It's Me!

click to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own text

Luapan Rindu Ibu Kecilmu

Ramadhan akan tibaaaaaaaaaaaaa!!!!! *Teriak pake toak.
hehe
Hmm, kali ini aku benar-benar merasa rindu. 
Namun entah rindu terhadap apa. Setiap mendengar gelak tawa anak-anak, hatiku bergetar kencang. Seperti ada sebuah nada yang menarikku pada sebuah kerinduan. Rindu yang berat. Ya??!!! Rindu yang begitu berat.
Saat itu, aku merenung di depan kaca rumahku. Tiba-tiba aku melihat bayangan anak-anak. Ada yang sedang bermain, berlari-lari, menangis, duduk di meja, membaca qur'an, menulis, dan lain sebagainya. Saat kucoba untuk  mengingat semuanya. Tiba-tiba bayangan itu pergi. Kemudian aku teringat akan nasihat ibu tentang mereka yang sedikit nakal. "Jangan cepet kesel ya teh, ajari mereka dengan sepenuh hati".

Mendengar bisikan nasihat itu, aku sadar sekarang. Ternyata aku rindu suasana pesantren, aku rindu madrasah yang selama ini aku geluti.
Ya?!!!  Pesantren yang mengajarkanku sebagai guru sekaligus murid. Disana, aku belajar menjadi orang. Orang yang mampu bermimpi. Namun, aku juga belajar menjadi mereka. Aku belajar menjadi pendidik yang sekaligus dididik. 

Menjadi pendidik tidaklah mudah. Pikirku.
Tanggung jawabnya begitu besar.

Ketika menjadi pendidik, aku haruslah menjadi pendidik yang baik. Minimal, aku harus bisa membuat semua anak didikku mengerti arti hidup ini. Maksimal, aku harus membuat ia berfikir untuk mampu mewujudkan semua yang ia inginkan. Bahkan kalau mungkin, aku harus membimbingnya hingga ia sukses kelak. Sukses di dunia dan akhirat.
Ya! kupikir itu cukup.

Sekarang aku sadar, kenapa aku merasa rindu. Aku rindu pada anak-anak. YA!!! anak-anak!
Anak-anak dan lingkungan pondokku dulu.

Sejak SMP, aku sudah bergabung dengan mereka. Bahkan mungkin aku sudah menyatu dengan mereka. Terkadang, mereka begitu menyebalkan. Namun terkadang mereka juga sangat mengasyikkan. Ya, maklum lah. Dulu aku masih kekanak-kanakan juga. Jadi aku gampang kesel sama mereka. Tapi meski begitu, mereka selalu saja menghormatiku. 
Saat pertama aku diterjunkan ke dunia pendidikan, aku syok. Karena anak sekecil aku dibilang "Ibu". Aku tersenyum agak aneh serta risih, kemudian aku bilang pada mereka agar mereka memanggilku "teteh" saja. Tapi mereka tetap saja memangilku ibu. 
Hahaha, dasar anak-anak. 
Tapi ya sudahlah. :)

Setelah beberapa bulan aku bersama mereka, aku tidak lagi risih dengan panggilan ibu. Ya? Mungkin aku ibu kecil. hehehe

Aku hidup bersama mereka kurang lebih selama 4-5 tahun. Karena aku mondok di pesantren dari kelas satu SMP sampai kelas 2 SMA. Kelas 3, aku sudah mulai fokus ke ujian dan perguruan tinggi. 
Sekarang, hampir 2 tahun. Aku sudah tidak bersama mereka lagi. Kini aku merindui mereka.
Biasanya, setiap bulan Ramadhan pondok kami selalu mengadakan pesantren kilat. Dan terkadang (saat aku masih di pindok) aku yang mengurus mereka. Kami, para pengurus selalu mencari materi-materi yang menarik. Kemudian kami menyiapkan acara untuk penutupan. Hmmm....... Indahnya hari itu. 

Hmm... Dulu, aku yang selalu memisahkan kalian saat kalian bertengkar, mengajarkan kalian saat kalian tidak bisa, mengejar kalian saat kalian tidak mau belajar.
Ya, cape memang. Tapi, kelelahanku selalu terbayarkan saat kalian mampu menyerap semua hal yang aku ajarkan, melihat kalian tersenyum saling berbagi dengan teman kalian, dan melihat kalian pergi serta pulang bersama  dengan senyuman.
Tapi 2 kali ramadhan ini, aku tidak merasakan kehangatan itu lagi. Ramadhan kemarin, aku sibuk dengan OSPEK. Ramadhan sekarang????
Aku bingung.... heuheuh
Hah, kan kubuka rumah bahasa sajalah. Setidaknya, dulu aku sekolah di jurusan bahasa. Mungkin masih ada jejak-jejak bahasa dalam diriku. Dengan begini, mungkin setidaknya aku mampu menolak pandangan orang tentang jurusan bahasa yang terkadang membuatku geli.
(baca : http://nayzasyekia.blogspot.com/2012/07/bahasa-juga-punya-masa-depan.html)
Meski tak seramai dulu, tapi kan kuramaikan.
Meski tak seluas dulu, tapi kan coba kuluaskan.
Meski berbeda tempat, tapi kan kubuat seindah dulu, bahkan lebih indah dari dulu.

Setidaknya, Ramadhan ini menjadi Ramadhan Berbahasa yang penuh canda tawa seperti ramadhan-ramadhan kita dulu. Pikirku.
YA!!!
Pasti!

0 komentar:

Poskan Komentar