It's Me!

click to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own text

Kemungkinan yang Tak Mungkin

Malam yang dingin, ,
aku tertatih menghujam makna dalam yang kau ungkap.
Namun, tiada arti kudapat. 
Beberapa hari ku coba tuk genggam asa, genggam cita, genggam nestapa namun tak dapat dirasa. 

Hari ini, malam ini, detik ini juga aku dikunjungi kembali sang dewa malam. Sang dewa impian yang selalu melekat di hati. Sang dewa impian yang selalu kutemui dalam setiap malamku. Dan kini ia datang. Ya, pasti datang. Karena aku melihatnya dari kejauhan. Aku melihat senyumnya menyambut cita dan cinta. Aku menyambut derita senjanya yang ceria. 

Sedikit demi sedikit, wajahnya mulai terlihat jelas. Tapi aneh, rasanya ia bukan dewa yang biasanya mendatangiku. Kali ini siapa yang datang? Aku tak mengetahuinya, wajahnya masih terlihat samar dimata. Namun, beberapa detik kemudian ia tersenyum padaku. 
Hey, siapa orang ini? Rasanya aku mengenalnya, tapi siapa? Tanya hatiku. 
Aku ragu tuk membalas senyum darinya. Aku takut, kalo itu merupakan senyum palsu yang ia tawarkan padaku. 

Dengan begitu lembut, ia menyapaku dan berusaha tuk mendekatiku. 
Aduhai, siapa orang ini? Hatiku terus bertanya dan enggan tuk bertanya padanya. Aku semakin takut dengannya. Takut ini, bukan takut yang biasa. Takut ini adalah sebuah jawaban mesra dari pertanyaannya. 

Saat kuteliti parasnya, tiba-tiba aku mulai mengetahuinya. Tiba-tiba aku mulai mengenalnya. Dan rasanya kali ini aku semakin dekat dengannya. Ya, aku kenal dia! Hatiku bersorak. 
Dia adalah seseorang yang selalu menjadi pujaan yang lain. Ia selalu menghiasi langit. Bahkan setiap malam ia selalu mengisi kehampaan sang dewa milikku. 
Ya, aku tahu dia. 
Dia adalah seorang bintang. Bintang lamunan, yang kini hadir menjadi impian. 
Lamunan? Impian? 

Gila!!! 
Tak pernah aku berpikir kalau ia kan datang menyapa. Tak pernah kupikir, kalau ia kan ciptakan senyum mesra. Dan tak pernah kupikir pula, bahwa ia sesungguhnya permata cita dunia.

Sayang, dunia hanyalah dunia. Tak bisa diubah kecuali dengan tanganNya. 
Lamunan senja melambai mesra. Aku hanya duduk diam tak pernah bisa menggapai tamuku itu. 
Begitupun dengannya, ia hanya mampu tuk sekedar menebar senyum dalam bayangnya. Menyapa mesra dalam sapa. 
Indah, namun tak indah kurasa. 

Bintang, memang tak akan pernah ku gapai. Kecuali jika ia berubah seperti diriku. Ya, kecuali ia berubah menjadi manusia normal.

Maaf, aku tak bisa menjawab sapa mu. Maaf, aku tak bisa membalas senyummu. Maaf, aku tak bisa menyambutmu sebagai tamuku. Maaf, aku tak bisa semuanya. 

Tanpa sadar, aku terjerumus dalam mimpinya. Ia membawaku pergi kedalam cahaya. Namun entah cahaya mana yang ia bawa. Tapi lagi-lagi aku kembali digetarkan dengan hal serupa. Cahaya ini tidak asing lagi bagiku. Cahaya ini cahaya rindu. Cahaya ini adalah cahaya yang setiap hari ku lantunkan. Ya, aku tahu itu.
Tapi mungkinkah Ia telah memberinya cahaya yang sama sepertiku?
Huh, tiba-tiba aku tersadar oleh cahaya itu. 
Saat ku buka kembali mataku, ia telah menghilang. Entah kemana??? Kupikir, mungkin ia telah kembali ke langit. 

Sesaat, kupandangi langit bersih itu.
Diantara bintang-bintang itu, ada satu bintang yang bersinar. Namun, tak tersenyum padaku....
Hmm.......



*Stress_3th Editions*
?dua dunia berbeda mungkin tuk menyatu tak ya?

4 komentar:

Ridho Mustopo Pertiwi mengatakan...

tulisan mu sangat indah kawan, untuk mereka yang memahaminya. penggunaan majas yang beragam membuat tulisan ini lebih berwarna. namun hati ku merasa sedih dikala kecil dan payahnya kemampuanku dibidang menulis membuatku sulit mengerti makna dari sebuah tulisan.

nayza el syekia mengatakan...

ehm, hehe
Nanti aku kasih tahu makna yang sesungguhnya di kampus ya....
:)

putri badri mengatakan...

si tiwi komennya puitis beud wahahahaha
lebai :p

nayza el syekia mengatakan...

ups,,, Biasa... hehehe
Dia kan lagi belajar jadi perempuan puitis...
:P

Poskan Komentar