It's Me!

click to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own text

Konflik Etnis di Rohingya



Rohingya merupakan merupakan salah satu etnis mminoritas di Burma yang merupakan salah satu negara bekas jajahan Britania Raya dan merdeka pada tahun 1948. Selain termasuk pada kaum minoritas, Rohingya juga bukan merupakan etnis asli dari Burma. Perawakannya sendiri lebih mirip orang Bengalis (Asia Selatan) seperti India dan Pakistan jika dibandingkan dengan orang Burma yang lebih mirip orang Asia Tenggara pada umumnya. Rohingya merupakan komunitas migrant  dari Bangladesh yang sudah ratusan tahun tinggal di Arakan, Rakhine, Myanmar.
Arakan berubah menjadi gelap dan mencekam itu tepat ketika raja Burma menduduki wilayah Arakan. Kaum etnis Rohingya sebelumnya dipisahkan dari etnis lainnya. Namun, pada saat Inggris masuk ke wilayah pada tahun 1842 dibawah negara persemakmuran Inggris-India, Inggris menggabungkan kembali Arakan dengan negeri Budha (1937). Supaya Muslim terkuasai, maka umat Budha diprovokasi untuk menindas Muslim Rohingya. Pada saat itu, Inggris mempersenjatai Budha. Hingga masuk ke tahun berikutnya (1942) penyerangan-penyerangan terhadap Muslim Rohingya dilakukan terus menerus.
Burma termasuk kedalam negara yang mempunyai banyak etnis, namun hanya ada delapan etnis besar dan sisanya adalah etnis minoritas.
Sejak kemerdekaannya, Burma menjadi negara yang tertutup terhadap dunia internasional, hal ini disebabkan oleh pemerintahan mereka tersebut dikuasai oleh junta militer selama puluhan tahun, hingga akhirnya mereka sempat merasa kesal dan melakukan beberapa embargo.
Seiring berjalannya waktu, beberapa etnis juga mulai diterima dan pemerintahan sendiri juga mulai mengubah nama Burma menjadi Myanmar. Dan yang menjadi minoritas itu hanya satu, yaitu Rohingya.
Bahkan beberapa etnis ada yang selalu menyebutkan bahwa etnis tersebut merupakan penduduk ilegal yang datang pasca kemerdekaan Burma. Padahal sebenarnya etnis tersebut sudah tinggal sejak lama. Sebelum Burma merdekapun mereka sudah ada dan tinggal di Burma. Namun ternyata, pendapat ini bukan hanya datang dari kalangan militer, akan tetapi mayoritas penduduk Myanmar juga mengatakan demikian. Dan presiden sebelumnya pun pernah mengatakan bahwa ia ingin mengusir kaum Rohingya. Hal tersebut merupakan satu solusi sebagai ketidakmungkinannya memberikan kewarganegaraan kepada Rohingya. Hingga akhirnya ia menawarkan satu solusi untuk mengirim ribuan orang Rohingya ke negara lain atau tetap tinggal di Arakan dengan syarat, diawasi terus oleh PBB.
Perbedaan etnis membuat orang rohingya mendapatkan perlakuan diskriminatif, mereka tidak mendapatkan hak kewarganegaraan dan dianggap sebagai imigram gelap. Bahkan pada masa rezim militer pun, Rohingya pernah mendapatkan perlakuan keji yang akhirnya mendapat banyak kecaman dari dunia internasional. Hingga akhirnya menumbuhkan satu kebencian diantara masing-masing etnis.
Hingga akhirnya muncul satu persoalan yang sering disebut-sebut sebagai sebab dari konflik tersebut. Yaitu, kasus dimana ada satu warga Budha yang sedang berjalan dari tempat bekerja menuju rumahnya diperkosa serta ditikam hingga mati oleh 3 orang pemuda di hutan bakau disamping jalan menuju Kyaukhtayan pada tanggal 28 Mei 2012. Akan tetapi, dalam beberapa media terdapat perbedaan pandangan mengenai kronologi yang terjadi sebenarnya disana. Media yang berlatar belakang agama Islam mengatakan bahwa sebenarnya pembunuh sekaligus pemerkosa dari gadis tersebut adalah pacar korban sendiri yang tidak ingin putus dengan korban. Sedangkan korban tetap memiliki keputusan untuk memutuskan pelaku. Dengan dasar demikian maka pelaku mengajak teman-temannya untuk ikut bergabung dalam penikaman serta pemerkosaan korban. Sedangkan menurut berita lainnya mengatakan bahwa korban diperkosa oleh orang muslim sehingga menyebabkan tragedi pembantain muslim di Rohingya tersebut.
Namun, berikut kronologi singkat dari kejadian atau tragedi Rohingya versi Surat Kabar “The New Light of Myanmar edisi 4 Juni 2012.
Pada tanggal 28 Mei 2012, terjadi pemerkosaan serta pembunuhan terhadap salah seorang gadis desa Kyauknimaw, Yanbye. Ia adalah seorang gadis beragama Budha yang hendak pulang ke rumahnya. Namun tiba-tiba di tikam sampai mati oleh orang tidak dikenal di hutan bakau tepatnya dekat pohon alba disamping jalan menuju Kyaukhtayan pada pukul 17:15.
Kasus tersebut dilaporkan ke Kantor polisi Kyauknimaw oleh saudara korban. Dengan tuduhan pasal 302/382 Hukum Acara Pidana tentang pembunuhan atau pemerkosaan. Esok harinya, kepala kepolisian distrik turun ke tempat kejadian perkara guna untuk mencari barang bukti untuk menangkap ketiga tersangka. Yaitu Htet Htet (a) Rawshi bin U Kyaw Thaung (Bengali/Muslim), Rawphi bin Sweyuktamauk (Bengali/Muslim) dan Kochi bin Akwechay (Bengali/Muslim) .
Dari penyelidikan ini dapat diketahui bahwa Htet Htet ternyata telah mengetahui kegiatan korban sehari-hari. Kemudian, atas dasar kebutuhannya. Yaitu ia butuh uang untuk menikahi seorang perempuan, maka ia bermaksud untuk merampok korban bersama dengan teman-temannya, Rawphi dan Kochi. Pada saat itu, Rashwi menunggu di pohon alba dekat tempat kejadian, kemudian saat Ma Thida Htwe datang dan kebetulan berjalan sendirian, maka dengan gegas ketiganya muncul menodong korban dengan pisau, membawanya ke hutan. Kemudian korban diperkosa terus ditikam dadanya sampai mati. Setelah itu, ia membawa perhiasan yang dipakai oleh korban.
Kemudian, guna untuk menghindari kerusuhan serta ancaman warga desa kepada tersangka, maka aparat kepolisian setempat berjaga dan mengirimkan ketiga pelaku ini ke tahanan Kyaukpyu pada tanggal 30 Mei, tepat pukul 10.15.
Siang harinya, sekitar seratus warga dari Rakhine Kyaukhimaw tiba di Kantor Polisi Kyauknimaw untuk  menuntut perbuatan ketiga pembunuh tersebut. Dan mereka menuntuk agar para pembunuh itu diserahkan kepada mereka. Akan tetapi, tahanan tersebut sudah dipindahkan ke tahanan. Karena merasa tidak percaya, maka mereka berusaha untuk masuk ke kantor polisi. Dan terpaksa membuat polisi harus menembakkan lima peluru untuk membubarkan mereka.
Setelah hampir sejam mereka berada disana, mereka masih tetap tidak menemukan ketiga pelaku tersebut. Hingga akhirnya mereka pun meninggalkan kantor polisi. Akan tetapi mereka tidak sampai disitu, mereka langsung pergi ke Kantor Pemerintahan untuk menyampaikan keinginannya dengan diikuti oleh pihak kepolisian untuk mencegah keributan.
Barulah pada pukul 16.00, para pejabat tingkat Kota menerima dan memberikan klarifikasi untuk menghindari kerusuhan, dan penduduk desa meninggalkan kantor pada pukul 17.40.
Esok harinya, 31 Mei 2012. Pukul 09.00, mereka meninggalkan Yanbye ke Desa Kyauknimaw dengan dua perahu. Mereka pulang membawa santunan sebesar 1 Juta Kyat untuk desa dari Menteri Pembangunan, U Kyaw Khin, 600.000 Kyat dan lima set jubah untuk pemakaman korban serta ditambah 100.000 Kyat dari santunan perwakilan negara.
Kemudian pada sore harinya, Menteri Negeri dan Keamanan Perbatasan Negara, wakil kepala Kantor Polisi kabupaten Kyaukphyu dan kepala kantor Distrik berpartisipasi dalam pemakaman korban dan mengadakan diskusi dengan penduduk desa.
Dan pada tanggal 1 Juni 2012, Kepala Menteri Negara dan partai di Kyaupyu mengadakan diskusi dengan organisasi muda Kyaukpyu atas kasus pembunuhan tersebut. Diskusi-diskusi tersebut menyinggung tentang hukuman yang akan dijatuhkan kepada para pelaku kemudian membantu mencegah kerusuhan saat mereka sedang diadili.
Setelah kejadian tersebut, menyebarlah beberapa foto dan informasi yang beredar di blog serta berita harian New Light yang menyatakan bahwa “menurut bukti forensik polisi dan juga saksi mata yang melihat tubuh korban, ia diperkosa beberapa kali oleh ketiga pemuda Bengali Muslim ini, kemudian tenggorokannya di gorok, dadanya ditikam beberapa kali dan organ wanitanya ditikam dan dimutilasi dengan pisau.
Sontak dengan adanya kabar tersebut, maka massa semakin marah dan hampir menghancurkan kantor polisi dimana ketiga pelaku tersebut ditangkap. Hingga akhirnya memicu tragedi Ronghya. Yaitu pembantaian terhadap 10 muslim peziarah yang ada dalam sebuah bus di Taunggup dalam perjalanan dari Sandoway ke Rangoon pada tanggal 4 Juni.
Dalam koran New Light Myanmanr edisi 5 Juni disebutkan tentang rincian pembunuhan sepuluh orang Burma Muslim oleh massa Arakan. Pembunuhan itu terjadi karena ada hubungannya dengan kasus Ma Thida Htwe tersebut. Sekelompok orang yang terkumpul dalam Wunthanu Rakkhita Association, Taunggup  membagi-bagikan selebaran sekitar pukul enam pagi pada tanggal 4 Juni kepada penduduk lokal ditempat-tempat ramai di Taunggup. Serta foto Ma Thida Htwe dan memberikan penekanan bahwa massa Muslim telah membunuh dan memperkosa dengan keji wanita Rakhine.
Kemudian, sekitar pukul 16.00, tersebar bahwa ada mobil yang berisikan orang Muslim dalam sebuah bus yang melintas dari Thandwe ke Yangon dan berhenti di Terminal Bus Ayeyeiknyein.
Petugas sebelumnya duah memerintahkan agar bus segera berangkat ke Yangon. Karena bus telah terisi penuh sesak oleh penumpang.
Beberapa orang bersepeda motor kemudian mengikuti bus tersebut, ketika bus tiba di persimpangan Thandwe-Taunggup, sekitar 300 orang lokal sudah menunggu disana dan menarik penumpang yang beridentitas Muslim keluar dari bus. Dalam bentrokan itu, sekitar sepuluh orang Muslim meninggal di tempat. Kemudian bus yang ditumpangi mereka juga rusak.
Sejak itulah, konflik di kawasan Arrakan, Burma, memanas. Dan yang menjadi sasarannya itu adalah orang-orang muslim Rohingya. Akan tetapi, media Aljazeera mengatakan bahwa perseteruan tersebut juga disebabkan oleh perseteruan yang sudah terpendam lama, yaitu perseteruan antara kelompok etnis Rohingya yang Muslim dan etnis lokal yang beragama Budha. Rohingya tidak mendapat pengakuan oleh pemerintah setempat.
Sebenarnya dalam konflik tersebut, terdapat satu kepentingan dibaliknya. Dugaan tersebut sebenarnya dapat kita lihat dari ketidakjelasan masing-masing media. Beda media berarti beda pemberitaan.  Seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa kejadian atau tragedi ini terjadi sejak puluhan tahun silam. Sebagai akibat dari tidak adanya pengakuan terhadap kaum atau etnis Rohingya. Sehingga mereka tidak mempunyai kewarganegaraan, tak bisa mengakses pendidikan, layanan kesehatan dan bahkan pekerjaan yang layak sekalipun. Sungguh, mereka terabaikan dan terpinggirkan.
Padahal kenyataannya, akar dari permasalahan ini adalah kecemburuan terhadap etnis Rohingya yang mayoritas Muslim tersebut dari tahun ke tahun selalu meningkat. Hal ini menjadi satu kecurigaan dan kecemburuan pada etnis tersebut. Bagi mereka, keberadaan etnis rohingya tersebut dianggap mengurangi hak atas lahan ekonomi. Khususnya di wilayah Arakan, Rakhine yang menjadi pusat kehidupan etnis muslim. Sebenarnya, Rohingya itu tidak tepat disebut sebagai etnis, karena mereka merupakan label poltis yang digunakan untuk memperjuangkan keberadaaan kelompok tersebut di Myanmar. Bahkan beberapa sejarawan sampai menyebutkan bahwa nama Rohingya itu baru muncul sekitar tahun 1950-an, setelah kemerdekaan Myanmar.  Salah seorang sejarawan, Jacques P. Leider mengatakan bahwa pada abad ke-18 ada catatan milik Francis Buchanan-Hamilton (orang Inggris), yang menyebutkan tentang adanya masyarakat Muslim di Arakan. Mereka menyebutnya dengan sebutan “Rooinga”. Istilah ini berasal dari kata “rahma” dalam bahasa arab atau “Rogha” yang berarti perdamaian dalam bahasa Pashtun.
Dalam hal ini, banyak sekali negara yang mengecam akan kejadian tersebut. Banyak sekali negara yang menginginkan agar warga Rohingya segera dievakuasi, dalam artian beberapa negara menginginkan konflik Rohingya itu cepat diselesaikan.
Namun, sampai sekarang, konflik Rohingya belum juga dapat diselesaikan. Belum ada resolusi konflik yang tepat untuk konflik ini. Bahkan diplomat Myanmar-nya sendiri mengaku sedang belajar untuk mempelajari resolusi konflik.  Banyak sekali masyarakat internasional yang mengecam kejadian ini. Kemarin, pertiga puluh Maret 2013, sekelompok muslim dan etnis Rohingya yang berada di Thailand mendeksak agar Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Amerika Serikat untuk segera menghentikan kekerasan terhadap etnis Rohingya di Myanmar . Namun, sampai saat ini Aung San Suu Kyi tidak ingin membela warga Rohingya, karena mungkin dengan ia membela warga Rohingya ia akan mendapat kecaman dari semua etnik yang ada di wilayahnya tersebut. Maka dari itu, sekarang Aung San Suu Kyi belum mengambil tindakan gegabah mengenai hal ini. Meskipun banyak warga yang kecewa dengan perbuatan Aung San Suu Kyi yang sudah tidak lagi berdiri sejajar dengan mereka. Hingga masyarakat pun mencercanya . Namun, pada tanggal 29 Maret 2013, Aung San Suu Kyi mengaku siap menggunakan kekerasan untuk mengatasi kerusuhan ini. Namun, ia juga tidak ingin gegabah dalam mengerahkan pasukan keamanan dan melindungi nyawa .
Sampai sekarang, kerusuhan demi kerusuhan selalu terjadi di Myanmar. Bahkan semakin memanas. Masjid, toto-toko berserta perumahan warga muslim di negara tersebut dihancurkan dan puluhan orang tewas . Kegiatan inipun, terus sensinya terus meningkat karena ada salah satu tokoh Budha, yang dulu sempat dipenjara karena menghasut konflik Muslim dan Budha itu kembali mengkompori konflik yang terjadi disana. Sekitar empat bulan yang lalu, ia selalu berpidato tentang keradikalannya. Bahkan ia sampai membuat satu simbol anti islam yaitu 969. Kemudian logo itupun dijadikan sebuah slogan, yaitu “Saat makan, makan 969; saat pergi, pergi 969;saat membeli, beli 969” .
Dengan demikian, masyarakat Rohingya memutuskan untuk pergi mengungsi ke negara-negara lain. Bahkan sampai ke Indonesia. Namun, polisi Indonesia juga mengaku kesulitan dalam mengidentifikasi kejadian yang sesungguhnya karena faktor bahasa yang digunakan. Pengungsi yang sampai di Indonesia ini tiba di Aceh, karena kehabisan logistik dan ada beberapa yang sakit.
Dari kondisi diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa memang tidak segampang membalikkan telapak tangan untuk menyelesaikan konflik yang berhubungan dengan etnis ini. Karena didalam hati etnis itu sudah ada satu primordialisme atau satu rasa bahwa hanya etnis merekalah yang paling kuat. Sehingga memandang remeh etnis-etnis lainnya. Dan rasa itu sudah sangat melekat didalam hatinya. Maka kalau misalnya ada satu tindakan yang gegabah dilakukan untuk mengatasi konflik ini, dampaknya akan sangat besar sekali.
Kalau dimasukan kedalam analisis sentimen konflik atau analisis penahapan konflik, maka konflik di rohingya ini sedang berada dalam titik krisi, dimana ketegangan disana semakin memuncak dan komunikasipun terputus. Kondisi ini akan terus selalu meningkat kalau tidak ada satu gerakan yang menghentikan provokasi tersebut. Maka dari itu, untuk menyelesaikan konflik ini diperlukan adanya satu pendekatan need-based conflict origins. Karena dengan kita mengetahui apa sebenarnya kebutuhan atau apa sebenarnya yang diinginkan oleh pihak yang paling agresif itu, maka kita akan membuat sebuah resolusi konflik yang sekiranya dapat meredam keagresifan mereka. Peacemaking pun akan dengan mudah diselipkan dalam konflik tersebut, karena keinginan mereka sudah diketahui. Setelah perdamaian mulai dibuat, maka akan terus berjalan kearah peacekeeping.
Namun, seandainya pemimpin mereka tidak mampu meredakan konflik yang ada di negaranya, maka negara atau elemen lainnya berhak untuk mengintervensi Myanmar guna untuk menciptakan perdamaian dengan segera. Negara dapat mengundang satu mediator guna untuk mencari fakta-fakta perihal penyebab sebenarnya terjadinya konflik ini. Mediator ini haruslah satu mediator yang dianggap netral, bersih dari kepentingan lain kecuali kepentingan menciptakan perdamaian, dan dianggap mampu untuk menyelesaikan konflik ini. seperti halnya penyelesaian konflik Indonesia-GAM yang diselesaikan dengan bantuan mediator dari CMI di Helsinki. Dalam kasus ini, Myanmar dianggap perlu mempelajari resolusi konflik secara teliti. Karena konflik yang dihadapi di Myanmar itu juga menyangkut etnis-etnis yang ada di dalamnya.




















Daftar Pustaka
Anindya Dewi (2013)  Apa yang Sebenarnya Terjadi di Burma. Available from: http://grevada.com/apa-yang-sebenarnya-terjadi-di-burma/ diunduh pada tanggal 10 April 2013.
Totok Suhardijanto (2013) Mengenal Etnis Rohingya. Available from: http://mizan.com/news_det/mengenal-etnis-rohingya-dari-sudut-pandang-sejarah.html diunduh pada tanggal 07 April 2013.
Harja Saputra (2012) Inilah Kronologis Lengkap Pemicu Tragedi Rohingya. Available from : file:///C:/Users/Acer/Documents/inilah-kronologis-lengkap-pemicu-tragedi-rohingya-481586.html di download pada tanggal 03 April 2013.
Fajar Nugraha (2013) PBB dan AS Didesak Hentikan Genosida Atas Rohingya. Available from : http://international.okezone.com/read/2013/04/10/411/789213/pbb-dan-as-didesak-hentikan-genosida-atas-rohingya diunduh pada tanggal 10 April 2013.
F. Nugraha (2013). Aung San suu Kyi Dicerca Warga Myanmar. Available from: http://berita.plasa.msn.com/internasional/okezone/aung-san-suu-kyi-dicerca-warga-myanmar. Diunduh pada tanggal 09 April 2013.
Fajar Nugraha (2013) Atasi Kerusuhan, Presiden Myanmar Siap Gunakan Kekerasan. Available from : http://international.okezone.com/read/2013/03/29/411/783410/atasi-kerusuhan-presiden-myanmar-siap-gunakan-kekerasan diunduh pada tanggal 05 April 2013.
Aulia Akbar (2013) Kerusuhan Memanas, Warga Muslim Myanmar Menghilang. Available from : http://international.okezone.com/read/2013/03/30/411/783633/kerusuhan-memanas-warga-muslim-myanmar-menghilang
A. Salaby Ihsan (2013) Gerakan 969 Habisi Muslim Myanmar. Available from : http://www.republika.co.id/berita/internasional/asean/13/04/09/mkz0jb-gerakan-969-habisi-muslim-myanmar. Diunduh pada tanggal 09 April 2013.
Gilang Akbar Prambadi (2013) Investigasi Bentrokan Muslim Rohingya-Budha Terkendala Bahasa. Available from : http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/04/05/mks7y1-investigasi-bentrokan-muslim-rohingyabuddha-terkendala-bahasa diunduh pada tanggal 08 April 2013.
Rusian Burhani (2013) PBB Khawatir Konflik Rohingya Meluas ke ASEAN. Available from : http://www.antaranews.com/berita/367342/pbb-khawatir-konflik-rohingya-meluas-ke-asean diunduh pada tanggal 09 April 2013.

0 komentar:

Poskan Komentar