It's Me!

click to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own text

Pertengkaran Kecil Kembali

Kabut, semuanya berkabut. 
Aku terdiam dalam lekang waktu yang menekan tajam. 
Tak ada memori rasa yang melintas. Yang ada hanyalah bayangan hitam penuh kelam menghantui setiap jiwa. 

Kali ini, aku begitu takut dengan prestasi. Terkadang aku begitu terobsesi dengan yang namanya prestasi. Namun, dengan obsesi tersebut tak jarang aku merasakan sejuta tekanan. Seakan semua sirna tanpa prestasi. 
Dari waktu ke waktu, tak pernah aku buang dengan percuma. Semua terisi dengan hal-hal yang mungkin baik bagiku. Namun terkadang, dengan pengaturan waktu tersebut, aku juga menginginkan istirahat yang cukup panjang untuk membalas semua rasa capeku. Tapi, rasanya tak mungkin aku beristirahat dengan waktu yang kuinginkan. Karena aku begitu terbebani dengan statusku yang sekarang. 
Pandangan masyarakat terhadapkupun sekarang jauh berbeda dibanding dengan pandangan mereka terhadapku ketika aku masih kecil. Mereka seakan menaruh harapan yang begitu besar padaku. Pernah suatu ketika, saat aku mengikuti pengajian di salah satu pesantrenku waktu kecil. 
"Sok neng, sing tiasa ngalereskeun kampungna we" suara ibu itu masih menjalar diseluruh nadiku. Seakan tak akan pernah lepas dari hidupku. 
Ya, kampungku memang terkenal dengan kampung yang "menyeramkan". Namun pemudanya selalu bersatu untuk membela kampung halaman mereka. ya, yang namanya kampung yang jauh dari peradaban (jauh dari pusat kota), kurang terjamah oleh pemerintahan setempat. Pendidikan disana masih kurang merata. Karena masih melekat dalam diri mereka pemikiran-pemikiran tradisional. Misalnya, mereka berpikir bahwa dengan menyekolahkan anaknya (perempuan) ke SMA, maka rasa takut mereka semakin tinggi. Karena mereka berpikir bahwa dengan menyekolahkannya ke SMA (yang jauh dari kampung), maka tak menutup kemungkinan bahwa anak perempuan mereka akan bergaul dengan laki-laki. Dan mereka tidak ingin terjadi hal-hal yang aneh pada anak perempuan mereka. 
Selain itu, anggapan bahwa sekolah itu mahal juga masih melekat dalam diri mereka. 
Hmm... Ya, mungkin aku termaasuk orang yang paling nekad diantara mereka. Meski orang tuaku melarang aku untuk melanjutkan sekolah ke luar kota. Tapi aku tetap bersikeras untuk kemajuan mereka juga. 
Ups.. Ya, itulah bebanku. Dulu aku mempunyai niat bahwa aku sekolah untuk mereka. Maksudnya, aku menuntuk ilmu untuk mereka juga, untuk memperbaiki kampung ini. Kampung halamanku sendiri. 

Dan disamping hal itu, ternyata berbagai godaan yang maha dahsyat selalu menghadangku untuk mencapai semua itu. Dan mungkin kemarinlah puncak kesabaranku untuk terus bersama dengannya terputus. Sikap kekanakan yang selalu menyertainya, terkadang membuatku risih. Dan terkadang, kekayaan yang dimilikinya terkadang membuat orang yang disekitarnya kurang. 

Aku kenal dengannya sejak semester 1. Dan aku selalu bersabar menghadapi sikapnya, walau terkadang menyakitkan. Aku selalu berusaha untuk mengertinya. Karena dengan begitu mungkin aku juga akan dimengerti olehnya. Namun terkadang ia tetap saja tidak bisa menyaring omongannya. Dan terkadang ia juga selalu manja serta kurang PD dalam hal penampilan. Selalu saja ia menanyakan penampilannya. Dan hal itu selalu diulang-ulang beberapa kali. (bagaimana aku nggak kesal? coba.).

Pernah kita mencurahkan semua isi hati kita masing-masing. Bahkan kita pernah membicarakan kekurangan dan kelebihan kita. Ia mengungkapkan kekurangan dan kelebihanku, begitupun dengan aku yang mengungkapkan kelebihan dan kekurangannya. 
Awalnya, sikapnya sedikit berubah. Dan berusaha untuk memperbaiki diri. Tapi sekarang? Hadaaahhh bikin kesal aja. 

Ya, aku memang tidak bisa berbuat apapun dihadapanmu. Tapi aku mempunyai sejuta rencana mulia untuk generasiku selanjutnya. 

Tak peduli dengan apapun yang kau omongkan. Yang jelas, aku bukan orang yang seperti kamu lihat sekarang. Bolehlah engkau menganggap bahwa engkau lebih pintar dariku, tapi tak secerdasku! Maaf, mungkin perkataan ini kurang mengenakkan. Tapi kesabaranku kini mulai habis dengan semua tingkahmu yang selalu mengagungkan dirimu sendiri dengan keadaan orang tuamu. 

Sekarang, mau kau dekat denganku atau tidak itu sama saja. Tak ada hal yang spesial diantara kita. Segudang rencana yang telah kita ukir, lebur semua dengan keegoisanmu. Maaf, bukan aku tak percaya. Tapi kini kuingin merajutnya sendiri. Aku telah bosan dengan semua ocehanmu. Aku hanya ingin menggunakan waktuku untuk duniaku dan dunianya. Aku tak ingin menggunakan waktuku untuk bertengkar denganmu. Karena masih banyak hal penting yang harus kulakukan dibandingkan bertengkar dengamu. 

Sekarang, bolehlah kau menganggapku seperti apa yang kau inginkan. Tapi ingat! Berpikir dewasalah! Jangan selalu kekanakan. Aku begini, karena aku menyayangimu. Aku ingin membuat hidupmu lebih berarti.

Pertengkaran ini, terkadang membuatku menyesal juga. Tapi jujur, sebenarnya aku ingin menyapamu. Namun, aku juga ingin mengetahui sejauh mana kedewasaan serta kebijakanmu. 
Dan sampai sekarang, sampai kutuliskan semu ini. Aku masih memikirkanku duhai temanku. Jika kau membaca tulisanku ini, semoga kau sadar dengan apa yang kulakukan padamu itu. 
Ya, aku hanya ingin membuatmu tak seperti anak-anak, dan selalu menghadapi semua permasalahan dengan bijak. 

Zzzzz.... lebay mungkin. Tapi ya, beginilah kiranya. 
Ahahaha..... semoga hal ini tidak merusak persahabatan kita. Meski terkadang aku tidak percaya dengan persahabatan. Tapi denganmu, dengan kalian, kucoba mengukir kembali persahabatan yang indah. Yang pernah aku impikan.

0 komentar:

Poskan Komentar