It's Me!

click to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own text

Inikah Wajah Pemuda Sekarang, Seolah tak acuh dengan sekitar?

My journey--Jatinangor-Garut-- 21 April 2013

"Jyaaaa... pengen teriak sekencengnya da, pas kaluar ti beus teh" hadaaah -_-'
Tadi pagi, aku berangkat dari kosan itu sekitar jam setengah tujuh.. But, karena nunggu dulu temen-nebeng internet- jadi agak molor, asalnya target pulang itu jam tujuh pagi, biar sampai rumah tuh tidak terlalu siang.  Eh gara-gara nungguin temen dulu, akhirnya aku pulang sekitar jam setengah delapan. 
Daaaan tahu nggak? Ternyata jalanan macet bangeeeeeeeettt..... Sudah hampir 3 jam aku berdiri, bus itu belum juga sampai ke tujuan. Karena memang jalannya itu "ngerayap" banget. Haduuuh, udah kipas-kipas, mencoba bikin oksigen baru, dan minum sebanyak mungkin, tapi tetap tidak berpengaruh. rasanya badanku sudah mulai lemas. Tak tahan lagi rasanya kaki ini menjadi tumpuanku. Tapi apa daya, semua tempat duduk penuh. 
heuh, kalo nggak karena terlalu butuh, aku tidak ingin pulang seperti ini. pikirku. Tapi karena memang sedang terdesak, maka akupun terpaksa pulang. 
tiga jam setengah berlalu, aku masih berdiri disana. Tidak ada satu orangpun yang menawarkan duduk untukku. Apalagi laki-laki yang masih muda. Aku heran, mereka masih egois dengan dirinya masing-masing. Sedang aku disini berdiri setengah lemas, menahan getar yang mulai merayapi tubuh. Baru setelah aku menghela nafas panjang sembari mengipas-ngipasi wajahku yang terlumuri keringat sedari tadi, tiba-tiba ada satu orang laku-laki paruh baya menawarkan tempat duduknya. Tapi, melihatnya aku tidak tega. Hingga akupun menolak. Aku pikir bahwa aku masih kuat untuk berdiri, sedang bapak mungkin berdiri sebentar, badannya akan sakit. Bapak itupun tidak terlalu memaksa. 
Setelah keluar dari jalur ular yang merayap mesra mengitari panjangnya jalan itu, bus yang aku tumpangi tidak bergerak terlalu cepat. Mungkin sopirnya kelelahan. Aku masih berdiri menguatkan diri. Ya Alloh kuatkan aku. pikirku.
Sedikit demi sedikit berjalan, akhirnya bus itupun sampai ke nagrek, sebelumnya ada bapak yang turun. Kemudian ia mempersilahkan aku duduk. hah, lega rasanya. Semua badanku yang tadinya terasa berat, kini berubah menjadi ringan. Baru beberapa detik aku duduk, tiba-tiba ada tiga orang ibu-ibu yang naik ke bus yang aku tumpangi ini. Dan salah satu diantaranya membawa anak yang masih kecil. Mungkin umurnya sekitar setahunan. Melihatnya berdiri, aku tak tega. Aku dapat merasakan bagaimana berdiri di bus itu, apalagi dia bawa anak. Tak terbayang susahnya ia berupaya untuk tetap tegak berdiri. Meski badanku masih terasa pegal, tubuhku refleks berdiri dan mencolek tangan ibu yang berpakaian merah, berambut pendek serta menggendong anak itu. 
"bu, duduk disini. Mangga" aku tersenyum kepadanya. Sayang, tak sempat ia membalas senyumku. Ia mungkin terlalu fokus pada pondasi kekuatannya, hingga ia melupakan aku yang berusaha untuk berbaik hati padanya. Ia berjalan kearahku, kemudian aku pun mundur beberapa langkah hingga ia bisa duduk. 
hah, kembali berdiri. pikirku. Padahal betapa lemasnya badan ini. Rasa gemetar kembali menjalar ditubuhku. Lemah, kantuk, pusing, gerah, semuanya terasa campur aduk. hingga aku beberapa kali menguap. Kemudian, tiba-tiba ada rasa tangan yang menyentuh tanganku. Aku membalikkan wajah ke belakang. Lagi-lagi, bapak yang tadi menawari aku duduk sejak awal itu kembali tersenyum dan memberikan tempat duduknya padaku. Aku kembali menolak, karena aku tidak tega padanya. Namun, ibu disampingnya mencoba untuk meyakinkan maksud baik dari bapak itu. 
"Neng dari tadi kan berdiri, sok tukeran aja dulu sama bapak" Ia tersenyum, akupun tersenyum dan menerima tawarannya. Bapak itupun tersenyum melihat aku duduk. Sedangkan yang lainnya, para lelaki yang kuanggap masih kuat untuk berdiri seolah acuh tak acuh dengan keadaanku dan mereka para wanita lainnya yang senasib denganku. 
ah, jaman ini memang edan. Pikirku, 
Beberapa menit kemudian, mataku tertutup begitu mesra. Tanpa menanyakannya dulu padaku. Tanpa sadar, telingaku mendengar obrolan ibu tadi pada bapaknya yang sedang berdiri. 
"Hmm.. Cape meureun, langsung tidur dia" 
Antara ingat dan tidak. Tapi mataku tetap terpejam, karena tak kuat menahan lelah. Hingga akupun tak sadar kalau perjalanan sudah berakhir. Melihat kesamping dan kebelakang, pasangan itu tidak ada.
hmm.. Sudah pulang mungkin.
Akupun melangkahkan kaki, dan ternyata mendapati mereka kembali duduk dengan nyaman. Sebelum keluar, aku menyapa mereka "Pak, Bu. Duluan ya? Terima kasih" kataku. Mereka tersenyum. Melihat mereka seperti itu, hatiku pun lega. kemudian aku keluar, dan menghirup udara segar lagi setelah tadi merasakan open yang begitu alamiah. tanpa ada listrik dan api.

0 komentar:

Poskan Komentar