It's Me!

click to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own text

Ingin Didengar Tapi Tak Mendengar?

Suatu hari, aku bertemu dengan teman baru di lingkungan baru. Dia orangnya lumayan ramah, baik, murah senyum. Akan tetapi, dia orangnya selalu menunjukkan muka masamnya ketika ia merasa tidak senang dengan sesuatu, atau BT terhadap sesuatu.
Hari itu adalah hari pertama kami masuk kampus. Sungguh, perbedaan yang kudapati antar SMA dan kuliah itu ternyata beda sekali. Entah mungkin karena aku yang masih kurang kenal dengan lingkungan itu atau entah karena aku yang memang terbiasa dengan dunia bersama. Teman baruku itu kerjaannya tertawa sendiri sambil memegang hp. Tak tahu apa yang sedang ia baca. Yang jelas ia hanya asik dengan dunianya sendiri. tertawa sendiri, merenung sendiri, sedih sendiri dan lain sebagainya.
Awalnya aku tertanggu dengan hal itu, tapi tak mungkin aku katakan padanya. Karena ia adalah teman baruku. Kalau misalnya aku ceritakan padanya, mungkin ia takkan mau lagi bermain denganku. Pikirku waktu itu.
Hari demi hari berlalu dengan cepatnya. Sikap teman baruku itu masih sama dengan sebelumnya. Ia masih asyik sendiri dengan bacaannya sampai dipanggil beberapa kalipun ia takkan nyaut. Akhirnya kekesalanku semakin memuncak. Akupun memilih untuk diam saja.
Melihat sikapku yang agak aneh, dia bertanya “kenapa diam terus?”.
“Percuma ngomong pun, tak ada yang mendengar” jawabku.
“Emang kamu ngobrol bareng siapa? Kenapa nggak di dengar?” tanyanya penasaran.
“Dia asyik dengan kerjaannya sendiri”
Mendengar kalimat itu, dia terdiam sejenak. Merenung. Dahinya mengerut seakan mencari makna dibalik kalimat yang tadi ia dengar.
“Maksud kamu siapa? Aku?”
“Iyaaaaa... Masa aku panggil beberapa kali kamu nggak nyaut-nyaut. Malah asyik sendiri dengan bacaannya. Emang kamu baca apa sih? Sampe segitunya.”
“Aduuh maaf, emang aku kayak gitu ya?” dia malah balik nanya.
Sedang aku sudah bosan mendengarnya. “ga tahu atuh. Coba aja pikirin”
Sebelumnya aku tak pernah berbuat sadis pada orang lain. Tapi kali ini orang tersebut sudah keterlaluan. Untung saja kejadian itu menimpaku, kalo misalnya kena ke orang lain mungkin orang lain itu sudah membencinya dan enggan untuk berbicara lagi dengannya.
Beberapa hari setelah kejadian itu, ia mencoba untuk mengurangi sifat jeleknya tersebut. Namun, ketika ia berbicara dengan orang lain matanya berkeliaran kemana-mana, seolah tak memperhatikan omongan temannya itu. Begitu pula ketika ia ngobrol denganku. Hatiku semakin kesal tak karuan. Namun aku tahan rasa kesal itu. Karena kupikir dia emang sedang tidak ingin berbicara denganku. Atau itu adalah pelampiasannya karena ia tidak mengerti dengan apa yang kubicarakan.
Okelah, satu dua kali aku masih mentolelirnya. Tapi kali ini ia masih juga bersikap seperti itu. Hingga akhirnya aku tak mau mendengarkan omongannya karena iapun tak pernah mendengarkan omonganku. Jahat sih sebenarnya, tapi aku ingin memberikan pelajaran padanya.
Ia langsung diam ketika melihat bahwa aku tidak memperhatikan apa yang ia omongkan. Wajahnya langsung berubah. Seolah baru disambar petir. Ia tak lagi menampakkan senyumnya. Aku tersenyum dalam hati. Semoga engkau mengerti dengan apa yang kulakukan ini, pikirku.
Suatu pagi, aku duduk di meja batu belakang gedung A. Aku duduk sembari menyantap makananku. Huh, aku memang belum makan. Jadi makanan seperti inipun terasa nikmat. Pikirku sambil menatap gorengan itu. Saat itu, aku tidak duduk sendirian. Karena teman baruku itu juga ikut bersamaku. Di tengah kesepian hari, ia mengawali pembicaraan dengan wajah tidak seperti biasanya.
“kenapa?” tanyaku padanya.
“Aku kesel, Hal”
“kesel kenapa?”
“masa coba, kemarin aku ngomong nggak ada yang mendengarkan sama sekali. Padahal aku lagi butuh masukan mereka. tapi mereka malah asyik dengan yang mereka kerjakan”
Mendengar perkataan itu, aku tersenyum. Sedang ia masih meneruskan omongannya tanpa henti. Setelah selesai, baru aku jawab.
“Sya, kalau kamu ingin didengar orang, maka kamu harus menjadi pendengar juga. Karena orang lain nggak mau menghargai kamu kalau kamunya juga nggak menghargai orang lain”
“Emang aku kenapa?” tanyanya.
“Maaf ya.. kalu menurut aku. Kamu itu bukan pendengar yang baik, karena setiap kali aku bercerita ke kamu. Sorotan mata kamu malah berjalan-jalan ke arah lain"
"So, kalau mau didengar orang lain, jadilah pendengar yang baik bagi orang lain"

0 komentar:

Poskan Komentar