It's Me!

click to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own text

AAAAAAAAArrrrghhhh

Jalalilalila, jalalilalilala....
Ahahaha...
Stres dan stresss... Masa coba, dari tiga UAS bersama bapak kesayanganku yang lulus cuma satu! ahahaha...
Padahal pertanyaan yang ini aku juga bisa jawab. Tapi dasar si dasaaaarrr... Lidah inimalah bilang civil padahal human. Apa hubungannya coba civil dengan human? Jauhhh!!! uheuheuheuheuh (nangis). Gila dasar! Nervouse itu membuat semuanya  lenyap. Tapi baiklah, mungkin ini adalah rangkaian cerita hidupku selama kuliah di HI. Dan sungguh, ini adalah yang paling memalukan bagiku. Masa iya sih nay nggak bisa jawab. Cuma bilang United Nations of Human Right and Environment apa susahnya coba??? Nay, nay,,,, Ada-ada aja ulahmu itu. 

Well, hapus semuanya. Jadikan semua itu hiasan hidup saja. Kan kalo nggak gitu, nggak seru. Nggak ada yang bisa diceritain buat nanti. Sekarang waktunya menentukan kembali target-target baru untuk semester 4. Hmm... Tak terasa memang, sudah mau semester 4 lagi. haduuuhhh makin tua deh rasanya. ahahaha

Pesona Bintang di Langit Suram


Sepotong rencana mulia mahasiswa Padjadjaran

Sungguh riang pagi ini. Matahari menyapa dengan penuh semangat. Hamparan sawah yang tersusun rapi dan hijau memberikan kesejukan yang nyata. Gunung kebiruan yang tertutup kabut cinta, bergandeng mesra satu sama lain. Serta nyanyian burung, menambah semaraknya pagi ini.
Kali ini, aku duduk terdiam sendiri di balkon kamar menatap semuanya. Saat kubukakan pintu itu, semuanya memang terasa sejuk. Campuran patamorgana begitu menentramkan hati. Namun sayang, entah kenapa hati ini tak seriang mereka dan tak setentram mereka.
Hati ini begitu panas. Seakan bara api terus menyala didalam. Meski sejenak kupandang semua santapan pagi itu, tapi kesejukannya tak membuat hatiku menyejuk. Hatiku malah berkecamuk. Bercampur antara sedih, gembira, kesal, semangat dan lainnya. Padahal, baru tadi malam aku berbagi cerita tentang mimpi. Tapi sekarang aku malah ingin berteriak sekencang mungkin untuk melepas semua penatku ini.
“Aaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrggggggggggggggggggggggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh” aku tersungkur ke sudut balkon. Tak lama kemudiaan, ada aliran yang begitu hangat membelai wajahku. Kupukuli tembok dengan tanganku yang penuh emosi.
Hhhhhhaaaaaaa,,,,, hks...hks...hks.... Kenapa kamu seperti ini? Bodoh sekali kamu Ray! Kamu harusnya bangkit! Jangan hiraukan perkataan orang! Dia orangnya memang keras, Ray. Sudah, biarkanlah. Toh dia juga tidak berpengaruh buat kamu. Dengan keegoan dia, kamu masih tetap hidup kok, Ray! Emangnya, siapa dia? Hingga berani berbicara seperti itu. Sudah!!!! Jangan jadi anak yang bodoh, kamu! Masa karena hal seperti ini kamu nangis, kamu stres, kamu bingung. Ingat hidup itu nggak bakal rame kalau tidak ada tantangan dan rintangan. Sudah! Cengeng, kamu!
“Tapi, aku nggak terima dengan perkataannya. Aku bukan tipe orang yang ia katakan. Aku RAYZEELA! Aku orang yang selalu kuat dalam menghadapi apapun. Tak pernah aku dipermalukan seperti ini. Apalagi dia cowo. Terus, katanya dia pinter. Tapi kenapa harus selalu bersikap seperti itu ke aku? Sedang ke orang lain tidak? Apa maunya? Hah.. hks...hks...hks...
Dialog batin itu terus beradu. Tak tahan mendengarnya, aku langsung berdiri tegak menantang matahari. Lenganku terkepal penuh benci. Bibirku gemetar, seraya berucap “Ingat Ri, Gue bakal buktiin ke elo kalo gue itu nggak lemah! Gue bukan tipe cewe yang seperti lo bilang. Persetan lo mau lihat gue kaya gimana. Yang jelas gue janji Ri, gue bakalan lebih sukses dari pada lo! Camkan itu!!!!”
Setelah itu, aku masuk dan berbaring di tempat tidur sembari memajamkan mata. Tiba-tiba aku teringat mereka yang pasti sedang sibuk mencari nafkah buat anak-anaknya. Ya, aku tahu. Mungkin aku adalah anak pertamanya yang membuat mereka paling repot dibandingkan dengan kakak dan adikku. Mimpiku yang begitu besar membuat mereka lebih giat untuk bekerja.
Di rumah, aku selalu melihat wajah mereka yang begitu lembut. Keringat yang bercucuran tak pernah menghalanginya sebagai penyejuk hati. Setiap hari, bapak pergi bekerja sekitar jam 06.00 pagi, kemudian pulang jam 12.00 malam. Awalnya aku tak percaya bahwa dia sering pulang tengah malam. Namun, ternyata semua itu benar. Semua itu nyata. Aku menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri.
Esoknya, aku bertanya pada mama. “Ma, naha si bapa uih teh meni wengi-wengi teuing?[1]
“Eta teh melaan anak, Ni. Matak sakola teh sing bener, sing kapetik hasilna![2]
Deg, tiba-tiba perkataan itu menyambar hatiku. Mataku kembali terbuka. Ada rasa sedih yang bergejolak. Sesak di dada. Aku terperanjat dari tempat tidur mungilku.
***
Hmm... Akhirnya, aku bisa menghirup udara segar di kampung halamanku lagi. Aku kembali menatap senyum mereka dengan penuh kebahagiaan. Sesekali, kupandang wajah mereka satu persatu. Dan dialogpun dimulai.
Ray, kamu tidak boleh mengecewakan mereka. Mereka menaruh harapan yang besar padamu.
“Iya” aku tersenyum.
Kemudian, aku mengambil buku kecil yang penuh dengan catatan silamku. Setelah kemarin aku terpuruk di kampus, aku menuliskan plan baru untuk masa depan serta desaku. Dan hari ini adalah hari yang tepat untuk merealisasikannya.
Aku membuka helaian kertas demi kertas dengan penuh semangat dan harapan. Meski aku hanya sendiri, tapi aku yakin “Aku pasti bisa”.
Oke, target pertama adalah remaja. Sebelum kampungku berubah kembali menjadi kampung yang sangar, lebih baik aku turun ke remaja untuk memberikan pencerahan pada mereka. Karena kampungku termasuk kampung yang masih gelap. Target kedua, aku harus turun ke ibu-ibunya. Aku harus menyadarkan mereka akan istimewanya pendidikan. Dan aku juga harus memberikan kesadaran pada mereka bahwa sesungguhnya sekolah itu penting. Sip, itu aja dulu. Pikirku.
Dipagi yang ceria itu, aku mulai mempersiapkan energi bumi untuk menjalani semuanya. Mengumpulkan kekuatan langit dan lembutnya angin untuk menemani. Aku keluar dengan secarik kertas dan satu pulpen mungil. Aku berjalan menyusuri jalan yang ada. Sesekali kuhirup udara segar untuk merefleks-kan tubuhku.
Disepanjang jalan, aku melihat orang-orang yang sibuk dihalaman rumahnya masing-masing. Mereka tersenyum manis melihatku. “Neng, nuju dibumi? Iraha kadieu?[3]” tanya bu Nida, ketua RT disana.
Aku tersenyum padanya, “Ehm, kamari Bu[4]”.
“Nuju libur?[5]
“Muhun, Bu. Kaleresan nuju libur, janteun liburan di bumi[6]
Kami berbincang lumayan lama. Setelah itu, aku kembali meneruskan perjalanan. Baru lima menit aku berjalan, aku menemukan orang yang berjalan sengkoyongan. Matanya merah, tubuhnya lemah tak berdaya, orang-orang disekitar enggan membantunya. Sekalipun sekedar berdiri saja. Mereka takut. Dan teman-temannya hanya menertawakan dia dari kejauhan.
Aku bingung, kenapa dia seperti itu. Kemudian aku tanya pada anak lelaki yang tepat berada di depanku. “Hey, kunaon eta si Amud?[7]
“Dia mabuk teh”
Astagfirulloh, hatiku semakin berkecamuk. Aku semakin ngeri melihat pemuda-pemuda yang ada di desaku. Rasanya ingin kupukul diriku sendiri. Namun aku tak berdaya. Aku hanya berdiri seperti patung, meratapi kekesalanku. Kenapa aku tidak bergerak dari dulu? Kenapa aku tidak menuruti apa yang keluargaku inginkan? Kenapa aku bodoh?!!!
Hatiku menjerit, merintih sakit. Benar-benar sakit.
Ya Alloh, aku tidak bisa membiarkan desaku ini menjadi desa yang bejat. Aku tidak mau pemuda generasi bangsaku bermoral bejat. Ya Alloh, bantulah hambaMu ini.
Tak kuat kumelihatnya, akupun langsung pulang. Dari sana saja, aku bisa menyimpulkan bahwa moral pemuda di kampung ini  mulai digerogoti belatung hitam. Maka dari itu, aku harus bergerak cepat. Ya, cepat sekali.
Keesokan harinya, tepat di depan rumahku ada yang sedang mengadakan pesta pernikahan. Seperti biasa, hiburannya dangdut. Semua masyarakat disana ikut menikmati pesta itu. Semuanya berjalan dengan lancar. Namun, tiba waktu malam. Ibuku datang dengan nafas seperti telah dikejar-kejar sesuatu. Badannya gemetar, bibirnya juga gemetar, ia berbicara dengan nada penuh ketakutan.
“Ni, sms si aa. Suruh dia jangan pulang.  Itu, heuh anak-anak diluar pada bawa samurai panjang-panjang, kayanya bakal ada perang” katanya sambil ngos-ngosan dengan logatnya yang khas.
“Hadahh, apa ma? Masa iya sih?” Aku tersentak mendengar semua itu. Jantungku berdetak semakin kencang, tubuh menjadi panas, ada rasa tegang dan takut dalam dada.
Ya Alloh, masa iya sih aku harus menyaksikan konflik di daerahku sendiri? Aku tidak mau terlibat dalam isu perang nantinya.
Aku memutar pikiran dengan sekeras-kerasnya. Aku semakin tertekan. Aku semakin ditodong tanggung jawab.
Diluar, suasana masih tegang. Tak ada orang yang hilir mudik disana. Semuanya sepi. Yang ada hanyalah segerombolan orang yang membawa samurainya masing-masing. Gelap dan sunyi. Sedang aku hanya menonton semuanya lewat imajinasiku.
Astagfirulloh, kenapa hatiku semakin panas? Aku kesal. Kenapa tak ada orang yang bergerak dibidang kepemudaan? Kenapa tak ada orang yang membimbing? Eits,,,, ingat Ray! Ini semua kesalahanmu juga. Kenapa kamu tidak ikut terjun langsung mendekati mereka. Kamu kan mahasiswa. Kamu seharusnya bisa membimbing kampung kamu sendiri.
Aku terdiam, bingung. Seluruh jiwaku hampa berkabut kesal, marah, dan sebagainya. “Ya, aku sadar. Mungkin ini adalah kesalahanku. Aku sebagai mahasiswa satu-satunya disana tidak membimbing mereka kearah yang benar” pikirku.
Di ruang tamu, orang tuaku masih sibuk dengan pembicaraannya. Nampaknya mereka khawatir dengan kakakku. Biasanya kakakku selalu diajak-ajak dalam hal seperti ini. Tak jarang ia menolak. Ia selalu ikut andil untuk membela kampungnya. Tapi untunglah dia tidak ada, setidaknya kekhawatiran orang tuaku sedikit berkurang.
Beberapa jam kemudian, hari semakin sepi. Tak ada lagi suara yang menghiasi hari. Akupun tertidur mesra bersama bintang.
Esoknya, semua baik-baik saja. Ternyata itu hanyalah isu. Isu yang berasal dari kampung sebelah yang membuat panik semua warga dan pemudanya. Sehingga mereka turun untuk menjaga kampung ini. Dan semua wargapun kembali beraktivitas.
Aku ikut bergabung dengan mereka, mendekati para remajanya, melihat aktivitas mereka dan lain sebagainya. Mereka juga menyambutku dengan ramah, sehingga tak ada lagi rasa canggung yang kurasa. Dan akupun berhasil mendekati mereka. Ya Alloh inilah aksiku untuk negara. Kataku penuh optimis dalam hati.
Sebulan sekali, aku mengadakan kumpulan silaturahmi antar semua warga sekampungku di madrasah[8]. Aku bermaksud untuk mengakrabkan mereka. Karena akhir-akhir ini sering terjadi slek antar mereka.
Untuk pembelajaran khusus ibu-ibunya dilakukan dua minggu sekali pada saat pengajian. Belajar memahami anak, memahami suami, memahami pendidikan, menjadi ibu yang kreatif,cerdas dan inovatif. Itulah yang kami lakukan. Tak jarang aku mendatangkan sosok ibu yang baik untuk memotivasi mereka.
Kemudian untuk remajanya, kumpul tiap hari minggu. Disana kami belajar tentang bagaimana caranya berwirausaha, berfikir kreatif dan lainnya. Ya, meski aku bukan seorang wirausahawan, setidaknya aku bisa terus memotivasi mereka dengan apa yang kupunya. Belajar membuat kerajinan dari klay (terigu campur lem kayu), figura berbahan dus bekas, hiasan dinding dan pemanfaatan barang bekas lainnya.
Setelah berjalan sekitar dua bulan, rasanya ada sedikit perubahan dari mereka. Para ibu selalu memperhatikan pertumbuhan anaknya.Mereka juga sekarang lebih tercerahkan dengan pendidikan, hingga mereka tak pernah lagi melarang anak-anaknya untuk bersekolah. Pemudanya sedikit membaik dari pada sebelumnya. Aku jadi jarang melihat mereka bergulat dengan minuman keras itu. Kemudian pemudinya, semakin rajin untuk berinovasi. Mereka selalu memunculkan ide untuk dikembangkan di wilayahnya. Mereka juga semakin rajin untuk belajar.
Melihat semua itu, senyum optimisku semakin bertambah. “Aku semakin yakin bahwa aku bakal bisa membuat mereka untuk lebih berkembang. Aku yakin, kampungku kelak akan menjadi kampung yang paling sejahtera.” Pikirku.
Setelah semua program yang aku buat itu berjalan dengan lancar. Sekarang aku akan menjadikan kampungku menjadi kampung  bahasa. Meski bahasa yang aku bisa hanya Indonesia, Sunda, Jepang dan Inggris saja. Tapi tidak apalah, bahasa lainnya menyusul.
Setiap hari, kami belajar 5 kosa kata bahasa Inggris dan Jepang. Mereka menyetorkan hafalannya pada saat berkumpul untuk membuat kerajinan. Sembari bercanda tawa, mereka menyetorkannya satu persatu.
Tapi hari begitu cepat berlari. Akupun harus kembali merantau untuk menggapai mimpi. Ya, waktu liburku sudah habis. Tiga bulan sudah aku membangun desaku dari keterpurukan. Susah senang selalu kurasa sendiri. Tapi beruntunglah, ibuku selalu mendukung semua kegiatanku. Meski terkadang kakakku selalu menyepelekannya. Ia selalu menganggap bahwa aku akan menjadi orang yang sombong dan melupakan keluarganya. Padahal tidak. Sampai kapanpun aku tidak akan melupakan keluargaku. Aku berani menentang pemikiran orang tuaku, karena aku ingin mengangkat harkat dan derajat mereka. Aku sayang pada mereka. Aku ingin membuat kalian bahagia. Pikirku.
Tet...te...teeetttt.... Suara laptop-ku bernyanyi riang. Ternyata ada e-mail yang masuk.
Keren Ray, hebat and salut dengan karyanya.hehe Semakin mengikis kekhawatiran, ternyata Indonesia masih dipenuhi anak muda multitalenta. Lanjutkan!!!!

Aku tersentak membaca e-mail tersebut. Ternyata itu e-mail dari temanku yang sedang mencari ilmu di negeri sang Cleopatra. Namun, aku juga heran.Kenapa dia bilang seperti itu?

Wah? Wah? Apa nih maksudnya?hehe.. Bangga kenapa? ^_^” Jawabku.

“kemarin aku baca semua tulisanmu di blog. Hebat! Sungguh, aku salut padamu! jujur, disini aku berjuang menantang teriknya matahari, menahan rasa takut ditengah revolusi, ditambah dengan melihat keadaan negara yang seperti itu. Aku takut, benar-benar takut. Aku takut negaraku menjadi negara boneka yang nyata. Tapi aksimu, karyamu serta pemikiran cerdasmu itu membuat kekhawatiranku sedikit berkurang. Terima kasih. J
aku tersenyum dengan semua perkataannya.
J Itu hanya sebagian cintaku pada negara. aku tidak ingin masyarakat Indonesia itu membenci negaranya sendiri dengan setumpuk informasi yang belum tentu buktinya. Maka dari itu, aku ingin mencerdaskan bangsa secara menyeluruh mulai dari kampungku.
Hmm... Tapi sayang, besok aku harus kembali pergi merantau untuk meraih mimpiku. Masa liburku telah habis. Tapi tidak apalah, aku akan berusaha pulang maksimal sebulan sekali untuk terus mengontrol kampungku. J
Lalu, bagaimana dengan kamu? Apa aksi nyatamu buat negara?”
Send. Hmm... aku jadi lebih bersemangat untuk membangun negeriku. Pikirku.
Tet,,tet... Laptopku kembali berbunyi. Dan klik :
“oalaaahhh... tenanglah! Kamu masih bisa bolak-balik, Ray! Lah, aku?? Aku harus punya uang 20juta untuk pulang-pergi.hehe... Jadi menetaplah disini.hihihi...
Rencana?? Apa ya?hehe
Aku disini belajar dengan sungguh-sungguh,Ray! Sekaligus mempromosikan negaraku sendiri. Akupun tergabung kedalam grup nasyid[9], dan baru kemarin aku show di Jerman. Dan, ya.. Sebenarnya masih banyak sih. Nantilah aku ceritakan kalau aku sudah pulang ke Indonesia”
Aku tersenyum. Sebenarnya aku juga tahu kegiatan sehari-harinya. Karena aku selalu membaca tulisan-tulisannya di blog. Namun aku diam. Tak ingin kembali memunculkan harapan sepi. Ya, harapan yang tak berbalas.
Hmm... Hari semakin malam, sedang aku masih asyik bertukar pikiran dengan sahabatku tersebut. Mimpi dan cita-cita kami yang hampir sama menjadikan kami lebih akrab. Awalnya, kami selalu ribut. Namun seiring berjalannya waktu, kedewasaanpun membawa kami untuk sama-sama berpikir cerdas.
Dan haripun cepat berganti. Aku harus pamit pada semua orang. Semua orang melepas kepergianku dengan do’a dan harapan yang mereka perlihatkan melalui sorot matanya. Aku begitu terharu melihat semuanya. Belum pernah sebelumnya aku diantar  semua orang.
Oh, Tuhann... Betapa bahagianya hari ini. Dulu, aku pergi hanya diantar mama saja. sekarang orang-orang di sekitar rumahkupun ikut mengantarku sampai mobil.
“Hmm... Jaga diri baik-baik ya Ray! Jaga kesehatanmu juga!” Kata Bu Nida.
“Iya bu. Kalem, saya punya jadwal sendiri. Jadi semuanya sudah terjadwal. Hehe.. Oh ya bu, paling saya pulang bulan depan. Tolong koordinir semuanya, ya Bu? Saya percaya pada Ibu. Semua perkembangan update ke blog. Nanti biar saya memonitor dari blog.”
“Sip, Neng!” Kata Bu Nida.
Setelah lama berbincang, akupun pamit pada semuanya. Termasuk pada orang tuaku yang selalu mendukung semua kegiatanku. Dan, mobil yang kutumpangipun mulai berjalan. Kini, aku kembali ke kehidupan yang mengguncang.
***
“Arrrrggghhh! Tugasku kembali menumpuk. Oh Tuhaaaannnn.... Tapi tak apalah, karena mimpiku tinggi jadi rintangannya pun tinggi. Ahahahah ” Aku mencoba memaksakan diri untuk tetap tertawa. Kesibukanku setiap hari makin menumpuk. Ditambah harus bulak-balik ke kampung demi mengontrol perkembangan mereka. Namun, semua itu kulalui dengan penuh semangat. Hidup ini adalah perjuangan. Sekuat apapun badainya, tetaplah bersemangat!hihihi...



[1] Ma, kenapa bapak pulangnya malam banget? (Bahasa Sunda).
[2] Semua itu karena anak, Ni. Makanya kamu sekolah harus benar, sampai tercapai hasilnya!
[3] Neng (sebutan untuk gadis desa), lagi di rumah? Kapan kesini?
[4] Kemarin, bu.
[5] Lagi libur?
[6] Iya, bu. Kebetulan lagi libur, jadi liburan di rumah.
[7] Hey, kenapa si Amud?
[8] Sekolah.
[9] Musik islami.

Pertengkaran Kecil Kembali

Kabut, semuanya berkabut. 
Aku terdiam dalam lekang waktu yang menekan tajam. 
Tak ada memori rasa yang melintas. Yang ada hanyalah bayangan hitam penuh kelam menghantui setiap jiwa. 

Kali ini, aku begitu takut dengan prestasi. Terkadang aku begitu terobsesi dengan yang namanya prestasi. Namun, dengan obsesi tersebut tak jarang aku merasakan sejuta tekanan. Seakan semua sirna tanpa prestasi. 
Dari waktu ke waktu, tak pernah aku buang dengan percuma. Semua terisi dengan hal-hal yang mungkin baik bagiku. Namun terkadang, dengan pengaturan waktu tersebut, aku juga menginginkan istirahat yang cukup panjang untuk membalas semua rasa capeku. Tapi, rasanya tak mungkin aku beristirahat dengan waktu yang kuinginkan. Karena aku begitu terbebani dengan statusku yang sekarang. 
Pandangan masyarakat terhadapkupun sekarang jauh berbeda dibanding dengan pandangan mereka terhadapku ketika aku masih kecil. Mereka seakan menaruh harapan yang begitu besar padaku. Pernah suatu ketika, saat aku mengikuti pengajian di salah satu pesantrenku waktu kecil. 
"Sok neng, sing tiasa ngalereskeun kampungna we" suara ibu itu masih menjalar diseluruh nadiku. Seakan tak akan pernah lepas dari hidupku. 
Ya, kampungku memang terkenal dengan kampung yang "menyeramkan". Namun pemudanya selalu bersatu untuk membela kampung halaman mereka. ya, yang namanya kampung yang jauh dari peradaban (jauh dari pusat kota), kurang terjamah oleh pemerintahan setempat. Pendidikan disana masih kurang merata. Karena masih melekat dalam diri mereka pemikiran-pemikiran tradisional. Misalnya, mereka berpikir bahwa dengan menyekolahkan anaknya (perempuan) ke SMA, maka rasa takut mereka semakin tinggi. Karena mereka berpikir bahwa dengan menyekolahkannya ke SMA (yang jauh dari kampung), maka tak menutup kemungkinan bahwa anak perempuan mereka akan bergaul dengan laki-laki. Dan mereka tidak ingin terjadi hal-hal yang aneh pada anak perempuan mereka. 
Selain itu, anggapan bahwa sekolah itu mahal juga masih melekat dalam diri mereka. 
Hmm... Ya, mungkin aku termaasuk orang yang paling nekad diantara mereka. Meski orang tuaku melarang aku untuk melanjutkan sekolah ke luar kota. Tapi aku tetap bersikeras untuk kemajuan mereka juga. 
Ups.. Ya, itulah bebanku. Dulu aku mempunyai niat bahwa aku sekolah untuk mereka. Maksudnya, aku menuntuk ilmu untuk mereka juga, untuk memperbaiki kampung ini. Kampung halamanku sendiri. 

Dan disamping hal itu, ternyata berbagai godaan yang maha dahsyat selalu menghadangku untuk mencapai semua itu. Dan mungkin kemarinlah puncak kesabaranku untuk terus bersama dengannya terputus. Sikap kekanakan yang selalu menyertainya, terkadang membuatku risih. Dan terkadang, kekayaan yang dimilikinya terkadang membuat orang yang disekitarnya kurang. 

Aku kenal dengannya sejak semester 1. Dan aku selalu bersabar menghadapi sikapnya, walau terkadang menyakitkan. Aku selalu berusaha untuk mengertinya. Karena dengan begitu mungkin aku juga akan dimengerti olehnya. Namun terkadang ia tetap saja tidak bisa menyaring omongannya. Dan terkadang ia juga selalu manja serta kurang PD dalam hal penampilan. Selalu saja ia menanyakan penampilannya. Dan hal itu selalu diulang-ulang beberapa kali. (bagaimana aku nggak kesal? coba.).

Pernah kita mencurahkan semua isi hati kita masing-masing. Bahkan kita pernah membicarakan kekurangan dan kelebihan kita. Ia mengungkapkan kekurangan dan kelebihanku, begitupun dengan aku yang mengungkapkan kelebihan dan kekurangannya. 
Awalnya, sikapnya sedikit berubah. Dan berusaha untuk memperbaiki diri. Tapi sekarang? Hadaaahhh bikin kesal aja. 

Ya, aku memang tidak bisa berbuat apapun dihadapanmu. Tapi aku mempunyai sejuta rencana mulia untuk generasiku selanjutnya. 

Tak peduli dengan apapun yang kau omongkan. Yang jelas, aku bukan orang yang seperti kamu lihat sekarang. Bolehlah engkau menganggap bahwa engkau lebih pintar dariku, tapi tak secerdasku! Maaf, mungkin perkataan ini kurang mengenakkan. Tapi kesabaranku kini mulai habis dengan semua tingkahmu yang selalu mengagungkan dirimu sendiri dengan keadaan orang tuamu. 

Sekarang, mau kau dekat denganku atau tidak itu sama saja. Tak ada hal yang spesial diantara kita. Segudang rencana yang telah kita ukir, lebur semua dengan keegoisanmu. Maaf, bukan aku tak percaya. Tapi kini kuingin merajutnya sendiri. Aku telah bosan dengan semua ocehanmu. Aku hanya ingin menggunakan waktuku untuk duniaku dan dunianya. Aku tak ingin menggunakan waktuku untuk bertengkar denganmu. Karena masih banyak hal penting yang harus kulakukan dibandingkan bertengkar dengamu. 

Sekarang, bolehlah kau menganggapku seperti apa yang kau inginkan. Tapi ingat! Berpikir dewasalah! Jangan selalu kekanakan. Aku begini, karena aku menyayangimu. Aku ingin membuat hidupmu lebih berarti.

Pertengkaran ini, terkadang membuatku menyesal juga. Tapi jujur, sebenarnya aku ingin menyapamu. Namun, aku juga ingin mengetahui sejauh mana kedewasaan serta kebijakanmu. 
Dan sampai sekarang, sampai kutuliskan semu ini. Aku masih memikirkanku duhai temanku. Jika kau membaca tulisanku ini, semoga kau sadar dengan apa yang kulakukan padamu itu. 
Ya, aku hanya ingin membuatmu tak seperti anak-anak, dan selalu menghadapi semua permasalahan dengan bijak. 

Zzzzz.... lebay mungkin. Tapi ya, beginilah kiranya. 
Ahahaha..... semoga hal ini tidak merusak persahabatan kita. Meski terkadang aku tidak percaya dengan persahabatan. Tapi denganmu, dengan kalian, kucoba mengukir kembali persahabatan yang indah. Yang pernah aku impikan.

Kabar Dunia

Kemana Engkau?
Sekian lama kutunggu kabar
namun tak datang jua

Kemana engkau?
Saat kutelusuri jejak
Tak ada berita sapa

Kala itu yang menjadi akhir 
kabar beritamu

Kemana engkau?
Sibuk?
Memikirkan lulus atau
tentang kota kelahiran kita?

Tahukah kau?
Setiap kusapa dunia,
terkadang jemari ini tanpa disuruh
membuka jelajahmu

Seakan ia sudah membaca
semua keinginan tuannya

Tahukah kau?
Betapa pusingnya cita menatap senja
tak ada suara, tak ada harapan

Sekian lama, 
aku bergelut dengan duniaku
yang bukan duniaku


Aku bergelut dengan apa yang kumau
namun tak cukup tahu
karena duniaku
berbeda dengan duniaku

Tahukah kau?
Sepanjang jalan menuju duniaku
tak lekang oleh duniamu
aku dan duniamu

Satu asa, satu cita
Duniaku, duniamu
berbeda
namun sama


*Jalalilalilla, jalalilalilala....
Menyambut senyum pagi dengan renung harapan...
Ahahaha... Semoga kau mengerti apa yang kumaksudkan

Apa ya judulnya?


Hmm... percaya atau tidak? Tapi ini adalah fitrah yang diberikan oleh tuhan. Pernahkah kalian menyukai benda ataupun manusia? hehe *bahasanyeeeuuuu*
Kalo mendengar langsung mungkin kalian akan bilang bahwa aku lebaayyy.. (tapi well, aku memang sudah lebay kok. Wkwkwk)... ahahah... tapi biarlah. Abis mau gimana lagi? Aku tidak bisa mencurahkannya pada orang lain. aku hanya bisa mencurahkan semuanya disini. Karena sebagaian teman-temanku sudah bosan untuk mendengarnya. Seakan tak ada cerita lagi. Dari tahun ke tahun tetap saja cerita itu. padahal zaman juga berubah, masa iya sih ini cerita tak pernah berubah,
Tapi, ya inilah hidup. Hidup yang selalu menyenangkan dan terkadang menyakitkan. Aku yang mengalaminya seakan ingin menjitak diri sendiri atau ingin menghapus memorinya. Tapi, ya mau gimana lagi. Orang Alloh tidak memberitahuku tentang penghapusnya. Ya sudahlah, terima saja. anggap saja sebagai hiasan dunia. atau bagian dari cerita hidup untuk diceritakan kelak pada anak cucu kita. wkwkwk (nikah aja belum, udah ngomongin anak cucu. Ahahaha)...
Ya, ini sebenarnya cuplikan dari novel yang masih kutulis sampai sekarang.
ceritanya adalah tentang cinta. Ya, yang namanya cinta itu murni diberikan oleh tuhan kan? Dan itu adalah hal yang fitrah gitu,,,, namun, bagaimana ceritanya jika cinta yang dulu SMP kembali datang di masa yang akan datang. Ya, misalnya masa kuliah lah... Dan hal ini itu selalu datang tiba-tiba. Tanpa kita inginkan (daatang tak dijemput, pulang tak diantarrrr...hahaha Jelangkung kali? J)... dan yang paling parah, kita nggak tahu bahwa orang itu menyukai kita atau tidak? Hayoooo,,, pasti GALAU! Wkwkwk...
hmm... ya, cewe ini tak pernah membicarakannya pada siapapun lagi. Karena ia pikir mereka akan bosan untuk mendengar ceritanya tersebut. akhirnya ia menimbunnya sendiri, menuliskannya pada diari terncinta dan mencari cara untuk menghilangkan perasaan tersebut. namun, ketika dia menghapus memori tersebut ketika itupula ia gagal untuk menjalaninya. Dan jurus terakhir adalah menyibukkan diri.Dia menyibukan diri diberbagai bidang, hingga tak ada waktu untuk hal apapun. Pergi pagi sekali, pulang magrib. Tapi perasaan itu hilang dengan umur setahun. Selanjutnya, ia kembali datang. Dan yang anehnya, si cewe ini nggak pernah terpikirkan sama sekali tentang dia. Dan yang terpikir dibenaknya itu hanyalah bagaimana caranya untuk mencapai impiannya. Tapi ketika ia duduk sendiri dalam kesunyian, nama itu kembali datang dan memberikan semangat. Setelah itu, ceewe itu kembali menghapusnya, tapi datang lagi, datang lagi. Hingga akhirnya ia menemukan titik jenuh. Dan mencoa berkonsultasi pada orang-orang yang ia anggap bisa dan enak untuk dijadikan konsultan.
Dan apa kata mereka???
Apa yang terjadi pada si cewe ini? bunuh dirikah? Membiarkan perasaannya dan terus berjalan untuk menggapai impiannyakah? Atau malah down gara-gara rasa yang selalu menyelimuti dirinya?

tunggu, cerita selanjutanya. hihihi
mau kembali bergelut dulu dengan soal nih. hehe


Inspirasi Sekolah Hijau

dan ternyataaaaaa....
Dooooooooorrrrr!!!! GAGAL lagi pemirsa! Ahahaha
Tapi keunlah... Pasti bakal aya nu langkung sae. 

Hmm... Kecewa ada, bahkan mungkin hampir putus asa! Tapi,, tenang.. Aku bukan orang yang mudah putus asa. Sekarang gagal, nanti nggak lah! ahahaha Masa iya sih gagal terus. si gagalnya juga sudah bosan bertemu dengan aku atuhhhh... ahahaha
*MenutupiKEsihan*
Awalnya ya, memang pasti kecewa. Siapa sih orang yang tidak kecewa jika ia gagal dengan apa yang menjadi tujuannya. Tapi untunglah aku dapat pencerahan di kelas PI alias Pembangunan Internasional. 
Hmm... Seharusnya, hari ini adalah presentasi terakhir dari kelas. Namun karena kelompok terakhir lupa ngambil power point nya, dan lama menunggu. Akhirnya bapak memutuskan untuk mengisinya dengan perkenalan dari Ibu ningsih (lupa nama lengkapnya. hehe).
Sungguh, betapa menakjubkan hidupnya. 
Sedikit cerita tentang dia ya? hehe
Dia adalah seorang wanita yang menurutku sangat kuat dan tegar dalam menghadapi hidup ini. Semasa bayi, beliau sudah dibuang oleh orang tua kandungnya. Dan diurus oleh bidan (maaf lupa namanya lagi, hihihi ). Semasa kecil, ia mempunyai cita-cita untuk melanjutkan sekolah ke SMP. Namun ternyata takdir berkata lain. Kampungnya di gusur teman-teman. Dan sejak saat itu, orang tua angkatnya selalu sakit-sakitan. Bapaknya struk, ibunya jantung. Akhinya, ia memutuskan untuk bekerja. Apapun pekerjaannya selalu ia kerjakan demi mendapat uang. Kemudian, pada umur 11 tahun, beliau sudah bekerja di satu pabrik. Ia menjadi buruh. Gajinya cuma Rp. 500,-. Dan itu semua ia gunakan untuk kehidupan sehari-harinya bersama sang ema dan bapaknya,sisanya ia tabung untuk melanjutkan sekolah tahun depan. 
Suatu saat, terjadi kecelakaan di pabriknya. Pergelangan tangan temannya putus terkena mesin. Sampai darahnya berhamburan. Dan waktu itu, ia menyuruh semua karyawan untuk keluar. Karena ia takut terjadi apa-apa. Dan selanjutnya ia dimarahi oleh pemimpin pabriknya karena telah berani menyuruh semua karyawannya keluar dari pabrik. Kemudian pada saat keluar dari pabrik, ada seorang wartawan yang bertanya padanya tentang kejadian itu. Dan iapun menceritakannya. 
Dan apa yang terjadi? Esoknya ia dipanggil ke kantor kepala dan dimarahi lagi. karena perusahaannya masuk koran. Awalnya ia tersenyum saja karena masuk koran. Namun, ia menangis keras memanggil emanya karena pemimpinnya bilang "Kamu mau ditangkap polisi apa?"
Sontak iapun menangis ketakutan dan berlari ke luar. 
diluar, ternyata ia kembali lagi bertemu dengan wartawan tersebut. Namun karena pemimpinnya bilang bahwa ia akan ditangkap polisi jadi ia menghindar dari wartawan tersebut karena takut ditangkap polisi. Ia lari sekencang-kencangnya. 

***
Hmm... Sampai sini dulu ya teman, aku mau ngapalin dulu bentar. Ada UAS. Besok kita lanjut kembali. soalnya ceritanya panjang.
Tapi sangat menginspirasi.

ya? tidak

Geram, 
Antara ya dan tidak?
Ya, berarti nggak pulang.
Tidak, berarti bisa pulang.

Rasanya hidup ini penuh dengan pilihan
Kadang ya, 
kadang juga tidak
ya dan tidak

dua kata yang harus terpisah
terkadang membuat hati bimbang
bingung untuk memilih


Pelajaran hari ini

Astagfirullaaaaahhh...  Nggak ada inspirasi. Sedangkan aku harus menyelesaikan 2 tulisan malam ini. hmm...........
Sejenak refleksi lah, aku mampir dulu kesini. Untuk menghilangkan rasa penat yang menggoncangku sejak kemarin. 
Sekarang, aku baru saja sampai dari tempat privatku. Ya, maksudnya aku yang mem-privat mereka. Dan sungguh, betapa syok nya aku. Sekitar jam 06.06 P.M, aku mendapat sebuah sms dari teh Ani. Dia bilang kalo bisa besok aku juga ngajar matematika. hadaaaahhh, busyet dah. Aku ngajar matematika? Bisa nggak ya? Hmm... Terus, dia juga bilang matematikanya untuk kelas satu SMP. Awalnya aku bingung dengan tawaran ini. Namun, karena aku juga pernah mengajari adikku yang masih duduk di kelas satu SMP ya kupikir matematika kelas satu SMP itu masih mudahlah. Tidak seperti matematika lainnya. 
Hmm... Aku pun menyetujui tawarannya. 
Nah, tepat pukul 07.00 P.M, aku langsung membuka-buka buku matematika kelas 1 SMP. Dan ternyata, ya masih lumayanlah. Hihihihi.... Padahal, dulu nilai matematikaku juga sering jeblok. Karena kelas 1 SMP itu aku masih sering bolos, sakit. Ya, sekarang lumayan ngerti lah, kan udah kuliah. Masa iya sih pelajaran kelas 1 SMP aja nggak bisa. Ya kan?
Nah, aku belajar dan belajar. Hingga akupun lupa, bahwa besok itu aku juga harus mengajar bahasa inggris kelas 2 SD. Zzzzz.... Dari sana, aku pun langsung mencari bahan bahasa inggris untuk belajar besoknya. 

Setelah jam 09.00 malam, kupikir aku sudah lelah dengan semuanya. Maka akupun beristirahat tidur dan kembali bangun pukul 02.40 AM. Aku langsung shalat, kemudian kembali membuka buku untuk mempersiapkan pelajaran nanti. Jyaaa... Belajar, belajar. ahahahah
Setelah shalat subuh, akupun masih sibuk belajar. Tapi kali ini aku belajar bernyanyi bahasa inggris, supaya si anak tidak bosan dengan pelajaranku. 
Hmm... Sekitar setengah 7, aku pergi ke pasar untuk mengantar teman berbelanja. Dan kembali ke kosan. Langsung membuka lagi buku. hihihi
Nah, barulah setelah jam 08.15 AM, aku langsung mandi dan mempersiapkan diri untuk berangkat. Kebetulan rumah mereka jauh dari tempat kosku. Untuk sampai kesana, aku membutuhkan waktu satu jam. 

Jengjreng,,,,, Dan tahu nggak? Setelah minggu kemarin nyasar, minggu ini kami juga nyasar. Karena aku belum pernah ke rumahnya. Aku hanya sekedar bertemu di jalan saja. Nah, kami pun bertanya-tanya. Dan akhirnya ketemu deh. ahahaha
Dan dan dan.... yang paling mengejutkan lagi, ternyata si anak yang akan aku privat itu adalah anak kelas 2 SMP. Kyaaaakkkk.... Otomatis aku tidak tahu dong pelajarannya apa aja? Ahahaha.... Mati deh!
Zzzzzz..... Aku bingung, tapi untunglah aku masih mengerti pelajaran-pelajaran yang SMP itu. ahahah dasarrr... Hmm...
Tipe anak ini sama seperti aku waktu dulu. Dia tidak mengerti sama sekali matematika di sekolahnya bahkan dia juga mempunyai nilai jeblok di mata pelajaran matematika, sedangkan yang lainnya lumayan bagus. Alaaaahhh dasar ... Hehe, tapi ngerasa kaya diri sendiri. akhirnya aku juga mengajar dengan penuh kesabaran, meski harus beberapa kali ngulang. hehe

Selesai dari sana, aku langsung caw ke rumahnya si kakak. Dia anak SD yang mau belajar bahasa inggris, padahal dia belum belajar bahasa inggris di sekolahnya. huhuhu
Lumayan rame sih belajarnya, tapi lagi-lagi kena deh. Aku selalu mendadak grogi kalau ditengah-tengah belajar, orang tuanya datang dan ikut belajar... Hadaaaahhhh betapa nervouse-nya aku. 

Nah,dari sini. banyak sekali pelajaran yang aku dapat.
Zzzz..... Terima kasih deh semuanya....




Nyantri deui



Kemarin-kemarin, aku merasa imanku sudah mulai tergoyah. Terkadang aku melupakanNya. Dan terkadang aku juga tidak bersyukur kepadaNya....
Hingga akhirnya Tuhan mulai menegurku. Menegur dengan memberikan beberapa pengalaman yang lumayan menyakitkan. Menegur dengan memberikan rasa sakit dalam jiwa ini. Setelah kurenungi, mungkin semua ini terjadi karena aku sudah menjauh dariNya.

Hmm... Untuk itu, "Dengan menyebut namaMu, Ya Alloh" Akan kulangkahkan kaki ini menuju sebuah tempat yang suci. Jika Engkau meridhai niatku ini, maka lancarkan dan tentramkan hatiku disana Ya Alloh...
Amiiinnn.........

asyik deh, bismillah ya alloh. Insya Alloh ngawitan enjing abdi bade nyantri deui deh. meskipun janteun santri kalong, tapi teu sawioslah. Nu penting, tiasa ngaos sapertos kapungkur...
Hmm... Sumpahlah, saatos kamari nginep di pesantren Al-Falah, Cisitu Baru-Bandung. Janteun emut kana suasana di pesantren kapungkur. Mung panginteun bentenna, di pasantren itu mah antawis santri istri sareng santri pameget dihijikeun ngaosna dina sakelas barijeung teu ngangge hijab. Pami di pesantren nay kapungkur mah dihijikeun, tapi dihijab. Janten antawis istri sareng pameget teh teu tiasa patinggal-tinggal.
Hmm... Sumpahlah, kangen pisan. 
Syifaush-shudur......
Kangen ngaos amtsilati na...
Kangen gogorowokanna,ihihihi
Kangen parebut jamban....
Kangen sadayana deh....

Kehidupan didieu, tebih pisan ti kapungkur...
So, Besok insya alloh angkat ka bustanul wildan. Ngiring ngaos imriti sareng jurumiah...
bismillah...
Mugi berkah, ya alloh...

Grup Shalawat
Nikahan teh Emas (salah satu santri)
muludan


haaaa........ semangaaaaaaatttttttttttt
hayu nyantri deuiiiii..............
Bismillah.



Jika cahaya tak bercahaya, apa yang akan terjadi?


 Setiap hari waktu berjalan tanpa henti. Detik demi detik, menit, jam, hari, minggu, bulan bahkan hingga tahun terus berlari tiada henti. Kini tiba pada tahun yang dulu pernah digosipkan dengan kabar yang kurang enak di dengar. 2012, kiamat akan datang pada tahun ini. Ya, sebagian orang berpendapat bahwa kiamat akan terjadi pada tahun 2012. Namun siapa yang tahu, bahkan rosul sekalipun tidak mengetahui apa yang Alloh ketahui. Urusan kiamat hanyalah milik Alloh.
            Hari ini, tepat tanggal 20 Rajab 1433 biasanya kebanyakan umat Islam selalu menyambut peringatan atau perayaan Isra dan Mi’raj[1]. Sebuah peristiwa yang menakjubkan. Karena pada peristiwa ini, nabi Muhammad SAW mendapatkan perintah untuk menjalankan shalat yang pada awalnya tidak hanya 5 waktu saja, melainkan banyak.  Namun dalam peristiwa ini, nabi kita memohon kepada Alloh untuk dipersedikit, “karena terlalu berat bagi umatku” pikir Rasululloh SAW. Akhirnya Alloh menurunkannya sedikit. Kemudian Rasul memohon diringankan lagi, karena baginya masih terlalu berat. Lalu diringankan kembali. Dan begitu seterusnya, hingga akhirnya shalat hanya 5 waktu saja. Betapa sayangnya Rasul pada umatnya.
            Dulu,  masih terasa aroma peringatan Isra dan Mi’raj di setiap sudut kota. Namun sekarang kebiasaan itu mulai melebur. Yang ada hanyalah alunan musik-musik modern yang terkadang berbau tak sedap.  Tak ada lagi lantunan shalawat, syair-syair qasidah, gerombolan ibu-ibu sekampung (bahkan ada yang dari luar kampungnya) yang duduk manis mendengarkan cerita sang syaikh tentang peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
            Kebiasaan ini memang tidak seutuhhnya melebur. Bahkan dibeberapa dibeberapa daerah masih ada. Namun perbedaannya, pada zaman sekarang masyarakat kurang berpartisipasi pada kegiatan tersebut. Mereka malah memilih untuk sekedar menonton TV, ngobrol dengan keluarga dan lain sebagainya.
            Lalu apa yang akan terjadi jika hal ini melebur atau bahkan punah?
            Yang akan terjadi adalah pertama berkurangnya rasa cinta umat Islam terhadap Nabinya sendiri. Kedua, generasi muda yang hidup di zaman sekarang tidak akan mengetahui kapan peristiwa Isra dan Mi’raj terjadi karena tidak ada peringatannya. Kecuali kalau pemuda/pemudi tersebut sudah belajar agama sejak kecil atau ia mempunyai kesadaran sendiri terhadap agamanya. Ketiga, rasa kebersamaan antar umat akan berkurang. Karena ketika memperingati Isra Mi’raj, biasanya masyarakat berkumpul untuk mendengarkan ceramah. Disana mereka akan merasa hidup bersama-sama. Dan ikatan persaudaraan mereka akan semakin kuat.
            Lantas sebagai mahasiswa, apa yang harus kira lakukan?
            Sebelum berdakwah kepada orang lain, alangkah lebih baik jika kita berdakwah terhadap diri kita sendiri. Kita harus memperbaiki diri dengan bermuhasabah serta tafakur[2] terhadap apa yang telah kita kerjakan selama kita hidup.
            Kemudian setelah kita merasa baik dengan keadaan kita sendiri, barulah kira berdakwah kepada orang lain baik secara lisan maupun tulisan. Berdakwah bukan berarti kita mengajari mereka tentang sesuatu, karena manusia zaman sekarang itu berbeda dengan manusia zaman dulu. Pada zaman sekarang, terkadang ada manusia yang senang jika diberikan nasihat dan ada juga mereka yang tidak senang jika mereka di nasihati secara terang-terangan. Maka dari itu, carilah metode dakwah yang paling tepat untuk pemuda/pemudi zaman sekarang.




[1] Tidak selalu tanggal 20 Rajab, yang penting bulan Raja (Isra Mi’raj).
[2] Berfikir/merenung.

MENULIS DAN MENJADI SEORANG PENULIS



Menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Menulis biasa dilakukan pada kertas dengan menggunakan alat-alat seperti pena atau pensil. Pada awal sejarahnya, menulis dilakukan dengan menggunakan gambar, contohnya tulisan hieroglif (hieroglyph) pada zaman Mesir Kuno. Tulisan dengan aksara muncul sekitar 5000 tahun lalu. Orang-orang Sumeria (Irak saat ini) menciptakan tanda-tanda pada tanah liat. Tanda-tanda tersebut mewakili bunyi, berbeda dengan huruf-huruf hieroglif yang mewakili kata-kata atau benda. Kegiatan menulis berkembang pesat sejak diciptakannya teknik percetakan, yang menyebabkan orang makin giat menulis karena karya mereka mudah diterbitkan.
Seiring berkembangnya zaman, sekarang menulis tidak hanya menggunakan pena atau pensil saja tetapi menulis bisa juga dilakukan dengan menggunakan mesin tik atau menggunakan komputer. Dengan menulis seseorang dapat melakukan refleksi, akan tetapi menulisnya bukan menuliskan berbagai hal yang negatif. Menulis yang dapat menjadi alternatif refleksi adalah menulis hal-hal yang sifatnya positif. Seseorang yang sedang mengalami stres bisa berubah menjadi fresh setelah ia menulis. pernah suatu ketika, ada seorang wanita yang sangat kaya. Ia adalah wanita karir. Dalam kehidupan sehari-harinya, ia belum pernah mengerjakan semua hal yang berhubungan dengan rumah tangga. Namun suatu ketika ia harus meninggalkan karirnya dan pergi bersama suaminya ke luar negeri. Disana ia tidak mempunyai kegiatan yang seperti biasannya ia lakukan di negara asalnya. Yang ia lakukan hanyalah duduk di rumah dan mengerjakan semua hal yang berhubungan dengan rumah tangga.
Awalnya, ia benar-benar merasakan stres yang sangat dalam. Karena kegiatan yang selama ini ia kerjakan merupakan kegiatan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Akhirnya semua itu ia adukan kepada suaminya, dan ternyata suaminya malah menyarankan wanita itu untuk menuliskan semua keluh kesahnya dalam sebuah blog.
Wanita itu mencoba menuliskan semuanya dalam blog. Ia menulis secara rutin. Ternyata benar, hal yang disarankan oleh suaminya itu ternyata manjur. Sekarang ia tidak lagi stres. Ia malah menyukai kegiatan barunya itu. Sekarang blognya dikunjungi oleh banyak orang. Bahkan tak jarang ada orang yang berkonsultasi tentang masalah rumah tangga mereka. Selain itu, wanita itu juga ditawari untuk menerbitkan sebuah buku.
Kejadian diatas cukup memotivasi saya untuk tetap menulis. karena sayapun sudah merasakan semua itu sebelum saya tahu bahwa menulis itu bisa menjadikan refleksi juga bagi kita. selain itu, kisah-kisah orang sukses  serta buku-buku karya Habiburrahman pun cukup memotivasi hobi saya ini. Dengan menulis, pikiran yang sedang kabut bisa berubah menjadi fresh. Maka menulis dan terus menulis itulah salah satu misi hidup saya untuk mengubah dunia.
Tak hanya menulis, saya pun ingin menjadi seorang penulis. Orang yang akan dikenang namanya adalah orang yang mempunyai hasil karya yang bermanfaat bagi orang lain. Meskipun kita sudah mati, namun karya kita tetap ada. Dan nama kita selalu dikenanng oleh orang lain. Itupun menjadi alasan mengapa saya ingin menjadi seorang penulis. “khairunnas ‘anfauhum linnaas”.
Sebuah tulisan yang bermanfaat, sebuah tulisan yang selalu dicari oleh orang, sebuah tulisan yang tak pernah bosan orang membacanya merupakan tulisan yang menjadi target saya. Sebuah tulisan yang mampu menggetarkan dunia. Gemakan muslim dengan tulisan. Jadikan tulisan kita sebagai motivasi bagi orang lain.
Jadi, selain menulis merupakan hobi, menulis juga menjadi obat penenang tatkala pikiran sedang mengalami stres. Kemudian menjadi seorang penulis karena ingin memberikan manfaat bagi orang lain dan ingin menggoncangkan serta menggetarkan hati masyarakat  dunia dengan tulisan yang sederhana namun selalu dikenang sepanjang masa.