It's Me!

click to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own text

Jauh dari Keluarga

Pernahkah kalian berada jauh dari keluarga kalian?
Jika pernah, apa yang anda lakukan selama anda jauh dari rumah?
Apakah berpoya-poya? Ataukah hidup sederhana seperti biasanya di rumah? Pernahkah kalian mengingat mereka dimanapun kalian berada? Atau mungkin kalian bahkan tengah sibuk hingga akhirnya kalian lupa dengan orang-orang di rumah? 

Teman-teman, kali ini saya hanya sedikit share tentang kebiasaan saya selama jauh dari orang tua. Sejak masih SD, saya sudah ditawari untuk tinggal di rumah yang bukan rumah sendiri. Dan entah kenapa, secara tiba-tiba aku langsung menerima tawaran mereka. Tanpa basa-basi, setelah keluar dari SD aku langsung diluncurkan kesana. (Wew.he)
Awalnya sih, biasa-biasa aja. Karena semua disediakan di sana. Yang berbeda hanyalah manajemen keuangan. Kalo uang, itu diatur oleh sendiri. hhihihi 
Tapi apalagi sekarang, jaraknya bertambah jauh dari rumah.heuheuheu
Pernah terbesit dalam hati, ketika aku makan makanan yang enak "apakah keluargaku juga merasakan hal yang sama?" Atau malah mungkin mereka tidak menemukan makanan demi kita yang jauh dari rumah.
Melihat sahabat-sahabatku yang terlalu hedon, terkadang aku susah untuk bersosialisasi dengan mereka. Karena biasanya hidupku penuh dengan kesederhanaan.
Aku takut, ketika aku berusaha untuk berpoya-poya, main-main dan lain sebagainya. Mereka yang berada di rumah malah kesusahan untuk makan demi kita yang jauh dari mereka.
Pernah nggak kalian bayangkan...
Jika sebenarnya kalian orang biasa-biasa saja, kemudian ketika datang ke suatu kota kalian bergabung dengan orang-orang yang hedon. Kalian tidak pernah merasakan bagaimana letihnya mencari uang seratus itu. Seandainya kalian telah merasakan bagaimana caranya mencari uang. Maka barulah akan tersadar.
Pernah aku renungi, ketika melihat wajah orang tuaku yang begitu lelah setelah pulang kerja. Aku tahu banget bagaimana orang tuaku berjuang demi anak dan istrinya.
Dulu, ia berani menantang matahari demi sesuap nasi. Sekarang, ia berani kerja mati-matian karena keluarga tercinta juga. Bagaimana tak iba hati ini ketika melihat ayah pulang tengah malam hanya demi keluarganya.
Namun, terkadang mereka ada juga yang tidak memikirkan bagaimana lelahnya orang tua mencari nafkah. Mereka hanya senang untuk menghabiskannya. Ketika orang tua tidak ada, barulah mereka memikirkan bagaimana dahulu orang tuanya telah banting utlang demi mereka. Barulah mereka tahu bagaimana susahnya mencari uang.

Teman-teman seperjuanganku...
Ingatlah perjuangan mereka teman.
Aku pernah mendengar suatu cerita daro seorang kakek, bahkan cerita ini pernah aku sampaikan di salah satu web berita daerah, Garut news.
Ceritanya, kakek ini berasal dari Garut. Ia bekerja hanya sebagai tukang antar koran ke tiap dosen di beberapa fakultas kampusku kemudian ia juga berjualan tali sepatu. Ia tidur di mushola dekat dengan kamp UKM di kampusku. Jika uangnya cukup untuk membeli beras sebanyak 20kg, barulah ia pulang. Kemudian ia juga terkadang berpuasa karena penghasilannya yang kurang. Ia berbuka hanya dengan air putih saja. Teman-teman, bayangkan. Ketika saya tanya kenapa semua ini ia lakukan, ia menjawab semua ini ia lakukan hanya untuk keluarganya di rumah sana.

Nah, teman-teman seperjuanganku... Janganlah kalian terlalu memboros-boroskan uang kalian. Karena siapa tahu orang tua kalian tidak menemukan sesuap nasi demi kalian. Berpikirlah tentang keluarga kalian terlebih dahulu jika kalian ingin memboros-boroskan uang. Rasakan betapa capenya orang tua kalian mencari nafkah demi kalian, teman. 

0 komentar:

Poskan Komentar