It's Me!

click to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own text

Dipersimpangan Keriput Kami



“Ma, cepetan atuh!” Kata Otang.
“Iya, bentar atuh. Ini punggung ema sakit”  Jawab Hanah dengan nada khas Sundanya.
“Kenapa?”
“Sering duduk mungkin”
Otang tertunduk ketika mendengar jawaban sang istri tercinta. Ia menatap lantai kosong dengan wajah keriputnya. Terbesit rasa kesal dan sedih dalam hati yang tak bisa diluapkan. Ia hanya mampu memendam rasa kesal itu sendiri.
Setiap selesai shalat shubuh, Hanah dan Otang harus bersiap untuk berangkat kerja. Menerjang teriknya matahari dengan kulit tipis keriput mereka. Tak satupun diantara mereka mengeluh. Mereka membagi tugas satu sama lain dengan penuh semangat. Otang menyiapkan botol yang biasa ia gunakan untuk bekerja, sedangkan Hanah mempersiapkan perbekalan.Nasi dan lauk pauk seadanya serta sebotol air putih guna untuk mengganjal perutnya selama bekerja.
Sembari menyiapkan semuanya, sesekali Hanah melihat kearah jarum jam yang tepat dihadapannya. Jarum itu menunjuk pada angka 6 dengan begitu tegas.
Ah masih pagi. Pikir Hanah.
Setelah Hanah membereskan semua perlengkapan kerjanya, Hanah mengajak suaminya tersebut untuk segera berangkat.
“Ayo, bah. Mumpung masih pagi”  Katanya sembari mengulurkan tangan kepada Otang. Otangpun berdiri dibantu Hanah, kemudian bertumpu pada tongkat tuanya dan keluar bersama melawan kejamnya angin pagi.
“Haduh, dingin pisan ya, ma?”  kata Otang sembari memasukan tangan kiri pada saku jaket lusuhnya. Sedang tangan kanannya memegang tongkat.
“Iya” jawab Hanah sembari mengerutkan dahinya. 
Meski angin tersebut selalu menusuk kulit serta tulang mereka, mereka tetap meneruskan perjuangan. Sepanjang jalan, mereka selalu memadukan kasih. Saling menguatkan, saling mengingatkan, saling melindungi, dan lain sebagainya. Namun terjalnya jalan, membuat tubuh mereka sesekali sakit.
Alhamdullillah, akhirnya sampai juga. Rasanya punggungku sakit sekali. Pikir Hanah.
Untuk sampai ke tempatnya, mereka harus berjalan kurang lebih 10 meter dari halte tersebut.  Hanah berjalan agak lambat dari Otang. Wajahnya pun tak sesegar biasa. Dengan kerudung semrawut, ia terus berjalan sambil memegangi punggungnya. Sedangkan Otang berjalan jauh beberapa langkah dari Hanah. Ia tidak menyadari bahwa istrinya tercinta sedang kesakitan.
“Alhamdulillah ya Ma, akhirnya sampai” Kata Otang sembari melirik kepinggir dan tersenyum. Akan tetapi ia tidak menemukan siapapun.
Hah, Kenama ema? Pikir Otang.
Ia terkejut. Jantungnya berdetak kencang. Tubuhnya bergetar. Dengan refleks, Otang menengok ke belakang mencari istrinya tercinta. Matanya yang begitu kabur, tak melihat ada Hanah disana. Ia hanya melihat samar seorang wanita dibalik orang yang sedang berdiri didepan halte. Setelah beberapa menit kemudian, ia mendekat dan terus mendekat.
“Astagfirulloh, itu si ema gening”  katanya sembari memegang kepala dan memberikan beban tubuh sepenuhnya pada tongkat yang selalu menjadi teman keduanya setelah Hanah. Hanah tersenyum melihat suaminya yang tersenyum menunjukkan giginya yang sudah tiada dengan mengerutkan dahinya.
“Kenapa tersenyum, Ma?” Tanya Otang.
“Soalnya Abah masih terlihat lucu dengan gigi abah yang sudah tiada” Jawabnya sembari tersenyum, berusaha menyembunyikan rasa sakitnya. 
“Ah, ema ini masih aja bisa bercanda. Abah itu kaget tahu! Pas abah ngomong, eh ternyata nggak ada siapapun disamping abah” Kata Otang.
“Hmm.. Tadi ema sedikit cape, jadi istirahat sebentar” Jawab Hanah dengan senyum sedikitnya.
“Ya sudah, bismillah ya. Semoga penghasilan kita kali ini besar ya, Ma” sambung Otang.
“Iya amiiiinnn”
Mereka pun  menyiapkan peralatan mereka. Kemudian berjalan ke tempat masing-masing dan duduk manis disana.
Dari kejauhan, nampaknya matahari sudah menyambut pagi dengan begitu ceria. Ia berjalan perlahan dari balik gunung untuk melihat keadaan sekitarnya. Ternyata, di tempat kerja Otang dan Hanah banyak sekali orang yang berlalu lalang. Orangnya pun beragam. Ada yang berkulit putih, hitam, dan sawo matang dengan pakaian sederhana, mewah dan juga modis. Rupanya tempat itu seperti tempat pertemuan semua kalangan. Ramai. Sungguh sangat ramai sekali.
Ditempat yang berbeda, Hanah berdiri dengan memegang sebuah botol terbuka yang sudah dipotong menjadi dua bagian. Dan yang digunakan hanyalah bagian tengah ke bawahnya saja. dengan wajah ramah, Hanah menyapa setiap orang yang berjalan dihadapanya. Kemudian ada beberapa orang yang kembali memberikan senyum seraya memberikan kepingan recehnya pada botol Hanah. Kemudian Hanah langsung memasukan setiap pemberian orang tersebut pada tas didalam gendongannya. Tapi ada juga yang hanya mengangkat tangan kanannya keatas dada,  menunjukkan telapak tangannya kemudian berjalan begitu saja dihadapan Hanah. Hanah hanya membalasnya dengan senyuman. Begitu juga dengan Otang. Namun, meski matahari bergerak dengan cepat dan memancarkan sinarnya yang begitu dalam ia tetap menguatkan diri untuk tetap bekerja disana sampai matahari lelah menyaksikannya.
Cape eum. Pikir Hanah.
Sembari memegang botol dan gendongannya, Hanah berjalan menghampiri sang suami yang berada tak jauh dari tempat kerjanya.
“Pak, istirahat dulu yuk? Kita belum sholat” Katanya.
“Oh iya” Jawabnya sembari bangkit dari duduknya. Kemudian Otang membereskan semua peralatannya dan berjalan bersama dengan Hanah menuju mushola di Shelter  kampus. Mereka sholat berjama’ah. Setelah sholat, Hanah mengajak suaminya untuk makan.
“Makan yu, bah?”
“Iya sok, duluan” Jawab Otang.
“Kenapa?”
“Abah mau ngaji dulu”
Hanah tersenyum mendengar jawaban suaminya. Ia duduk disamping mendengarkan suaminya mengaji.
“Kenapa masih nunggu?” Kata Otang setelah menutup qur’an kecilnya.
“Biar lebih nikmat, kita makan bersama” Jawab Hanah.
Otangpun tersenyum. Kemudian ia membereskan tempat sholatnya, lalu makan bersama.
Selesai makan, Otang dan Hanah kembali bekerja melawan teriknya raja siang. Nampaknya saat ini raja siang itu berjalan agak jauh dari mereka dan bermaksud pulang ke singgasananya, mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Di angkot, ia bertemu dengan orang tua renta –sama seperti mereka- yang membawa tali sepatu dan koran dengan tas kusam dipunggungnya.
“Mau kemana, Pak?” tanya Hanah.
“Pulang Bu” Jawab bapak tua itu dengan wajah keriputnya.
“Habis jualan ya Pak?” Tanya Otang.
“Iya,Pak. Saya harus menafkahi anak-anak saya di rumah. Tak ada orang yang mereka andalkan, kecuali saya”
“Ehm, kenapa harus bapak? Anak bapak kemana?”
“Anak saya perempuan, Bu. Ia tidak bisa bekerja, akhirnya sayalah yang harus bekerja untuk istri dan anak saya”
“Ya ampuuunnn.. Kenapa bapak malah memilih jadi tukang tali sepatu?”
“Saya memberikan kesempatan untuk mahasiswa. Nggak papa jadi tukang tali sepatu juga, yang penting halal. Saya tidak mau jadi tangan dibawah, Pak. Karena tangan yang diatas itu lebih mulia dari pada tangan di bawah”.
Otang dan Hanah terdiam mendengar semua itu. Mereka hanya tersenyum pada Bapak tali sepatu tersebut. Sesampainya di depan rumah, mereka pun pamit pada Bapak tali sepatu itu. Kemudian mereka berjalan ke rumahnya.
Di rumah, Hanah menyimpan semua peralatan yang ia gunakan untuk bekerja. Kemudian ia duduk di depan TV dan mulai menghitung penghasilan mereka berdua. Satu, dua, tiga. Hanah menghitungnya dengan sangat telaten.
“Rp 223.600,- bah” katanya.
“sudah sama punya abah?” tanya Otang.
“iya”
“Alhamdulillah ya, lebih besar dari biasanya”
“Tapi bah, apa  tidak kita sudahi saja pekerjaan kita ini?”
“Kenapa?”
“Ema teringat dengan perkataan Bapak-bapak tadi. Ia begitu semangatnya mencari uang dengan berjualan koran dan tali sepatu. Padahal umurnya lebih tua dari kita, Bah”
“Terus?”
“Ya, Ema rasa memang benar apa yang dikatakannya. Agama kita mengatakan bahwa tangan yang diatas itu lebih baik dari pada tangan dibawah”
Otang terdiam. Ia merenungi setiap perkataan Hanah. Tangannya terkepal kesal.
Kenapa pemerintah tidak menyediakan pekerjaan yang layak? Seandainya ada, mungkin tak akan kami menjadi hamba terbodohMu, Ya Alloh. Pikir Otang.
“Tapi, apa yang harus kita lakukan selain ini, Ma? Bukankah tidak ada pekerjaan lain selain pekerjaan ini?” Kata Otang.
“Hmm.. Iya bah, tapi Alloh akan selalu memberikan jalan bagi hambaNya yang selalu ingin berusaha menjadi lebih baik. Oh, ya. Apa kita jadikan modal saja ya uang ini? kita buka warung kecil-kecilan. Gimana, bah?”
Otang terkejut dengan perkataan istrinya.
“Oh, ya. Bisa juga Ma. Kenapa kita tidak berfikir dari dulu ya? Padahal jelas-jelas agama kita lebih memuliakan tangan yang diatas. Hmm... Ampuni kami Ya Alloh” Kata Otang sembari tertunduk.
“Baiklah, sekarang kita istirahat saja. Besok insya alloh kita buka lembaran baru ya, bah?”
“Iya” jawab otang sembari tersenyum.
***

0 komentar:

Poskan Komentar