksa mengobati rindu yang tak pernah kuraih satu kalipun. 
Jalan tersebut membentang luas dihadapanku. Kelihatannya sih lurus, mulus, tak ada satu batu rintangan sekalipun. Ia mendekat dan mengajakku untuk berjalan diatasnya. Namun, hatiku menolak. Aku telah memutuskan pilihanku pada jalan yang tidak terlihat mulus, namun penuh cahaya. Sakit memang, karena ketika aku menginginkannya. Ia tak pernah menunjukkan jalan mana yang harus kuambil. Namun, setelah kutentukan pilihanku, barulah ia datang. 
But, no problem. Hidup adalah pilihan. Dan pilihan tersebut ada ditangan kita. Hidup kita tergantung pada apa yang kita pikirkan. Menyesal? Tak usahlah disesali. Karena jalan tersebut datang hanya dalam mimpi belaka, yang mungkin orang lain menganggapnya itu sekedar bunga tidur biasa. Sekarang, aku hanya ingin kau dengar. 
Wahai jalan yang jauh disana. Dengarlah rintihku!
Selalu, aku berbicara tentang panjangnya perjalanan hidupku untuk memilihmu.
Menetapkan rasa untuk berjalan diatasmu. 
Memejamkan mata pada jalan lain hanya untuk melihat betapa mulusnya jika kuberjalan diatasmu.

Aku?
Aku yang disini? 
Rupanya agak letih, melihat kemulusan tersebut. 
Aku takut!
Takut mulusmu hanya diatas, tak didalam

Wahai jalan yang jauh disana, dengarlah rintihku!
Pergilah menjauh dari pikirku. 
Jangan pernah kau goda aku untuk berjalan di atasmu.
Bawalah bunga yang lebih pantas menjadi penghias jalanmu. 
Aku hanya manusia. 
Aku hanya manusia yang tak bisa mengelokkan rupamu. 
Hanya bunga dan pohon indah lainnya
yang kan mampu menjadi peneduh setiap orang yang berjalan diatasmu. 

Wahai jalan yang jauh disana, dengarlah rintihku!
Aku lelah!
Aku lelah dengan imajinasiku.
Aku lelah dengan melihat semua kemulusanmu.
Maka dari itu, pergilah!
kumohon 

Karena hari ini, aku telah memilih jalanku sendiri!
SENDIRI
Tanpa ada yang memilihkan
SENDIRI
Tanpa ada yang menghasutkan.

SENDIRI, sendiriiii....