It's Me!

click to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own text

Pelipur Lara : "Ngoceh Alone"

Brrrr.... Dingin sekali malam ini, tidak seperti biasanya. 
Hmm, tak ada teman sapa. Disini hanya ada aku dan dia. Dialah yang selalu menemani kala ku suka dan duka. Ya, tiada lain dan tiada bukan. Hanya "dia" seorang. 
Dia selalu menentramkan jiwa. Tapi aku tak sadar bahwa sebenarnya aku sedang membohongi diriku sendiri. Tapi yang lebih parah, aku juga sedang membohongi orang lain. Bahkan aku membohongi dunia ini. 
Jyyyyaaaaaaaaaaaahhhhhhhh...
Apa yang kuperbuat ini?
Tapi seandainya lara tak menyergap, mungkin jemariku enggan tuk berceloteh dengan keyboard2 ini. 
Setiap asa, kulepas dengan ketukan-ketukan nada keyboard yang kubuat. 
Aku memang egois, aku tak peduli dengan anggapan dunia tentang diriku. Aku sudah terlalu pusing dibuatnya. 
Tapi, pusing itu merupakan pusing rindu.
Setiap ku helakan nafas ini, rasanya nada yang keluar adalah nadanya. 

Bolehlah, jika orang-orang yang disekitarku menganggap aku sudah gila. Menganggapku sebagai seseorang yang lemah. Tapi asal kalian tahu, aku memang lemah karenanya namun aku tak lemah dengan citaku. 

Kyakkk,,, 
Aku bingung apa yang sebenarnya harus kutuliskan lagi. Tapi ini mungkin sekedar pelipur lara. Lara yang terbendung sejak beberapa tahun lalu. Dan kini ingin rasanya kuledakkan dalam untaian-untaian kata yang indah. Hingga orang tak lagi menganggapku gila, berhenti memahariku karenanya. 

Ya, seharusnya aku sadar. Seharusnya aku tegar. Tapi aku tak bisa tegar dibuatnya. 
Setiap kali kubuka dunia ini, selalu saja jemariku ingin menegurnya. Selalu saja jemari ini tergoda untuk membuka albumnya. Sekedar menyapa wajahnya, ya? hanya itu saja, tak lebih.
Ingin kupaksa Tuhan tuk hapus memori ini, tapi semakin aku mencoba meminta kepada Tuhan untuk menghapuskannya semakin aku terjerumus kedalam namanya. 

Sebenarnya aku bingung dengan diriku sendiri. Aku juga bingung dengan apa yang kutuliskan ini. ahahaha
Pasti pada serius bacanya ya?
haha
Sedikit menghibur hati setelah stres dengan buku-buku.



0 komentar:

Poskan Komentar