RSS

youtube: Naiko Chanel

click to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own textclick to generate your own text

Ketika Ada Mimpi yang Disertai Usaha, Disanalah Beragam Jalan Muncul

Konnichi wa, minna...
Lagi-lagi, lama tak bersua.
Memang sebenarnya tidak ada lagi alasan untuk beralibi disini. Cuma yang pasti saat ini saya sedang sibuk menggeluti dunia yang sesungguhnya. Berjuang mendapatkan gelar dan mencapai kesuksesan di dunia dan akhirat. 
Yesss....

Seperti yang sudah dituliskan sebelumnya, blog kali ini akan bermuatan hal-hal yang informatif dan mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi bagi pembacanya.
Oke.. Ditulisan pertama ini, saya akan bercerita tentang Beasiswa PTN.

Hello guys, siapapun kamuuu,,, Ingatlah, "Jika kita punya keinginan yang kuat, maka terdapat jalan untuk mencapainya. "Ingin lanjut kuliah? Tapi nggak punya uang! Kuliah itu mahal?" Hei guys! Bukalah pikiranmu. 

You know what?
Saya adalah seorang anak dari keluarga sederhana, yang punya penghasilan hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Tak terbayang rasanya jika saya harus melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Karena, pada awalnya saya memang berpikiran seperti itu. Tapi, karena mimpi yang kuat, akhirnya keluarlah sebuah tekad untuk menghilangkan pikiran tersebut. Karena ternyataaaaaaaa........ Beasiswa itu banyak guys... Ada PPA, BBM, Beasiswa Aktivis, beasiswa Etos, Bidik Misi dan lain sebagainya.
Jangan khawatir deh, bagi kamu yang ingin melanjutkan sekolahnya ke Perguruan Tinggi. INGAT! Yang penting itu adalah kemauan dan usaha. Karena disana akan ada jalan.

Nih ini adalah salah satu informasi untuk seleksi nasional Beasiswa Etos 2015 (deadline 28 Februari 2015):
Beasiswa ini akan diadakan di 13 wilayah Indonesia, terdiri dari Aceh, MEdan, PAdang, Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Malang, Surabaya, Makasar, Samarinda, dan Ambon..

fasilitas:
1. Bantuan biaya pendidikan selama 8 semester
2. uang saku
3. Asrama Mahasiswa selama 3 tahun
4. Pembinaan selama 4 tahun
5. Support prestasi dalam dan luar negeri
6. Bantuan biaya penelitian skripsi
7. Pembuatan pasport

Info lebih lanjut : www.beastudiindonesia.net


So, gak usah mikir2.... Ingat Masa Depan akan lebih cerah jika diperjuangkan dengan sedemikian rupa :)

Testimoni Awal Tahun


Selamat pagi semua...

Di tahun yang baru ini, semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik dari pada tahun sebelumnya. Semoga apa yang menjadi cita-cita kita dapat dicapai di tahun ini. 
Begitu pula denganku..

Yeay! 
Kalau dulu, tulisan-tulisan dalam blog ini memuat semua pengalaman atau perasaan yang tak pernah tersampaikan. Di tahun ini, blog ini lebih bermuatan diskusi langsung tentang masa depan. Meski sebenarnya, aku pun masih dalam jalan menuju pada hal yang kuinginkan, namun mari bersama menjadi pribadi yang lebih sukses yang mampu menghadapi tatanan global.





Beasiswa DataPrint

Halllooooo Guys,...
Haduuuuhhh Lama tak berjumpa ya?
He,
Maklum, karena sekarang aku sudah semester tujuh, ditambah kemarin sibuk pindahan kosan, jadi jadwal menulis disininya belum lagi terkondisikan.
Nah guys, sekalinya muncul disini, sekarang aku mau memberitahu kalian mengenai Beasiswa DataPrint. Pernah denger nggak sebelumnya? Hehe... Aku juga baru kok. Itu pun karena kemarin, aku baru membeli lagi tinta warna DataPrint, setelah sekian lama tidak diisi. Nah, kebetulan pas dibuka, ada kertas kecil, gambarnya motor. Kupikir undian biasa. Lalu, aku lanjutin aja buka plastiknya, eh ternyata nemu kertas kecil lagi di dalamnya. Ternyata itu informasi tentang beasiswa. Haaaaaaa.... Kebetulan sekarang aku mahasiswa tingkat akhir, jadi pengeluarannya banyak. Akhirnya, ku putuskan untuk ikutan deeehhh....


Padahal pas waktu beli tinta hitamnya nggak ada kertas itunya, eh bulan ini, beli yang berwarna, ternyata dapet kuponnya deh. he.... 


Ayoooo buruan! Bagi kamu yang ingin mengikuti beasiswa DataPrint segera dapatkan kuponnya. Karena ini sudah masuk ke periode dua. Dan akan berakhir pada tanggal 31 Desember sekarang. Maka dari itu ayo ayooooo.... 
Untuk informasi lebih lanjutnya, kalian bisa klik Disini.
Atau kalau kamu yang sudah punya kupon dan ingin daftar, segera klik Disini.

Penerima beasiswa akan diumumkan di website DataPrint www.dataprint.co.id ,  page 
Facebook



Menghilangkan Rutinitas Kampus Sejenak

Lupakan tugas!
Lupakan masalah!
Matikan HP!
Bebaslah!

Hahaha... Beberapa kata itu terkadang menjadi kata yang paling aku inginkan. Namun apa daya. Melihat berbagai kebutuhan hidup yang belum terpenuhi, aku pun tak bisa lepas dari rutinitas sehari-hari ku. 

Tapi hari ini, entah kenapa aku ingin meluangkan waktu bersama dengan keluarga. Menyisihkan sebagian uang yang kudapat dari kerja part time untuk menikmati hari. Tapi sayang. Ayah, Ibu serta adik pertamaku sibuk dengan urusannya masing-masing. Akhirnya aku memutuskan untuk melepas stres bersama adik keduaku. Si kecil mungil dengan mata sipit yang super lincah. 

Namanya Abdurrahman Nur Saleh. Ia baru berumur tiga tahun. Nampaknya, karena aku berbeda jauh umurnya, tak jarang banyak orang bertanya dan menyatakan bahwa dia adalah anakku. hahaha... Parahnya, ketika aku bilang bahwa dia adalah adikku, mereka malah memasang muka yang tidak percaya. "Oh my god! Padahal aku sedang tidak berbohong kok" haha..

Hampir 6 jam aku bersamanya. Serasa bebas dan lepas pikiranku. Namun ada satu hal yang kupelajari selama bersamanya. Apa itu? Menjadi ibu yang cerdas bagi anaknya. hahaha
Ya lumayan lah melepas stres sekaligus belajar dengannya. 




Ketika Ia Menghujat, Aku pun Diam dalam Tangisan

Hello guys!
おはようございます。
Hari ini tiba-tiba aku teringat masa SMA. Sebuah masa yang penuh dengan konflik. J Dimulai dari konflik masuk SMA yang binguuuung banget gara-gara orang tuaku nggak pegang uang sama sekali untuk pendaftaranku ke SMA. Kedua, konflik dengan salah satu guru yang tidak toleransi akan muridnya. Ketiga, konflik batin yang sampai membuat turun rangking. Haha.. Dari rangking tiga turun menjadi rangking ke sepuluh. (ups, jauh banget kan? Jhahha... ) Tapi tahu nggak guys, salah satu hal yang tidak pernah bisa terlupakan di masa tersebut adalah masa dimana aku hampir bertengkar dengan guru.
Ceritanya, dulu setiap siswa ada tugas untuk mengisi buku Ramadhan kan? Nah, kebetulan aku tinggalnya di Pondok. Secara tidak langsung, aku pun menuliskan semua kegiatanku dalam buku itu sesuai dengan kegiatan di pondok kan? He..
Nah, selepas lebaran, kami pun masuk sekolah seperti biasa. Akupun menjalankan aktifitas seperti biasanya. Ketika bel kedua berbunyi, guru agama kelas dua pun masuk. Sebutlah ia Pak Arman. Ia membuka kelas seperti biasa, kemudian menginstruksikan siswanya untuk mengumpulkan buku Ramadhan tersebut. Ketua kelas pun bergegas untuk mengumpulkan bukunya.
Disamping guru itu sedang memeriksa, kami duduk di bangku masing-masing dengan posisi leter U. Karena jumlah murid di kelas kami hanyalah 22 orang. Suasana dikelas ramai. Ada yang mengobrol, membaca buku, bercanda-canda dan lain sebagainya. Sesekali, sang guru pun memanggil nama murid untuk mengambil buku Ramadhan miliknya. Dan kini, tibalah giliranku. Aku maju dengan memajang wajah sopan dan tersenyum pada guru tersebut. kemudian Pak Arman pun bertanya padaku “Sri, kenapa ini kosong?” katanya sembari menunjuk pada halaman-halaman yang kosong.
“Oh, itu karena saya sedang tidak sholat, Pak” jawabku dengan polos.
“Lah, terus kenapa ininya juga kosong?” ia menunjuk pada kolom membaca qur’an.
“Ehm, kan kalau lagi nggak sholat emang nggak boleh baca Qur’an Pak. Soalnya kita sedang dalam keadaan tidak suci kan?”
“Kata siapa?” nadanya agak tinggi dari sebelumnya. Anak-anak pun terdiam. Suasana kelas menjadi hening. Seolah tak ada siapapun, kecuali aku dan Pak Arman.
“Itu memang sudah ada dalam aturannya kan Pak. Seseorang yang sedang Haid tidak boleh membaca qur’an, membawa qur’an, masuk ke masjid, Shalat, Thawaf. Itu kan haram” Jawabku dengan tegas.
“Siapa yang bilang seperti itu?”
“Saya belajar di Pondok Pak. Saya belajar kitab safinah dan kitab-kitab fiqih lainnya”
“Lah kalau begitu? Gantinya apa?”
“Karena saya tinggal di Pondok. Ya, saya jadinya ikut semua kegiatan pondok dari pagi sampai malam. Belajar kitab”
“Di kitab itu tetap saja kan ada tulisan arabnya?” Ia masih ‘keukeuh’ dengan argumen dan pertanyaan-pertanyaannya. Dan aku pun tidak ingin kalah. Hingga akhirnya ia terpaksa memberikan nilai aku C dengan detail nilainya 65.
Percaya tidak? Ini adalah kali keduanya aku mendapatkan nilai 65 di mata pelajaran agama. Sedangkan aku tinggal dan belajar agama di pondok selama SMP dan SMA. Sontak aku tidak terima dengan nilai yang ia berikan. Aku terus protes pada guru tersebut. akan tetapi ia seperti tidak peduli dengan apa yang aku omongkan. Ia hanya peduli pada apa yang ia faham dan orang-orang yang sefaham dengannya. Adu mulut pun kembali terjadi. Hingga aku menangis didepan semua orang yang ada di kelas. Sedang teman-temanku tidak ingin ikut campur dengan alasan, guru tersebut sudah membawa-bawa ayat alqur’an, hingga mereka bingung harus mengatakan apa.
“Maaf, aku tak bisa membantumu di kelas tadi. Masalahnya, ia tak akan mendengarkan apa yang kita omongkan. Ia hanya percaya dengan keyakinannya saja. Dan tidak toleransi pada kepercayaan lain” kata salah satu temanku ketika keluar dari kelas.
“Ya, aku mengerti. Tapi, aku masih tak percaya kalau dia tidak bisa toleransi pada muridnya sendiri” jawabku.
“Sudahlah, biarkan saja. Kejadian ini bukan kamu saja yang mengalaminya. Tapi di kelas lain pun ada”
“Ya. Tapi aku tidak bisa terima dengan omongannya yang mengatakan bahwa aku itu aliran sesat! Sungguh! Baru pertama kali ada orang yang mengatakan aku sesat. Padahal jelas-jelas bahwa Nahdatul Ulama itu diakui di Indonesia” kataku sembari menangis. Teman-teman pun kembali terdiam dan sesekali menenangkanku.
Sejak kejadian itu, aku jarang ngomong di kelas agama sampai akhir kelas tiga. Bahkan guru tersebut pun bertanya padaku tentang kebisuanku di kelas. Namun aku tak menjawab. Kupikir, kalau aku berbicara, maka akan terjadi lagi sengketa perbedaan. Hingga akhirnya, aku pun memutuskan untuk diam seribu bahasa.
Setelah lulus dari sekolah, aku pun menjalin pertemanan dengan orang-orang yang berbeda keyakinan. Sengaja! Ya, kupikir, berteman dengan orang-orang yang berbeda keyakinan membuatku tahu tentang mereka dan keyakinan mereka. Dan ? takkan kubiarkan perbedaan itu menjadi satu pemicu konflik di negeri ini.

Ya! Negeri kita beragam. Tapi aku ingin hidup damai dengan keragaman ini. J

Self Publishing?

Berbicara tentang penerbit? Terkadang aku suka heran. Kenapa ada penerbit yang menerbitkan buku –kalo menurut aku sih buku itu- kurang berkualitas. Pernah ada satu kejadian, aku sedang mengerjakan salah satu tugas mata kuliah kualitatif. Awalnya, aku sangat antusias dengan mata kuliah tersebut. Namun, tiba-tiba aku menemukan buku yang susunan kalimatnya rumit alias tidak mengerti. Eh ada beberapa sumber yang menggunakan blogspot. Heu, disini, aku tidak bermaksud untuk menjelekkan sesuatu ya. Tapi ini memang benar-benar fakta yang tidak bisa disembunyikan lagi. Kupikir, “Apakah ini memang pilihan dari penerbit itu sendiri atau ini adalah paksaan dari penulis yang ingin tetap menerbitkan bukunya?” Heu.. hari demi hari, aku terus bertanya akan hal tersebut. Hingga suatu hari aku melihat ada Self Publishing di media online salah satu penerbit.
Iseng-iseng, aku masuk dengan menggunakan akun baru di media tersebut. Ternyata, dengan self publishing  itu kita bisa menerbitkan buku karya kita tanpa melewati seleksi. Hanya saja, mungkin penerbit tidak bertanggung jawab dengan isinya.
Pikirku, kalau misalnya self publishing itu terus berlanjut, maka semakin hari, dunia penerbitan akan memiliki reputasi yang jelek. Karena tentu saja, pembaca awam akan menilai siapa juga penerbitnya. Dan ketika ia mendapati tulisan itu jelek, maka secara tidak langsung ketika ia menemukan tulisan yang di publish secara mandiri lagi, ia akan menilai bahwa semua buku yang diterbitkan oleh penerbit A (misalnya) itu memang buruk. Sehingga ia tidak lagi mempercayai buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit tersebut.
Dan? Lagi-lagi nih ya! Aku selalu kepikiran tentang persaingan antara buku cetak dengan elektronik loh! Hihi

So, dunia penerbitan harus mampu menarik minat pembaca untuk membaca buku yang mereka terbitkan. Entah itu dengan mengadakan program-program yang kreatif. Misalnya dengan mengadakan pengenalan dunia penerbitan kepada anak SMA (Wisata sastra), mengadakan pelatihan menulis dengan menghadirkan penulis profesional dan lain sebagainya. Hmm... Nanti kita bahas lanjut tentang “Kenapa bisa dikatakan bersaing?” lah ya? He.. Sekarang, aku harus bersiap untuk berangkat ke acara wisuda kakak kelasku yang sudah aku anggap sebagai kakak sendiri.. Well... see u later... J

Kurang Inovatif? Musnahlah Sudah

Hallo guys! Ohayou! 
Hmm.. Hari ke-2 ngampus nih. Tapi sebelumnya aku ingin bercerita. 

Seperti yang kita ketahui, hari ini bukanlah hari-hari yang dulu. Maksudnya? Ya! Semakin hari zaman terus berkembang. Bahkan hari ini -ada yang menyebut sebagai- era digital. Dimana apapun yang kita inginkan bisa dicapai dengan sekali mengklik. Lantas? Apakah buku-buku sekarang sudah tidak terpakai lagi? 
Sebenarnya, bisa dikatakan demikian, bisa juga tidak. Pasalnya, masih banyak orang yang menggunakan buku cetak sebagai bahan bacaan. Meski tidak menutup kemungkinan manusia-manusia zaman sekarang menginginkan yang lebih instan saja. 

Dengan adanya kemajuan teknologi, -menurut analisa saya- tak sedikit orang yang menjadi malas untuk melakukan sesuatu yang lebih sulit (karena sudah terbiasa instan). Contohnya saja nih, terkadang aku lebih tergoda untuk mengerjakan tugas dengan bantuan google dibandingkan dengan membaca buku. Kenapa? Biasanya, pertama yang aku lihat dari buku adalah cover => sinopsis => gaya bahasa. Ketika cover tidak menarik, maka biasanya kurang aku lirik. Kecuali judulnya sama seperti yang aku inginkan. Kedua sinopsis. Kalau sinopsisnya bagus, ya lanjutkan membaca. Ketiga, gaya bahasa. Kalau bukunya ditulis dengan gaya bahasa yang 'pabaliut' alias bikin pusing dan gak mengalir. Aku ogah-ogahan untuk membacanya. Sehingga, aku lebih memutuskan untuk membaca di internet saja. Selain mudah, karena bisa dari hp. Juga bisa dapat dengan jurnal internasionalnya. So, kupikir, kalaulah dunia penerbitan menerbitkan buku dengan kualitas yang jelek, maka tidak akan ada orang yang membacanya. Terlebih sekarang, dengan adanya kemajuan teknologi, maka dunia penerbitan, kalau tidak berinovasi dalam penerbitannya, maka ia akan menghilang. 

And then? Bagaimana dengan adanya konsep pameran?
I think, It is same.

Jujur saja ya, haha... Dulu, -saat masih cabe-cabean, haha- kalau ada pameran buku, aku adalah orang yang paling semangat untuk pergi ke pameran tersebut. Pasalnya, aku bisa melihat segudang buku dengan berbagai inspirasi yang berbeda. Aku sering mencari inspirasi dari buku-buku tersebut. Akan tetapi, sekarang ketika pameran itu diadakan dengan konsep yang sama, aku malah malas tak karuan. Maaf ya! Bukannya gimana, tapi aku adalah orang yang mudah bosan dengan segala sesuatu. Contohnya, dulu aku sering mengikuti training motivasi. Tapi karena kupikir, konsepnya sama, maka aku tidak pernah mengikutinya lagi. Nah, ketika aku melihat pameran pun demikian. (Tapi maaf ya guys, ini hanya ceritaku saja. Siapa tahu diantara kalian juga ada yang memiliki sifat yang sama. So, bisa mewakili kan). 

Lantas? Apa yang harus dilakukan?
Dengan adanya IKAPI, seharusnya para penerbit mampu memberikan inovasi dalam menerbitkan buku setiap tahunnya. Sehingga menarik masyarakat untuk lebih mengoleksi buku dibandingkan dengan jurnal ber-format PDF. Karena, seperti yang kita tahu, masyarakat masa kini lebih menginginkan hal-hal yang instan. So, kita harus menarik minatnya dengan berbagai hal yang lebih inovatif. Karena dengan demikian, barulah dikatakan bahwa pameran/IKAPI/Penerbit turut berperan aktif dalam mencerdaskan masyarakat. Namun, kalaulah kejadiannya seperti apa yang aku alami, maka ketiga elemen tersebut, justru mampu berperan aktif mencerdaskan masyarakat untuk memilih hal yang lebih instan ya nggak sobat?

Tapi, ini ceritaku. Mana ceritamu???? :)

#LombaBlog#PameranBukuBdg2014