It's Me!

click to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own text

Uang Vs Kolusi

Ternyata cukup sulit juga untuk mendapatkan pekerjaan di dunia ini. Hiruk pikuk dunia, membuat semua orang terlena dengan yang namanya uang. Untuk memasuki sebuah perusahaan pun tak jarang pemeran menggunakan pemeran utama "uang". 
Baru aja kemarin, aku mencoba terjun ke dunia yang sesungguhnya. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya mencari pekerjaan diluar sana. 
Aku ingin tahu, susahnya mencari uang itu seperti apa. Supaya aku sadar dan dapat merasakan kerasnya perjuangan orang tua untuk membiayai kehidupan kita. 

Sebelumnya, aku mencari-cari informasi tentang lowongan kerja. Akhirnya setelah seharian aku berjalan-jalan di dunia maya, aku menemukan beberapa lowongan yang mungkin sesuai dengan apa yang aku bisa kali ini. Malamnya, aku langsung membuat beberapa persyaratan yang diperlukan untuk memasuki dunia kerja tersebut. Dan keesokan harinya, aku langsung pergi ke dua perusahaan yang sudah aku jadikan target tersebut. 
Dengan bekal uang seadanya, aku berjalan bersama teman mengadu nasib di tempat orang. 
Ditempat pertama, kami hanya menyerahkan surat lamaran tersebut. Kemudian tiba ditempat kedua.
Berbeda dengan tempat pertama, di perusahaan keduan ini kami langsung disambut dengan senyuman ramah sang officer yang sudah berjaga sejak awal. Ia sudah mengetahui maksud dan tujuan kami.
disini kami hanya mengisi formulir dan membayar biaya pendaftaran sebesar 5000 rupiah. Kemudian kami melakukan wawancara.
Awalnya kami percaya saja, tapi ternyata harus ada uang lagi. (Waduuuuhhhh,,, aku kira kalau kerja tuh ya kerja saja.hahaha).

Bukannya kerja itu untuk mencari uang ya? Tapi, kok belum juga kerja eh udah habis uang sekian rupiah. 

Hah, dunia ... dunia...

Setelah mengetahui bahwa harus ada uang terlebih dahulu, kami langsung mundur pulang. hahaha
Dari pada kami kehabisan uang dijalan, lebih baik kami mundur saja. hihihi dasar nya!!!

Okeh, itu pengalaman pertama. 
Kemudian perjuangan selanjutnya...

Aku pulang ke rumah. Kemudian tiba-tiba sepupuku yang baru saja lulus dari SMK mengajak aku untuk melamar kerja. 
Ya, kupikir dari pada aku duduk di rumah, lebih baik aku belajar cari nafkah dulu ah...
Hari pertama, aku pergi mencari-cari lowongan terlebih dahulu. Setelah kami menemukan beberapa lowongan, besoknya kami langsung datang kembali dengan membawa surat lamaran kerja. 
Di tempat pertama, kami langsung memasukan surat lamaran ke kantornya. Namun ditempat kedua, kami ternyata bertemu dengan salah satu teman dari sepupuku. widiiihhh
Kalo kalian tahu, ternyata orang-orang yang bakal mudah untuk memasuki perusahaan tersebut adalah orang yang mempunyai kenalan di perusahaan tersebut. 
kyyyyaaaaakkkk, dia yang bilang sendiri. 
Tapi ya sudahlah, meski kami tidak punya kenalan siapapun di perusahaan tersebut. kami mencoba memasukan lamaran ke perusahaan tersebut. 

***************

Hari ini, baru terpikir.

Kenapa uang bisa merajai semuanya?
Kenapa kolusi masih selalu ada di lingkungan kita?

Kalau seperti ini terus, pantas saja pengangguran di negeri ini masih marak. Kapan negara ini bisa makmur?
Kalau boleh aku protes pada mereka yang sekarang menjadi pejabat negara, ingin rasanya aku memberontak karena mereka lebih mementingkan fasilitas mereka sendiri dibanding dengan kepentingan masyarakatnya. Ingin rasanya aku menghapuskan kolusi di negara ini. 

Kemarin, kudengar beberapa orang yang mengeluh karena sudah beberapa kali melamar pekerjaan tetapi belum ada satupun perusahaan yang menerimanya. Padahal ia merupakan lulusan S1.
Sedih memang. Tapi bagaimana lagi?

Kupikir, ini bukan hanya tugas masyarakat untuk membenahi negara dalam tahap pensejahteraan masyarakatnya. Akan tetapi, ini juga merupakan tugas dari kita semua. Khususnya kaum intelektual.......

*rrrrgggghhhh,,,, Semangat! :P



0 komentar:

Poskan Komentar