It's Me!

click to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own text

Inspirasi Dipenghujung Bulan Mei: Gerbong Kereta dan Baca

Tepat pukul 2 siang tadi, aku berangkat ke kampus untuk mengikuti kuliah umum. Tempatnya di bale sawala-Gd. Rektorat UNPAD. Yang menjadi pengisi di acara tersebut adalah Bapak Dr. Sujatmiko (Duta Besar Indonesia di Sudan). Beliau berbagi pengalamannya selama bekerja di Sudan. Kupikir, ini adalah Jokowi kedua. Karena aku belum pernah bertemu dengan diplomat lainnya. hingga aku tidak tahu kerjaan diplomat lainnya itu seperti apa. 

Kenapa bisa aku berpikir seperti Jokowi? Bukan karena wajahnya, namun karena kinerjanya. Beliau terjun langsung ke lapangan untuk mengetahui WNI yang ada disana. Kalau tidak, beliau mengirim utusan untuk mengerjakan hal tersebut. 
Dari beberapa hal yang aku tangkap, beliau cukup cerdik untuk mengatasi warga negara Indonesia di Sudan. Ia juga berani untuk berkunjung ke beberapa kampus dan tempat lainnya di Indonesia untuk mencari sponsor supaya orang Sudan bisa sekolah di Indonesia. Supaya menyeimbangkan jumlah penduduk Sudan-Indonesia yang sekolah di masing-masing negara itu (kaya exchange mungkin ya? Mereka belajar di kita, kita belajar di mereka). Tak hanya itu, ia juga berusaha untuk mengenalkan indonesia dengan diplomasi budayanya. Mengenalkan beberapa ciri khas Indonesia, seperti tari Saman, Jaipong, kendang, angklung, dan lain sebagainya. 

Satu hal yang selalu aku ingat sampai aku tiba di kosan. "BACA"

Beliau bukan dari jurusan hubungan internasional (pada saat tesnya). Namun karena banyak baca, dari 6000 orang beliau termasuk kedalam 60 orang yang lolos untuk masuk di Kemenlu. (Wooo.. Hebat kan?). Kemudian, karena ia merasa minder dengan saingan-saingannya itu, akhirnya ia belajar lagi. S2-Hubungan Internasional. Dan S3 di univ. apa ya? lupa. hehe Pokoknya ia diterima di 5 universitas di Australia. Terus milih Monash University, tapi karena menurutnya ada satu universitas bagus lagi yang menerimanya, ia akhirnya memilih universitas itu. (Haduh tapi akku lupa). 

Untuk menjadi Duta Luar Biasa, ia menunggu sampai 28 tahun. (lamaaaaa). Tapi ya begitulah. Tidak mungkin kita langsung melamar menjadi seorang duta besaar. semuanya dari bawah dulu. :)

Itulah teman, modal dari BACA. Meski ia awalnya bukan jurusan HI, tapi ia bisa mengalahkan sekian orang karena BACA.
Intinya, BACA, BACA dan BACA. 

Kalau pesan dari Pak Ramli Saud, Duta Besar Indonesi di Ethiopia. "Kita itu harus menjadi kereta yang membawa tiga gerbong. Gerbong pertama, pendidikan. Gerbong kedua, organisasi. dan Gerbong ketiga, Cinta." Caileeeee... hehehe
Waktu itu aku dengarnya pas pertama kali masuk kuliah. (Waktu masih OSPEK Fakultas kalau nggak salah).
Tapi, beliau bilang "Kalau kita tidak mampu dengan gerbong ke tiga. Cinta. Karena dia mengganggu, misalnya. Maka kita lepaskan gerbong ketiga. Kemudian, kalau kita tidak bisa juga dengan gerbong kedua. Organisasi. Misalnya karena kita tidak bisa mengatur waktu, hingga akhirnya nilai kita jelek-jelek. Maka lepaskanlah gerbong kedua. Dan berfokus pada gerbong pertama. Yaitu pendidikan. Sekolah yang baik. Belajar yang baik. Demi hal yang kita inginkan. Tapi lebih baik sih bisa tiga-tiganya" hehehe... 

Hmm... Semoga aku bisa menjadi seperti kalian Pak. 
Salam bagi Sudan dan Ethiopia. :)

Satu Langkah Yang Pasti

Hmm.. Gini nih kalo lagi stres, bawaannya pengen nulis banyak. Apapun itu. Yang penting nulis! Hahahaha... Dasar!

Well, aku ingin menceritakan beberapa langkah menuju mimpiku yang mungkin sudah terpenuhi, tinggal menunggu hasil, evaluasi dan kembali melakukan yang lebih baik dari sebelumnya. 

Pertama, untuk jadi novelis internasional.
Beberapa targetku sudah terpenuhi, antara lain : Nulis di blog sebagai latihan dan membiasakan menulis. Ikut berbagai lomba, hasilnya sebagai evaluasi perkembangan kemampuan menulisku. Dan yang terakhir itu adalah mengirimkan naskah novel ke penerbit. Itupun sudah aku lakukan. Sekarang tinggal menunggu pengumumannya. Hmm... Semoga terbit ya Alloh. (Amiiiiin). Nah, sembari menunggu pengumuman, akupun mulai kembali mengedit naskah yang telah dikirimkan. Setelah itu, rencananya aku ingin menulis tentang pemahaman politik lewat bahasa novel. Kan jarang-jarang tuh di Indonesia. Dan ide ini, sedang dalam proses pengerjaan. ahahah.. Semoga bisa! Amiiin.

Kedua, memperbaiki kampung kelahiranku 
Setelah hampir sebulan, aku merintis komunitas "kampung kreatif". Alhamdulillah hingga saat ini, jumlah anak yang terjerumus dalam kesesatanku itu mencapai 20 orang lebih. Hal yang pertama yang aku kembangkan adalah sesuai dengan apa yang mereka inginkan terlebih dahulu. Ya, sebagai pendekatan lah. Jadi, karena mereka ingin belajar tari saman dan drama. Akupun mulai mengadakan kelas suka-suka. Latihannya digelar setiap hari minggu dari pagi sampai sore. Karena ada dua kelas kan? haha.. 
Insya alloh, rencana keduanya yaitu ingin buat camp di bulan ramadhan nanti. Kelasnya berupa kelas alam. Jadi nanti belajarnya tidak di ruangan, tapi di luar. huhuhu... Semoga banyak yang mau ikut. :)

Ketiga, S2 di Jepang. 
Apa ya? Sebenarnya aku belum melakukan hal apapun sih untuk mimpi ini. Aku hanya belajar kembali bahasa Jepang. Serta mencari informasi lainnya tentang Jepang. Aku juga rencananya pengen magang di KBRI Jepang. Bisa nggak ya? Sebelumnya aku memang dikasih inspirasi sama kakak kelas. dia bilang, mending daripada di Kemenlu, mending kamu coba ke KBRI Jepang. Karena suka Jepang kan?
Hahaha... Ada benarnya juga. So, sekarang aku lagi persiapan untuk bisa magang disana. :)

Uji Nyali Hobi : Oprek Metro TV

Kemarin, lagi-lagi aku mencoba apa yang sebenarnya belum bisa kulakukan karena batas usiaku dan statusku sebagai mahasiswa. Tapi ya, kupikir dari pada menyia-nyiakan waktu lebih baik aku ikut aja kegiatan dari metro itu. 

Sebelumnya, aku tidak tahu apa yang sebenarnya diadakan oleh metro tv itu. Pas masuk ke ruangan juga udah selese presentasinya. "Kocak! Baru datang, eh udahan" Pikirku. Kemudian aku tanya pada teman se kos ku. 
"eh, jadi gimana cenah?" Kataku.
"Jadi kita langsung on cam" Jawabnya.
"On cam? maksudnya?" Aku balik bertanya. Karena aku bukan anak komunikasi, jadi aku kurang mengerti dengan apa yang ia maksud.
"Iya, kita nanti disuruh perkenalan di depan kamera pake bahasa inggris, kalo bisa bahasa asing lain, pake aja. Terus ada psikotesnya juga" Jelasnya.
"Oh, emang acara apa sih ini tuh?"
"Open recruitment"
"Hah?"
"Iya. Jadi buat yang mau kerja di metro"
Aku tertawa. 
"Ahahaha... eh, tapi nggak papa lah ya? Kita nyoba buat pengalaman aja. Atau kalo nggak buat magang" 
"Iya sih" Jawabnya.
 Aku kembali fokus pada selembar kertas yang diberikan oleh panitia. Disana tertera ada JDP (Jurnalist development Program), PDP (Production Development Program), Management dan lain sebagainya. 
Ah, nggak papa lah. Pilih JDP sajeuu.. Meski aku bukan anak komunikasi.

Beberapa menit kemudian, setelah mengotak-ngatik kameranya, wanita berambut pendek dengan pakaian biru itu mengambil mikropon lalu berbicara "Ayo, siapa yang mau jadi orang pertama" 
Aku terdiam, masih memikirkan apa saja yang harus ku bicarakan.
"Aku" Kata teteh berkacamata dengan baju biru muda, kacamata dan rambut diikat dibelakang. 
"Wuih, cocok nih setelannya buat jadi presenter" Pikirku.
aku memperhatikannya dari awal sampai akhir. Wuw, lumayan. Tapi kayaknya kurang PD dengan bahasa inggrisnya, jadi suaranya merendah. Tapi saat bicara bahasa indonesia, bagus kok. 

Sebelum aku maju, aku ingin melihat orang lain dulu. Dan berbagai macam ekspresi muncul disana. Ada orang yang selalu menggerak-gerakan tangannya ketika ia nervouse, ada juga yang malah suaranya kecil banget sampai harus diulang beberapa kali. Namun ada juga beberapa orang yang menghilangkan kegugupannya dengan wajah datar tanpa senyum. 
Sungguh indahnya dunia ini. berbagai ekspresi muncul :)

"Ah, mending sekarang aku maju" Kataku. 
akupun maju tepat kedepan kamera itu. Teteh berambut pendek itu mulai mengatur posisiku. Akupun menuruti apa yang ia katakan.  
"Harusnya kamu ikut stand up comedy" Katanya. Aku bingung. Kupikir, aku mau ikut tes jadi presenter bukan jadi komedian. Akupun tertawa kemudian menjawab "ya sih teh, kalo ada aku mau" Semua tertawa. 
"Iya ada tau! Ya udah ikutan deh ntar"  Katanya sambil mengatur posisiku. 
Setelah selesai, akupun mulai bicara dengan tiga bahasa. Inggris, Jepang, dan terakhir Indonesia. 
"Oke nay. Makasih" Katanya. 
"Hai, sama-sama teh" Kataku sembari berjalan, kembali ke tempat. Disana, aku berpikir emang aku lucu ya? Kenapa mereka tertawa.heuheu

***

to be continue

Tertanggal 28 Mei 2013



Aku meluncurkan satu surat permohonan mewujudkan mimpi pertamaku. Penulis! Ya, itulah mimpi pertamaku. Dikabulkan atau tidaknya, entahlah aku tak tahu. Yang jelas, dari lubuk hati yang paling dalam, aku berharap bahwa aku bisa mewujudkannya diumur 20 yang sebentar lagi akan segera menyelimutiku. Dan di 336 hari itu, aku harus berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya. 



Masa-masa yang Gila!

Jengjreeeeeng!!!
Cie-cie-cieeeeeeeeeeeeeee.... PENGUMUMAN UN ya???? 
Pasti degdegan, kan?
Haha

Hmm.. Dulu aku juga sama kok. Malah hal yang paling aku benci itu adalah UN. Kenapa coba? Karena nilainya nggak sesuai dengan hati. Heuh! Yang sehari-harinya biasa di kelas, eh tiba-tiba nilai UN-nya melebihi yang super-super di kelas. Kalo dipikir selintas sih memang ANEH!!! 

Sebenarnya, UN itu salah satu didikan yang tidak mendidik. Kenapa? Pasti semua orang tahu lah. Tidak mungkin tidak tahu! Masa sih nggak tahu? Apa perlu aku jelasin? Tidak juga kan? heuheu
Sebenarnya aku tidak mau sih menuliskan hal ini. sungguh sangat mengerikan. Ingin berstandar internasional, tapi sebenarnya hanya standar nasional. Itu pun hanya sebagian, tidak dengan sekolah-sekolah yang berada di pinggir desa. 
Ah, sudahlah. Pusing juga dengan sistem yang ada. 

Well, kita bernostalgila saja deh. Dulu, setiap kelas 3 -Baik itu kelas 3 SMA maupun kelas 3 SMP- selalu saja menjadi hal yang paling menakutkan dalam hidupku. Pasalnya waktu TO SMP aku pernah tidak lulus gara-gara pensilku tidak terdetek oleh komputernya. Buset dah! Sumpah bikin stress banget. Udah mah di sindir terus sama guru-guru di kelas. Eh, dihakimi semua guru yang mengenalku di ruang guru. Heuheuheu... Ya, mungkin sebenarnya bagus sih mereka menegurku. Tapi nggak rembukkan juga kali.. Kan aku jadi takut. Aku sampe nangislah itu di ruang guru. PAdahal sebenernya kalo udah diperiksa manual, nilainya melebihi batas nilai kelulusan kok. Hah, dasar!
Setelah UN SMP beres, aku juga dinyatakan tidak lulus dimanapun. Aneh, ya! Padahal aku tidak terlalu bodoh. Aku bahkan masuk rangkin 3 besar di kelas. Tapi, temanku yang biasa-biasa bahkan bisa masuk ke sekolah favorit coba? heuheuheu ... nangis lagi deh :'(     
(Emang cengeng sih dulu.hahahah)..
Tapi ternyata aku dinyatakan lulus di SMA 6 Garut (eks: 2 Tarogong). Amplopnya terselip, jadi tidak ada yang memanggilku. ahahaha... Kocak! hanas tos putus harepan! -_-

Nah, itu pengalaman menegangkan yang pernah aku alami di SMP. Apalagi saat di hakimi guru-guru di ruang guru. heuheheu.. Serasa disambar petir berkali-kali. :/

Nah, nah, nah. Kelas 3 SMA nih ya? Aku kembali dihadapkan dengan masalah besar yang tak bisa aku ceritakan disini. Nilaiku sampai anjlok. Benar-benar anjlok. Dari rangking 2 berubah menjadi rangkin sekian. Heuheuheuheu... Gila banget. Lagi-lagi, guruku juga tidak percaya dengan semua itu. TApi ini bener-bener nyata. Bahkan ada nilai 3,5 di raporku. Ahahaha... Pengen ketawa sekaligus pengen nangis. Belum pernah sebelumnya aku sampai punya nilai 3,5 di rapor. Nah, akhirnya aku ikut remedial. Terus aku berusaha keras di semester berikutnya. Alhamdulillah lah nilainya naik lagi. yeeeee.... Tapi, ternyata ada satu guru yang bilang kalau aku tidak bisa ikut SNMPTN Undangan, karena meski nilaiku kembali naik. Tapi belum memenuhi. Aku masih tidak percaya. Padahal aku PD dengan nilaiku yang sekarang. Saking tak percayanya, lagi-lagi aku nangis (ikh, jelek amat ya dulu. Banyak nangisnya). Terus, tiba-tiba ada guru Bahasa Jepang masuk. Dia sudah mengenalku dari semester 1 kelas 1. Ia bertanya, "Kenapa kamu nangis?" sembari terisak aku menjawab "Aku nggak bisa ikut SNMPTN".. Ia kaget mendengar jawabanku. kemudian ia berusaha untuk menenangkanku "Ya, sudah. Coba bapak tanyakan ke ruang BP. Masa sih kamu nggak bisa masuk?" Jawabnya. 
(kocak deh sumpah, cerita ini kocak banget). Udah gitu, dia kan pergi ke ruang BP. Terus pas masuk lagi ke kelas, dia bilang "Sudah, jangan nangis. Sudah bapak urus" katanya. ahahaha... Nay, nay,,,,

Belum cukup sampai sana. Ternyata aku tidak disetujui untuk kuliah di luar Garut dongs. Alasannya apa coba? Khawatir! 
Hadaaaahhh orang tuaku sih bilangnya khawatir, tapi ternyata kakakku yang marah besar. Ia bilang alasannya bukan itu, tapi finansial. Ya, waktu itu keadaan orang tuaku memang masih serba kekurangan. Karena ayahku tidak bekerja. Tapi, aku tak peduli dengan semuanya. Aku tak peduli dengan omongan kakakku yang sebegitu pedasnya. Aku juga tak peduli dengan omongan seluruh keluarga dari ibuku yang menyuruhku untuk bekerja. 
Dengan modal nekad, aku selalu yakin Alloh pasti memberikan yang terbaik. 
Dan ternyata....................................

to be continue

Diantara Liku-liku Motivasiku

Awal semester 3, aku masih merasakan kekesalan terhadap sistem penilaian yang tidak jelas.. Sungguh, hal itu sangat mengguncang. Namun, seiring berjalannya waktu sempat terpikir "Kenapa juga harus memikirkan nilai. Bukankah yang terpenting itu adalah ilmu?". Dari sana, aku mulai merasa hidup kembali. Aku mulai menjalankan aktivitas seperti biasanya. Hanya saja, aku sedikit pilih-pilih. Untuk semester ini, aku hanya mengikuti dua kegiatan saja. FLP dan KIMM. Selanjutnya aku gunakan setiap waktuku untuk mencapai beberapa targetku ditahun ini. Salah satunya adalah novelku harus lolos dan terbit!

Hari demi hari aku lalui, ternyata mengurangi aktivitas itu membuatku lebih dekat dengan keluarga. Yang awalnya selalu mendekam di kamar untuk sekedar menghilangkan lelah. Sekarang tidak. Bahkan sekarang aku mengosongkan waktu Sabtu-Minggu untuk pulang. Tapi, pulang ini bukan hanya pulang tuk melepas rindu pada keluarga. Namun melepas resah pada masyarakat sekitar rumah. Ditulisan sebelumnya, aku sudah menuliskan tentang keadaan rumahku. Ya, betapa gersangnya ia. 

Suatu malam, aku dan teman sekamarku meluangkan waktu untuk membicarakan keadaan kampung masing-masing. Hingga akhirnya tiba pada percakapan "Setelah selesai kuliah, kamu mau ngapain?".
Aku menjawab dengan penuh semangat, "Hmm.. Sebenernya aku ingin melanjutkan kuliah ke Jepang atau Canada atau Inggris. Aku ingin lanjut di bid. International Law atau Sastra sih. Tapi aku rasa, sastra dapat aku pelajari sendiri. Atau bidang development deng. apapun itulah pokoknya. Aku ingin membangun negara mulai dari kampung sendiri. Nah, selain itu aku juga ingin membuat lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Membuat masyarakat itu mandiri, cerdas terhadap hal apapun. Heuuuu... Pokoknya aku ingin memajukan mereka lah. Kalau kamu?"

Mela -sapaan akrabnya- pun menjawab "Sama sih, aku juga ingin S2 diluar. Tapi belum kepikiran mau dimana-mananya. Aku juga ingin membangun kampungku. Sama bangetlah keadaannya dengan kampungmu, coba. Eh, bentar. Kamu mau langsung lanjut S2 atau nikah dulu?"

Ahahaha... bicaraannya sudah ke nikah-nikah. Dasarrr...
"Entahlah, bingung aku. Tapi guru aku pernah bilang, mending nikah dulu katanya. Biasanya kalo wanita sudah tinggi gelarnya itu susah jodohnya. Ahahaha... Takut juga sih. Tapi, gimana jodohnya lah. Hmm... Kenapa omongannya jadi kesini?"

Kami tertawa. Pembahasan itu menelan waktu yang cukup lama. Biasanya kami sudah tidur pada jam segitu, tapi kami mampu bertahan sampai jam 12 malam. Hahaha.. Parah banget.

Kembali mengingat keadaan masyarakat yang sedemikian rupa, aku memang sangat khawatir untuk meninggalkannya. Aku takut sesuatu yang lebih buruk terjadi disana. Aku tak mau orang lain yang hendak masuk kesana ketakuta karena penduduk kami. 

Dari sana, aku mulai sadar. Bahwa aku harus belajar keras untuk dapat mengubah semuanya. Tak bisa aku hanya menjadi wanita yang orang bilang kerjaannya cukup di "dapur, sumur, kasur" (Sunda). Aku tidak mau terkontaminasi dengan pikiran itu. Aku harus menjadi sosok penyelamat bagi generasiku selanjutnya. Aku tidak boleh membiarkan kehidupan daerahku seperti itu. 

Arrrggghhhh!!! Geram sih. 
Tapi tak apalah. 
Sekarang mah belajar weeeee.... 
Fokus pada apa yang diinginkan.
Tanpa melupakan Tuhan.

Semangat!!!
Semangat UAS!!!
Ulang tahunnya dihadiahi UAS. heuheuheu -_-
Tapi tetep semangaaaaaattttt...
Demi semua orang yang menunggu kepulanganmu, Nay! 

Heuhhhhh... Akibat berbagai alasan yang selalu dimunculkan, akhirnya hari ini perlu kerja ekstra untuk mencapai tujuan itu. Padahal mulai minggu depan sudah mulai UAS..
"Astagfirulloh. Kenapa ya, jiwa ini selalu saja mencari alasan untuk menunda pekerjaanku. Sedangkan waktu terus mengejarku" -_-

Hanya sedikit waktu yang tersisa hari ini. Bismillah... Apapun yang terjadi. Inilah bukti dari kerja kerasku yang selalu ditunda. Tapi semoga esok menjemputku dengan senyumnya :)

Media yang Menerima Cerpen

Re-Blog from Mbak Ila


KOMPAS:
 Cerpeneksperimental dan konvensional. Cenderung tema-tema sosial dengan semangat'pembebasan'.  Memberi perhatian lebihpada liberalisasi, termasuk liberalisasi nilai sastra. Namun, karena kesadaranpublik tertentu, Kompas tetap tampak sangat berhati-hati meloloskan cerpen. Maksimalkarakter tulisan: 10-13.000 karakter. Honor tulisan: Rp 1 juta. Email:opini@kompas.co.id

KORAN TEMPO:  
Menyukaicerpen puitis (pola tutur atau pengucapan bahasa estetis) tetapi cenderungmenerima semua genre sastra. Juga memberi perhatian pada liberalisasi nilai-nilaisastra, namun lebih longgar. Maksimal karakter tulisan: 10.000 karakter. Honor cerpenRp700 ribu. Email:ktminggu@tempo.co.id

REPUBLIKA: 
Membuka diri padacerpen konvensional/eksperimental (tema apa saja, pendekatan Islami, semangatpencerahan). Republika lebih moderat. Bermisi kaderisasi. Tak kaku dalam seleraestetik. Republika berideologi Islam kosmopolitan, tidak akan memuat/mempromosikankarya (secara estetik dan tematik) berlawanan dengan ajaran Islam (dalampengertian yang formalistik, tapi substansial). Maksimal karakter tulisan:10.000 karakter. Honor cerpen Rp400 ribu. Email:sekretariat@republika.co.id

MEDIA INDONESIA:  
Menyukai cerpeneksperimental, bertema kosmopolit maupun sekuler. Maksimal karakter tulisan:9.000 karakter. Honor cerpen Rp900 ribu. Email: cerpenmi@mediaindonesia.com

SUARA PEMBARUAN:  
Menyukai cerpen konvensional. Cenderung menyukaitema kepincangan sosial. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Honor cerpen Rp400 ribu. Email: koransp@suarapembaruan.com

SUARA KARYA:  
Menyukai cerpen eksperimental dankonvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 8.000 - 10.000 karakter.Honor Rp150 ribu. Email: amiherman@yahoo.com

JURNAL NASIONAL:  
Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional. Panjang cerpen:1000 kata. 
Format Rich Text Format (rtf)on attachment. Honor Rp375 ribu. Email: redaksi@jurnas.com,witalestari@jurnas.com,tamba@jurnas.com

SUARA MERDEKA: 
Menyukai cerpen eksperimental dankonvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 8.000 - 10.000 karakter.Honor Rp350 ribu. Email: swarasastra@yahoo.com

SINAR HARAPAN: 
Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional. Panjang cerpen:10.000 karakter. Honor cerpenRp200 ribu. Email: redaksi@sinarharapan.co.idblackpoems@yahoo.com

THE JAKARTA POST:  
Cerpenberbahasa Inggris, dengan tema eksperimental dan konvensional. Panjang cerpen:10.000 karakter. Honor cerpenRp900 ribu. Email: editorial@thejakartapost.com. (Keterangan: saat ini kolom cerpen ditutup, akan dibuka lagi di waktu yang belum diketahui)

JAWA POS:  
Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genresastra. Panjangcerpen: 10.000 karakter. Honor cerpen Rp1 juta. Email:ari@jawapos.co.id,ariemetro@yahoo.com

KEDAULATAN RAKYAT: 
Menyukaicerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen:10.000 karakter. Honor cerpen Rp400 ribu. Email: redaksi@kr.co.id,jayadikastari@yahoo.com

KORAN BERNAS:  
Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional,khususnya isu ke-jogja-an. 
Panjang cerpen: 10.000 karakter. Honor cerpen Rp125ribu. Email: koranbernas@yahoo.com,bernasjogja@yahoo.com.

JOGLOSEMAR: 
(Jogja-Solo-Semarang)Menyukaicerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen:10.000 karakter. Honor cerpen Rp200 ribu. Email:harianjoglosemar@gmail.com

SOLOPOS:  
Menyukai cerpen eksperimental dankonvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Honorcerpen Rp200 ribu. Email: redaksi@solopos.com,redaksi@solopos.co.id

PIKIRAN RAKYAT:
Menyukaicerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen:10.000 karakter. Honor cerpen Rp200 ribu. Email: khazanah@pikiran-rakyat.com

TRIBUN JABAR:  
Menyukaicerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen:10.000 karakter. Email: hermawan_aksan@yahoo.com,cerpen@tribunjabar.co.id

JURNAL BOGOR: 
Menyukaicerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen:10.000 karakter. Honor cerpen Rp400 ribu. Email: donyph@jurnas.com

BALI POST
Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional,cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Honor cerpen Rp200ribu. Email:balipostcerpen@yahoo.com,redaksi@balipost.co.id

RADAR SURABAYA: 
Menyukaicerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen:10.000 karakter. Honor cerpen Rp270 ribu. Email: radarsurabaya@yahoo.com

MINGGU PAGI:  
Menyukai cerpen eksperimental dankonvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: we_rock_we_rock@yahoo.co.id

KORAN MERAPI:
Menyukaicerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen:10.000 karakter. Email: budaya.merapi@yahoo.co.id

SUMUT POS:  
Menyukai cerpen eksperimental dankonvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: sumutbudayapos@yahoo.co.id

LAMPUNG POST: 
Menyukai cerpen eksperimental dankonvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Honorcerpen Rp200 ribu. Email: lampostminggu@yahoo.com

SINGGALANG: 
Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional,cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: a2rizal@yahoo.co.idhariansinggalang@yahoo.co.id

HALUAN: 
Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional,cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: haluanminggu@gmail.comhaluanpadang@gmail.com

PADANG EKSPRES: 
Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional,cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: yusrizal_kw@yahoo.comcerpen_puisi@yahoo.com

WASPADA: 
Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional,cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: waspada@waspada.co.idsunanlangkat@yahoo.com

ANALISA
Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional,cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: rajabatak@yahoo.com

MEDAN BISNIS
Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional,cenderung semua genre sastra. Maksimal panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: rahim_qah@yahoo.com

RIAU POS

Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional,cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter.  Email: budaya_ripos@yahoo.com

SERAMBI INDONESIA

Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional,cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter.
Email: redaksi@serambinews.com,serambi_indonesia@yahoo.com

BANJARMASIN POST:  

Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional,cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: hamsibpost@yahoo.co.id
PONTIANAK POS: Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional,cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: redaksi@pontianakpos.co.id

HARIAN FAJAR: Menyukai cerpen eksperimental dankonvesional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: fajar@fajar.co.idalimdjalil@ymail.com

Majalah HORISON: Menyukai cerpen konvensional dari berbagai genre sastra.Panjangcerpen: 10.000 karakter. Email: horisoncerpen@gmail.com

Majalah BASIS:Menyukaicerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen:10.000 karakter. Email: basismajalah@yahoo.com

Majalah SAGANG:Menyukaicerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen:10.000 karakter. Email: cerpensagang@yahoo.co.id

Majalah STORY: Majalah khusus cerpen. Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional remaja.Cerpen: 13.000–14.000 characters with spaces (sekitar 8-10 hal). Cerbung: 26.000-40.000 characters withspaces (sekitar 20-30 hal). Novelette:30.000–35.000 characters with spaces (sekitar 23-25 hal). Kissing: 4.000 characters with spaces (sekitar 3 hal). Cerpen bahasa Inggris: 6.000 characterswith spaces (sekitar 4 hal). Ditulis spasi rangkap. Sertakan nama, alamat,telepon di halaman terakhir naskah. Pada email ketik: Subjek:cerpen/cerbung/kissing, dll. Kirim ke:story_magazine@yahoo.com

Majalah ANNIDA:Syaratantulisan Annida: Cerpen: 5-10halaman,spasi 1 1/2, jenis font : Times New Roman, Ukuran Font 12 pt, UkuranKertas A4, tema bebas, tidak porno/ cabul, memberi pencerahan pada pembaca. Cerbung: 5-10 halaman,spasi 1 1/2,jenis font :Times New Roman, Ukuran Font 12 pt, Ukuran Kertas A4, maksimal 7Episode. Serial: 5-10 halaman,spasi1 1/2, jenis font :Times New Roman, Ukuran Font 12 pt, Ukuran Kertas A4, Ceritatidak bersambung (tiap episode memiliki judul tersendiri, tetapi dengan tokohyang sama), Maksimal 7 episode. Epik: 5-10 halaman,spasi 1 1/2, jenis font:Times New Roman, Ukuran Font 12 pt, Ukuran Kertas A4, kisah kepahlawanan(heroik) dalam maupun luar negeri. CerpenInteraktif: 2-3 halaman, 1 1/2 spasi, A4, tema bebas, cerita belum bolehselesai (bersambung, akan diteruskan oleh pembaca yang lain). Kirim Tulisandengan format .doc atau .rtf. Sertakan: Alamat, No Hp, No Rekening (Nama Bank,Atas Nama). Tulis pada subjek: rubrik yang dituju-judul naskah. Contoh: Cerpen:Bunga-bunga Mekar. Tulisan yang belum layak muat ditayangkan di rubrik cerpenRijek (diupdate tiap awal bulan), tulisan masuk mendapat honor Rp.50.000/naskah, Epik dan Shortstory Rp. 100.000, sedangkan cerpen interaktifmendapat bingkisan, honor dibayarkan selambatnya sebulan setelah pemuatan.Komplain honor dan bingkisan dapat ditujukan ke email nida dengan subjek:Komplain Honor/ bingkisan.  Email:majalah_annida@yahoo.com,  atau bisa juga langsung upload kewebsite Annida Online dihttp://www.annida-online.com/kirim-tulisan.html(tanpa harus menjadi member)

Majalah SAYS!: Khusus cerpen eksperimental dan konvensional remaja. Panjang cerpen:10.000 -14.000 karakter. Email: redaksi@majalahsay.com

Majalah GADIS: Khusus cerpen eksperimental dan konvensional remaja. Panjang cerpen:10.000 -14.000 karakter. Honor Percikan (cerpen mini tiga halaman) Rp.500ribu. Honor cerpen Rp. 850 ribu. Email: redaksi.gadis@feminagroup.com

Majalah CHIC: Khusus cerpen eksperimental dan konvensional remajaperempuan. Panjangcerpen: 10.000 -14.000 karakter. Email: chic@gramedia-majalah.com,chicstory@gramedia-majalah.com

Majalah KAWANKU: Khusus cerpen eksperimental dan konvensional remaja. Panjang cerpen:10.000 -14.000 karakter. Email: fiksi-kawanku@gramedia-majalah.comcerpenkawanku@gmail.com

Majalah SEKAR: Khusus cerpen eksperimental dan konvensional remaja. Panjang cerpen:10.000 -14.000 karakter. Honor cerpen Rp. 400 ribu. Email: sekar@gramedia-majalah.com

Majalah ANEKA: Khusus cerpen eksperimental dan konvensional remaja. Panjang cerpen:10.000 -14.000 karakter. Email: aneka@indosat.net.id

Majalah GIRLS: Cerpen konvensional pre-teens (anak 12-15 tahunan). Panjang cerpen:10.000 karakter. Email: girls@gramedia-majalah.com

Majalah HAI: Cerpennya harus cowok banget! Khusus cerpeneksperimental dan konvensional remaja. Panjang cerpen: 10.000 -14.000 karakter.Email: hai-magazine@gramedia-majalah.com

Majalah KARTIKA: Majalah wanita dewasa. Khusus cerpen eksperimental dankonvensional khas wanita dewasa. Panjang cerpen: 10.000 -14.000 karakter.Email:  majalahkartika@yahoo.com

Majalah FEMINA: Majalah wanita dewasa. Khusus cerpeneksperimental dan konvensional khas wanita dewasa. Panjang cerpen:10.000 -14.000 karakter. Email: kontak@femina-online.com,kontak@femina.co.id

Tabloid NOVA: Majalah wanita. Khusus cerpen eksperimental dan konvensionalkhas wanita. Panjangcerpen: 10.000 -14.000 karakter. Honor cerpen Rp.400 ribu. Email: nova@gramedia-majalah.com

MajalahKARTINI: Majalahwanita dewasa. Khusus cerpen eksperimental dan konvensional khas wanita dewasa.Panjangcerpen: 10.000 -14.000 karakter. Email: redaksi_kartini@yahoo.com

Majalah CEMPAKA:Majalahwanita dewasa. Khusus cerpen eksperimental dan konvensional khas wanita dewasa.Panjangcerpen: 10.000 -14.000 karakter. Email: sontrotku@gmail.com

Majalah PARAS:

Majalahwanita dewasa. Khusus cerpen eksperimental dan konvensional khas wanita dewasa.Panjangcerpen: 10.000 -14.000 karakter. Email: majalahparas@yahoo.com

Majalah CAHAYANABAWIY: 

MajalahIslam. Khusus cerpen eksperimental dan konvensional ke-Islam-an. Panjang cerpen:10.000 -14.000 karakter. Email: cahayanabawiy@gmail.com

Majalah JOEFIKSI:  

Majalahkhusus cerpen. 
Panjangcerpen: 10.000 - 14.000 karakter. Email:  topderings@gmail.com

Majalah SERAMBIUMMAH: 

MajalahIslam. Khusus cerpen eksperimental dan konvensional ke-Islam-an.
Panjang cerpen:10.000 -14.000 karakter. Email: serambi_ummah@yahoo.co.id

Majalah SABILI: 

Majalah Islam. Khusus cerpeneksperimental dan konvensional ke-Islam-an. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: elkasabili@yahoo.co.id

ANGSODUO.NET: 

Menyukai berbagai jenis genre cerpen eksperimental dankonvensional. Panjangcerpen: 10.000 – 14.000 karakter. Email: dua2angsa@gmail.com

ERA MUSLIM: 

Majalah Islam. Khusus cerpeneksperimental dan konvensional ke-Islam-an. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: redaksi@eramuslim.com


CATATAN: Media yang disebutkan di atas adalah media-media yang memberikan honor pada cerpen yang Anda kirimkan. SANGAT mungkin besaran honor cerpen di atas bisa berubah (karena kebijakan media, atau sebab lainnya).

sumber : FLP Tegal

"Siapa aku? Siapa kamu?"

"Siapa aku? Siapa kamu?"
Itulah yang selalu kupikirkan untuk menghapuskan memori tentangmu.

Aku,
Aku hanya seorang wanita yang selalu berharap menjadi wanita seutuhnya.
Aku hanya wanita dengan kapabilitas keimanan yang kurang.
Aku hanya embun yang hanya mampu menyaksikan pagi kala mentari belum datang.
Aku,
Aku hanya wanita biasa yang berusaha tuk menjadi luar biasa.
Aku,
Aku hanya wanita yang selalu bercita mengungkap makna senja.
Aku? Aku? Ya! Itulah aku.
Dengan semua keegoisanku.
Dengan semua kealfaanku.
Dengan semua keluguanku.
Dengan semua keliaranku.
Itulah aku.

Aku hanya ingin menjadi diri sendiri.
Yang enggan tuk dilihat dari luar.
Aku hanyalah debu yang selalu mengotori setiap orang yang melewatinya.
Aku? Aku bukanlah kamu!

Kamu yang selalu menjadi matahari bagi kaummu.
Kamu yang selalu menjadi pujaan kawanmu.
Kamu yang selalu menjadi pelita rumahmu.
Kamu yang selalu menjadi yang terbaik disekitarmu.
Ya, kamu!
Kamu yang selalu dibanggakan setiap orang yang mengenalmu.
Kamu yang selalu diidamkan kehadirannya.
Kamu, Kamu, KAMU,, Itulah KAMU!!!

Sudilah kiranya jika Tuhan mencabut memorimu dihatiku. Lelah sudah hati ini. Lelah sudah jiwa ini. Lelah. Sungguh sangat lelah.

Lelah? Lelah yang selalu menjadikan dorongan bagiku untuk membuangmu.
Lelah yang selalu menjadikan penghiburku dalam gelap.
Lelah yang selalu kujadikan alasan untuk bertemu sapa denganNya.
Ya, lelah.
Seandainya kau tahu.
Seandainya kau menjadi aku.
Betapa lelahnya hati ini.

Sekian lama aku memelukmu dalam setiap impianku.

ya, kurang lebih 4 tahun.
Bukan waktu yang lama memang.
Meski dibeberapa jalan itu terdapat simpangan lain. Rasanya hati tak pernah menerima.
Selalu saja ia meluruskan kembali tujuannya.

Akh, kamu! kamu hanyalah kamu!
dan aku hanyalah aku!
Hanya Tuhan yang mengetahui takdir semuanya.
Aku, kamu. Akankah berubah menjadi Kita??? Entahlah.


Wisma Fajar_22 Mei 2013
Ditengah depresiku -_-

Garut 2 Abad : Pameran

Sabtu-Minggu ceria. hahaha :D Kaya apa aja ya? bahasanya pake ceria, ceria segala :)

Well, tak apalah. Karena aku yang merasakan keceriaannya pada waktu itu. Becouse, Sabtu kemarin aku berhasil menumpahkan seluruh rinduku pada mereka. Padahal baru sebulan kami tak berjumpa, tapi rasanya sudah berapa tahun. hihi..
Jum'at kemarin, aku pulang ke rumah. Dan dihari Sabtunya aku pergi menemui mereka. -siapa?- Teman-temanku atuhhhh... Teman pesantrenku. Pagi itu aku berangkat dari rumah menuju ke Panti Asuhan dan Pesantren Anak Ulinnuha. Panti itu merupakan tempat istirahat keduaku setelah Pesantren -selain rumah, maksudnya-. 
Karena bosen juga hanya ngobrol di Panti. akhirnya aku mengajak mereka untuk pergi ke Alun-alun Garut. Ya, sembari menghirup udara segar di wilayah Garut. Kan jarang-jarang juga main disana. Karena aku sekarang sudah tidak tinggal disana. Aku masih harus menyelesaikan studi ku di bumi Padjadjaran. 

Wow, tahu nggak? Dari kejauhan, rupanya wilayah tersebut sudah ramai. Aku melihat banyak sekali warga yang berbondong-bondong masuk ke area Alun-alun tersebut. Semakin menambah ketidak sabaranku untuk melihat tempat itu. hadaaaahhh... 
"Ayo teh, kita masuk kesana" Kataku dengan penuh semangat. 
"Boleh. Ramai sekali ya!" Jawab Sri. 
"Yuyuy. ah, tapi sayang. Seandainya aku punya kamera, kan bisa ku pajang di blog. Ya, setidaknya untuk membantu mengharumkan nama Garut kembali" 
"Beli aja atuh" Kata Sayidah. 
"Wow, ahahaha... Ntar aja deh, kalo udah punya uang" 
Mereka tersenyum mendengar jawabanku. 

Jya, jya, jya, di dalam, rupanya sudah banyak sekali pengunjung yang datang disana. Seperti biasa, Garut selalu mengadakan lomba fashion show khusus buat domba. ihihihi.. Lucu kan? Kan Garut punya domba yang bagus-bagus. Dan tahu nggakkkkk??? Ternyata diajang catwalk ini, domba-dombanya ada yang di hias pake bondu, dan manik-manik lainnya. Pokoknya lucu banget dehhhh... Tapi sayang, karena kapasitas ketinggianku yang kurang, aku tidak bisa melihat semua domba-domba yang lucu itu. Ikh, sempet kesel juga sih sebenarnya. Tapi menambah rasa cintaku pada kota kelahiranku ini. 

Dan rupanya yang menderita seperti aku, bukan hanya aku saja. ahahaha... Kedua temanku juga merasakan hal yang sama. Mereka tidak bisa melihat catwalk itu dengan baik, karena sudah banyak penonton yang lebih dulu datang kesana dengan tinggi badan yang lumayan jauh dari kami. heuheuheu..  Ya sudahlah yaaaa... yang penting kita sekarang seolah menjadi orang Garut seutuhnya. 

Nah, nah, disamping catwalk domba-domba yang lucu ini. Ada juga pameran kuliner -berbagai makanan sunda ada disana. Eh, ketang Ramen juga ada lhoooo-,  pernak-pernik khas Garut -hiasan dari akar wangi, pernak-pernik domba, tempat wisata, dsb. Pokoknya khas Garut dah- , Batik Garutan, Tempat wisata di Garut, pameran pemerintah Garut -mulai dinas pariwisata, pertanian, ketahanan pangan, perhubungan, dll-, dan Pokoknya banyak lagi deh. Sampai se-area Alun-alun itu penuh semuanya, nggak ada tempat yang kosong. Kecuali untuk jalan kita yaaaa... ahahaha.. Sampai ke depat pendopo pun penuh uy.

Haduuuuhhh... Pokoknya, pokoknya, pokonya... Rame bangettttt.......
Masih ada beberapa rangkaian acara untuk perayaan Garut 2 Abad ini. 


 
 

 

Pencapaian Indah!

Wuhuhuhu... Pendekatan kedua-ku berbuah hasil pemirsaaaa... hehe
Diminggu pertama, anak-anak yang datang berjumlah 6 orang saja. Dan dipertemuan ke dua, alhamdulillah bertambah menjadi 21 orang. :)
Betapa bahagianya aku melihat mereka. 
Dengan modal pengalamanku bergelut dengan dunia anak selama SMP sampai SMA, alhamdulillah dalam hitungan jam kami sudah bisa dekat. Bahkan dipertemuan kedua ini, aku berhasil membuat mereka tertarik untuk belajar. Ya, belajar berbagai hal.Bahkan ada beberapa diantara mereka yang nawar ingin diajarkan Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Jepang. Padahal aku belum membicarakan apa saja yang aku ajarkan pada mereka. Tapi, dengan begitu semangatnya mereka meminta padaku. 
Ya Tuhaaan, betapa senangnya aku melihat mereka begitu semangat dengan kegiatan ini. 
Dengan demikian, berarti minggu depan aku sudah berhasil naik satu tangga ke "saung bahasa". Meski harus ada beberapa kegiatan yang aku skip, aku begitu semangat untuk menjalankan proyek "Kampung Kreatif"ku ini. Karena dengan demikian, setidaknya aku sudah membantu pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. 

Hoaaaaaaaaaaaammmmm....... 
Bismillah, bismillah ya Alloh. Semoga apa yang aku lakukan ini selalu ada dalam ridho-Mu. :)

Ingin Didengar Tapi Tak Mendengar?

Suatu hari, aku bertemu dengan teman baru di lingkungan baru. Dia orangnya lumayan ramah, baik, murah senyum. Akan tetapi, dia orangnya selalu menunjukkan muka masamnya ketika ia merasa tidak senang dengan sesuatu, atau BT terhadap sesuatu.
Hari itu adalah hari pertama kami masuk kampus. Sungguh, perbedaan yang kudapati antar SMA dan kuliah itu ternyata beda sekali. Entah mungkin karena aku yang masih kurang kenal dengan lingkungan itu atau entah karena aku yang memang terbiasa dengan dunia bersama. Teman baruku itu kerjaannya tertawa sendiri sambil memegang hp. Tak tahu apa yang sedang ia baca. Yang jelas ia hanya asik dengan dunianya sendiri. tertawa sendiri, merenung sendiri, sedih sendiri dan lain sebagainya.
Awalnya aku tertanggu dengan hal itu, tapi tak mungkin aku katakan padanya. Karena ia adalah teman baruku. Kalau misalnya aku ceritakan padanya, mungkin ia takkan mau lagi bermain denganku. Pikirku waktu itu.
Hari demi hari berlalu dengan cepatnya. Sikap teman baruku itu masih sama dengan sebelumnya. Ia masih asyik sendiri dengan bacaannya sampai dipanggil beberapa kalipun ia takkan nyaut. Akhirnya kekesalanku semakin memuncak. Akupun memilih untuk diam saja.
Melihat sikapku yang agak aneh, dia bertanya “kenapa diam terus?”.
“Percuma ngomong pun, tak ada yang mendengar” jawabku.
“Emang kamu ngobrol bareng siapa? Kenapa nggak di dengar?” tanyanya penasaran.
“Dia asyik dengan kerjaannya sendiri”
Mendengar kalimat itu, dia terdiam sejenak. Merenung. Dahinya mengerut seakan mencari makna dibalik kalimat yang tadi ia dengar.
“Maksud kamu siapa? Aku?”
“Iyaaaaa... Masa aku panggil beberapa kali kamu nggak nyaut-nyaut. Malah asyik sendiri dengan bacaannya. Emang kamu baca apa sih? Sampe segitunya.”
“Aduuh maaf, emang aku kayak gitu ya?” dia malah balik nanya.
Sedang aku sudah bosan mendengarnya. “ga tahu atuh. Coba aja pikirin”
Sebelumnya aku tak pernah berbuat sadis pada orang lain. Tapi kali ini orang tersebut sudah keterlaluan. Untung saja kejadian itu menimpaku, kalo misalnya kena ke orang lain mungkin orang lain itu sudah membencinya dan enggan untuk berbicara lagi dengannya.
Beberapa hari setelah kejadian itu, ia mencoba untuk mengurangi sifat jeleknya tersebut. Namun, ketika ia berbicara dengan orang lain matanya berkeliaran kemana-mana, seolah tak memperhatikan omongan temannya itu. Begitu pula ketika ia ngobrol denganku. Hatiku semakin kesal tak karuan. Namun aku tahan rasa kesal itu. Karena kupikir dia emang sedang tidak ingin berbicara denganku. Atau itu adalah pelampiasannya karena ia tidak mengerti dengan apa yang kubicarakan.
Okelah, satu dua kali aku masih mentolelirnya. Tapi kali ini ia masih juga bersikap seperti itu. Hingga akhirnya aku tak mau mendengarkan omongannya karena iapun tak pernah mendengarkan omonganku. Jahat sih sebenarnya, tapi aku ingin memberikan pelajaran padanya.
Ia langsung diam ketika melihat bahwa aku tidak memperhatikan apa yang ia omongkan. Wajahnya langsung berubah. Seolah baru disambar petir. Ia tak lagi menampakkan senyumnya. Aku tersenyum dalam hati. Semoga engkau mengerti dengan apa yang kulakukan ini, pikirku.
Suatu pagi, aku duduk di meja batu belakang gedung A. Aku duduk sembari menyantap makananku. Huh, aku memang belum makan. Jadi makanan seperti inipun terasa nikmat. Pikirku sambil menatap gorengan itu. Saat itu, aku tidak duduk sendirian. Karena teman baruku itu juga ikut bersamaku. Di tengah kesepian hari, ia mengawali pembicaraan dengan wajah tidak seperti biasanya.
“kenapa?” tanyaku padanya.
“Aku kesel, Hal”
“kesel kenapa?”
“masa coba, kemarin aku ngomong nggak ada yang mendengarkan sama sekali. Padahal aku lagi butuh masukan mereka. tapi mereka malah asyik dengan yang mereka kerjakan”
Mendengar perkataan itu, aku tersenyum. Sedang ia masih meneruskan omongannya tanpa henti. Setelah selesai, baru aku jawab.
“Sya, kalau kamu ingin didengar orang, maka kamu harus menjadi pendengar juga. Karena orang lain nggak mau menghargai kamu kalau kamunya juga nggak menghargai orang lain”
“Emang aku kenapa?” tanyanya.
“Maaf ya.. kalu menurut aku. Kamu itu bukan pendengar yang baik, karena setiap kali aku bercerita ke kamu. Sorotan mata kamu malah berjalan-jalan ke arah lain"
"So, kalau mau didengar orang lain, jadilah pendengar yang baik bagi orang lain"