It's Me!

click to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own text

Nyantri deui



Kemarin-kemarin, aku merasa imanku sudah mulai tergoyah. Terkadang aku melupakanNya. Dan terkadang aku juga tidak bersyukur kepadaNya....
Hingga akhirnya Tuhan mulai menegurku. Menegur dengan memberikan beberapa pengalaman yang lumayan menyakitkan. Menegur dengan memberikan rasa sakit dalam jiwa ini. Setelah kurenungi, mungkin semua ini terjadi karena aku sudah menjauh dariNya.

Hmm... Untuk itu, "Dengan menyebut namaMu, Ya Alloh" Akan kulangkahkan kaki ini menuju sebuah tempat yang suci. Jika Engkau meridhai niatku ini, maka lancarkan dan tentramkan hatiku disana Ya Alloh...
Amiiinnn.........

asyik deh, bismillah ya alloh. Insya Alloh ngawitan enjing abdi bade nyantri deui deh. meskipun janteun santri kalong, tapi teu sawioslah. Nu penting, tiasa ngaos sapertos kapungkur...
Hmm... Sumpahlah, saatos kamari nginep di pesantren Al-Falah, Cisitu Baru-Bandung. Janteun emut kana suasana di pesantren kapungkur. Mung panginteun bentenna, di pasantren itu mah antawis santri istri sareng santri pameget dihijikeun ngaosna dina sakelas barijeung teu ngangge hijab. Pami di pesantren nay kapungkur mah dihijikeun, tapi dihijab. Janten antawis istri sareng pameget teh teu tiasa patinggal-tinggal.
Hmm... Sumpahlah, kangen pisan. 
Syifaush-shudur......
Kangen ngaos amtsilati na...
Kangen gogorowokanna,ihihihi
Kangen parebut jamban....
Kangen sadayana deh....

Kehidupan didieu, tebih pisan ti kapungkur...
So, Besok insya alloh angkat ka bustanul wildan. Ngiring ngaos imriti sareng jurumiah...
bismillah...
Mugi berkah, ya alloh...

Grup Shalawat
Nikahan teh Emas (salah satu santri)
muludan


haaaa........ semangaaaaaaatttttttttttt
hayu nyantri deuiiiii..............
Bismillah.



Jika cahaya tak bercahaya, apa yang akan terjadi?


 Setiap hari waktu berjalan tanpa henti. Detik demi detik, menit, jam, hari, minggu, bulan bahkan hingga tahun terus berlari tiada henti. Kini tiba pada tahun yang dulu pernah digosipkan dengan kabar yang kurang enak di dengar. 2012, kiamat akan datang pada tahun ini. Ya, sebagian orang berpendapat bahwa kiamat akan terjadi pada tahun 2012. Namun siapa yang tahu, bahkan rosul sekalipun tidak mengetahui apa yang Alloh ketahui. Urusan kiamat hanyalah milik Alloh.
            Hari ini, tepat tanggal 20 Rajab 1433 biasanya kebanyakan umat Islam selalu menyambut peringatan atau perayaan Isra dan Mi’raj[1]. Sebuah peristiwa yang menakjubkan. Karena pada peristiwa ini, nabi Muhammad SAW mendapatkan perintah untuk menjalankan shalat yang pada awalnya tidak hanya 5 waktu saja, melainkan banyak.  Namun dalam peristiwa ini, nabi kita memohon kepada Alloh untuk dipersedikit, “karena terlalu berat bagi umatku” pikir Rasululloh SAW. Akhirnya Alloh menurunkannya sedikit. Kemudian Rasul memohon diringankan lagi, karena baginya masih terlalu berat. Lalu diringankan kembali. Dan begitu seterusnya, hingga akhirnya shalat hanya 5 waktu saja. Betapa sayangnya Rasul pada umatnya.
            Dulu,  masih terasa aroma peringatan Isra dan Mi’raj di setiap sudut kota. Namun sekarang kebiasaan itu mulai melebur. Yang ada hanyalah alunan musik-musik modern yang terkadang berbau tak sedap.  Tak ada lagi lantunan shalawat, syair-syair qasidah, gerombolan ibu-ibu sekampung (bahkan ada yang dari luar kampungnya) yang duduk manis mendengarkan cerita sang syaikh tentang peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
            Kebiasaan ini memang tidak seutuhhnya melebur. Bahkan dibeberapa dibeberapa daerah masih ada. Namun perbedaannya, pada zaman sekarang masyarakat kurang berpartisipasi pada kegiatan tersebut. Mereka malah memilih untuk sekedar menonton TV, ngobrol dengan keluarga dan lain sebagainya.
            Lalu apa yang akan terjadi jika hal ini melebur atau bahkan punah?
            Yang akan terjadi adalah pertama berkurangnya rasa cinta umat Islam terhadap Nabinya sendiri. Kedua, generasi muda yang hidup di zaman sekarang tidak akan mengetahui kapan peristiwa Isra dan Mi’raj terjadi karena tidak ada peringatannya. Kecuali kalau pemuda/pemudi tersebut sudah belajar agama sejak kecil atau ia mempunyai kesadaran sendiri terhadap agamanya. Ketiga, rasa kebersamaan antar umat akan berkurang. Karena ketika memperingati Isra Mi’raj, biasanya masyarakat berkumpul untuk mendengarkan ceramah. Disana mereka akan merasa hidup bersama-sama. Dan ikatan persaudaraan mereka akan semakin kuat.
            Lantas sebagai mahasiswa, apa yang harus kira lakukan?
            Sebelum berdakwah kepada orang lain, alangkah lebih baik jika kita berdakwah terhadap diri kita sendiri. Kita harus memperbaiki diri dengan bermuhasabah serta tafakur[2] terhadap apa yang telah kita kerjakan selama kita hidup.
            Kemudian setelah kita merasa baik dengan keadaan kita sendiri, barulah kira berdakwah kepada orang lain baik secara lisan maupun tulisan. Berdakwah bukan berarti kita mengajari mereka tentang sesuatu, karena manusia zaman sekarang itu berbeda dengan manusia zaman dulu. Pada zaman sekarang, terkadang ada manusia yang senang jika diberikan nasihat dan ada juga mereka yang tidak senang jika mereka di nasihati secara terang-terangan. Maka dari itu, carilah metode dakwah yang paling tepat untuk pemuda/pemudi zaman sekarang.




[1] Tidak selalu tanggal 20 Rajab, yang penting bulan Raja (Isra Mi’raj).
[2] Berfikir/merenung.

MENULIS DAN MENJADI SEORANG PENULIS



Menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Menulis biasa dilakukan pada kertas dengan menggunakan alat-alat seperti pena atau pensil. Pada awal sejarahnya, menulis dilakukan dengan menggunakan gambar, contohnya tulisan hieroglif (hieroglyph) pada zaman Mesir Kuno. Tulisan dengan aksara muncul sekitar 5000 tahun lalu. Orang-orang Sumeria (Irak saat ini) menciptakan tanda-tanda pada tanah liat. Tanda-tanda tersebut mewakili bunyi, berbeda dengan huruf-huruf hieroglif yang mewakili kata-kata atau benda. Kegiatan menulis berkembang pesat sejak diciptakannya teknik percetakan, yang menyebabkan orang makin giat menulis karena karya mereka mudah diterbitkan.
Seiring berkembangnya zaman, sekarang menulis tidak hanya menggunakan pena atau pensil saja tetapi menulis bisa juga dilakukan dengan menggunakan mesin tik atau menggunakan komputer. Dengan menulis seseorang dapat melakukan refleksi, akan tetapi menulisnya bukan menuliskan berbagai hal yang negatif. Menulis yang dapat menjadi alternatif refleksi adalah menulis hal-hal yang sifatnya positif. Seseorang yang sedang mengalami stres bisa berubah menjadi fresh setelah ia menulis. pernah suatu ketika, ada seorang wanita yang sangat kaya. Ia adalah wanita karir. Dalam kehidupan sehari-harinya, ia belum pernah mengerjakan semua hal yang berhubungan dengan rumah tangga. Namun suatu ketika ia harus meninggalkan karirnya dan pergi bersama suaminya ke luar negeri. Disana ia tidak mempunyai kegiatan yang seperti biasannya ia lakukan di negara asalnya. Yang ia lakukan hanyalah duduk di rumah dan mengerjakan semua hal yang berhubungan dengan rumah tangga.
Awalnya, ia benar-benar merasakan stres yang sangat dalam. Karena kegiatan yang selama ini ia kerjakan merupakan kegiatan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Akhirnya semua itu ia adukan kepada suaminya, dan ternyata suaminya malah menyarankan wanita itu untuk menuliskan semua keluh kesahnya dalam sebuah blog.
Wanita itu mencoba menuliskan semuanya dalam blog. Ia menulis secara rutin. Ternyata benar, hal yang disarankan oleh suaminya itu ternyata manjur. Sekarang ia tidak lagi stres. Ia malah menyukai kegiatan barunya itu. Sekarang blognya dikunjungi oleh banyak orang. Bahkan tak jarang ada orang yang berkonsultasi tentang masalah rumah tangga mereka. Selain itu, wanita itu juga ditawari untuk menerbitkan sebuah buku.
Kejadian diatas cukup memotivasi saya untuk tetap menulis. karena sayapun sudah merasakan semua itu sebelum saya tahu bahwa menulis itu bisa menjadikan refleksi juga bagi kita. selain itu, kisah-kisah orang sukses  serta buku-buku karya Habiburrahman pun cukup memotivasi hobi saya ini. Dengan menulis, pikiran yang sedang kabut bisa berubah menjadi fresh. Maka menulis dan terus menulis itulah salah satu misi hidup saya untuk mengubah dunia.
Tak hanya menulis, saya pun ingin menjadi seorang penulis. Orang yang akan dikenang namanya adalah orang yang mempunyai hasil karya yang bermanfaat bagi orang lain. Meskipun kita sudah mati, namun karya kita tetap ada. Dan nama kita selalu dikenanng oleh orang lain. Itupun menjadi alasan mengapa saya ingin menjadi seorang penulis. “khairunnas ‘anfauhum linnaas”.
Sebuah tulisan yang bermanfaat, sebuah tulisan yang selalu dicari oleh orang, sebuah tulisan yang tak pernah bosan orang membacanya merupakan tulisan yang menjadi target saya. Sebuah tulisan yang mampu menggetarkan dunia. Gemakan muslim dengan tulisan. Jadikan tulisan kita sebagai motivasi bagi orang lain.
Jadi, selain menulis merupakan hobi, menulis juga menjadi obat penenang tatkala pikiran sedang mengalami stres. Kemudian menjadi seorang penulis karena ingin memberikan manfaat bagi orang lain dan ingin menggoncangkan serta menggetarkan hati masyarakat  dunia dengan tulisan yang sederhana namun selalu dikenang sepanjang masa. 

SAMISHIKATTANE MOM



“Oh my god?!! I’m forget!!” Teriak sizuka saat ia mendengar ayam yang sedari tadi membangunkannya. Sizuka tidak ingat bahwa hari ini merupakan UAS pertamanya di perguruan tinggi. Tanpa basa-basi Sizuka langsung pergi ke kamar mandi dan mengambil wudlu. ia selalu menggunakan jurus ampuhnya ketika ia mau ujian.
Dinginnya air yang menusuk hingga ke jantung,lembutnya sapaan angin serta mesranya lambaian bantal guling biru kesayangannya tak membuat Sizuka terlena akan rayuan mereka.
Dengan muka yang segar, Sizuka kembali ke kamar dan mulai bersiap untuk berdialog  dengan tuhan. Ia mulai memakai seragam khas yang selalu ia pakai untuk berdialog dengan tuhan. Setelah semua ia persiapkan, akhirnya ia mulai menyapa tuhan dengan sujud-sujudnnya.
Lantunan ayat suci menambah semarak khusuknya. Meski beberapa setan sedang bergelantungan di sudut-sudut bulu matanya, ia tetap berusaha untuk tetap menyegarkan pikirannya dengan ayat-ayat cintaa itu. Namun, tanpa disengaja ia tertidur  pulas di atas sajadah cintanya.
Tiba-tiba ia merasakan sebuah kesejukan yang teramat mendalam. Ia berjalan mengarungi samudera yang lepas. Disudut pantai, ia melihat bayangan seorang anak kecil yang sedang duduk termenung menikmati pemandangan yang begitu indah itu. Ia penasaran dengan gadis kecil itu. Perlahan, iapun menghampirinya.
“dek, sedang apa disini?” tanya Sizuka penasaran.
“aku sedang menunggu pahlawan sejatiku” jawabnya dengan suara yang begitu lembut. “pahlawan yang selalu menemaniku setiap saat.” Sambungnya.
Tanpa dia suruh, anak kecil itu terus menceritakan semua kisahnya bersama dengan sang pahlawan supernya.
“siapa dia?”  Sizuka semakin penasaran dengan semua yang dikatakan oleh anak kecil itu.
“tak usahlah kau tahu, siapa sebenarnya pahlawanku ini. karena sebenarnya kaupun memilikinya sama sepertiku”
Sizuka terlihat seperti keheranan. Ia benar-benar tidak mengerti dengan semua yang dikatakan oleh gadis kecil itu. Gadis kecil itu terlihat begitu lugu namun sangat menarik. Dari cerita yang ia sampaikan, sizuka menganggap bahwa anak itu merupakan sosok seorang gadis kecil yang berjuang dengan sangat gigih untuk tetap hidup tanpa bantuan siapapun. Namun, anehnya gadia kecil itu selalu membicarakan tentang pahlawan supernya itu. Katanya ia idak pernah bertemu dengan pahlawannya itu, namun ia selalu datang dalam mimpinya.
“Mungkin anak ini sedang berimajinasi tentang sailormoon yang sangat ia dambakan” pikir Sizuka.
すみません。[1]Tebakan kakak salah.” Jawabnya.
“oh tuhaan... kamu tahu apa yang aku katakan?”
“janganlah kau bersedih padaku nanti, jika suatu hari nanti pahlawanmu akan meninggalkanmu sendirian” jawabnya.
Sizuka semakin tidak mengerti, “apa yang sebearnya akan terjadi padaku ini?”  katanya.
Sesaat, Sizuka menerawang birunya langit sambil mengartikan semua hal yang dibilang oleh anak tersebut. Ia berharap ada sebuah jawaban dari langit yang selalu tersenyum padanya. Namun harapannya beku, tak ada satu tandapun  bahwa langit menjawab semua yang dipertanyakan oleh Sizuka.
“tha’s a hero?? Who is he? Can i look him?” pikirnya lagi. Saat ia sudah merasa tidak bisa menjawab semua itu sendirian. Ia menengok ke arah gadis kecil itu. Namun, apa yang terjadi? Gadis itu menghilang tanpa meninggalkan jejak diatas putihnya pasir ini.
Sizuka begitu terkejut dengan kejadian itu. Tiba-tiba langit kota tokyou yang indah itu berubah menjadi gelap. Seakakn-akan ada sesuatu yang menghalanginya. “nandeyo?[2]” pikir Sizuka.
Kegelapan itupun membuat hilangnya keindahan bunga sakura. Sizuka melihat keseluruh sudut pantai timur jepang itu, namun rasanya seperti tak ada lagi kehidupan. Yang ada hanyalah Sizuka bersama raganya sendiri. Sizuka mulai gemetar, ia tidak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi. Ia hanya melihat-lihat sekelilingnya serta merenungkan apa yang sebenarnya terjadi.
Tiba-tiba ada seberkas cahaya yang begitu menyilaukannya. Ia mencoba untuk meraihnya, namun hal itu selalu gagal ia lakukan. Dari tengah cahaya itu, tiba-tiba muncul sebuah gelombang angin yang begitu besar. Sizuka berusaha untuk menghindarinya, namun tak bisa. Rasanya angin itu membawa Sizuka ke sebuah tempat yang tak begitu jauh. Ternyata, ia dibawa ke sebuah ruangan tempat ibunya melahirkan dahulu. Ia melihat ibunya merintih kesakitan saat melahirkannya. Keringat yang mengalir dikeningnya begitu membuktikan bahwa ia sedang merasakan sakit yang amat dalam. Sizuka menangis begitu melihat ibunya sedang  melahirkannya.
Sesaat sesudah melihat proses lahiran ibunya. Tiba-tiba angin itu membawa Sizuka ke tempat yang lain. Tak sempat ia mempertahankan dirinya. Angin itu begitu kuat mendorong badan Sizuka.
Setelah berapa lama, akhirnya Sizuka tiba ditempat yang sangat ia kenali. “eeto... koko wa watashi no uchi desu ne?”[3] Meskipun begitu, Sizuka masih merasa kebingungan. Ia masih belum mengerti tentang semua hal yang terjadi kepadanya.
“ima, watasi wa totemo bozen to shimasu ne!!”[4] . Sizuka melihat-lihat ruangan yang serinng ia gunakan untuk tempat bermainnya. Namun tiba-tiba ada sekelebat anak kecil yang berlari-lari kemudian ia di kejar oleh orang tuanya. “rasanya aku kenal? Dare desu ka?[5]” sizuka terlihat memperhatikan wajah-wajah yang saling berkejaran itu. Setelah beberapa saat melihatnya, akhirnya ia mengenali waja-wajah itu. Ternyata itu adalah Sizuka kecil dan ibunya. Sizuka dulu memang selalu tidak mau makan. Air matanya kembali mengalir tatkala ia melihat keringat ibunya mengalir diwajah yang begitu halus. Dahulu ia tak pernah memikirkan betapa capenya ibu yang selama ini ia dambakan.
Setelah besar, ia berpisah dengan orang tuanya karena sebuah cita-cita yang ia bangun semenjak ia di SMA. Ia pergi ke negeri sakura atas perjuangan yang ia lakukan selama ini. Sizuka, begitulah orang-orang jepang memanggilnya. Tapi nama aslinya adalah Naya. Naya kecil memang terlihat sudah lincah sekali di sekolahnya. Bahkan tak jarang guru-guru disekolahnya kenal sekali dengan yang namanya Naya.
Angin ajaib itu kembali membawa lamunan Sizuka alias Naya ke tempat yang berbeda lagi. Ditempat yang lain, ia melihat ibunya terbujur kaku ditutupi sebuah kain yang begitu halus serta putih. Melihatnya, sontak naya langsung memeluk ibunya. Namun hal itu tak bisa ia lakukan. Entah kenapa angin yang begitu besar itu kembali menyeret Naya yang sedang berusaha meraih tangan ibunya serta berusaha memeluk raga ibunya yang terbujur kaku itu. Naya berteriak sekencang-kencangnya. Namun tak ada seorangpun yang mendengar jeritan Naya itu.
Ditengah jalan, Naya terus meneteskan air matanya. Badannya sangat bergetar. Ketakutan yang sangat dalam sekarang sedang menyelimuti raga serta pikirannya. Tiba-tiba terdengar suara adzan dari kejauhan. Naya membukakan matanya perlahan. Ternyata semua itu hanyalah mimpi. Naya beristighfar beberapa kali. Mungkin karena ia sangat merindukan orang tua serta keluarganya yang berada di Indonesia, jadi hal itu membuatnya bermimpi seperti itu. Diatas sajadah perjuangannya, Naya merenungi kata-kata seorang gadis kecil yang menceritakan tentang pahlawan sejatinya. Ia baru mengerti bahwa sebenarnya ia juga mempunnyai seorang pahlawan. Yaitu ibu. Ibu yang mengandung serta melahirkannya. Ibu yang mengurusnya dari kecil hingga dewasa tanpa kena lelah. Ibu yang selalu bersabar menghadapi anaknya yang begitu manja serta nakal.
“Haha, anata wa watashi no yushi ne!”[6] Air mata Sizuka kembali menghiasi wajah mungilnya. Sejenak Sizuka berfikir tentang semua jasa yang telah orang tuanya berikan. Sambil berfikir, ia mencoba meraih HP-nya. Kemudian ia menekan tombol otomatis untuk nomor orang tuanya di indonesia. Namun, tiba-tiba Sizuka berdiri, ia lupa bahwa ia belum shalat subuh. Untunglah kamarnya dekat dengan sebuah masjid yang merupakan masjid pusat di Tokyo. Sizuka langsung pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudlu kemudian shalat subuh.
Ia kembali berdialog dengan Tuhan. Ia mengadukan semua rasa rindu yang begitu berat kepada kedua orang tua serta keluarganya. Sizuka berharap semoga tuhan menyampaikan rasa rindunya kepada semua keluargannya.
Setelah shalat, Sizuka kembali meraih HP-nya kemudian ia menekan tombol otomatis yang langsung menghubungkannya dengan sang mama.
“Assalamu’alaikum sayang” suara halus mama masih terdengar seperti dulu.
“Wa’alaikumsalam ma” jawab sizuka.
“tumben sayang, ada apa? Bukannya kamu harus ujian hari ini?” tanya ibunya.
“iya ma. Tapi aku kangen sama mama, papa, ade serta kakakku ma” suara manja Sizuka alias Naya terdengar merdu ditelepon.
“Mmm... anata wa benkyou sina kereba narimasen ne!! Chotto... gambatte ne![7]kami disini baik-baik saja kok. Kami selalu mendo’akan kamu disana. Semoga tuhan selalu memberikan kemudahan bagi kamu sayang”
Naya terdengar menangis ditelepon.
“Naya sayang.... kamu adalah keluarga yang sangat kami banggakan. Jadi jangan kecewakan kami ya?! Anak mama tak boleh menangis! Anak mama biasanya selalu ceria dan selalu bersemangat dalam hal apapun. Oke???” mama Naya selalu memberikan semangat kepada Naya tatkala ia sedang sedih ataupun sedang merasakan homesick.
“Ma, Naya sayang mama. Naya sayang papa. Naya juga sayang semuanya. Do’akan Naya selalu ya ma? Assalamu’alaikum” naya menutup teleponnya, karena ia tak mau kerinduannya menjadi semakin dalam.
Naya kembali ke meja belajarnya, kemudian ia belajar lagi karena siang ini ia harus ujian.


[1] Sumimasen “maaf”
[2] Apa ini?
[3] Hmm... ini kan rumah saya?
[4] Sekarang aku begitu bingung.
[5] Siapa ya?
[6] Ibu, ternyata engkaulah pahlawanku.
[7] Kamu harus belajar ya, ayo... semangat.

Lelaki Terhebat


by: Swittri Dewi Tambun
Ayah… begitulah kupanggil lelaki terhebat dalam hidupku. Tak habis kisahku tentang laki-laki ini. Lelaki dengan guratan takdir sempurna, dengan seribu damai dan tentram yang tertera di kerutan keningnya. Hari-harinya begitu keras. Hari-hari betapa seorang Ayah mempertaruhkan segalanya demi anak-anaknya. Ia seorang yang tangguh, dentuman ombak yang begitu keras dan riuhnya badai tidak mengalahkan keberaniannya. Ya, dia adalah seorang pelaut. Entah di negeri mana ayah sekarang berada, tetapi yang kutahu dia selalu ada di hatiku.
Sewaktu aku masih kecil, ayah mengajariku untuk mencintai malam, malam yang menjadi ketakukan bagi anak-anak lain. Ketika malam mulai merapat ayah sering memainkan gitar tuanya dan mengajak ibu untuk bernyanyi, aku hanya bisa tertawa memandangi tingkah lucu mereka dan menyadari bahwa betapa beruntungnya aku dilahirkan dalam harmoni keluarga ini. Ketika ayah pergi ke negeri orang untuk melaut, aku dan ibu masih melakukan hal yang sama. Kami akan pergi ke halaman rumah, sambil memandangi bintang dan bulan yang begitu memberikan kedamaian, disaat itu aku berharap ayah juga akan melihat hal yang sama sehingga rasa rindunya terhadap kami akan terobati.
Kumulai memainkan jemariku pada gitar tua yang ayah tinggalkan, “ Ayahku tak pernah ada di rumah…… setiap hari katanya mencari uang….. Aku rindu belaian kasihnya…. Aku perlu bimbingan darinya….”, dengan suaraku yang merdu aku menyayikan lirik ini. Lalu ibu akan membalasnya, “ Anakku .. jangan kau mengeluh saja, ayahmu kini bertugas diluar kota… Ibu juga rindu pada ayah.. Tanpa ayah hidup ini hampa …”  Ibu yang mengajariku lagu ini. Lalu kami berdua akan bernyanyi di bagian reff “ Ayah… dengarlah jeritan kami ini, berilah sedikit waktu untuk anakmu. Oh ayah.. yang tercinta..”. Entah darimana ibu mengetahuinya, tapi yang kutahu lagu tua ini akan menjadi ramuan yang pas untuk mengobati rinduku pada ayah, karena pada saat menyayikan lagu ini hati kecilku berharap agar ayah mendengar jeritan lagu yang kami nyanyikan untuk ayah, agar ayah yang tercinta memberikan waktu untuk bertemu dengan kami keluarganya.
Aku sangat tahu betapa besar kerinduan ibu kepada ayah, hal itu tersirat jelas dalam matanya yang berkaca-kaca ketika menyayikan lagu tersebut. Aku sering memergoki ibu menangis ketika ia sudah merasa tidak sanggup menghadapi rintangan keluarga kami, ketika ibu sudah lelah menjadi ayah sekaligus ibu rumah tangga di rumah kami.
 Aku juga sangat tahu kerinduan adikku kepada ayah. Ketika ibu memukulnya ia hanya berteriak memanggil “ayah…ayah”, bahkan ketika adik tisur ia masih sering berteriak memanggil yah dan meminta untuk dibelikanmainan oleh ayah. Sementara aku, aku hanya bisa menangis dalam hati melihatnya sambil mengusap kening adikku.
Setelah lulus SMA, ayah sedikit memaksaku untuk menjadi seorang dokter. Aku tahu bahwa seluruh paksaan yang dilakukan ayah semata – mata hanya karena memikirkan masa depanku nanti. Tetapi tetap saja ayah tetap tersenyum dan mendukungku saat pilihanku tidak sesuai dengan keinginan ayah. Setelah aku menjadi gadis dewasa, aku harus pergi kuliah dikota lain. Dengan sejuta kesenangan ayahku mendapatkan kesempatan untuk mengantarkanku. Aku mendengar jelas suara hati ayah yang berkata “Segenap jiwa dan ragaku siap mengantarkanmu Nak menjemput impian terindahmu.”

Ayah harus melepas kepergian putri kecilnya di bandara. Aku mengerti mengapa badan ayah terasa kaku untuk memelukku, yang ayah lakukan hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhku untuk berhati-hati. Padahal tersirat jerat di raut wajahnya bahwa ia ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukku erat-erat. Tetapi yang ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakku. Aku tahu ayah lakukan itu agar aku kuat, kuat untuk pergi dan menjadi dewasa di negari antah-berantah untuk menimba ilmu.

Ketika aku tanpa sengaja melihat ayahku sedang mengusap  wajahnya yang mulai berkerut, dengan badannya yang mulai membungkuk, dan suara batuknya yang khas itu. Aku mengerti kenapa ayah tak mudah menangis bukan karena ayah tak punya airmata, tapi karena sebelum keluar dari mata Ayah, air mata ayah sudah berubah menjadi keringat dan peluh, yang  ayah pertaruhkan setiap hari agar keringat itu bisa berubah menjadi uang, yang bisa kau gunakan untuk memenuhi semua kebutuhanku.
Pernah sesekali aku bertanya kepada ibu, “Ibu kenapa ayah jarang meneleponku ? Kenapa ayah tidak memanjakanku seperti teman-temanku yang dimanjakan oleh ayahnya ? ” Ibu menjawabku dengan penuh kehangatan , “Nak, ayah jarang meneloponmu bukan karena tidak ada rasa rindunya kepadamu. Tahukah kau bahwa ayahlah yang mengingatkan ibu untuk meneloponmu. Ayah harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. Ketika kau marah pada ayah dan masuk ke kamar sambil membanting pintu. Ayah yang menyuruh ibu untuk datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah. Tahukah kau anakku, bahwa saat itu bahwa saat itu  memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi ayah harus menjagamu. Ayah ingin putri kecilnya menjadi anak yang manja dan pemarah. Anakku ketika teman lelaki mu datang kerumah, ayah memasang wajah yang paling mengerikan. Itu semua ayah lakukan agar putrinya yang cantik tidak salah memilih orang. Ayah takut lelaki itu tidak dapat menggantikan posisinya ketika rambutnya semakin memutih, dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya. Karena bagi ayah, putrid kecilnya adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga.”
Aku tak dapat membendung air mataku mendengar jawaban itu, maafkan aku ayah. Maafkan aku jikalau aku membuat ayah sedih. Maafkan aku kalau suatu hari nanti aku tidak melihat senyuman terindah itu tidak menghiasi wajah damaimu. aku tahu ayah masih akan tetap menjadi sosok yang harus selalu terlihat kuat. Kini aku sudah menjadi gadis dewasa ayah, tetapi aku masih ingin menjadi putri kecil ayah yang lucu. Aku masih ingin berada dalam pangkuanmu. Aku masih ingin dimarahi oleh ayah ketika aku berbuat nakal.
Aku ingin menunjukkan kepadamu ayah bahwa aku bisa sekuat ayah. Ketika aku diwisuda sebagai seorang sarjana. Aku yakin ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat  “Putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”. Hanya ini yang bisa aku persembahkan untuk ayah, nilai terbaik dan gelar sarjana untuk mencari pekerjaan yang layak. Aku selalu bertekat dalam hatiku ketika kelak aku bekerja, aku akan menyuruh ayah untuk tidak bekerja lagi di kapal. Tidak pergi ke negeri orang menghadapi buasnya lautan untuk menghidupi keluarganya. Supaya ibu tak lagi berkaca-kaca matanya dan adik tidak lagi berteriak “ayah” saat dia kesakitan dipukul ibu, karena ayah sudah akan ada di rumah kecil kami ketika aku sudah dapat pekerjaan. Ayah.. Aku ingin berkorban seperti ayah berkorban untukku. Tetapi apa yang bisa aku lakukan ayah ?  aku hanya bisa berdoa, berdoa dan berdoa  agar engkau selamat, agar engkau beroleh hikmat. Di depan tumpukan buku-buku ini aku berjanji untuk berhasil dalam studiku. Aku akan bersaing dengan orang-orang hebat yang aku temui saat ini di bangku kuliah.
 Ayah… kau tahu betapa aku mencintaimu. aku selalu membutuhkanmu sekalipun aku sudah bertumbuh dewasa, aku ingin selalu bersamamu. Aku tidak takut apapun ketika kau ada didekatku, karena kau akan menuntunku di tempat yang paling gelap sekalipun. Kau tahu ayah, kau ada dan akan selalu ada dalam mimpiku. Aku mencintaimu ayah, kaulah idolaku. Aku ingin selalu mempersembahkan yang terbaik untuk ayah. Ayah orang yang paling memahamiku. Sewaktu kecil, ayah memainkan semua permainan yang aku sukai. Ayah mengajariku berdoa. Aku selalu mendengar ketika ayah bertelut meminta kepada Tuhan, ada namaku ayah sebut. Aku akan sangat bangga menceritakan tentang ayah kepada teman-temanku. Ayah yang paling tangguh dan sabar. Aku akan menjadi putri terbaikmu ayah karena Ayah telah menjadi ayah terbaikku.  Ayah terbaik sepanjang abad. Bagaimana dengan ayahmu ?