It's Me!

click to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own text

Materi Habis dimakan Nervous



Pagi buta yang mencengangkan,
semua orang nampak berbaris di depan gedung untuk menanti sebuah kibasan pertanyaan yang menentukan hidup mereka. Wajah-wajah yang terlihat buruk dibanding dengan hari-hari sebelumnya muncul diantara mereka yang sedang menunggu panggilan. Kelihatannya, mereka resah. Ntah apa yang mereka pikirkan. Yang jelas, tumpukan makhluk-makhluk yang berupa coretan atau sekedar luapan kalimat dalam sebuah kertas putih yang suci mereka bawa kemanapun mereka pergi.
Sebagian mereka ada yang berbicara "Sumpahlah, hari ini gue stres banget. Mana gue belum baca-baca lagi. Gue udah sebel harus baca-baca itu terus".
Kemudian seorang wanita yang duduk tegang didepannya pun menjawab "yaa, kalo gue sih nyantai aja. Ngapain dibawa pusing. Toh cuma 30% kan? kita berhatrap sama nilai yang tujuh puluh persennya aja"
Sedetik mereka hening. "iya juga ya" jawab seorang pria yang berambut ikal. "lagian gue juga udah ga peduli"

Hampir setengah jam mereka menunggu peristiwa yang menakutkan itu. Akhirnya, seseorang yang mereka tunggu-tunggupun datang. Seseorang yang berperawakan tinggi (meski tidak terlalu tinggi), berkacamata bening dengan frame hitam, kumis yang menghias bibirnya serta pakaian yang khasnya itu membuat jantung mereka yang menunggunya bergetar. Ia menyuruh NPM satu sampai dengan duapuluh masuk kedalam ruangan sidang.
duapuluh orang pertamapun menuruti perkataan bapak yang berkumis itu.
Berbagai ekspresi ditunjukkan oleh wajah mereka.
Suasana menegang hadir ditengah anak-anak yang sudah duduk berbaris menantikan giliran mereka.
Tak jarang sebagian dari mereka banyak yang gagal hanya karena nervouse melihat dosennya saja. oh my god bisa dibayangkan dong betapa stresnya mereka.
Setelah beberapa lama menunggu giliran, ternyata berbagai ekspresi wajah juga mereka hadirkan ketika mereka keluar dari ruangan itu. Seolah-olah ruangan yang mereka tempati itu adalah sangkar binatang buas yang siap menerkam mereka. Ada wajah ceria, muram bahkan ada juga yang sampai menangis ketika mereka keluar dari sangkar itu.
mungkin hanya orang-orang yang beruntung serta orang-orang yang telah berjuang mati-matianlah yang akan LULUS.
Namun, ada orang-orang yang pintar tapi mereka tidak bisa menjawab. Ada orang yang rajin sekali menghafal,mereka juga tidak bisa menjawab. Dan adapula yang tidak menghafal sama sekali, mereka malah bisa menjawab.

Akhirnya sebagian dari mereka stres, masalahnya adalah karena sebenarnya mereka tahu jawabannya. Namun jawabannya seolah-olah menghilang ditengah jalan ketika berhadapan dengan sang dosen.
so gimana dong cara mengatasinya?
1. Tenangkan hati kita, anggap saja orang yang didepan kita itu adalah sahabat terbaik kita yang siap memberikan sebuah curhatan yang begitu bermanfaat bagi kita.
2. perbanyaklah mengingat Alloh, biasanya hanya denga berdzikir kepadaNyalah hati kita akan merasa tentram
3. carilah udara segar
4. jangan pernah menerapkan sistem SKS alias sistem kebut semalam
5. jangan lupa berdo'a pada Tuhan

"Al'ujrat biqadril masaqot"
kalo menurut bahasa sunda, itu artinya "buruh tergantung karipuh"
seberapa bagus biji yang mereka tanam, sebagus itulah buah yang akan mereka petik.
Usaha dan do'a menentukan kesuksesan kita.

0 komentar:

Poskan Komentar